
Dua hari setelah kejadian itu berlalu, semua orang mulai beraktivitas dengan normal, tak ada lagi pengacau yang menghalangi triplets terlebih dengan Edrea. Tapi sepertinya mereka hanya diizinkan untuk merasakan ketenangan dua hari itu saja karena kini saat Azlan tengah di sibukkan dengan berbagai tugas sekolah yang menumpuk terlebih ditambah dengan pekerjaan yang tengah menunggu ia kerjakan dengan terpaksa ia harus menghentikan aktivitasnya itu saat ia mendapat telepon dari sang pujaan hati.
Dan dengan senyum yang mengembang Azlan mengangkat telepon tersebut.
"Heyyyyyyyy honey, kenapa belum tidur hmmm? Ini sudah tengah malam lho. Kalau kamu kangen sama aku, tahan sebentar ya, besok aku kesana," ucap Azlan saat sambungan telepon tersebut terhubung. Tapi beberapa menit setelah ucapannya itu ia lontarkan, Azlan sama sekali tak mendengar balasan dari Zea.
"Sayang," panggil Azlan yang lagi-lagi tak mendengar jawaban dari Zea.
"Lah nih si cantik kemana sih? Masak orang bicara dari tadi cuma di diemin aja. Apa dia hanya salah pencet karena saking ngantuknya dan saat aku angkat teleponnya tadi dia sudah tidur. Hasihhhh kebiasaan," gumam Azlan, tapi ia sama sekali tak menutup sambungan telefon tersebut karena ia berniat ingin mendengar suara Zea saat tertidur, siapa tau kan kekasihnya itu mendengkur keras atau justru mengigau dengan suara yang menggemaskan.
Tapi sayangnya harapannya itu pupus saat Azlan justru mendengar seperti derap langkah kaki yang semakin jelas di sambungan telepon tersebut. Dan hal tersebut langsung bisa membuat Azlan paham jika kekasihnya sekarang tengah dalam bahaya.
"Cari tempat persembunyian yang aman sayang. Pegang benda apa saja yang bisa kamu gunakan untuk menyerang dia, saat dia sudah mulai beraksi. Serang dia di titik terlemahnya, yang jelas titik terlemah seseorang berada di pusakanya. Dan jika ada celah, langsung keluar dari apartemen cari tempat yang aman. Aku bergerak sekarang dan jangan matikan telepon kamu sampai kita bertemu nanti," ujar Azlan. Lalu tanpa berpikir panjang Azlan langsung bergegas keluar dari rumah tersebut yang sudah tampak sepi karena semua orang sudah terlelap dalam tidur mereka.
Tapi saat dirinya ingin membuka pintu utama rumah tersebut, terdengar suara seseorang yang menghentikan langkahnya.
"Mau kemana kamu?" tanya seseorang dan bertepatan dengan itu pula seluruh lampu di rumah tersebut menyala.
"Kamu tau tidak sekarang tuh sudah jam berapa hah? Ini sudah tengah malam Az, masih saja mau kelayapan jam segini. Balik ke kamar dan tidur sekarang!" perintah Mommy Della dengan tegas.
"Az tidak mau kelayapan Mom, Az mau menyelamatkan Zea dari seseorang yang berniat mencelakai dia. Jadi please Mom jangan ngomel dulu karena nyawa Zea lebih penting sekarang. Azlan pamit, doakan Zea tidak kenapa-napa," ujar Azlan sembari membuka pintu rumah tersebut kemudian ia bergegas meninggalkan area rumah itu dengan mobil pribadinya.
Sedangkan Mommy Della yang mendengar penuturan dari Azlan pun ia kini tampak panik sendiri.
__ADS_1
"Astaga-astaga. Jangan sampai calon anak mantu terluka. Ini benar-benar tidak bisa di biarkan begitu saja. Azlan harus ada seseorang yang bantu dia," gumam Mommy Della dengan memikirkan siapa seseorang yang pantas untuk membantu Azlan. Hingga akhirnya ada nama satu orang yang kini terlintas dalam otaknya. Dan dengan mengambil nafas dalam-dalam, Mommy Della mulai angkat suara kembali.
"Daddy!" teriak Mommy Della menggelegar memenuhi satu rumah. Dan karena teriak tersebut membuat semua orang yang tinggal disana pun dengan cepat berlari kearah dirinya.
"Ada apa sayang?" tanya Daddy Aiden sembari berlari menuruni anak tangga.
"Dad tolong Dad," ujar Mommy Della tak jelas sama sekali.
"Tolong apa?" tanya Daddy Aiden kembali.
"Ck, to the point lah Mom, jangan muter-muter ngomongnya. Kalau gak penting kan Erland mau lanjut tidur," timpal Erland dengan wajah sayu dan penampilan yang sangat acak-acakan.
"Cerewet. Kamu diam dulu!" ujar Mommy Della yang membuat Erland menghela nafas panjang.
"Dad tolongin calon anak mantu kita," ucap Mommy Della.
"Ishhhh yang Mommy maksud tuh bukan Leon lho tapi pacar Azlan, si Zea," ucap Mommy Della.
"Eh Zea, memangnya dia kenapa Mom?" tanya Erland.
"Mommy gak tau pastinya dia kenapa, tadi kata Azlan tadi dia sekarang lagi dalam bahaya karena ada seseorang yang tengah mengancam keselamatannya," jawab Mommy Della yang membuat semua orang disana langsung membelalakkan mata ngantuk mereka.
"Mom tau gak bang Az nyamperin Zea dimana?" tanya Erland lagi.
__ADS_1
Mommy Della tampak menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari anaknya itu. Dan hal tersebut membuat Erland berdecak sebal. Kalau dia tidak tau arah yang dituju Azlan, mana bisa dirinya membantu Azlan menyelamatkan Zea.
"Er," panggil Mommy Della yang membuat Erland langsung menatap kearahnya.
"Mom rasa Azlan sekarang tengah menuju ke rumah Zea hmmmm lebih tepatnya apartemen yang sekarang di tinggali oleh Ze," ucap Mommy Della. Dan tanpa hitungan detik, Erland langsung bergerak menuju ke pintu utama rumah tersebut.
"Lho Er mau kemana?" tanya Mommy Della.
"Mau bantuin bang Az," jawab Erland.
"Er pergi dulu Mom, Dad. Assalamualaikum," teriak Erland sembari berjalan hingga akhirnya dirinya menghilang dari balik pintu rumah tersebut.
"El juga izin pergi dulu Mom, Dad. Assalamualaikum," pamit Leon sembari bersalaman dengan kedua orangtua di rumah itu.
""Rea ikut!" teriak Edrea.
"Gak, kamu tetap di rumah. Ini sudah malam, gak baik anak gadis keluar tengah malam," ujar Leon.
"Tapi El---"
"Tidak ada kata tapi. Tetap di rumah dan jangan bantah!" tegas Leon yang berhasil membuat bibir Edrea mengerucut. Tapi Leon mana peduli dengan kerucutan di bibir kekasihnya itu karena keputusan yang dibuat tadi sudah sangat benar terlebih sehebat-hebatnya Edrea menguasai ilmu bela diri, dia akan tetap kalah kalau lawan paham dan tau titik kelemahan Edrea. Dan untuk menghindari hal yang tak diinginkan terjadi, Leon tetap kekeuh dengan keputusannya tadi. Dan biarkan saja Edrea untuk saat ini terus mengerucutkan bibirnya dan akan merajuk pada dirinya, itu bisa Leon pikirkan nanti. Karena yang terpenting sekarang adalah membantu Azlan dan Erland menyelamatkan Zea tanpa membuat Edrea ikut dalam aksi itu agar kekasihnya tetap aman di dalam rumah keluarga Abhivandya.
"Ngambeknya jangan lama-lama karena ini demi keselamatanmu. Dan aku pergi dulu, kamu balik tidur sana gih, good night sayang. Assalamualaikum," ujar Leon sembari menggelus kepala Edrea dengan sayang. Sebelum akhirnya ia pergi dari hadapan Edrea.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang mendengar ucapan salam dari Leon tadi.
Dan Edrea yang sebenarnya masih sebal dengan Leon pun ia kini menghentak-hentakkan kakinya, tak peduli jika semua orang tengah menatap dirinya. Tapi hentakan kaki itu terhenti saat matanya tak sengaja melihat sesuatu yang aneh sekaligus familiar dari tubuh Leon. Edrea terdiam sembari terus menajamkan penglihatannya. Tapi sayangnya belum juga dirinya memastikan jika apa yang ia lihat benar, Leon lebih dulu hilang dari pandangan. Dan hal tersebut membuat Edrea berdecak kesal. Dan dengan perasaan yang penuh dengan kekesalan, Edrea berjalan menuju ke kamarnya kembali.