The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 357


__ADS_3

"Eh ada ayang ternyata," ucap Edrea sembari memutar tubuhnya menghadap kearah Leon.


"Coba ulangi apa yang kamu katakan tadi? Mataku kenapa tadi hmmm?" tanya Leon yang membuat Edrea gelagapan sendiri dibuatnya.


"Ahhhhh aku gak bilang apa-apa tentang mata kamu. Kamu pasti salah dengar tadi," ucap Edrea.


Leon yang mendengar alibi dari Edrea pun ia mendengus kesal, lalu dirinya mengkode pegawai yang tadi menemani Edrea di dalam ruang ganti untuk segara keluar melalui lirikan matanya.


Dan setelah pegawai itu sudah keluar, Leon melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam ruang ganti tersebut dengan tangan yang bergerak cepat untuk menutup pintu tersebut lalu menguncinya. Dan apa yang dilakukan oleh Leon itu membuat Edrea sekarang ketar-ketir, takut jika Leon akan macam-macam dengan dirinya. Ya walaupun Leon adalah calon suaminya tapi bagi Edrea, jika Leon belum berjanji sehidup semati di depan penghulu dan para saksi juga belum menjalankan ijab kabul, jangan harap Leon bisa menjamah tubuhnya lebih jauh lagi. Jika peluk dan cium kening atau pipi, Edrea sudah bisa memakluminya tapi jika sudah lebih, jangan harap Edrea akan melepaskan orang yang sudah lancang melakukan hal tersebut sekalipun itu adalah calon suaminya sendiri. Dan perlu diingat Edrea tidak akan segan-segan mematahkan tulang-tulang di tubuh orang yang diduga berniat bermacam-macam dengannya.


Edrea yang melihat Leon yang semakin memojokkan dirinya, sinyal bahaya yang berada di tubuh Edrea langsung menyala dan kini dengan balutan gaun pengantin ia sudah berada di posisi kuda-kuda.


"Stop jangan mendekat. Kalau sampai kamu masih berani kesini, jangan salahkan aku kalau wajah kamu itu nanti akan bonyok," ujar Edrea dengan memeragakan tinjuan-tinjuannya di udara.


Tapi sayangnya ancaman dari Edrea tadi hanya dianggap angin lalu saja oleh Leon, pasalnya laki-laki itu bukannya takut dan menuruti apa yang Edrea perintahkan. Dirinya justru semakin melangkah lebar mendekati Edrea. Dan saat dirinya sudah berada di jarak yang tak jauh dari tubuh Edrea, dengan gerakan cepat ia mencekal lengan Edrea lalu kemudian ia menarik tubuh perempuan itu hingga akhirnya Edrea terhuyung kedepan dan berakhir tubuh Edrea bertubrukan dengan tubuh kekar milik Leon.


"Awsss sakit, anjir," umpat Edrea refleks. Dan hal tersebut membuat Leon kini melebarkan matanya, kemudian tangannya kini bergerak untuk menyentil bibir mungil calon istrinya itu.


"Siapa yang ngajarin kamu buat mengumpat seperti itu?" Tanya Leon dengan suara tegas.


"Gak ada yang ngajarin," jawab Edrea dengan jujur sembari ia mengelus bibirnya yang lumayan sakit terkena sentilan dari Leon tadi.


"Lagian aku tadi cuma ngomong anjir doang bukan umpatan kasar kayak as---" Belum sempat Edrea menyelesaikan ucapannya tadi, lagi-lagi bibirnya terkenal sentilan maut dari Leon.


"Ck, sakit tau. Jangan di sentil lagi bisa-bisa bibir ku bengkak sebelum waktunya," ujar Edrea tak terima dengan apa yang Leon itu lakukan.


"Kalau gak mau di sentil makanya ucapannya di jaga. Dan aku gak suka ya kalau kamu melontarkan kata-kata umpatan dan kasar seperti tadi. Kamu ini calon pendampingku, masak iya calon queennya Elsworth Leonardo Grissham sering mengumpat apalagi di depan calon suaminya sendiri, itu gak baik sayang," ucap Leon dengan suara yang sekarang sudah kembali lembut.


"Ck, tadi kan aku juga refleks. Yang namanya refleks mah gak bisa di kendalikan," sangkal Edrea yang tak mau salah.


"Refleksnya jelek banget. Coba kalau kamu lagi refleks diganti kata-katanya jadi astagfirullah, inalillahi, subhanallah, masyaallah dan lain sebagainya yang jika kamu refleks mengucapakan kata-kata itu justru mendapat pahala bukan malah nambah dosa. Paham sayang?" Edrea yang sepertinya sudah kalah telak dan sudah tidak bisa menimpali lagi ucapan Leon tadi, ia kini menganggukkan kepalanya.


"Iya-iya aku paham. Dan kamu perlu tau kalau aku refleks sampai mengucapkan kata-kata tadi itu juga karena kamu. Kalau saja kamu gak narik aku sampai aku nabrak tubuh kamu, aku juga gak akan refleks mengumpat," ujar Edrea yang kini membuat Leon menghela nafas panjang. Berdebat dengan seorang perempuan yang tidak mau disalahkan padahal itu sudah jelas-jelas salah perempuan itu sendiri benar-benar membuat Leon tak habis pikir. Kenapa seorang perempuan selalu saja tak ingin disalahkan bahkan sepertinya pribahasa, lempar batu sembunyi tangan lumayan cocok dengan perempuan yang enggan mengakui kesalahannya sendiri dan akan melempar kesalahannya kepada pasangannya sendiri jika mereka tengah cek-cok seperti yang terjadi kepada Leon dan Edrea saat ini.


Lagi-lagi Leon menghela nafas dengan sesekali berucap dalam batinnya untuk selalu sabar menghadapi manusia dihadapannya saat ini yang sayangnya perempuan itu sangat ia cintai.


"Lagian kamu tadi kenapa pakai pasang kuda-kuda segala. Emangnya kamu pikir kita disini mau adu jotos gitu?" Edrea tampak terdiam, ia melakukan hal tersebut juga atas perintah dari otaknya yang tiba-tiba menerima sinyal bahaya.


"Itu anu hmmmm aku itu tadi hmmm---" Leon yang sepertinya sudah tau apa yang ada di pikiran Edrea itu pun ia kini menyentil kening calon istrinya itu.


"Pikiran kamu negatif mulu. Aku masih waras buat merusak tubuh kamu untuk saat ini, sayang. Tapi kalau setelah ijab kabul nanti, aku gak janji," ujar Leon dengan entengnya bahkan tangannya yang sedari tadi melingkar indah di pinggang Edrea kini ia lepaskan.

__ADS_1


"Maksud kamu?" tanya Edrea tak paham dengan perkataan Leon yang terakhir.


"Kamu nanti juga tau sendiri apa maksud dari ucapanku tadi. Yang terpenting aku tidak akan merusak kamu untuk saat ini. Dan daripada kamu memikirkan ucapanku tadi, lebih baik kamu sekarang cobain gaun ini. Aku tunggu di luar," ujar Leon sembari menyerahkan satu buah gaun yang ia pilihkan sendiri di hadapan Edrea. Dan tanpa banyak tanya, Edrea langsung menerima gaun tersebut dengan otak yang terus memikirkan arti dari perkataan Leon sebelumnya.


Leon yang melihat wajah calon istrinya itu yang tampak bingung pun diam-diam ia menahan tawanya. Dan sebelum dirinya melangkahkan kakinya menuju kearah pintu keluar dari ruang ganti tersebut, ia menyempatkan dirinya untuk mengacak-acak rambut Edrea sebelum akhirnya dirinya benar-benar keluar dari ruangan tersebut.


Edrea yang masih terbengong itu pun beberapa saat setelahnya ia mengerjabkan matanya berkali-kali saat ia berhasil mengetahui maksud dari ucapan dari Leon tadi. Dan entah kenapa wajahnya kini terasa panas, bahkan sekarang sudah terlihat memerah menahan malu akan bayang-bayang apa yang akan ia lakukan nanti saat sudah menyandang status sebagai nyonya Elsworth. Tapi sesaat setelahnya ia memukul keningnya sendiri saat dirasa otaknya semakin lama semakin membayangkan hal yang tidak-tidak.


"Astaga, Edrea sadar sadar sadar. Kenapa otak lo sekarang terkontaminasi dengan hal-hal yang berbau 21+ sih. Astaghfirullah. Ini semua gara-gara calon suami gila itu. LEON! AWAS AJA YA KAMU!" teriak Edrea nyaring. Dan teriakannya itu sampai tembus keluar ruangan tadi sehingga Leon yang sedari tadi duduk manis di salah satu sofa tak jauh dari ruang ganti pun kini terkekeh di buatnya.


...****************...


Sedangkan di rumah keluarga Abhivandya, Zico yang sudah menuruti semua apa yang di katakan oleh Mommy Della untuk membersihkan tubuhnya setelah ia selesai memakan masakan Mommy barunya itu, bukannya ia langsung istirahat sesuai dengan perintah terakhir Mommy Della, ia sekarang justru tengah berdiri di atas balkon kamar barunya. Ya, dirumah itu sekarang ia memiliki kamar pribadi tepat di lantai dua sama seperti kamar Adam, triplets, dan Vivian yang juga berada di lantai tersebut. Entah kapan mereka mempersiapkan kamar untuknya yang anehnya benar-benar sangat sesuai dengan seleranya itu, Zico juga tidak tau. Dan entah tau dari mana mereka jika Zico sangat menyukai warna abu-abu. Pasalnya desain kamar barunya itu hampir sama dengan desain kamar yang ada di rumah pribadi miliknya. Apakah mungkin inspirasi kamar barunya ini dari Vivian, hmmmm bisa jadi. Kakaknya itu memang paling tau apapun yang ada pada dirinya dari hal kecil maupun hal besar sekalipun.


Hingga lamunan Zico buyar saat terdengar suara ketukan pintu kamarnya.


Tok tok tok!


"Jio, kamu sudah tidur nak?" teriak Mommy Della dari luar membuat Zico kini memutar tubuhnya dan segara membukakan pintu untuk wanita paruh baya itu.


"Jio belum tidur Mom," ucap Zico saat dirinya sudah membuka pintu kamarnya sembari menerbitkan sebuah senyuman kearah Mommy Della.


Dan senyuman dari Zico tadi menular kepada Mommy Della, buktinya wanita itu kini juga tersenyum kearahnya.


"Kita ngomonginnya didalam aja ya Mom," ujar Zico.


"Iya sayang," balas Mommy Della sembari mengelus kepala Zico sebelum kakinya melangkah masuk kedalam kamar tersebut.


Zico yang melihat Mommy Della sudah benar-benar masuk pun ia kembali menutup pintu kamar tersebut, lalu kemudian ia mengikuti langkah Mommy Della sampai langkah keduanya terhenti saat tiba di deretan sofa di kamar tersebut.


"Duduk disamping Mommy sini nak," ucap Mommy Della sembari menepuk-nepuk sofa di sampingnya.


Zico menganggukkan kepalanya, kemudian ia berjalan mendekati Mommy Della lalu duduk disamping wanita tersebut.


"Mommy mau ngomong apa sama Jio?" tanya Zico penasaran.


"Hmmm sebelum Mommy ngomong sesuatu sama kamu, Mommy mau tanya dulu, boleh?" Zico menganggukkan kepalanya.


"Boleh kok. Mommy mau tanya apa?" Mommy Della kini menghela nafas panjang sebelum ia kembali angkat suara.


"Mommy mau tanya, kapan kamu kembali ke Rusia?" tanya Mommy Della yang membuat Zico tampak berpikir sejenak.

__ADS_1


"Hmmm sepertinya 3 hari lagi. Memangnya kenapa Mom?" Mommy Della tidak menjawab pertanyaan dari Zico tadi, ia sekarang justru menggenggam tangan Zico dengan sangat erat.


"Boleh gak kalau kamu kembali ke negara itu satu bulan lagi atau kalau tidak ya beberapa minggu lagi lah." Zico mengerutkan keningnya.


"Memangnya ada apa sih Mom?" tanya Zico yang benar-benar penasaran.


"Jadi gini, Minggu depan itu Edrea sama Leon mau melaksanakan acara pernikahan. Mommy pingin semua anak Mommy ikut dalam acara itu termasuk kamu. Apa kamu bisa Jio, mengundur keberangkatan kamu ke Rusia beberapa Minggu lagi?" Zico yang mendengar permintaan Mommy Della pun ia kembali tersenyum.


"Mommy tenang saja, Jio akan menuruti apa yang Mommy mau. Jio akan mengundur keberangkatan Jio beberapa Minggu lagi sampai acara Edrea selesai digelar," ujar Zico dengan membalas genggaman tangan Mommy Della. Dan ucapan dari Zico tadi membuat Mommy Della merasa terharu.


"Uhhhh anak Mommy. Jadi makin sayang, sini peluk." Mommy Della merentangkan kedua tangannya yang membuat Zico langsung berhambur kedalam pelukannya.


Sesaat setelahnya, Mommy Della yang menyadari sesuatu pun ia kini melepaskan pelukannya.


"Tapi tunggu sebentar. Kamu tidak memiliki rasa sama Edrea kan?" Zico mengerutkan keningnya.


"Rasa? Maksud Mommy?" tanya Zico tak paham.


"Ck, itu lho Jio. Rasa yang lebih. Kayak misalnya kamu jatuh cinta sama Edrea gitu? Kan Edrea dulu sempat kejar-kejar kamu yang otomatis bisa bikin kamu baper dan berakhir kamu jatuh cinta balik sama dia saat ini. Dan Mommy takutnya kamu sekarang lagi merasakan sakit di dada kamu setelah mendengar jika Rea mau menikah dengan orang lain. Kamu gak papa kan Rea nikah sama Leon? Dan coba jujur sama Mommy kamu memiliki rasa sama Rea atau tidak?" tutur Mommy Edrea yang langsung mendapat gelengan dari Zico.


"Sebelumnya Jio mau minta maaf Mom."


"Lah kok kamu malah minta maaf? Memangnya kamu salah apa coba?" heran Mommy Della yang sekarang membuat Zico menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Hmmm itu Mom, sebenarnya dari dulu saat Jio di kejar-kejar sama Edrea, Jio tidak memiliki rasa yang lebih kepada Rea, perlakuan baik yang Jio lakukan dulu hanya semata-mata untuk melindungi Edrea dari Zico. Jadi Mommy tenang saja, dari dulu sampai sekarang Jio tidak memiliki rasa yang lebih ke Edrea selain rasa yang kuat untuk selalu melindungi Edrea. Tidak lebih dari itu," tegas Zico.


"Kamu yakin? Kamu gak lagi bohong sama Mommy kan?" tanya Mommy Della sembari menelisik tatapan Zico untuk mencari kebohongan di dalam mata tersebut. Tapi sayangnya, ia tak menemukan tanda-tanda itu di mata indah Zico. Dan hal tersebut sudah bisa diartikan jika apa yang dikatakan Zico tadi apa adanya dan tidak bohong sama sekali.


"Tidak Mom. Jio tidak bohong dan tidak akan pernah berani bohong sama Mommy," ucap Zico dengan mantap. Dan hal tersebut membuat Mommy Della kini menghela nafas lega. Setidaknya jika Zico nanti ikut hadir dalam acara tersebut ia tak merasa sakit hati melihat Edrea bersanding dengan laki-laki lain.


"Syukurlah kalau begitu, Mommy sekarang bisa tenang. Karena jujur saja Mommy tidak mau salah satu anak Mommy merasakan sakit hati karena masalah percintaan. Mommy pengen kalian selalu bahagia kapanpun dan dimanapun dengan pasangan kalian masing-masing," ujar Mommy Della dengan memeluk tubuh Zico kembali.


Zico yang lagi-lagi mendapat pelukan hangat dan perhatian dari Mommy Della pun kini ia membalas pelukan tersebut dengan begitu erat.


"Mom," panggil Zico.


"Iya sayang, kenapa hmmm?"


"Terimakasih karena sudah mau menganggap Jio seperti anak Mommy sendiri. Terimakasih sudah mau mengulurkan tangan Mommy untuk Jio saat Jio tersesat waktu itu. Dan terimakasih atas support dan bantuan Mommy juga Daddy yang telah membantu Jio keluar dari hidup gelap Jio yang dulu. Terimakasih Mom, Jio hutang budi dengan keluarga ini terutama dengan Mommy sama Daddy seumur hidup karena Jio yakin tidak bisa membalas kebaikan Mommy dan Daddy selama Jio hidup di dunia ini nanti," ujar Zico yang terdengar begitu tulus. Saking tulusnya membuat Mommy Della diam-diam menangis di balik punggung Zico.


Entah mengapa hatinya justru terasa sakit mendengar kata-kata Zico tersebut. Bahkan ia sempat berpikir, seberapa berat masalah yang dulu Zico hadapi hingga membuat anak laki-laki yang berada di dekapannya saat ini harus mengalami penyakit yang menyeramkan seperti dulu. Seberapa kesepiannya Zico waktu itu hingga membuatnya masuk ke dunia gelap. Dan seberapa sakit Zico waktu itu saat tau jika ibu kandungnya yang sama sekali belum pernah ia lihat harus mati mengenaskan ditangan seseorang yang sayangnya orang itu adalah Daddy Aiden. Dan juga seberapa terpuruknya dia saat mengetahui ayahnya meninggal dan juga mengetahui jika Vivian bukan Kakak kandungnya. Yang pastinya hati Zico saat itu terasa begitu hancur.

__ADS_1


Tapi walaupun begitu bayang-bayang keterpurukan Zico waktu itu tidak bisa tergambar jelas di bayangannya, tapi Mommy sekarang bisa merasakan sedikit rasa sakit yang Zico alami saat itu.


Dan ia baru menyadari beberapa hal tentang Zico yang hanya membutuhkan seseorang yang bisa mengerti dirinya, merangkul dirinya jika tengah terpuruk, dan ia juga membutuhkan seseorang yang bisa memberikan dirinya kasih sayang yang tulus. Dia hanya butuh itu semua untuk menyembuhkan luka yang sudah teramat dalam itu. Tapi Mommy Della yang baru menyadari akan hal tersebut, ia kini berjanji dengan dirinya sendiri, jika dirinya akan memberikan semua yang belum pernah Zico terima dan rasakan sebelumnya. Ia benar-benar sudah yakin saat ini jika ia akan menggantikan peran Cika sebagai ibu untuk Zico. Ia tak akan pernah membeda-bedakan Zico dengan anak-anaknya yang lain. Karena mulai sekarang Zico adalah anak laki-lakinya, Zico miliknya dan ia tak akan pernah membiarkan orang lain untuk menyakiti Zico walau hanya seujung kuku pun ia tak akan pernah membiarkan hal tersebut terjadi, dan tolong camkan janji Mommy Della ini.


__ADS_2