
Di hari berikutnya dan diwaktu pulang sekolah, tampak Erland tengah menunggu seseorang di lobby sekolah tersebut dan sebelumnya ia juga sudah mengirim pesan kepada Azlan agar tak menunggu dirinya.
Ia menyandarkan tubuhnya di tembok lobby tersebut sembari mendengarkan musik yang ia dengarkan lewat airpods miliknya bahkan kepalanya ia tutup menggunakan tudung hoodie yang menambah kesan keren didirinya.
Erland terus saja menunggu hingga akhirnya orang yang sedari tadi ia tunggu muncul. Namun nampaknya orang tadi tak melihat dan tak menyadari jika dirinya tengah di tunggu pangeran tampan itu.
Erland berdecak saat orang tadi melewati dirinya begitu saja. Kemudian ia sedikit berlari untuk menyamakan langkah orang tadi.
"Ehem," dehem Erland saat sudah berhasil menyamakan langkahnya.
Orang tersebut tak menghiraukan deheman Erland dan terus saja berjalan.
"Ck," decak Erland lalu pundak orang tersebut ia raih untuk menghentikan langkahnya. Dan tanpa ia sangka, orang tersebut reflek memutar tubuhnya dan memukul Erland menggunakan buku-buku yang ia bawa tadi.
Bugh!! Bugh!! Bugh!!
"Kayla stop!" tutur Erland.
Kayla menajamkan pendengarannya.
"Kok suaranya kayak punya Erland ya," gumamnya namun masih saja memukul orang dihadapannya.
"Ini emang gue, Erland," geram Erland sembari memegangi kedua tangan Kayla supaya sang empu berhenti dari aksinya tadi.
"Eh, aduh maaf maaf, gue tadi refleks. Kirain tadi siapa. Maaf," tutur Kayla merasa bersalah.
"Gak ada yang luka atau sakit kan?" sambungnya.
"Kalau luka emang gak ada. Sakitnya yang terasa," gerutu Erland.
"Aduh, maaf. Gue gak sengaja beneran deh suer."
"Hmmm," jawab Erland dengan deheman saja dan hal itu membuat Kayla semakin merasa bersalah.
"Ya udah gini aja deh. Sebagai permintaan maaf gue, gue traktir lo gimana?" tawar Kayla.
Erland tampak terdiam dan berlagak menimbang-nimbang tawaran dari Kayla tadi padahal di dalam hatinya ia tersenyum senang.
"Hmmm oke," jawab Erland, lalu ia menarik tangan Kayla.
"Lho lho lho kita mau kemana?" tanya Kayla.
"Katanya tadi lo mau traktir gue."
"Iya gue tau tapi kenapa kita malah menuju parkiran?"
__ADS_1
"Lo pikir kita mau jalan kaki ke tempat makan?"
Kayla menggelengkan kepalanya.
"Ck, tenang aja gue pakai mobil gak pakai motor, kasian lo juga udah pakai rok harus naik motor sport," tutur Erland yang membuat Kayla bisa bernafas lega.
"Terlebih lagi gue gak mau kaki indah lo itu dilihatin orang banyak," tambah Erland di batinnya.
"Ya udah yuk sekarang aja. Tapi jangan milih restauran yang harga makanannya mahal ya. Gue belum gajian soalnya," ucap Kayla dengan cengiran di bibirnya.
Erland ikut tersenyum sembari mengacak rambut Kayla gemas.
"Baiklah," tutur Erland.
Kayla tampak tertegun melihat senyum manis Erland untuk pertama kalinya.
"Astaga, orang tampan ini kalau senyum tingkat ketampanannya semakin bertambah dan semakin sulit juga untuk digapai. Aduh kacau sudah," batin Kayla dengan mata yang terus menatap wajah Erland tanpa berkedip.
Erland mengerutkan keningnya, melihat kebengongan Kayla.
Tuk!!!
Erland menyentil kening Kayla yang membuat sang empu meringis dan mengusap-usap keningnya yang tampak memerah.
"Coba sini gue lihat," ucap Erland sembari menyingkirkan telapak tangan Kayla kemudian ia melihat kening Kayla yang ia sentil tadi. Dan dengan inisiatif, ia mengelus kening tersebut dengan lembut lalu meniupnya.
Jangan tanya ekspresi wajah Kayla sekarang seperti apa? ia sudah seperti kepiting rebus, kedua pipinya tampak memerah. Ia hanya berharap supaya Erland tak mendengar detak jantungnya saat ini.
Erland kini menjauhkan tubuhnya dari Kayla.
"Lah wajah lo kenapa jadi merah semua?" tanya Erland lebih tepatnya ucapannya itu untuk menggoda Kayla.
Kayla melongo dan menutup wajahnya dengan buku yang ia pegang.
"Kenapa sekarang malah di umpetin?" ucap Erland dengan berusaha mengintip wajah Kayla.
"Ck, dah lah. Ini gimana jadinya? masih mau gue traktir gak? kalau gak ya udah gue balik dulu toh bentar lagi gue kerja. Kalau telat takut dimarahin bos besar," tutur Kayla.
"Lah kenapa sekarang jadi sensi gini?"
"Erland!" geram Kayla yang terus di goda oleh Erland.
"Oke-oke kita berangkat sekarang. Tapi turunin bukunya dari wajah lo," pinta Erland. Perlahan Kayla menurunkan buku tersebut.
Erland lagi-lagi dibuat gemas dengan ekspresi wajah Kayla dan tanpa persetujuan dari sang empu ia melingkarkan tangannya di leher Kayla.
__ADS_1
"Let's go kita pergi sekarang," ucap Erland penuh semangat dan membawa tubuh Kayla kearah parkiran mobil.
Tanpa kedua orang tadi ketahui, bahwa ada dua orang di beda tempat tengah memperhatikan setiap adegan yang siapa saja melihat adegan tadi pasti sudah dimasukkan kedalam kategori romantis. Dan dua orang itu adalah Azlan dan Zea.
Azlan menghela nafas saat keduanya telah pergi. Mungkin ia bisa merelakan mereka berdua bersama tapi ia tak menjamin bawah wanita di depannya itu akan menerima semuanya walaupun dulu ia sudah mendengarkan jika Zea akan menerima kenyataan tersebut tapi namanya manusia bisa berubah kapan saja.
Azlan kini melangkahkan kakinya menghampiri Zea yang masih diam di tempat. Azlan menepuk pundak Zea saat sudah berada di tempat Zea berada.
"Lo gak papa kan?" tanya Azlan.
Zea menengadahkan kepalanya, menatap wajah Azlan.
"Gue gak papa kok," tuturnya dengan suara bergetar menahan air mata agar tak tumpah.
"Ikut gue yuk," ajak Azlan.
"Kemana?"
"Nanti lo juga tau. Tapi tunggu mereka keluar dari area sekolah ini dulu," ucap Azlan dan diangguki oleh Zea.
"Az," panggil Zea.
"Hmmm."
"Lo pernah gak sih ngerasain di posisi gue sekarang?" tanyanya.
"Pernah," jawab Azlan.
"Kapan?" tanya Zea. Ingin sekali Azlan menjawab dengan lantang kalau saat ini ia merasakan hal yang sama seperti Zea tapi ia sudah berniat untuk tak memberi tahu siapa pun tentang rasa suka dan sakit hatinya saat ini.
"Udah lama."
"Terus apa yang lo lakuin pada saat itu?"
"Gue mencoba ikhlasin dia, sama seperti omongan lo waktu itu. Dia berhak bahagia walaupun bukan gue yang jadi alasan dia ketawa," tutur Azlan sembari menoleh kearah Zea.
"Ahhhh ternyata nasib kita sama ya Az. Mencintai orang yang hatinya bukan milik kita," ucap Zea.
"Udah lah gak usah dibahas, nanti lo malah nangis lagi. Kita pergi sekarang. Mobil Erland udah keluar gerbang," tutur Azlan sembari berjalan.
"Tapi gue ikut mobil lo ya. Hari ini gue di antar soalnya," pinta Zea.
"Iya-iya. Buruan jalan keburu sore tar." Zea mengangguk dan bergegas melangkahkan kakinya menyamakan langkah lebar Azlan.
Hingga langkah kaki keduanya berhenti saat sudah sampai di samping mobil Azlan dan keduanya pun langsung masuk kedalam mobil tersebut. Dan kemudian tak berselang lama, mobil Azlan perlahan keluar dari area sekolah tersebut.
__ADS_1