The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 195


__ADS_3

Edrea yang berada didalam rumah sendirian pun kini hanya berguling-guling di atas ranjangnya. Ia sudah benar-benar bosan seharian ini hanya berdiam diri di rumahnya. Awalnya ia tadi mau berangkat ke sekolah seperti biasa tapi sayangnya kedua orangtuanya itu melarangnya dengan keras.


"Gue harus ngapain lagi ini biar gak gabut begini. Lagian Dad sama Mom kenapa gak bolehin gue masuk sekolah sih tadi. Walaupun disekolah juga gak ngapa-ngapain tapi setidaknya disana ada teman yang bisa diajak ngobrol. Kalau disini, gak ada yang diajak ngobrol. Semuanya pada pergi dengan urusan mereka masing-masing. Kalau mau ngobrol sama mbak juga kasihan, bisa-bisa pekerjaan mereka nanti terbengkalai dan berakhir gue yang kena marah Mom nanti. Haish, tapi gue bosen," ucap Edrea sembari memukul-mukul kasurnya.


"Tolong, siapapun ajak gue main keluar!" teriak Edrea yang sudah kelewat bosan itu karena jika ia ingin keluar sendiri, kunci mobilnya dan kunci mobil yang lain sudah disembunyikan oleh kedua orangtuanya.


Tapi bertepatan dengan mulutnya terkatup setelah berteriak tadi, tiba-tiba saja ponselnya berdering yang menandakan ada sebuah pesan masuk kedalam ponselnya. Dan dengan malas Edrea meraih ponsel tersebut yang tergeletak diatas nakas samping ranjangnya itu.


"Lah si doi nongol lagi," gumam Edrea saat ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya tersebut. Dan setalahnya ia langsung membuka pesan tersebut.


📨 : Mr. Misterius


Keluar sekarang. Didepan gerbang ada mobil yang nunggu kamu.


Edrea mengerutkan keningnya tak paham akan maksud pesan dari orang tersebut.


Dan lebih baik dia sekarang bertanya terlebih dahulu sebelum ia memutuskan untuk keluar dari rumah itu. Sekaligus untuk was-was, siapa tau kan mobil itu didalamnya ada jebakan untuknya.


📨 : To Mr. Misterius


Gue gak mau keluar. Toh mobil itu juga gak jelas asal usulnya. Siapa tau kan itu mobil ada sesuatu yang merugikan gue. Send.


1 menit, 5 menit hingga 15 menit tak ada balasan lagi dari sang empu yang membuat Edrea berdecak.


"Walaupun lo sering banget nolongin gue. Gue juga gak akan mudah percaya sama lo begitu saja. Dan nih buktinya, udah ketahuan mau buat gue celaka makanya gak bisa balas pesan gue," ucap Edrea diakhir dengan ia memberikan umpatannya kepada Mr. Misterius itu.


Tapi tak berselang lama segala itu, tiba-tiba saja terdengar suara klakson mobil yang begitu nyaring bahkan berbunyi berulang kali.


Edrea yang dari awal sudah badmood kini moodnya semakin dibuat hancur setelah mendengar kebisingan itu.

__ADS_1


Dan dengan emosi yang sudah hampir meledak itu, ia beranjak dari acara rebahannya itu lalu ia melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya.


Saat dirinya sudah berada di balkon kamar tersebut, ia menghirup oksigen banyak-banyak sebelum nantinya ia gunakan untuk berteriak sekencang mungkin agar bisa sampai di telinga orang menyebalkan yang sudah membuat kebisingan itu.


"Yaaaaaaakkk! Bisa diam tidak!!! Berisik!" teriak Edrea yang begitu nyaring hingga masuk kedalam indra pendengaran sang pembuat kebisingan tadi.


Sedangkan orang yang membunyikan klakson tadi kini keluar dari mobil tersebut. Dan hal itu membuat Edrea yang sedari tadi terus menatap mobil tersebut, kini matanya itu ia tajamkan kembali saat ia tak merasa asing dengan penampilan orang yang baru saja keluar dari mobil itu.


Sedangkan orang itu yang tadinya menundukkan kepalanya, kini mulai menengadahkan kepalanya dan menatap kearah Edrea yang tak bergerak dari tempatnya berdiri sebelumnya.


"Pantas saja gue ngerasa gak asing sama penampilan orang itu. Ternyata memang dia," tutur Edrea diakhiri dengan ia mencebikkan bibirnya.


Lalu setelahnya ia tampak melihat kode dari orang tersebut yang menginginkan dirinya agar segera turun dan menemui dirinya.


"Gak mau! Mau sampai kapan pun gue gak mau turun karena lo sudah berada di daftar orang yang bahaya buat gue," teriak Edrea untuk memberikan jawaban kepada orang tersebut yang ternyata adalah Mr. Misterius.


Mr. Misterius itu tampak menatap tajam kearah Edrea tapi setelahnya ia mengeluarkan ponselnya kembali lalu setalahnya ia tampak tengah mengetik sesuatu untuk Edrea.


📨 : Mr. Misterius


Turun sekarang dan kesini. Jika lo masih kekeuh untuk tidak kesini. Maka jangan salahkan gue jika rumah lo ini akan hancur setelahnya.


Setelah membaca pesan tersebut, Edrea mengalihkan pandangannya kearah orang tersebut.


"Coba aja kalau berani!" tantang Edrea yang justru membuat Mr. Misterius itu terkekeh dibalik masker yang menutupi bagian hidung dan mulutnya.


Lalu setelah itu, ia mengangkat tangannya dan disitulah banyak anak buahnya yang muncul dari persembunyian.


Edrea yang melihat sekeliling rumahnya sudah terkepung oleh orang-orang dari Mr. Misterius itu pun langsung panik seketika. Tapi untungnya hanya dirinya saja yang melihat anak buah dari Mr. Misterius tersebut jika para bodyguard rumah tersebut juga melihatnya, Edrea bisa pastikan detik itu juga peperangan tak bisa di hindari lagi.

__ADS_1


Ting!


Satu pesan kembali masuk kedalam ponsel Edrea.


📨 : Mr. Misterius


Cepat kesini daripada orang-orang di rumah lo mati di tangan anak buah gue dan rumah lo gue buat hancur, sehancur-hancurnya.


Edrea menggeram kesal dengan tangan menggenggam ponselnya tadi dengan erat.


Dan dengan perasaan jengkel, Edrea menyaut Hoodienya sebelum ia turun dan menemui Mr. Misterius tersebut.


Dengan jalan yang teramat hati-hati dan juga mengendap-endap, Edrea melangkahkan kakinya menuju ke pintu belakang rumah tersebut. Bahkan matanya terus aktif melihat situasi di sekelilingnya.


"Ck, pintu belakang juga harus dijaga sama bodyguard. Astaga," gumam Edrea.


Sesaat dirinya terdiam sembari bersembunyi di balik pintu yang terbuka itu dengan otak yang terus berputar untuk memikirkan ide apa yang bisa membuat bodyguardnya itu pergi dari depan gerbang belakang tersebut.


Hingga akhirnya otak Edrea kini telah menemukan sebuah ide, lalu setelahnya Edrea keluar dari persembunyiannya itu dan menghampiri kedua bodyguard tersebut dengan berlari sekencang-kencangnya. Sedangkan kedua bodyguard tadi kini ia sudah siap menghadangnya Edrea.


"Nona tidak di perbolehkan untuk keluar," ucap bodyguard tersebut dengan tegas setelah Edrea berhenti tepat di depan mereka.


"Rea gak mau kelur Om. Rea cuma mau minta bantuan Om buat nolongin para mbak yang tengah kesurupan di ruang istirahat mereka. Semua bodyguard juga ada di sana sekarang, tapi mereka masih aja kewalahan. Buruan tolongin mereka Om," ucap Edrea dengan menampilkan ekspresi paniknya. Dan idenya itu sepertinya berhasil karena terlihat dari mimik wajah kedua bodyguard tadi yang sudah mulai berubah.


"Ish, Om mah lama, gak setia kawan pula," tutur Edrea.


"Baik kita akan pergi kesana," ucap bodyguard tadi dan keduanya langsung bergerak untuk meninggalkan tempat mereka itu.


"Eh Om, salah satu dari kalian juga harus cari ustadz buat nyembuhin mereka!" teriak Edrea yang membuat kedua bodyguard tadi menghentikkan langkahnya lalu setelah mereka berdua saling berkomunikasi lewat tatapan mata, salah satu dari bodyguard tadi kini mulai berlari menuju gerbang tadi.

__ADS_1


"Nona jangan kemana-mana. Tetap disini," ucap bodyguard tadi saat dirinya sudah berada di luar gerbang tadi.


"Iya Om iya. Situasi gawat begini masak Rea pergi sih," ucap Edrea yang diangguki percaya begitu saja oleh bodyguard tadi. Dan setelah mendengar jawaban dari Edrea tadi, bodyguard tersebut kini pergi meninggalkan rumah itu.


__ADS_2