
Kini proses resepsi pernikahan Edrea dan Leon berhasil digelar dengan mewah dan berjalan dengan lancar. Banyak tamu undangan yang berhasil membuat kaki kedua mempelai kesakitan terutama kaki Edrea yang hampir 12 jam berdiri menggunakan sepatu hak tinggi. Sudah bisa dibayangkan bukan seberapa sakitnya kaki edrea saat ini. Dan karena hal tersebut ia memilih untuk pergi ke kamar hotel lebih dulu saat acara pernikahan dirinya dinyatakan selesai. Walaupun masih banyak tamu undangan seperti teman Edrea dan teman Leon yang belum juga kunjung pulang. Entah mereka menunggu apa di hotel tersebut, Edrea tak tau dan tak mau tau karena yang ada dipikirannya saat ini adalah kakinya lepas dari sepatu sialan itu dan dirinya juga bisa segera istirahat secepatnya.
Tapi tenang saja semua pihak keluarganya dan keluarga mertuanya terutama Leon telah tau jika dirinya lebih dulu pergi ke kamar dan mereka semua memaklumi dirinya.
Sesampainya Edrea di dalam kamar khusus untuk dirinya dan Leon. Edrea langsung mendudukan dirinya di atas ranjang kamar tersebut. Dan tak mau menunggu lama lagi, Edrea langsung melepaskan semua atribut yang ia kenakan terutama sepatu itu.
Saat semaunya telah selesai ia lepas tak terkecuali dengan gaun yang ia kenakan tadi, hanya dengan menggunakan pakaian dalam saja, Edrea langsung mencari paper bag yang tadi ia bawa dari rumah secara diam-diam karena ia tau sebenarnya Mommy Della dan Mommy Elia sudah menyiapkan satu paper bag lagi dan ia sudah bisa menebaknya jika didalam paper bag itu isinya adalah pakaian haram. Entah apa yang berada dipikiran dua wanita paruh baya itu hingga berinisiatif untuk memberikan dirinya pakaian yang sama sekali belum pernah ia pakai sebelumnya. Jika niat mereka memberikan pakaian itu agar dia dan Leon langsung tancap gas untuk program baby, itu sebenarnya tidak penting karena jika mereka mau sama mau dan sudah di kuasai oleh napsu, mau Edrea pakai pakaian tertutup dari atas sampai bawah sekalipun, Leon pasti langsung menerjang dia tanpa ia harus menggunakan pakaian haram itu. Tapi kalau seumpama Leon tidak memiliki napsu dengannya mau dirinya tidak pakai pakaian sekalipun ia juga tidak akan bertindak. Jadi mau pakai apapun jika salah satu pasangnya tidak normal maka tak akan terjadi apapun.
Edrea yang sudah menemukan paper bag miliknya, ia segera pergi menuju ke kamar mandi dengan umpatan di dalam hatinya saat ia tadi tak sengaja menemukan paper bag dari Mommynya dan mertuanya itu. Ingin sekali dirinya membuang isi didalam paper bag tersebut tapi ia takut nantinya akan melukai hati dua wanita itu.
Disisi lain saat Edrea tengah sibuk dengan dirinya sendiri, Leon yang tadi sempat berbincang-bincang dengan para sahabatnya itu, ia kini memutuskan untuk menghampiri istrinya. Karena terus terang saja ia tak kalah lelah dari Edrea.
Dan saat dirinya kini telah sampai didepan kamar hotel yang akan ia jadikan tempat bermalam sementara waktu bersama istrinya itupun tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena ia sekarang membawa kartu akses untuk membuka pintu tersebut, Leon langsung membukanya begitu saja.
Dan saat pintu itu berhasil terbuka lebar, matanya langsung aktif mencari keberadaan istrinya.
"Sayang," panggil Leon saat ia tak melihat Edrea di dalam kamar tersebut.
Dan saat dirinya semakin memasuki kamar tersebut, ia bisa melihat gaun Edrea yang sudah tergeletak di atas lantai kamar tersebut ditambah suara gemricik air dari kamar mandi.
__ADS_1
"Oh lagi mandi ternyata. Kirain tadi kabur," gumam Leon sembari memungut gaun tadi dan meletakkannya di salah satu kursi sofa di kamar tersebut. Dan setelahnya ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari menunggu Edrea selesai dengan ritualnya.
Berselang beberapa menit kemudian Edrea kini telah keluar dari kamar mandi dengan stelan piyama yang melekat di tubuhnya.
Edrea memincingkan matanya saat melihat ada seseorang yang tengah terbaring di ranjang kamarnya. Dan dengan jalan yang mengendap-endap juga tingkat kewaspadaannya yang tinggi, Edrea berjalan mendekati orang tersebut. Hingga saat dirinya sudah berada disamping seseorang itu, Edrea kini bisa menghela nafas lega saat mengetahui jika orang itu ternyata suaminya sendiri.
"Untung belum gue smackdown," gumam Edrea.
Setelah mengatakan hal tersebut Edrea menatap lekat wajah Leon yang tengah terlelap dalam tidurnya.
"Bangunin gak ya. Kalau dibangunin kasihan tapi kalau gak dibangunin buat mandi badan dia nanti gatal-gatal lagi," galau Edrea.
Lalu setelahnya tangannya kini bergerak untuk mulai membangunkan Leon dari mimpi indahnya itu.
"El, bangun," ucapnya dengan mengelus kepala suaminya.
"El, bangun dulu sebentar. Mandi dulu sana gih, kalau kamu gak mandi nanti badan kamu gatal-gatal," tutur Edrea yang masih berusaha untuk membuat mata Leon terbuka. Tapi sayangnya semua perkataannya tadi tak mendapat jawaban apapun dari suaminya.
"Suamiku sayang. Bangun, mandi dulu. Tidurnya disambung nanti lagi." Edrea terus mengelus kepala Leon dengan sesekali ia menusuk-nusuk pipi suaminya itu. Hingga terlihat pergerakan dari Leon.
__ADS_1
"Bangun yuk sayang," ucap Edrea.
"Eungh, lima menit lagi," balas Leon tanpa membuka matanya sedikitpun. Dan setelah mengatakan hal tersebut ia justru mengubah posisi tidurnya dengan membelakangi Edrea.
Edrea yang sudah kehilangan kesabarannya pun ia menarik paksa tubuh Leon, walaupun tubuh itu sama sekali tak terangkat sedikitpun tapi setidaknya aksinya itu bisa menggangu tidur Leon.
"Gak ada lima menit lima menitan lagi ya El. Ini sudah jam 11 lebih, kalau kamu nunda buat mandi yang ada kamu nanti masuk angin. Jadi bangun sekarang sebelum aku guyur lho ini," ancam Edrea.
Leon yang tidurnya benar-benar sudah terganggu pun ia kini mendudukkan tubuhnya dengan mata yang masih enggan terbuka.
"Ck, jahat banget sih sama suami sendiri. Masak iya gara-gara mau tidur lima menit lagi diancam mau di guyur segala. Aku tuh ngantuk banget tau sayang. Dan pasti airnya dingin banget. Kalau aku mandi sekarang, pasti aku nanti juga akan masuk angin. Jadi untuk menghindari hal itu terjadi lebih baik aku mandi nanti pagi saja. Dan untuk saat ini biarkan suamimu ini melanjutkan tidurnya," ucap Leon sembari merebahkan kembali tubuhnya.
"Oke, baiklah. Kalau kamu gak mau mandi, aku malam ini tidur di sofa saja daripada tidurku nanti tidak nyenyak gara-gara kebauan keringat kamu," ujar Edrea sembari beranjak dari samping Leon menuju ke sisi lain ranjang itu untuk mengambil bantal.
Tapi baru saja ia melangkahkan kakinya, suara serak Leon kembali terdengar.
"Iya-iya aku mandi sekarang. Dan kamu jangan coba-coba untuk tidur di sofa atau di manapun karena kamu malam ini akan tidur satu ranjang denganku," tutur Leon diakhiri dengan ia menguap lebar.
"Ya udah kalau kamu mau aku tidak tidur di sofa. Kamu buruan mandi sana." Leon berdecak sebal, istrinya itu benar-benar tak mengizinkan dirinya untuk sekedar mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Iya, ini aku juga mau mandi," ucap Leon sembari melangkahkan kakinya dengan malas menuju ke kamar mandi. Bahkan sesekali jalannya terlihat sempoyongan hingga saat sampai di depan kamar mandi ia menabrak pintu yang membuat dirinya mengaduh kesakitan dan mengumpati pintu kamar mandi yang tak salah apapun. Dan hal tersebut membut Edrea menahan tawanya. Tapi saat ia melihat Leon telah menghilang di balik pintu tadi, Edrea melepaskan tawa yang sedari tadi ia tahan itu.