
Edrea tampak terdiam saat cincin dari Leon itu melingkar indah di jari manisnya, bahkan ia tak sadar jika Leon mencuri kecupan di hidung dan kedua pipinya.
Dan saat kecupan Leon ingin berpindah tempat kearah bibir Edrea, tiba-tiba saja terdengar suara pintu terbuka.
"Mommy sama Daddy ngapain?" suara gadis kecil yang tadi sempat pergi itu kini kembali masuk kedalam pendengaran mereka berdua. Dan hal tersebut membuat kedua orang tadi menoleh kearah sumber suara.
Edrea yang baru sadar jika posisinya saat ini bisa mengundang pikiran negatif orang lain pun dengan cepat ia menjauh dari tubuh Leon dengan pipi memerah. Lalu setelah itu ia berjalan mendekati Callie yang masih berdiri diambang pintu.
"Cal, kita keluar yuk. Jangan ganggu Daddy lagi, dia mau istirahat biar cepat sembuh," ucap Edrea dan tanpa persetujuan dari Callie, ia langsung menggendong tubuh anak angkatnya itu. Lalu setelahnya ia berlari keluar dari kamar tersebut.
Dan Leon yang melihat hal tersebut pun berdecak sebal. Belum juga dia mendapat jawaban sekaligus mencuri kecupan di bibir Edrea, si pengganggu lebih dulu datang dan menghancurkan semua momen yang ia buat tadi.
"Edne, aku tunggu jawabannya secepatnya!" teriak Leon dari dalam kamar.
Edrea yang sebenarnya mendengar teriakan dari Leon tadi, ia sengaja tak menjawab ucapan dari laki-laki itu. Dan ia memilih untuk kembali ke kamarnya setelah mengantar Callie ke ruang keluarga.
Dan saat dirinya sudah berada di dalam kamar, ia langsung menuju kearah cermin untuk memeriksa wajahnya yang terasa sangat panas itu.
"Omg omg omg. Nih wajah bisa gak sih kompromi sedikit. Jangan kayak kepiting rebus gini lah kalau gue masih sama Leon. Arkhhhh kalau gini kan gue jadi malu," ucap Edrea dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Tapi sesaat setelahnya tangannya tadi ia jauhkan dari wajahnya saat ia kembali sadar jika disalah satu jarinya itu ada cincin pemberian dari Leon.
Dan dengan memandangi cincin tersebut, ia berjalan, lalu mendudukkan tubuhnya di atas ranjang di kamar tersebut.
__ADS_1
Hingga tatapannya itu teralihkan saat terdengar dering ponselnya berbunyi. Dan hal tersebut membuat Edrea dengan cepat bergerak untuk mengambil ponselnya itu kemudian membuka sebuah pesan masuk yang ia terima.
📨 : Prince El
"Aku tidak akan memaksakan kehendakmu, mau kamu menolak ataupun kamu terima, aku akan menerimanya. Tapi aku sangat berharap kalau kamu mensetujui apa yang aku ucapkan tadi untuk menjadi pendamping hidupku selamanya. Dan jika kamu tak enak hati untuk menjawab pernyataanku tadi secara langsung, kamu bisa menjawabnya melalui cincin yang sekarang ada di jari manismu itu. Jika besok cincin itu masih terpasang di jari manismu, aku artikan jika kamu mau menjadi pendampingku, teman hidupku dan sebagai istriku. Tapi jika cincin itu sudah tidak ada di tubuh kamu, maka aku artikan jika kamu menolak ku. Jadi pikirkan baik-baik keputusan yang akan kamu berikan kepadaku besok."
Edrea yang sudah membaca pesan tersebut pun ia kini menggigit bibir bawahnya. Ia sekarang benar-benar bingung ingin memberikan jawaban apa untuk besok. Karena jujur saja dia tidak mau menikah muda, pengalaman tentang mengurus urusan rumah tangga pun ia masih nol besar. Jadi bagaimana kalau nanti dia menerima Leon dan berakhir mereka menikah dalam waktu dekat? Memangnya dia bisa membagi waktunya untuk sekolah dan keluarganya? Belum lagi dia juga punya keinginan untuk melanjutkan studinya sampai ke meja perkuliahan. Dan masih banyak lagi pikiran yang menghantui Edrea tentang pernikahan yang sama sekali belum sepenuhnya ia mengerti.
Tapi jika dia menolak Leon, apakah dia tidak akan menyesal di kemudian hari? Terlebih ia juga tau perjuangan Leon untuk mendapatkan dirinya yang harus menentang seluruh keluarganya hanya untuk berdekatan dan bersamanya. Walaupun ia belum tau pasti kenapa keluarga Leon sangat membenci dirinya, lebih tepatnya membenci orang luar sepertinya. Tapi walaupun begitu perjuangan Leon membuat hatinya benar-benar goyah seketika. Karena hati perempuan mana yang tak akan luluh jika laki-laki yang mau mendekati dirinya dengan menaruhkan segalanya yang ia miliki termasuk keluarga untuk perempuan yang dia cintai. Edrea rasa tidak ada perempuan yang mau melepas laki-laki seperti itu.
Dan kedua sisi dari pikirannya itu membuat dirinya benar-benar bingung. Disatu sisi ia sangat ingin menerima Leon tapi disisi lain ia menolaknya. Jadi siapapun tolong bantu Edrea sekarang juga untuk memecahkan kegalauan yang tengah melanda dirinya.
Dan disaat Edrea masih dilema, dirinya diharuskan untuk bangkit dari duduknya dan menuju ke pintu kamarnya karena disaat itu juga terdengar suara ketukan dari luar.
Tapi sebelum dirinya membuka pintu kamar tersebut, Edrea lebih dulu melihat seseorang dibalik pintu itu dari lubang kunci pintu tersebut. Takut-takut jika dia buru-buru membukakan pintu itu, ternyata orang yang berada di luar kamar tersebut adalah Leon. Dia benar-benar belum siap untuk bertemu laki-laki itu saat ini juga. Dan biarkan dia mempersiapkan dirinya sebelum memberikan jawaban ke Leon.
Dan dengan senyum yang mengembang, Edrea kini membukakan pintu tersebut.
"Eh Abang. Ada apa kesini?" tanya Edrea.
"Ada apa, ada apa. Tas lo nih. Punya tas yang didalamnya ada benda-benda berharga cuma di tinggal begitu saja sama pemiliknya. Kalau disekolah tadi ada maling berkedok murid dan dia menggasak semua barang-barang lo, gue yakin Lo bisanya cuma nangis terus sampai barang-barang itu kembali ke tangan lo," omel Erland yang membuat Edrea berdecak sebal.
"Dan satu lagi, kalau lo mau pergi keluar dari area sekolah, tas lo bawa juga monyet. Karena gue maupun bang Azlan bukan asisten pribadi lo, bukan juga pembantu lo, yang selalu menuruti semua perintah yang lo katakan, walaupun mereka secapek apapun dengan senang hati mereka mau melayani lo," ujar Erland.
__ADS_1
"Maaf," ucap Edrea yang merasa dirinya bersalah.
"Hmmmm, tapi lain kali jangan diulangi lagi kesalahannya tadi," ujar Erland.
"Iya bang, Rea janji gak akan ngulangi lagi," tutur Edrea seperti anak kecil saja.
"Hmmm. Ya udah kalau gitu gue ke kamar dulu," ujar Erland sembari melangkahkan kakinya menuju ke kamar pribadinya.
"Ehh bang, tunggu sebentar," ucap Edrea yang membuat langkah Erland terhenti.
"Kenapa?" tanya Erland sembari menolehkan kepalanya kearah Edrea.
"Bang Az kemana? kok kayaknya belum pulang," ujar Edrea penasaran.
"Ck, kalau lo tanya masalah itu, jawabannya cuma satu yaitu dia sekarang lagi pacaran sama Zea," ucap Erland yang sudah kembali melangkahkan kakinya.
"Ohhh jadi gitu. Kalau bang Az lagi pacaran, terus bang Er kapan?" ejek Edrea.
"Nanti kalau gue udah ketemu sugar Mommy," teriak Erland.
"Wahhhhh sekarang tipenya yang bergula ya," balas Edrea.
"Iya lah yang bergula lebih manis dan lebih kaya soalnya," ujar Erland yang membuat Edrea mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Cih, matre!"
"Biarin aja. Gue yang matre kenapa lo yang susah, wleeee," ucap Erland diakhir dengan ia mengulurkan lidahnya kearah Edrea. Dan sebelum Edrea mengamuk kepadanya, Erland lebih dulu menutup pintu kamarnya tersebut dengan rapat, tak lupa ia menguncinya dari dalam agar Edrea tak bisa dengan seenaknya saja masuk kedalam kamar tersebut dan mengamuk kepadanya.