
3 mobil yang di tumpangi oleh keluarga Abhivandya dan Vivian telah menjauh dari rumah mewah tersebut selama 5 jam yang lalu. Dan selama itu juga saat mobil mereka memasuki kawasan jalanan yang sepi, banyak sekali rintangan yang harus ia hadapi. Entah mulai ada orang yang tiba-tiba mengikuti mereka, ada segerombolan pengendara motor yang tiba-tiba berhenti secara mendadak di depan mobil mereka dan masih banyak lagi serangan-serangan kecil yang menimpa mereka tapi semua itu bisa mereka hadapi dengan santai.
Awalnya mereka juga heran kenapa perjalanan ini seperti banyak sekali orang yang menyerang mereka secara tiba-tiba padahal mereka tak melakukan kesalahan dalam berkendaraan. Atau jangan-jangan tujuannya untuk menemui Zico telah diketahui oleh anak buah laki-laki itu sehingga ia berusaha untuk mengerahkan anak buahnya atau menyewa preman untuk mengacaukan perjalan mereka? entahlah tak ada yang tau.
Hingga kini saat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore dan mereka berniat untuk beristirahat, tiba-tiba saja datang beberapa mobil yang langsung berjejer di samping ketiga mobil itu tak hanya itu di depan dan belakang pun sama dan kini tiga mobil itu sudah berada ditengah-tengah beberapa mobil yang entah darimana asalnya.
"Astaga. Apa lagi ini?" geram Edrea yang berada di dalam mobil yang sama dengan Erland.
"Anjir mana mobilnya makin banyak lagi," tutur Erland yang mengamati keadaan diluar mengunakan spion mobilnya karena kebetulan mobil yang ia kendarai berada di urutan paling akhir dari mobil kedua orangtuanya yang berada di tengah dan mobil yang ditumpangi Azlan juga Vivian berada di depan.
"Hubungi Mom, kita mau berhenti atau lanjut?" Edrea langsung mengambil ponselnya setelah mendengar perintah dari Erland tadi dan kini jari-jari lentiknya dengan cepat mencari nomor Mommy Della tapi sebelum dirinya menghubungi sang empu, ia sudah mendapatkan pesan singkat dari Mommy Della.
"Kata Mommy kita berhenti dulu," ucap Edrea yang diangguki oleh Erland. Dan tak berselang lama ketiga mobil itu berhenti diikuti oleh mobil-mobil yang tak mereka kenal itu.
"Tetap disini, jangan keluar," ucap Erland kepada Edrea begitu juga dengan Daddy Aiden juga Azlan yang memerintah kedua perempuan yang bersama mereka untuk tetap di dalam.
Kini tiga laki-laki telah keluar dari mobil mereka masing-masing dan pergerakan mereka langsung memancing orang-orang yang berada di mobil itu ikut turun juga.
"Lah banyak banget," gumam Azlan saat melihat jumlah orang-orang yang sudah mengelilingi mereka jauh dari dugaannya. Ia pikir orangnya akan sama jumlah dengan penyerang yang sebelum-sebelumnya tapi penyerangan saat ini jauh lebih berbeda dan jika mereka bertiga hanya menyerang sendiri sudah dapat di prediksi jika mereka nanti akan kalah atau bahkan nyawa mereka akan melayang.
"Dad, gimana?" tanya Erland. Daddy Aiden terdiam sembari menatap satu persatu orang-orang itu. Hingga teriakan salah satu dari orang itu membuat ketiganya langsung pasang badan.
__ADS_1
"SERANG!!" perintahnya dan bertepatan dengan teriakan dari salah satu orang itu, Daddy Aiden langsung menembakkan pelurunya ke udara dan tak berselang lama anak buah Daddy Aiden datang dan bergabung dengan ketiga laki-laki tadi yang sudah lebih dulu melayani setiap serangan dari orang-orang tadi.
Sedangkan ketiga perempuan hanya bisa menyaksikan setiap serangan itu. Tapi, mata Mommy Della melebar saat melihat Daddy Aiden dengan diam-diam ingin di tusuk oleh salah satu komplotan tadi dari arah belakang. Dan dengan sigap Mommy Della turun dari mobil dan ia segera mengambil pistol dari balik jaketnya kemudian tanpa segan-segan ia menarik pelatuk pistol tersebut dan beberapa saat setelahnya peluru itu melayang rapat mengenai kepala orang tersebut. Daddy Aiden yang baru selesai melumpuhkan dua orang didepannya pun terkejut saat mendengar suara tembakan tepat di belakangnya dan saat dirinya menoleh kebelakang ia kembali terkejut melihat Mommy Della dengan santainya berjalan mendekatinya dengan memainkan pistol di tangan kanan sedangkan tangan kirinya membawa belati yang tanpa segan ia tancapkan ke orang-orang yang akan menyerangnya.
Daddy Aiden tertegun melihat aksi istrinya yang sangatlah santai menghadapi setiap serangan itu bahkan wanita yang menyandang sebagai nyonya Abhivandya itu sempat melempar senyuman kearahnya saat tangannya tengah aktif melumpuhkan musuh.
Dan senyuman Mommy Della luntur saat melihat ada seorang yang melayangkan sebuah pisau tepat di tubuh Daddy Aiden.
"Awas di belakang!" teriak Mommy Della kepada Daddy Aiden. Dengan reflek Daddy Aiden menoleh kearah belakang tapi lagi-lagi ia terkejut, bukan karena sebuah pisau di tangan orang tadi yang sudah menancap di tubuhnya melainkan ia terkejut saat ada sebuah anak panah yang menembus leher orang tadi dan jika tadi ia tak memundurkan tubuhnya mungkin ia juga ikut terkena panah itu.
"Sorry Dad," ucap Vivian yang terus bergerak untuk melumpuhkan lawan.
Daddy Aiden benar-benar dibuat melongo dengan aksi para perempuan itu yang sebelumnya ia anggap remeh yang sekarang terbukti jika mereka bukanlah perempuan biasa yang hanya akan ketakutan dalam keadaan seperti saat ini melainkan para perempuan kuat bahkan tingkat bela diri mereka bisa menyeimbangi para laki-laki di sana. Tapi yang membuat Daddy Aiden heran kenapa Vivian berada di belakangnya tadi, bukankah arah mobil berlawanan dengan tempat anak perempuan itu. Ahhh biarkan saja, tak ada gunanya jika ia memikirkan hal itu. Lebih baik ia ikut menyerang orang-orang itu yang sudah lumayan menipis.
Tanpa menunggu lama, Daddy Aiden melempar sebuah pistol kearah Edrea dan dengan satu tangan anaknya itu berhasil menangkapnya.
"SELAMAT TINGGAL OM-OM SEMUANYA!" teriak Edrea yang membuat semua orang mengalihkan perhatiannya ke Edrea. Dan sesaat setelah gadis itu berteriak, berkali-kali suara tembakan terdengar dan disitulah Edrea menghabisi orang-orang yang tersisa tadi dengan pistol yang berada di tangannya.
Mommy Della, Daddy Aiden, Azlan, Erland, Vivian dan anak buah Daddy Aiden melongo melihat Edrea menghabisi orang-orang tadi dengan sekali tembakan dan tembakan itu tak ada yang meleset satu pun.
"Huwaaaaa akhirnya selesai juga," ucap Edrea sembari meregangkan otot-otot di tubuhnya.
__ADS_1
"Kalian ngapain lihatin Rea kayak gitu?" tanya Edrea saat ia mengetahui jika dirinya sekarang menjadi pusat perhatian untuk semua orang disana.
Semua orang disana dengan segera mengalihkan pandangan mereka arah lain. Sedangkan Edrea berdecak kemudian mendekati Daddy Aiden yang masih stuck di tempat sebelumnya.
"Thanks Dad. Nih, Rea balikin pistolnya." Edrea menyodorkan pistol tadi kearah Daddy Aiden.
"Buat kamu aja. Daddy masih punya," ucap Daddy Aiden yang membuat Edrea tersenyum lebar.
"Thanks Daddyku yang paling tampan," tutur Edrea sembari mencium pipi Daddy Aiden. Daddy Aiden tersenyum dan membalas ciuman dari anak perempuannya tadi.
"Balik ke mobil masing-masing sebelum peluru Mommy melayang kearah kalian terutama kalian berdua." Mommy Della menujuk kearah Edrea dan Daddy Aiden.
Edrea yang tau jika Mommynya itu tengah cemburu karena dirinya tadi mencium pipi Daddy Aiden pun hanya memutar bola matanya malas.
"Duh si Ibu negara dalam keadaan begini sempat-sempatnya cemburu, mana cemburunya sama anak sendiri lagi. Ck Ck Ck," gumam Edrea sembari berjalan menuju mobil yang ia tumpangi tadi yang sudah ada Erland didalamnya.
Sedangkan Mommy Della yang sempat mendengar ucapan dari Edrea pun melototkan matanya. Dan kini ia menatap Daddy Aiden yang sudah berada disampingnya.
"Rea itu anak kita sayang. Kenapa harus cemburu sih?" gemas Daddy Aiden.
"Mau dia anak kita apa bukan kalau jenis kelaminnya perempuan perlu diwaspadai," tutur Mommy Della kemudian ia menatap sinis kearah Daddy Aiden sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan Daddy Aiden yang tengah tersenyum melihat tingkahnya.
__ADS_1
"Aduh kalau kayak gini jadi keinget masa-masa PDKT dulu. Ahhh habis ini perlu bulan madu lagi. Gak mau tau pokoknya," gumam Daddy Aiden sembari berjalan mengikuti Mommy Della tapi sebelumnya ia menghentikkan langkahnya saat melewati salah satu anak buahnya yang masih disana dan ia berpesan kepada mereka untuk segera membawa anak buahnya yang lainnya yang terluka ke rumah sakit sedangkan untuk orang-orang tadi, ia berpesan untuk menguburkan mereka yang sudah meninggal dan mengurung mereka yang masih bernyawa di markasnya. Hal itu langsung disetujui oleh anak buahnya tadi dan setelah bosnya itu masuk kedalam mobil barulah anak buah Daddy Aiden bertindak untuk mengurus kekacauan tadi.