The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 86


__ADS_3

Erland terus berlari hingga langkahnya terhenti di depan pintu kamar Azlan. Dengan segera ia mengetuk pintu tersebut cukup keras.


"Bang Az. Buka dulu bentar. Gue mau tanya sesuatu!" teriak Erland.


Tak berselang lama, Azlan yang merasa terganggu dengan gedoran di pintunya kini membuka pintu tersebut dan sebelum dirinya mengizinkan Erland masuk kedalam, sang empu sudah lebih dulu nyelonong masuk begitu saja.


Azlan hanya bisa menghela nafas melihat sikap Erland tadi, lalu ia kembali menutup pintu kamarnya dan menyusul Erland yang sudah duduk santai di sofa kamarnya.


"Ada apa?" tanyanya sembari duduk di samping Erland.


"Gue cuma mau tanya perkembangan dari anak buah Lo yang lagi cari bukti masalah yang menimpa Rea tadi malam," jawab Erland.


Azlan lagi-lagi menghela nafas kemudian ia menyenderkan tubuhnya di kepala sofa.


"Mereka udah kasih kabar tadi tapi hasilnya nihil. Mereka gak berhasil menemukan bukti apapun. Cctv yang berada dijalan itu dengan sengaja dimatikan dan dirusak. Di dalam jurang mereka juga tak menemukan apapun. Bahkan pecahan kaca pun mereka tak menemukannya," ucap Azlan.


"Sialan, kenapa anak buah kita tak ada yang bisa menemukan bukti sedikitpun? gue rasa dalang dari ini semua merupakan orang yang sangat professional. Main dengan bersih tanpa cacat sedikitpun," tutur Erland dengan mengepalkan tangannya.


"Hmmm mungkin kalau kasus yang lagi Lo selidiki memang ada sangkut pautnya dengan dalang dibalik ini semua. Tapi kalau kasus yang sedang gue tangani, gue yakin bukan dalangnya yang pintar melainkan gue curiga yang nolong Edrea lah yang terlalu pintar dan langsung menghancurkan bukit itu semua agar tak satupun polisi yang menyadari kejadian dimalam itu."


Erland tampak terdiam. Kemungkinan apa yang di ucapkan oleh Azlan saat ini memang benar, karena ia yakin dalang di balik rencana ini tak sepintar apa yang ia bayangkan pasalnya anak buahnya saja masih bisa meretas GPS dimobil yang penjahat itu gunakan untuk menculik Edrea. Sedangkan mobil yang digunakan untuk bertarung tadi malam sama sekali tak meninggalkan jejak sedikitpun.


"Gue jadi penasaran siapa orang yang telah berbaik hati menolong Rea tadi malam," sambung Azlan.


"Gue juga penasaran. Tapi Rea aja tak tau bentuk muka orang itu, gimana kita bisa menemuinya," tutur Erland.

__ADS_1


"Sepertinya sangat sulit untuk melacak orang misterius itu," ucap Azlan yang langsung disetujui oleh Erland.


"Ya sudahlah selagi orang misterius itu gak membahayakan buat Rea, tidak perlu kita khawatirkan keberadaannya. Kita sekarang fokus saja dengan dalang di balik ini semua," tutur Erland sembari beranjak dari duduknya.


"Kalau ada perkembangan kasih tau gue," sambung Erland, lalu ia berjalan keluar dari kamar Azlan tanpa menunggu jawaban dari saudara kembarnya itu.


...****************...


Disisi lain, disalah satu markas yang sangat ketat penjagaannya terdapat seorang laki-laki tampan yang tengah mengotak-atik laptop yang berada di hadapannya, ditemani para anak buahnya yang kebetulan juga temannya itu yang sama-sama tengah sibuk dengan laptopnya masing-masing.


"Yesss dapat!" teriak Edi cukup kencang yang membuat semua orang disana mengalihkan pandangannya kearah Edi.


"Lo udah dapat titik lokasinya?" tanya Jojo.


"Bukan," ucap Edi yang membuat seluruh teman-temannya berdecak sebal kearahnya.


"Lha terus Lo nagapain teriak-teriak gak jelas seperti tadi, ogep?" kesal Galuh.


"Gue dari tadi emang sengaja gak cari titik mobil itu sekarang berada. Tapi gue cari tau si pemilik mobil itu," jawab Edi.


Kemudian ia berjalan mendekati Leon yang tengah duduk di kursi kebesarannya. Mengabaikan teman-temannya yang tengah menatap Edi dengan kerutan di dahi mereka.


Setelah sampai dihadapan sang bos, Edi langsung menyodorkan laptopnya tadi kearah Leon.


Sedangkan yang lainnya kini ikut merapat di sebelah Leon dan turut menatap layar laptopnya tersebut.

__ADS_1


Leon yang sedari tadi menatap ke layar laptop pribadinya kini beralih ke laptop milik Edi. Kemudian ia membaca satu persatu tulisan yang tertera disana.


"Mobil Toyota new kijang Innova dengan plat nomor B 1236 PHH. Atas nama Risto Agung Cahyadi. Beralamatkan, Jalan kenangka putih, no 18, Jakarta Pusat."


Setelah membaca informasi yang didapatkan dari Edi tadi, Leon kini beranjak dari duduknya.


"Kita ke lokasi sekarang," tutur Leon sembari memakai jaketnya kemudian ia beranjak keluar dari markas tersebut. Diikuti oleh teman-temannya yang lain dan beberapa anak buahnya yang ia tunjuk untuk mengawal mereka.


Didalam perjalanan yang melewati jalan raya gerombolan itu tak ada halangan suatu apapun tapi ketika mereka telah memasuki kawasan alamat yang Leon tadi baca. Tiba-tiba saja dengan serempak 4 mobil yang mereka tumpangi, terjadi ban bocor. Bahkan kejadian itu terjadi di jalan yang sama.


Leon berdecak kemudian ia turun dari mobilnya kemudian memeriksa kondisi mobil tersebut.


"Sial," umpat Leon saat ke dua ban mobilnya itu kempes. Kemudian ia menelisik detail jalanan disekitar 4 mobil itu dan matanya kini menatap banyaknya paku yang tersebar di jalanan itu.


"Bos, sepertinya ini disengaja," ucap Jojo. Leon mengangguk karena ia juga menebak hal yang sama seperti yang Jojo katakan tadi. Tapi jika paku-paku itu sengaja disebar di jalanan yang menurut Leon sering sekali digunakan masyarakat sekitar untuk lalu lalang, itu tak mungkin. Untuk apa juga salah satu warga disana melakukan hal itu? merugikan orang lain saja. Atau jangan-jangan paku itu disengaja untuk mobilnya juga mobil anak buahnya? Jika benar, berarti penjahat itu telah mengetahui apa yang ia rencanakan. Sial, berarti dirinya sudah gegabah dan tak bermain halus seperti sebelum-sebelumnya.


"Bagaimana ini bos? mau lanjut atau gimana? kalau lanjut kita bisa jalan kaki tapi masih 1 kilo lagi," tutur Edi sembari menggaruk tengkuknya.


"Kita terlalu gegabah tadi. Seharusnya kita menyuruh salah satu saja yang kesini terlebih dahulu untuk memastikan kondisi disekitar aman atau tidak untuk kita beraksi," tutur Leon yang merasa kesal dengan dirinya sendiri.


"Jadi?" tanya Edi.


"Kita kembali. Dan besok kita akan kembali dengan rencana yang berbeda dari ini," ucap Leon dengan seringai yang membuat siapa saja yang melihatnya akan bergidik negeri. Terbukti Edi sekarang justru menyembunyikan tubuhnya dibalik anak buah Leon yang jauh lebih besar badannya ketimbang dirinya.


Tak berselang lama, mobil yang menjemput mereka kini telah sampai. Kini Leon juga teman-temannya telah masuk kedalam mobil itu meninggalkan 4 mobil tadi bersama dengan 4 anak buahnya yang tengah menunggu datangnya montir untuk membantu mereka mengganti ban mobil tersebut.

__ADS_1


__ADS_2