The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 87


__ADS_3

Leon beserta teman dan anak buahnya telah sampai di markas mereka kembali. Dengan perasaan hati yang dongkol, Leon keluar dari mobil tersebut dan segera masuk kedalam markas tersebut di ikuti yang lainnya.


"Sial," umpat Leon setelah sampai di dalam ruangannya. Ia tambah terlihat garang ketika berdiri diruangan tersebut yang pencahayaannya hanya remang-remang ditambah warna yang mendominasi ruangan tersebut adalah hitam yang semakin membuat suasana semakin mencekam.


Ia menyesali perbuatannya tadi yang sudah sangat gegabah. Bahkan baru kali ini ia kecolongan dan teledor seperti ini.


Tak ada yang berani mendekati Leon saat ini karena mereka tak mau mendapatkan amukan dari singa jantan itu. Tapi berbeda dengan Jojo, ia justru mendekati Leon tanpa rasa takut sama sekali. Mungkin karena dia sudah hafal cara menangkis semua serangan yang akan di berikan Leon kepada dirinya, bisa juga ia mempunyai cara melunakkan hati seorang Leon karena diantara teman Leon yang lainnya, Jojo lah yang telah lama bekerja dengan Leon. Entah sejak kapannya mereka tak tau.


Jojo menepuk pundak Leon sembari mensejajarkan tubuhnya disamping Leon.


"Jangan terpancing emosi. Kita tadi hanya kecolongan start aja sama mereka yang mungkin lebih dulu mempunyai ide itu. Gue yakin pelaku belum tau rencana kita. Karena paku-paku itu sepertinya telah lama tersebar disana sebelum kita menemukan titik lokasi dimana rumah pemilik mobil tersebut. Kita susun rencana lagi dan kita akan datangi rumah itu pada malam hari," ucap Jojo tanpa memandang wajah Leon yang sudah membuat sport jantung kalau ia melihatnya, ia hanya bisa menatap lurus kearah jendela ruangan tersebut yang memancarkan cahaya samar-samar dari balik gorden.


Leon tampak menghela nafas berat.


"Huft. Kembali duduk. Kita susun rencana yang baru," tutur Leon dengan tegas tapi sudah menurunkan aura menyeramkannya tadi.


Semua teman dan anak buah Leon secara kompak langsung kembali ke posisi mereka masing-masing dengan menghela nafas lega. Setidaknya mereka tak kena imbas dari emosi Leon itu, padahal jika di lihat-lihat lagi mereka tak ada yang pernah kena imbas dari emosi Leon hanya saja ia cukup parno dengan sikap Leon yang terbilang separuh malaikat separuh psycho itu. Jika melihat lawannya, tatapan tajam yang ia miliki terus memantau pergerakan lawan yang akan berakhir dengan kematian ditangan Leon. Apalagi seorang penghianat, ia tak akan segan-segan memberikan orang itu ampunan dan ia akan langsung menghilangkan nyawa orang itu di hadapan semua anak buahnya. Makanya tak ada satupun dari mereka yang berani dengan Leon. Walaupun diluar terlihat friendly tapi didalam siapa yang tau?


...****************...


Dimalam harinya, Azlan dan Erland tengah bersiap untuk pergi ke markas milik Azlan yang sering digunakan anak buahnya hanya sekedar berjaga-jaga saja dan juga untuk rapat besar seperti yang akan Azlan dan Erland lakukan hari ini. Kebetulan anak buah Erland yang juga termasuk geng motornya kini telah ia koordinasi untuk segera berkumpul ke markas Azlan.


Dengan tampilan serba hitam dari mulai baju, celana, jaket, sepatu serta topi menambah kesan misterius didiri mereka, kedua saudara kembar itu menuruni anak tangga. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, mereka sengaja pergi dijam segitu karena dijam itu pasti orangtuanya juga Edrea telah tidur. Walaupun si bontot belum tidur juga toh orang itu tak mau keluar kamarnya apalagi saat disuguhi drama dari negara ginseng itu. Sudah dipastikan dia akan sangat betah didalam kamar.


Tapi sayang perkiraan mereka meleset saat mata mereka berdua menatap kedua orangtuanya dengan santai tengah bermesraan di ruang tamu. Bahkan beberapa detik setelahnya, sang Daddy mulai meluncurkan aksinya dengan mencium Mommy Della dengan ganas. Tak tau saja dirinya kalau tengah di tonton oleh kedua jagoannya yang langsung melongo melihat keuwuan di depannya dengan mengelus dada mereka.

__ADS_1


"Gue mau anjim," ucap Erland lirih dengan pandangan mata yang tak lepas dari kedua orangtuanya yang semakin lama semakin ganas. Emang tak tau tempat mereka berdua ini.


"Astagfirullah, nyebut. Hmmm sabar sabar, ingat belum nikah masak mau ngerusak anak gadisnya orang. Tapi pengen begituan sama Zea," tutur Azlan dengan menelan salivanya yang sudah ingin keluar dari mulutnya itu.


"Bang, kita minta nikah sama Dad dan Mom yuk. Biar kita gak nganan kayak gini," ajak Erland.


"Ngiri goblok. Gass lah, tapi cinta gue aja masih melayang-layang di udara. Belum ada kepastian anjir, gue takut di ghosting sama Zea."


"Ternyata nasib kita sebelas dua belas ternyata. Kirain gue doang yang lagi berjuang ternyata Lo juga. Emang kita benar-benar anak kembar, digantung sama cewek aja bisa samaan gini. Duh nasib jadi orang ganteng yang setia," ucap Erland yang diangguki oleh Azlan.


Mungkin mereka berdua kini tak akan jadi berkumpul dan membicarakan rencana mereka untuk mencari tahu dalang dibalik kejadian Edrea satu hari kemarin. Karena pikiran kotor mereka telah menjelajahi otaknya yang masih setia menatap kedua orangtuanya, bahkan mereka sampai membayangkan jika diposisi Mommy Della dan Daddy Aiden itu adalah diri mereka bersama dengan pasangan masing-masing. Huh, tampang saja yang kalem tapi setiap orang juga punya sisi mesumnya apalagi mereka adalah laki-laki yang sudah menginjak dewasa, jadi tak perlu heran lagi jika mereka tau adegan panas yang sesekali mereka tonton lewat film 18+. Tapi tenang saja mereka begitu hanya kepo saja dan juga menambah wawasan agar saat mereka menikah nanti tak terlalu kaku melakukan hubungan suami istri. Jika mereka kaku, bagaimana dengan istri mereka nanti? Iya jika istri mereka sama-sama polos dan tak tau apa-apa, bisa mereka kelabuhi. Tapi jika mereka dapat jodoh yang sudah pro kan mereka akan sangat sulit untuk mengimbangi.


Saat kedua laki-laki itu masih fokus ke objek yang mereka lihat, tiba-tiba saja Edrea yang tadi berniat untuk mengambil air minum mengerutkan keningnya saat melihat kedua Abangnya berdiri di tangga rumah tersebut. Dan dengan penasaran ia mendekati mereka. Setelah sampai ia menatap Azlan dan juga Erland dengan bingung.


"Bang," panggil Edrea dengan menepuk bahu kedua Abangnya itu. Dan hal itu mampu membuat keduanya terperanjat kaget dan menoleh kearah belakang mereka.


"Kalian ngapain sih disini?" tanya Edrea yang belum sadar dengan adegan di depannya.


"Stttt diam!" perintah Azlan. Edrea mengerucutkan bibirnya.


"Apa sih yang kalian lihat kayak serius banget gitu? Minggiran dikit kali bang," tutur Edrea mencoba menelusup ditengah-tengah antara Azlan dan juga Erland.


Dan saat ia sudah berhasil, ia segera menatap ke arah objek tadi, tapi baru saja ia melihat sekilas bahkan belum jelas matanya sudah lebih dulu ditutup oleh telapak tangan Erland juga Azlan.


"Haish apaan sih bang. Lepasin elah. Gue juga mau lihat. Udah penasaran banget ini. Lepasin ih," berontak Edrea dengan suara lirihnya.

__ADS_1


"Anak kecil gak boleh lihat," ucap Azlan.


"Heh Paijo, gue sama lo seumuran ya. Pikun apa gimana sih lo. Lepasin sekarang gak!" geram Edrea.


"Gak akan. Diam dulu bisa gak sih," gertak Erland.


Tapi bukan Edrea kalau ia akan menurut dengan ucapan kedua Abangnya itu. Ia sekarang justru terdiam sesaat untuk memikirkan ide agar bisa terlepas dari kuncian Azlan dan Erland.


Kini ia tersenyum senang saat otak pintarnya itu telah menemukan sebuah ide. Dan tanpa menunggu lama lagi, Edrea langsung melancarkan aksinya dengan mencubit pinggang kedua Abangnya itu dan idenya itu berhasil sekarang. Tangan yang menutup matanya tadi sudah menyingkirkan dan dengan senyum yang mengembang ia menatap ke depan dengan kedipan mata berkali-kali untuk memfokuskan penglihatannya yang terlihat buram. Dan saat penglihatannya sudah sangat fokus dan jelas, Edrea melongo tak percaya dengan mata yang melebar sempurna.


"Anjir, pantesan pada diem baek, nih dua curut," umpat Edrea dengan menatap kearah Azlan dan juga Erland yang masih meringis sembari memegang pinggang mereka yang tadi kena cubitan maut dari Edrea.


"Emak sama bapak gue juga kenapa lagi ewita disini sih. Apa gak ada tempat lain gitu yang lebih mainstream? contohnya di tengah jalan raya biar sekalian banyak yang nonton. Huh pusing gue lihat kelakuan keluarga gak ada yang waras. Anaknya yang lihat gak langsung bubarin malah ditonton lagi, itunya nanti berdiri baru tau rasa tuh orang dua. Emak sama bapak juga gak tau tempat lagi. Aduh, gak bisa gue biarin ini. Gue juga bisa terpancing kalau lama-lama lihat beginian. Dan sebelum coblos mencoblos mari kita pisahkan mereka," dumel Edrea. Dan setalah itu ia melangkahkan kakinya mendekat kearah orangtuanya yang bibirnya masih saling menyatu.


Sedangkan Azlan dan Erland yang gagal menghentikkan aksi Edrea ini, hanya bisa saling pandang dan menghela nafas panjang.


Edrea kini sudah berdiri di belakang sofa yang digunakan orangtuanya itu. Dengan penuh kesabaran dan perbanyak istighfar, Edrea berdehem cukup keras.


"Ehemmm!"


Daddy Aiden juga Mommy Della yang merasa terganggu pun melepaskan pautan bibir mereka dan menoleh kearah Edrea yang sudah berkacak pinggang menatap kearah Mommy Della dan Daddy Aiden yang tampak terkaget dengan kehadirannya.


...****************...


Beberapa hari eps cukup tegang dan hari ini mari kita rilekskan dulu dengan tingkah aneh keluarga absurd ini. Oh ya jangan lupa untuk selalu tinggalin jejak ya, author absurd tau ada banyak reader yang hanya baca aja tanpa Like dan komen. Please guys kasih sport ke author amatir ini, biar lancar jaya mikirnya gitu lho dan tampah semangat lagi🤭

__ADS_1


Jangan lupa juga untuk Vote dan kasih hadiah yesss.


Happy reading and see you next eps bye 👋


__ADS_2