
Saat kebahagiaan tengah meliputi keluarga Abhivandya dan keluarga Leon karena telah berlangsungnya acara lamaran yang tak mendapat tolakan dari Edrea. Disisi lain, tepatnya disebuah bandara, seseorang dengan celana jeans hitam di padu padan kan dengan kaos hitam juga jaket denim, sepatu boots hitam yang melekat di kakinya, tak lupa kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya itu kini tengah turun dari pesawat yang mengantarnya menuju ke negara yang selama satu tahun ini ia tinggalkan.
Bahkan ia kini tersenyum sembari menghirup udara kota Jakarta itu yang selalu ia rindukan. Sebelum akhirnya ia beranjak dari tempatnya untuk segera keluar dari lapangan lepas landas itu.
Dengan langkah santainya ia menyeret koper di tangan kanannya dan segera keluar dari bandara tersebut mencari taksi yang mungkin ada di area bandara tersebut tanpa memperdulikan tatapan kagum dari orang-orang yang ia lewati. Dan kebetulan saat ia sudah keluar dari bandara, ia menemukan satu taksi dan langsung masuk kedalam taksi tersebut tapi sebelumnya ia bertanya apakah taksi itu kosong? hingga saat sopir taksi menjawab pertanyaannya tadi dan memberitahunya bahwa taksi itu masih kosong barulah ia masuk.
Setelah memberitahu alamat yang ia tuju, orang tersebut yang tak lain adalah Zico menatap kearah samping, melihat pemandangan yang berada di samping jalan raya yang tengah ia lewati itu.
Hingga beberapa saat setelahnya, dirinya membelalakkan matanya.
"Pak, berhenti," ucap Zico yang membuat sopir taksi tersebut meminggirkan mobilnya.
Dan sebelum sopir itu bertanya, Zico kembali berucap, "Bapak tunggu disini sebentar ya. Saya mau ke toko bunga itu dulu."
Sopir tersebut tampak mengikuti arah tunjuk Zico hingga akhirnya ia menganggukkan kepala. Zico yang melihat anggukan kepala itu pun ia segera keluar dari mobil taksi tadi kemudian dengan berlari kecil ia mendekati toko bunga tersebut.
Ia menatap beberapa jenis bunga di toko tersebut sebelum matanya tertuju kearah satu bunga yang membuatnya tersenyum lebar.
"Mbak, bisa buatkan buket dengan bunga lili juga mawar biru itu?" tanya Zico.
"Oh, bisa Mas. Sebentar ya saya buatkan dulu. Mau pakai bunga berapa?" tanya penjual tersebut.
"Terserah mbaknya aja yang penting jika di pandang sangat indah," ujar Zico.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu masnya tunggu sebentar ya. Saya buatkan dulu." Zico menganggukkan kepalanya. Dan saat dirinya melihat penjual tadi sudah sibuk dengan pekerjaannya dan selagi ia menunggu pesanannya tadi ia melangkahkan kakinya mengintari toko tersebut untuk sekedar melihat-lihat berbagai jenis bunga di sana. Hingga tak terasa langkah kakinya menuntun dirinya sampai ke sebuah kebun kecil yang berada di belakang toko tersebut.
"Eh kok sampai sini," gumamnya dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dan saat dirinya ingin kembali menuju ke depan, matanya tak sengaja menatap ke arah pojok taman yang di hiasi dengan bunga mawar merah.
Bukan, ia bukan menatap hamparan bunga-bunga itu melainkan matanya tertuju kearah seorang gadis dengan rambut yang tergerai indah dengan dress warna mint yang membuat dirinya terlihat anggun walaupun dilihat dari arah belakang.
Ia terus memperhatikan gadis tersebut yang tengah sibuk menyirami bunga mawar itu. Dengan sesekali gadis itu terlihat sedang bermain-main dengan beberapa kupu-kupu yang tengah menghinggapi bunga itu. Dan saat gadis itu memiringkan tubuhnya dengan senyuman di bibirnya karena berhasil menangkap seekor kupu-kupu di tangannya. Detik itu juga Zico di buat tak bergeming di tempatnya. Seakan-akan senyuman dari gadis itu mampu menghipnotis dirinya walaupun hanya dari samping saja. Sampai ia tak sadar jika mulutnya telah mengatakan sebuah kata cantik yang menggambarkan apa yang tengah ia lihat tadi.
Hingga ia tersadar dari lamunannya saat seseorang menepuk pundaknya yang membuat dirinya terperanjat kaget kemudian ia menatap kearah seseorang yang kini tengah menatapnya dengan kerutan di dahinya.
"Mas mau nambah pesanan dengan bunga yang lebih segar? Atau masnya juga mau metik bunganya langsung?" tanya orang tersebut yang ternyata adalah orang yang sama dengan yang melayani pesanannya tadi.
"Memangnya bisa?" tanya Zico.
"Tentu saja bisa Mas. Nanti kalau bunganya sudah di petik bisa langsung di jadikan buket seperti yang mas pesan tadi." Zico tampak menganggukkan kepalanya.
"Sudah Mas. Buket bunganya masih saya taruh di depan," ujar perempuan tersebut kemudian ia melangkahkan kakinya kembali menuju ke depan toko meninggalkan Zico yang kini kembali mengalihkan pandangannya kearah gadis tadi yang ternyata tengah menatapnya. Dan saat tatapan keduanya saling bertemu, gadis tersebut melemparkan senyum kearah Zico dengan menundukkan tubuhnya sesaat untuk memberi hormat kepada Zico yang dibalas dengan senyum dan anggukan kepala singkat dari laki-laki tersebut sebelum dirinya pergi dari tempatnya berdiri tadi dengan senyum yang masih terpatri di bibirnya.
Hingga dirinya kembali tersadar saat penjual bunga tadi menepuk bahunya.
"Masnya mau kemana? Buket bunganya belum di ambil dan di bayar," ucapnya yang membuat Zico kini menatap ke sekelilingnya. Dan saat ia tau jika dirinya sudah keluar dari toko tersebut, ia menepuk keningnya sendiri.
"Maaf mbak saya lupa," ucapnya yang membuat penjual tadi menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Makanya mas, kalau ada masalah atau lagi ada pikiran tuh di ungkapin. Biar masnya gak ngalamun mulu. Untung aja disini gak ada setan jahat yang mau masuk ke tubuh masnya. Kalau saja ada, pasti sudah heboh orang-orang disekitar sini buat cari kiyai," tutur penjual tadi dengan gelengan di kepalanya sebelum dirinya kembali masuk kedalam toko untuk mengambil pesanan Zico tadi. Sedangkan Zico yang mendapat omelan dari orang yang tak ia kenal pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia sendiri juga bingung kenapa dirinya malah sering ngalamun setelah melihat gadis tadi. Haishhh sepertinya Zico punya penyakit baru sekarang yaitu memikirkan seseorang yang baru pertama kali ia lihat dan tak ia kenal sama sekali.
Beberapa saat setelahnya terlihat penjual bunga tadi keluar dari tokonya dengan membawa sebuah buket bunga di pelukannya.
"Nih mas buketnya," ucap penjual tersebut sembari memberikan buket tadi yang langsung diterima oleh Zico.
"Berapa semuanya?" tanya Zico dengan membuka dompet miliknya.
"500 ribu mas," jawab penjual tadi yang diangguki oleh Zico.
Untung saja di dompet Zico ada beberapa lembar uang rupiah hingga tanpa menghitung jumlahnya terlebih dahulu, Zico langsung mengeluarkan beberapa uang berwarna merah muda itu lalu menyerahkannya kearah penjual tadi.
Penjual itu membelalakkan matanya saat dirinya telah selesai menghitung uang yang baru saja ia terima.
"Mas!" teriak penjual tadi karena Zico sudah beranjak dari hadapannya. Zico menolehkan kepalanya menatap penjual tadi.
"Iya?"
"Uangnya kelebihan 300 ribu," ucap penjual tadi yang justru membuat Zico tersenyum kearahnya.
"Buat mbak aja. Hitung-hitung tip dari saya karena sudah membuatkan saya buket bunga yang sangat indah ini. Terimakasih dan saya permisi," ujar Zico lalu kemudian si melanjutkan langkahnya.
"Terimakasih juga mas. Jangan lupa mampir kesini lagi!" teriak penjual tadi dengan melambaikan tangannya kearah Zico.
__ADS_1
Zico menganggukkan kepalanya untuk membalas ucapan dari penjual tadi sebelum ia masuk kedalam mobil taksi yang sedari tadi sudah menunggu dirinya.
Dan saat mobil itu kembali melaju, Zico memejamkan matanya dengan mencium bunga yang berada di pangkuannya saat ini dan dengan senyuman di bibirnya ia berucap, "Saya pasti akan kembali," gumamnya tanpa melunturkan senyumannya.