
"Bohong kalau gue gak kangen sama lo," ucap Edrea yang membuat Zico yang tadinya tertegun atas apa yang dilakukan oleh Edrea pun, perlahan ia tersadar kembali. Bahkan ia kini tersenyum dan membalas pelukan dari Edrea tadi.
"Aku juga kangen kamu, Re," balas Zico yang semakin mengeratkan pelukannya.
Dan tanpa mereka berdua sadari ada sepasang mata yang menatap tajam kearah dua orang yang masih dalam posisi berpelukan itu.
"Sialan," umpatnya dengan kedua tangan yang mengepal kuat. Dan tanpa menunggu waktu lama lagi karena dirinya sudah dilanda panas walaupun di dalam rumah itu memilik AC yang cukup dingin. Laki-laki itu kini melangkahkan kakinya menuju kearah kedua orang tadi.
Mommy Della yang melihat kehadiran dari calon menantunya pun, ia tampak antusias.
"Yessss perang dunia ke tiga akan segera dimulai," ucap Mommy Della kegirangan. Dan karena ia tak mau melewatkan peristiwa yang sebentar lagi akan ia lihat, Mommy Della kini mengeluarkan ponselnya dan mulai merekam adegan tiap adegan yang akan terjadi.
Sedangkan Vivian yang berada tak jauh dari posisi Zico dan Edrea pun, ia tampak ketar-ketir sendiri. Membayangkan bagaimana nasib adiknya yang kemungkinan akan menjadi sasaran empuk atas api cemburu yang tengah melanda Leon. Ya, dia sudah tau hubungan Leon dan Edrea yang tengah menjalin kasih karena perempuan itu selalu menghubunginya hanya untuk curhat akan masalah yang tengah ia hadapi. Dan saat dirinya ingin beranjak menuju kearah tiga manusia tadi, Mommy Della lebih dulu mencegah dirinya dengan menggunakan kode matanya. Bahkan tak segan-segan wanita paruh baya itu berlari kearahnya dan menyeret Vivian agar sedikit menjauh dari ketiga orang tadi.
Vivian yang tubuhnya sudah menjauh pun ia sekarang menatap Mommy Della yang asik dengan ponselnya.
"Mom, mereka mau berkelahi. Vi mau kesana mau misahin mereka sebelum salah satu dari mereka nanti masuk rumah sakit." Vivian kembali ingin beranjak, namun cekalan di tangannya menghentikan langkahnya.
"Stttt, kamu tenang aja. Mereka gak akan kenapa-napa. Masih aman selagi ada Edrea diantara keduanya," ujar Mommy Della.
"Tapi---"
"Stttt, udah kita diam aja disini sebagai saksi keributan mereka. Kalau mereka beneran adu jotos, hitung-hitung sebagai hiburan sementara. Udah ya Vi, kamu diam disini temani Mommy. Jangan kemana-mana. Kalau mau ambil cemilan buat menemani kita menonton sebuah adegan, juga tidak apa-apa. Mommy masih punya stok makanan banyak di lemari dapur," ucap Mommy Della tanpa mengalihkan pandangannya.
Vivian yang tak menyangka Mommy Della masih sangat santai sedangkan didepan sana dua manusia sudah mengibarkan bendera perang membuat Vivian tak habis pikir dengan wanita paruh baya tersebut. Ingin sekali ia menolak apa yang di perintahkan oleh Mommy Della, tapi ia juga penasaran siapa yang akan memang nanti jika mereka berdua beneran adu jotos. Karena ia juga penasaran, apakah adiknya itu masih brutal seperti satu tahun yang lalu atau sudah melembut lagi seperti sedia kala.
__ADS_1
Sedangkan disisi lain, Leon yang sudah berada di dekat kedua orang tersebut, ia langsung menarik tubuh Edrea hingga pelukan keduanya terlepas. Edrea yang awalnya ingin melayangkan protesnya, mulutnya kembali bungkam saat Leon memberikan tatapan tajam kearahnya.
Zico yang tadi sempat terkejut dengan aksi Leon itu pun ia kini justru tersenyum kearah laki-laki yang sudah menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Tenang bro, dia hanya memberikan pelukan sambutan saja," ujar Zico dengan tenang. Dan hal tersebut justru membuat emosi Leon terpancing.
"Bacot lo, anjing!" geramnya dengan melayangkan satu bogeman mentah tepat di pipi kiri Zico yang membuat kepala sang empu menoleh.
"El!" teriak Edrea dengan menarik lengan Leon saat laki-laki itu kembali ingin melayangkan pukulan yang kedua kali.
Tatapan Leon kini mengarah kepada Edrea.
"Apa? Lo mau belain dia?" geram Leon tapi ia masih bisa menahan intonasi suaranya agar tak membentak Edrea.
"Bu---bukan gitu."
"Lo itu udah jadi milik gue, Rea. Pernikahan kita juga tinggal nunggu beberapa hari lagi. Dan perlu lo tau, gue gak suka orang lain pegang-pegang milik gue. Gue gak suka itu!" sambung Leon yang sudah kalut dengan emosinya.
"Iya gue tau tapi Lo juga jangan main hakim sendiri gini dong," ucap Edrea yang sepertinya ikut terpancing emosi.
"Yang duluan ngelakuin itu bukan dia tapi gue. Kalau lo mau mukul. Pukul gue, El bukan dia," sambung Edrea yang membuat Leon justru menggeram kesal. Ya kali ia menuruti apa yang Edrea tadi katakan. Mana tega dirinya melakukan hal tersebut. Sebesar apapun emosi dan rasa marah yang melanda dirinya, sebisa mungkin ia tak akan pernah bermain tangan dengan perempuan yang sudah merebut separuh nafasnya itu.
Semua pertengkaran dari dua manusia itu terdengar hingga ruang keluarga dimana Azlan, Erland dan Zea ada disana.
"Ada apa sih kok di depan ribut-ribut?" tanya Zea penasaran.
__ADS_1
"Entahlah aku juga gak tau. Kita lihat aja yuk. Aku penasaran soalnya," ucap Azlan kemudian berdiri dari duduknya lalu ia melangkahkan kakinya dengan menggandeng tangan Zea diikuti oleh Erland dibelakangnya.
Dan saat mereka bertiga telah sampai di ruang tamu, betapa terkejutnya Azlan dan Erland saat melihat ada Zico disana.
"Sialan. Kapan tuh bocah balik? Dan apa lagi yang dia lakukan sampai Rea sama Leon adu mulut begitu," tanya Erland.
"Gak boleh di biarin. Tuh anak emang selalu cari masalah," timpal Azlan yang diangguki setuju oleh Erland. Dan saat kedua orang tersebut berniat ingin bergabung dengan ketiga orang tadi, saat keduanya melewati Mommy Della dan Vivian, lengan Azlan dicekal oleh Mommy Della yang akhirnya berhasil menghentikan kedua orang tadi.
"Mau kemana kalian?" tanya Mommy Della dengan tatapan sinisnya.
"Mau nyamperin mereka lah. Mau kemana lagi coba. Az, gak mau ada keributan di dalam rumah ini," ujar Azlan dan saat dirinya ingin melepaskan cekalan dari Mommy Della, wanita paruh baya itu justru semakin mengeratkan cekalannya.
"Jangan berani-beraninya ya kalian berdua kesana. Jangan ikut campur masalah mereka berdua. Tetap disini jangan kemana-mana. Kalau kalian masih tetap mau kesana, siap-siap saja kalian yang akan dapat masalah selanjutnya. Kamu, Az. Jangan salahkan Mommy kalau kamu nanti akan mendapat masalah sama Zea. Dan kamu, Er. Jangan salahkan Mommy kalau nantinya kamu akan mendapatkan masalah dengan Daddy kamu sendiri," ancam Mommy Della yang membuat kedua putranya langsung melebarkan matanya.
"Lho Mom, gak bisa gitu dong. Enak aja masak kita yang baik-baik aja mau di kasih masalah sama nyokap sendiri," ujar Erland tak terima.
"Bodoamat, Mommy gak peduli. Kalau kalian masih mau kesana ya silahkan. Mommy gak larang lagi, tapi ingat kata-kata Mommy tadi," ucap Mommy Della sembari melepaskan tangannya dari lengan Azlan.
"Kalian gak jadi kesana?" tanya Mommy Della saat kedua anaknya masih berdiri mematung di sampingnya.
"Gak jadi," jawab keduanya dengan serempak.
"Nah gitu dong. Ini baru anak Mommy. Good boy," ucap Mommy Della dengan tersenyum kearah kedua anaknya tadi yang masih diam membeku.
"Pfffff, ternyata dua curut takut juga dengan ancaman yang aku buat tadi. Padahal itu cuma ancaman aja tidak untuk menjadi kenyataan. Ya kali seorang emak sendiri menyiksa anaknya dengan cara memberikan masalah kepada mereka. Kalau sampai ada emak yang sepertinya itu berarti kewarasannya perlu di periksa, takutnya tingkat ketololannya lebih tinggi dari tingkat kewarasannya," batin mommy Della dengan senyuman yang masih tercetak di bibirnya.
__ADS_1
Sedangkan Azlan dan Erland yang kini tengah melirik Mommy Della yang masih dalam mode senyum-senyum sendiri itu pun mereka berdua tampak menghela nafas pasrah.
"Dasar emak-emak prik!" jerit mereka berdua tertahan di dalam hati.