The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 67


__ADS_3

1 jam lebih mereka berjelajah wahana, dimana ada wahana yang menarik perhatian keduanya, mereka dengan antusias menaiki wahana tersebut.


"Nih, minum dulu." Erland memberikan satu botol minuman yang tadi ia baru beli kearah Kayla yang tengah duduk disalah satu kursi di area tersebut.


Kayla menatap sekilas wajah Erland kemudian ia menerima botol tersebut dan langsung meminumnya.


"Masih mau coba wahana yang lain?" tanya Erland.


"Udah gak ada yang menarik lagi Er," jawab Kayla.


Erland pun mengangguk.


"Lo mau permen kapas gak?" tanya Erland.


Kayla kini menatap dengan berbinar kearah Erland. Kemudian ia mengangguk penuh antusias.


Erland tersenyum kemudian berdiri dari duduknya dan mengacak rambut Kayla karena gemas.


"Mau nunggu disini atau mau ikut?"


"Ikut," jawab Kayla dan dengan reflek tangan Kayla melingkar indah di lengan Erland dan kini membuat sang empu tersenyum senang.


Kayla yang sekarang tampak menyadari hal itu pun segera melepaskan tangannya dari lengan Erland.


"Maaf gue gak sengaja," tutur Kayla. Ia takut jika Erland akan marah besar kepadanya, mengingat sang empu tak pernah tersentuh sedikitpun dengan orang lain selain keluarganya dan teman laki-lakinya.


Tapi tak disangka, Erland kini malah meraih tangan itu kembali dan menaruh lagi di lengannya.


"Tetap begini," ucap Erland.


"Tapi---"


"Udah jangan kebanyakan tapi. Jadi beli permen kapas gak?" Kayla mengangguk kemudian mereka berdua berjalan menghampiri salah satu penjual permen kapas yang tampak menarik dan beda dari bentuk permen kapas pada umumnya.


"Wahhhhh baru lihat permen kapas bisa dibentuk seperti ini," ucap Kayla terpesona dengan deretan permen kapan dengan bentuk karakter yang berbeda-beda dihadapannya.


"Mau yang mana?" tanya Erland.


"Yang anak ayam dong," jawab Kayla sembari menunjuk permen kapas yang berbentuk menyerupai anak ayam itu.


"Berapa?"


"Satu aja udah cukup. Jangan banyak-banyak," ucap Kayla. Erland mengangguk.

__ADS_1


"Misi mas," ucap Erland kepada penjual permen kapas tersebut.


"Iya mas."


"Mau beli yang bentuknya mirip anak ayam," tutur Erland. Penjual tersebut mengangguk kemudian mengambilkan permen kapas yang sesuai dengan pesanan Erland tadi. Setelah itu ia memberikannya ke Erland.


"Ini pegang dulu." Erland mengoperkan permen kapas tadi ke Kayla yang langsung diterima dengan senyum lebarnya.


"Berapa?" tanya Erland.


"35 ribu." Erland mengambil uang lembaran 100 ribu dan memberikannya kepada penjual tadi.


"Kembalinya buat mas saja," tutur Erland yang langsung disambut dengan ucapan terimakasih dari penjual tadi dan dijawab anggukan saja oleh Erland.


Setah itu ia mengajak Kayla kembali berkeliling menyusuri para pedangan di pasar malam tersebut.


"Gak lo makan?" tanya Erland sembari melirik kearah Kayla yang tengah sibuk memandangi permen kapas ditangannya.


"Hehehe sayang kalau di makan Er," tutur Kayla.


"Kalau lo gak makan, nanti pulangnya akan susah dan permen itu juga gak ada pengamannya sama sekali yang ada tar di jalan tuh permen berubah bentuk lagi jadi menciut." Kayla tampak terdiam.


"Iya juga sih. Ya udah deh gue makan aja, tapi aaaaa sayang banget," tutur Kayla tak ikhlas. Sedangkan Erland kini memutar bola matanya.


Karena gemas, Erland dengan sengaja langsung memegang permen kapas tersebut, lalu memakannya.


"Erland ish," geram Kayla saat melihat makanan kesukaannya itu sudah separuh hilang di mulut Erland.


"Makannya kalau disuruh makan tuh ya langsung dimakan bukan di pandangi terus keburu banyak debu yang nempel." Kayla berdecak dengan mengerucutkan bibirnya beberapa senti kedepan. Tapi setelahnya ia memakan juga sisa permen kapas tadi.


Tak terasa mereka berdua telah berada di pusat kota selama 3 jam dan mereka kini memutuskan pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.


"Mau makan malam sekalian?" tanya Erland saat motornya sudah melaju meninggalkan pusat kota tadi.


"Gue udah kenyang Er. Gara-gara lo traktir gue makan semua makanan di tempat tadi," ucap Kayla yang perutnya kini terasa pegah.


Erland mengangguk dan terus melajukan motornya membelah jalanan yang masih teramat ramai itu.


Butuh waktu 1 jam akhirnya mereka sampai di rumah Kayla dan dengan segera mereka turun dari motor tersebut kemudian masuk kedalam rumah.


Setelah di dalam, Erland langsung duduk di sofa yang masih terdapat tas sekolahnya sedangkan Kayla, ia langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar untuk menaruh tasnya, setelah itu baru keluar menemui Erland.


"Kalau mau minum ambil sendiri," ucap Kayla sembari duduk disamping Erland dan dijawab anggukan kepala saja oleh Erland.

__ADS_1


Untuk beberapa saat keduanya sama-sama terdiam, hanyut dalam aktivitas masing-masing.


"Kay," panggil Erland setelah selesai memasukkan seragamnya tadi kedalam tasnya.


"Hem?" jawab Kayla tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi di depannya.


"Lo berhenti kerja aja ya." Kayla yang mendengar penuturan dari Erland tadi kini dengan cepat menoleh kearah Erland.


"Lo pecat gue?" Erland menggelengkan kepalanya.


"Bukan. Gue gak pecat lo kok. Tapi gue pengen lihat lo fokus sama sekolah lo dan kesehatan lo sendiri. Kalau kecapekan juga gak baik buat badan lo," tutur Erland.


"Er, udah gue bilang dari tadi bahkan. Kalau gue gak kerja gue gak bisa sambung hidup gue dong. Gue gak kayak lo dan anak orang kaya lainnya yang kalau butuh apa-apa tinggal gesek sana gesek sini. Tinggal bilang Ma, Pa minta uang dong, langsung dikasih. Gak kayak gue, kalau gak peras keringat gak akan bisa beli apa yang gue mau. Gue gak kayak mereka Er," ucap Kayla.


"Iya gue tau. Tapi gue bisa kasih uang bulanan buat hidup lo. Yang penting lo gak kerja lagi ya." Kayla kini semakin menatap mata Erland.


"Er, gue bukan siapa-siapa lo. Bukan keluarga dan juga bukan pacar lo. Walaupun seumpama gue pacar lo, gue juga gak akan nerima bantuan uang bulanan dari lo. Uang itu mending lo tabung buat masa depan lo. Dan kalau mau kasih uang bulanan tuh harus ke istri bukan sembarang orang," tutur Kayla sembari mengalihkan pandangannya lagi kearah televisi didepannya di temani dengan makanan ringan di pangkuannya.


"Ya udah kita nikah aja dan lo jadi istri gue."


Uhuk!!!


Kayla tersedak saat mendengar ucapan ngelantur dari Erland tadi.


"Pelan-pelan kalau makan tuh. Ini minum." Kayla menyambar gelas yang berisi air dari tangan Erland kemudian menengguknya hingga tuntas.


"Ini juga gara-gara ucapan lo tadi," ucap Kayla.


"Emang kenapa ucapan gue tadi? gak ada yang salah kan?"


"Astaga. Emang gak ada yang salah. Tapi coba dipikir lagi. Kita cuma teman, derajat kita juga beda jauh dan masalah pernikahan itu gak cuma sekedar lo ngomong ayo nikah gitu dong tapi harus ada rasa sayang, cinta, suka diantara keduanya. Nikah juga harus menyiapkan mental yang cukup besar, ditambah harus menurunkan ego masing-masing. Sedangkan diusia kita ini biasanya ego menjadi nomor pertama. Jadi harus direncanakan matang-matang agar terhindar dari perceraian nantinya," tutur Kayla.


"Kenapa harus ada derajat yang memberatkan? bukankah kita sama di hadapan Tuhan? Dan untuk rasa, gue udah lama sayang, suka, cinta sama lo. Egois? gue rasa selama ini gue gak terlalu egois sama lo maupun orang lain. Masalah mental, kita buat mental kita sama-sama nanti. Dan perceraian tak akan pernah terjadi jika tak ada dari salah satu pasangan berpaling, bohong dan selalu berpikir negatif dengan pasangan. Kalau nanti usaha gue down, kita kerjasama buat bangun yang baru lagi. Asalkan pasangan selalu sport dan percaya satu sama lain," jawab Erland.


Kayla yang mendengar ucapan Erland tadi sempat terbengong tapi setelahnya ia langsung menoyor kepala Erland.


"Kita masih SMA kelas 2 Er kalau lo lupa. Belum cukup umur buat kita menikah," ucap Kayla.


"Terlalu jauh pembahasan kita malam ini dan mungkin lo udah mulai ngantuk jadi ngomongnya ngelantur. Udah pulang sana, udah malam juga ini," tutur Kayla sembari menarik tangan Erland untuk segera berdiri dari duduknya.


"Ck, mungkin memang pembahasan kita tadi terlalu jauh. Tapi untuk ucapan gue kalau gue suka, sayang dan cinta sama lo itu nyata." Kayla kini berhenti dan tak menarik lagi tangan Erland. Ia terdiam kaku di tempat tadi.


Sedangkan Erland kini berdiri dari duduknya dan sebelum keluar dari rumah itu, Erland mengeluarkan sesuatu dari saku celananya yang ternyata sebuah kalung. Kemudian ia memakaikan kalung tersebut dileher Kayla setelah itu ia mendaratkan ciuman di kening Kayla.

__ADS_1


"Gue sayang sama lo. Gue pulang dulu, jangan lupa pintunya dikunci. Selamat malam dan beristirahat sayang. Assalamualaikum," pamit Erland dan segera beranjak keluar dari rumah tersebut meninggalkan Kayla yang masih mematung seakan-akan ia tak bisa bergerak sedikitpun karena perlakuan dan ucapan Erland tadi.


__ADS_2