
Saat Edrea masih mengerucutkan bibirnya karena terkena sentilan didahinya tadi, Azlan yang sudah membeli makanan yang sama seperti yang di pesan Edrea tadi kini ia mulai memasuki ruang UKS tersebut dan tanpa ia harus melihat satu-persatu bilik kamar UKS tersebut, ia sudah tau dimana posisi Erland dan Edrea kini berada.
Dan saat dirinya kini sudah memasuki bilik itu, Edrea justru semakin mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa?" tanya Azlan sembari menaruh barang bawaannya tadi di brankas kosong yang tengah di duduki Edrea saat ini.
"Bang Er tadi masak nyentil kening Rea tau bang. Mana nyentilnya kenceng banget lagi. Dan Rea yakin kening Rea sekarang merah. Coba Abang lihat nih," ucap Edrea sembari memajukan kepalanya kearah Azlan.
Azlan menggeleng-gelengkan kepalanya saat sifat manja Edrea mulai kambuh. Dan agar adik perempuan satu-satunya itu tak merengek kepadanya dengan segera tangannya kini bergerak untuk mengelus kening Edrea. Lalu setalahnya ia mengecup kening tersebut cukup lama. Dan tanpa ketiga orang itu sadari, ternyata ada seseorang yang tengah mengamati setiap interaksi mereka bertiga bahkan orang itu dengan lancangnya memotret kebersamaan ketiga saudara itu.
"Dah sembuh," ucap Azlan setelah ia selesai mencium kening Edrea.
Edrea yang tadinya mengerucutkan bibirnya kini bibir itu telah terangkat kembali dan mengukir sebuah senyum manis.
"Thanks bang Az," ucap Edrea yang hanya diangguki oleh Azlan.
"Tuh makanan lo, udah gue beliin yang baru. Menunya sama persis sama yang lo beli tadi," ujar Azlan sembari meraih kembali kantong plastik yang berisi makanan tersebut.
Edrea yang sepertinya baru mengingat tujuan dirinya buru-buru kekantin tadi pun kini ia membelalakkan matanya.
"Oh astaga. Rea lupa," ucap Edrea yang membuat kedua abangnya kini menatap dirinya dengan alis yang terangkat.
"Lupa apaan?" tanya Erland.
"Rea lupa temen Rea, bang," heboh Edrea.
__ADS_1
"Kok bisa? Emangnya temen lo, lo taruh dimana sampai lupa?" tanya Erland yang membuat Edrea dengan seketika berdecak sebal.
"Ck, tadikan di kantin saat Abang nolongin Rea, Rea kan udah bilang kalau Rea lagi buru-buru karena mau nolongin temen Rea ini. Nah Rea sekarang malah lupa sama anaknya. Duh gara-gara pakai acara jatuh segala sih. Ah elah," ucap Edrea dan setelahnya ia turun dari atas brankar yang ia duduki tadi.
"Aw," ringisnya.
"Hati-hati. Mau kemana sih buru-buru begitu?" tutur Azlan.
" Mau nyamperin teman Rea lah bang, gimana sih? Punya dua Abang gak paham-paham dari tadi, sebel gue jadinya," ujar Edrea lalu setelahnya ia mulai melangkahkan kakinya dengan tertatih menuju bilik yang tadi di tempati oleh gadis itu. Sedangkan Azlan dan Erland, mereka mengikuti Edrea dari belakang sekaligus untuk berjaga-jaga agar princess di keluarganya itu tak terluka lagi.
Saat Edrea membuka tirai bilik yang ia maksud, ia sama sekali tak melihat keberadaan gadis itu lagi.
"Lho kok anaknya gak ada?" ucap Edrea sembari menatap keseluruhan penjuru bilik tersebut.
"Rea yakin dia disini tadi sebelum Rea beli makanan. Apa jangan-jangan dia udah balik ke kelas ya?" tanya Edrea yang dijawab gedikkan oleh kedua abangnya.
"Sepertinya sih emang dia ke kelas. Ya udah lah, Rea ke kelas dulu ya bang. Bentar lagi juga udah bel masuk. Dan semoga aja keburu buat makan makanan ini. Terimakasih bang Azlan udah gantiin makanan Rea dan terimakasih bang Erland udah ngobatin Rea. Love you," ucap Edrea diakhiri dengan ia mengecup kedua saudara kembarnya itu. Lalu setalahnya ia baru melangkah kakinya keluar dari UKS tersebut. Sedangkan Azlan dan Erland yang merasa tak tega meninggalkan Edrea begitu saja pun akhirnya mereka mengikuti langkah Edrea.
"Gak mau Abang gendong aja sampai ke kelas lo?" tanya Erland yang sudah menyamakan langkahnya disamping Edrea.
"Gak usah bang," tolak Edrea.
"Tapi kaki lo masih sakit Rea," ujar Azlan yang juga sudah berada di samping Edrea. Dan kini posisi Edrea berada di tengah-tengah kedua saudara kembarnya itu. Dan posisi itu benar-benar membuat siapa saja yang melihat pasti akan berpikir yang tidak-tidak kepada mereka bertiga.
"Iya sih. Tapi Rea bisa sendiri bang," ucap Edrea yang masih kekeuh menolak tawaran dari kedua abangnya itu.
__ADS_1
"Toh kelas Rea juga deket kok, gak harus naik turun tangga juga," sambung Edrea.
"Tapi lihat cara berjalan lo ini, kita berdua jadi gak tega buat biarin lo jalan sendiri," ujar Erland yang meringis seakan-akan ia juga merasakan linu di kaki Edrea itu.
"Beneran deh bang. Rea gak papa. Luka Rea juga cuma luka goresan aja bukan patah tulang atau keseleo," ucap Edrea. Dan perkataan tadi membuat Azlan dan Erland dengan kompak menghela nafas berat tapi setalahnya keduanya kini saling pandang satu sama lain, seakan-akan mereka tengah berbicara melalui tatapan mata itu.
Dan tak berselang lama, Azlan kini memberikan kode kepada Erland lalu setalahnya tanpa Edrea duga, Erland kini membopong tubuh Edrea sedangkan Azlan, ia langsung membuka baju seragamnya untuk menutupi bagian rok Edrea yang sedikit terangkat. Tapi tenang saja aset berharga milik Azlan masih tertutup rapat dengan kaos putih yang ia pakai untuk lapisan dalam seragam sekolah tersebut.
Edrea yang tak pernah menduga aksi nekat dari kedua saudara kembarnya itu pun tadi sempat terkejut dibuatnya. Dan bukan hanya Edrea saja yang di buat terkejut, melainkan para siswa-siswi disekolah tersebut yang sedari tadi menyaksikan drama ketiga saudara itu pun juga tak kalah terkejutnya dengan Edrea.
"Abang, turunin Rea," ucap Edrea dengan suara lirihnya.
"Gak akan," ucap Erland yang terus berjalan menuju ke kelas Edrea.
"Bang Az, bantu Rea turun," rengek Edrea kepada Azlan yang tengah berjalan tepat di belakang tubuh Erland.
Azlan yang mendapat rengekan itu pun hanya memutar bola matanya malas dan ia segera mengalihkan pandangannya tanpa berniat menuruti apa yang di inginkan Edrea tadi.
Dan hal itu membuat Edrea berdecak sebal dan karena rengeknya itu tak mempan lagi ia gunakan untuk melunakkan hati Azlan, tatapan mata Edrea kini kembali kearah Erland.
"Bang, turunin Rea please. Malu tau dilihatin banyak orang kayak gini," bisik Edrea.
Erland kini melirik sekilas kearah orang-orang yang selalu mereka lewati itu yang memang tengah menatap kearah mereka.
"Sudah, abaikan saja. Gak usah takut dan gak usah malu sama tatapan mereka. Orang yang udah mencuri uang rakyat aja gak malu masak lo yang gak ngelakuin kesalahan apapun harus malu," ujar Erland yang pintar sekali membuat alasan untuk membungkam mulut Edrea dengan seketika. Buktinya, Edrea sekarang hanya bisa menghela nafas pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh kedua abangnya itu. Walaupun didalam hatinya ia ingin sekali mengomeli mereka berdua, tapi niatnya itu ia pendam karena sikap dari kedua abangnya tersebut juga merupakan bukti kasih sayang dari mereka untuk dirinya.
__ADS_1