
Semuanya yang mendengar penjelasan dari Daddy Aiden pun tampak terbengong sesaat tapi setalahnya mereka menatap kearah Zico.
"Terus kita mau apain tuh anak, Dad?" tanya Erland yang tiba-tiba hatinya muncul rasa kasihan dan prihatin akan kondisi Zico saat ini.
"Lo masih nanya ke Daddy kita mau apain dia? Ck, ya jelas kita bunuh lah, biar gak ngerepotin orang-orang disekitarnya. Terutama meresahkan masyarakat sekitar." Bukan Daddy Aiden yang menjawab pertanyaan dari Erland tadi melainkan Azlan yang hatinya belum terketuk oleh penjelasan dari Daddy Aiden.
Semua orang kini menoleh kearah Azlan. Bahkan Edrea yang sudah gemas dengan Abang pertamanya itu pun dengan ringan tangan ia memukul kepala Azlan.
"Aw, Lo apa-apaan sih?" geram Azlan.
"Lo yang apa-apa bang. Dia lagi sakit harusnya kasih solusi mau di obatin dimana. Bukannya malah di bunuh. Rea juga tau Abang pasti masih sebal, emosi dan segala macam dengan kelakuan dia. Kita pun sebenarnya sama seperti yang Abang rasain sekarang, tapi setidaknya sisi kemanusiaan kita masih ada. Gak berniat membunuh orang yang mentalnya aja gak beres," ujar Edrea.
"Buat apa juga nyembuhin orang yang punya alter ego yang belum tentu bisa disembuhkan juga," ucap Azlan yang masih dalam pendiriannya untuk melenyapkan Zico.
"Setidaknya kita bisa nyoba dulu buat nyembuhin dia. Kalau belum dicoba mana ada yang tau hasilnya," balas Edrea.
Daddy Aiden menghela nafas mendengar pertengkaran dari kedua anaknya itu.
"Stop! bukan saatnya kita ribut seperti ini. Dan kamu, Azlan. Apa yang dikatakan Edrea tadi benar. Harusnya kita berusaha buat cari cara nyembuhin dia bukan malah membunuhnya. Orang yang punya sakit mental itu harusnya kita peluk bukan malah kita buat semakin terpuruk. Dan kamu tadi juga lihat kan, bagaimana dia menderita dengan penyakitnya ini. Daddy juga gak pernah ngajarin kalian buat bunuh seseorang selain orang itu mengancam nyawa kalian," tutur Daddy Aiden sebagai penengah pertengkaran dari kedua anaknya tadi sekaligus berusaha untuk mengetuk hati Azlan.
"Tapi dia mengancam nyawa kita, Dad. Apa Dad lupa bagaimana dia nyekap Rea waktu itu dan juga jebak kita didalam markasnya dengan bom didalamnya? Apa Dad lupa itu semua? Dan satu lagi apa Dad lupa dengan mayat-mayat yang dengan teganya dia pajang di ruang bawah tanah rumahnya? Apa Daddy lupa itu semua? hah!" Azlan kini meninggikan suaranya yang membuat semua orang disana melongo tak percaya dengan keberanian Azlan saat ini. Mommy Della yang sedari tadi terdiam kini mulai mendekati anak pertamanya kemudian memeluk tubuh Azlan dengan sangat erat.
"Kontrol emosi kamu sayang. Jangan begini. Mommy gak suka," ucap Mommy Della dengan suara lirihnya. Azlan tampak menggeram sembari mengusap wajahnya dengan kasar baru tangannya kini membalas pelukan dari Mommy Della.
__ADS_1
"Maaf Mom, maaf," tutur Azlan yang tak tega melihat wajah ketakutan dari Mommy Della karena melihat kemurkaannya tadi.
"Jangan begitu lagi. Dan tolong jangan keras kepala. Mommy tau kamu masih belum percaya akan hal yang sedang terjadi saat ini. Tapi sayang, Mom mohon buka mata kamu. Lihat dia sekarang. Jika dia memang hanya drama dan tidak memiliki penyakit itu mungkin kita semua disini sudah mati karena ulahnya. Tapi lihatlah dia sekarang justru sangat lemah bahkan tidak henti-hentinya meminta tolong ke Vivian. Jika kamu masih tidak percaya maka buktikan sendiri dengan kamu mengundang karakter buatannya yang bernama Zico dan setelahnya panggil nama Jio. Lihat perubahan di diri laki-laki itu nantinya," ucap Mommy Della dengan menurunkan intonasi suaranya saat mengucap nama Zico.
Azlan kini melepaskan pelukannya, mungkin benar apa kata Mommy Della tadi. Ia harus membuktikannya sendiri agar ia benar-benar percaya jika Zico tidak sedang drama.
Dan kini ia maju beberapa langkah kedepan. Mata elangnya menajam menatap kearah Zico dan Vivian didepannya.
"Gue butuh karakter lo yang lainnya, Zico!" teriak Azlan dan langsung direspon oleh Zico saat itu pula. Tatapan yang tadinya sendu penuh dengan luka, kini kembali menajam. Tangan yang tadinya memeluk erat Vivian kini mengepal hebat dan hanya sekali hentakan juga dorongan ia bisa melepaskan dirinya dari pelukan Vivian bahkan saking kasarnya Zico melepas pelukan tadi, Vivian sampai terjatuh ke lantai.
"Lo udah berani nyulik Adik gue dan berani ngancam nyawa keluarga gue. Sini lawan gue dulu kalau lo mau nyawa keluarga gue. Karena gue gak akan pernah izinin siapapun termasuk lo ngusik hidup keluarga gue, Zico!" tantang Azlan.
"Tapi gue gak mau lihat lo ngelawan gue hanya pakai tangan kosong," sambungnya dan kini Azlan tanpa pikir panjang, ia mengambil sebuah pisau lipat yang selalu ia bawa dan melemparnya kearah Zico yang dengan sigap laki-laki itu tangkap.
"Sombong sekali diri anda, tuan Azlan. Dan permintaan Anda akan segera saya kabulkan. Mengirim ada kedalam neraka adalah tujuan saya untuk membalas semua kelakuan keluarga anda dengan Mama saya. Say goodbye dulu sama keluarga anda. Takutnya nanti tidak sempat berpamitan," ujar Zico sembari melangkahkan kakinya mendekati Azlan.
"Jangan banyak bicara, Zico. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan," ucap Azlan dan tak berselang lama mereka berdua saling menyerang satu sama lain.
"Dad. Tolong hentikan ini, Azlan nanti bisa terluka," pinta Vivian yang sudah berada didekat Daddy Aiden.
"Biarkan saja dia ngelakuin apa yang dia inginkan. Biar dia juga percaya sama ucapan Daddy tadi. Orang keras kepala mau kita cegah sampai pita suara dan tenaga kita habis pun dia tetap akan ngelakuin yang dia mau. Jadi biarin aja, biar dia buktiin sendiri apa yang sudah Dad katakan tadi," ujar Daddy Aiden yang tampaknya sudah menyerah untuk memberi penjelasan ke Azlan.
Kini pertarungan kedua laki-laki itu hanya menjadi tontonan semua orang disana. Tak ada yang berani memisahkan dua manusia mengerikan itu hingga tanpa disangka-sangka, Azlan berhasil ditaklukkan oleh Zico dan kini tubuh Azlan sudah terkunci di lengan Zico yang melingkar di lehernya. Bahkan pisau yang di pegang oleh Zico, kini sudah bersiap untuk menyayat leher Azlan.
__ADS_1
"Jio! Stop!" teriak Vivian dengan histeris saat pisau tersebut sudah mengenai leher Azlan yang membuat pisau tersebut berlumuran darah.
Zico kini dengan reflek menjauh dari tubuh Azlan dengan pisau yang masih ia pegang. Ia menatap tak percaya kearah leher Zico bahkan tubuhnya kini bergetar hebat apalagi saat ia melihat pisau itu ditangannya.
Ia meluruhkan tubuhnya ke lantai begitu saja dengan air mata yang kembali menetes. Ia menjatuhkan pisau tadi lalu ia menatap kedua tangannya.
"Arkhhhh, maaf, maafkan aku," ujar Zico dengan menatap kearah Azlan yang membuat sang empu yang tadinya masih mematung kini tersadar kembali.
"Maaf, hiks. Maaf," gumamnya sembari menjambak rambutnya dengan frustasi. Semua orang disana hanya menatap prihatin kearah Zico hingga semua mata melebar saat melihat Zico kembali memegang pisau tadi. Bukan untuk menyerang salah satu orang-orang disana, melainkan ia akan melukai dirinya sendiri. Lebih tepatnya dia berusaha membunuh karakter yang ia bikin sendiri.
Tapi saat pisau tadi akan mendarat di dadanya, pisau itu terlempar jauh dari Zico karena tendangan dari Azlan.
Dan setelahnya Azlan memeluk tubuh Zico.
"Jangan lakukan itu bodoh," ucap Azlan.
"Maaf hiks. Aku udah ngelukain semua orang di negara ini. Aku mau bunuh dia. Aku mau dia hilang dari diriku!" tutur Zico.
"Iya gue tau. Lo frustasi dan ingin melenyapkan karateker sialan Lo itu. Tapi bukan kayak tadi caranya. Kita akan usahain buat bantu lo bunuh karakter itu. Jadi Lo tenang aja, gak usah khawatir lagi. Lo sekarang akan terus menjadi Jio bukan yang lainnya. Tetap bertahan buat lawan diri lo sendiri karena gue mau lihat lo sembuh dari penyakit Lo ini," ujar Azlan.
Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan yang menyebabkan tangis haru menyelimuti ruangan tersebut sebelum akhirnya Zico sedikit tenang dan pelukan Azlan kini sudah terlepas.
"Vi, jaga adik kamu. Kita pulang sekarang, bawa sekalian dia kerumah biar kita bisa mantau dia dari dekat. Dan untuk kelanjutan dari masalah ini, kita akan bahas dirumah," perintah Daddy Aiden yang diangguki oleh Vivian dan kini sekelompok orang-orang tadi perlahan mulai meninggalkan rumah terbengkalai tersebut dengan Zico yang bersama mereka.
__ADS_1