
Setibanya di rumah sakit Edrea langsung ditangani oleh beberapa dokter yang selalu siap sedia di sana. Saat Edrea diperiksa Leon menunggu hasilnya diluar ruangan dengan mondar-mandir tak jelas sembari menghubungi Azlan dan juga Erland.
"Buruan kesini, adik kalian masuk rumah sakit Trisula." Jari-jemari Leon dengan lincah mengetik pesan dan langsung di kirim ke kedua saudara kembar Edrea yang sedari tadi tak kunjung mengangkat telepon darinya.
Disisi lain, Azlan yang baru selesai memberi kata sambutan dan perpisahan ke kakak kelasnya sebagai perwakilan dari kelas 11 kini segera mencari keberadaan Erland setelah membaca pesan darurat dari Leon tadi.
Ia terus berlari hingga dirinya bisa menemukan Erland yang tengah bercanda gurau dengan Kayla di atas rooftop sekolahan tersebut.
Dengan nafas ngos-ngosan, Azlan menghampiri Erland.
"Ehem," dehem Azlan untuk mengalihkan perhatian mereka berdua.
Erland dan juga Kayla kini menghentikan tawanya lalu mereka dengan kompak menoleh kesumber suara.
"Kenapa lo kesini?" tanya Erland dengan tatapan sinisnya kearah Azlan. Ia tak suka jika saat dirinya bersama Kayla menikmati kebersamaan mereka ada seseorang yang menghancurkan atau mengganggu kebersamaan itu.
"Buka ponsel lo," ucap Azlan dengan tatapan dingin. Bukan karena ia tak suka dengan kebersamaan mereka berdua tapi ia hanya sebal saja saat dirinya pusing mencari keberadaan Erland, eh si empu malah tengah asik berpacaran.
Erland kini mengkerutkan dahinya kemudian ia merogoh saku celananya, mencari keberadaan ponselnya yang entah dimana.
"Lah ponsel gue gak ada," tutur Erland sembari menepuk-nepuk setiap saku yang ada di baju dan celananya.
"Ck, pantesan," gumam Azlan. Setelah itu ia berjalan mendekati Erland dan menyerahkan ponselnya kearah sang empu.
"Baca!" perintahnya.
Erland dengan cepat mengambil ponsel milik Azlan tadi dan segera membaca pesan yang sudah tampil di layar ponsel tersebut.
"Kita cabut sekarang," tutur Erland dengan tampang yang sudah panik sembari menyerahkan ponsel tadi ke tangan Azlan.
Baru saja Azlan juga Erland ingin melangkahkan kakinya, dobrakan pintu rooftop tersebut mengkagetkan mereka semua termasuk Kayla yang sedari tadi hanya diam penuh dengan tanda tanya di kepalanya. Apa yang menyebabkan kedua laki-laki itu menjadi panik dan khawatir seperti ini? pikir Kayla.
"Er, ini ponsel lo kan?" tanya orang yang mendobrak pintu tadi yang tak lain dan tak bukan adalah Zea.
"Iya ini ponsel gue. Thanks ya," ucap Erland dengan mengambil ponselnya dari tangan Zea yang sudah berdiri didepannya. Dan tanpa diketahui Erland, Azlan kini tengah menatap kearah keduanya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Ponsel lo tadi gak sengaja gue temuin di salah satu bangku panitia dan karena gue kenal itu ponsel lo makanya gue langsung cari lo," tutur Zea yang tiba-tiba menjelaskan kronologi dirinya bisa memegang ponsel milik Erland tadi.
"Oke sekali lagi thanks. Gue cabut dulu," tutur Erland kemudian ia bergegas pergi dari rooftop tadi disusul dengan Azlan dibelakangnya. Tapi sebelum dia menyusul Erland, ia sempatkan untuk mengacak rambut Zea dengan gemas.
Setelah kepergian dari kedua orang tampan itu, Kayla juga Zea saling pandang kemudian mereka menggedikkan bahunya satu sama lain. Kedua wanita itu sudah sangat akrab bahkan mereka sudah berteman dan sering hang out barsama jika ada waktu luang.
...****************...
Kini kedua saudara kembar itu telah sampai di rumah sakit yang di beritahu oleh Leon sebelumnya.
"Gimana keadaan Rea?" tanya Erland sesampainya di depan ruang UGD dan bertemu dengan Leon.
"Gue gak tau. Dokter sedari tadi belum juga keluar," jawab Leon tak kalah khawatirnya dengan Azlan maupun Erland.
"Kenapa dia bisa sampai kerumah sakit?" tanya Azlan.
"Sepertinya ada seseorang yang mengincarnya." Azlan dan Erland mengerutkan keningnya.
"Maksud lo?"
"Sial," umpat Erland sembari meninju tembok di sampingnya.
"Lo berhasil menangkap orang itu?" tanya Azlan yang sedari tadi menahan emosinya yang sewaktu-waktu bisa meledak.
"Gue berhasil taklukin satu orang sedangkan satu orang yang berada di dalam mobil gak berhasil gue lumpuhkan," tutur Leon.
"Brengsek! dia gak tau lawan dia siapa. Kalau sampai terjadi sesuatu sama Edrea. Jangan harap mereka akan hidup tenang," ucap Erland.
"Tapi tenang aja gue berhasil foto plat nomor mobil tadi." Leon kini menunjukkan foto sebuah mobil kearah Azlan dan juga Erland.
"Kirim foto itu ke gue!" tutur Erland. Kemudian dengan cekatan Leon mengirim foto tersebut ke ponsel Erland.
Sesaat setelahnya Erland langsung menerima foto tersebut, lalu dengan cepat Erland menekan nomor anak buahnya.
"Cari tau siapa orang dibalik mobil itu sekarang juga!" perintah Erland tak terbantahkan.
__ADS_1
Saat sambungan telepon tadi terputus, bertepatan dengan itu pula dokter yang menangani Edrea keluar dari ruang UGD.
Ketiga laki-laki tadi dengan cepat mengerubungi dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan adik saya dok?" tanya Azlan.
"Syukur Alhamdulillah, nona Edrea keadaannya jauh lebih baik dari sebelumnya. Tak ada yang serius dengan kondisi nona Edrea. Hanya saja karena dosis bius yang lumayan tinggi, nona Edrea belum sadarkan diri untuk saat ini," tutur dokter tersebut.
"Nona Edrea akan langsung kami pindahkan ke kamar inap," sambungnya.
"Baik Dok."
"Kalau begitu saya permisi dulu." Ketiga orang tersebut menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapan dari dokter tadi.
Tak berselang lama, banker yang terdapat Edrea yang masih terkapar di atasnya keluar dari ruang UGD di dorong oleh beberapa suster menuju kamar inap diikuti ketiga laki-laki tampan belakang banker tadi.
Sesampainya di dalam kamar inap, Azlan, Erland juga Leon secara kompak merebahkan tubuhnya di atas sofa kamar tersebut.
"Kita beritahu Mom sama Dad gak?" tanya Erland.
"Nanti aja kita kasih taunya saat Rea udah sadar. Kalau kita kasih tau sekarang takutnya mereka panik dan tambah panik lagi saat tau Rea masih dalam kondisi seperti ini," jawab Azlan.
Erland menganggukkan kepalanya. Saat mereka tengah sibuk dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba Edrea membuka matanya dan menatap ke sekelilingnya yang sudah bisa ia tebak kalau dirinya sekarang tengah berada di suatu tempat yang sangat ia benci.
"Huh, udah ketebak berakhir disini," gumam Edrea yang bisa didengar oleh ketiganya.
Ketiganya kini berlari kearah banker Edrea.
"Gimana keadaan lo?" tanya Erland sembari mengelus rambut Edrea.
Edrea yang merasa diperlakukan tak biasa oleh Erland pun kini ia bergidik negeri.
"Bang, Lo gak lagi kesurupan kan?" tanya Edrea.
"Rea, bukan saatnya untuk bercanda," geram Erland. Adiknya itu memang sangat menyebalkan, saat dirinya memperlakukan Edrea dengan sangat lembut dan perhatian malah sang empu bersikap seolah-olah risih dengan kelakuannya. Dan saat dia bersikap seperti biasa pasti juga akan kena protes Edrea yang menginginkan kasih sayang dari kedua Abangnya itu. Huh harus perbanyak kesabaran memang menghadapi Edrea yang sangat sulit mereka tebak jalan pikirannya itu.
__ADS_1