
Edrea maupun Joni terperanjat kaget karena suara keras yang ditimbulkan dari pintu tersebut.
"Dia kenapa?" Tanya Edrea dengan polosnya.
"Gue juga gak tau. Mungkin lagi PMS kali ditambah sama hatinya lagi terbakar," jawab Joni.
"Ya kali cowok PMS Jon. Lo itu ada-ada aja. Dan hati emang bisa terbakar ya?" Joni terkekeh kecil, sangat menggemaskan melihat ekspresi polos dari Edrea itu.
"Nyatanya Zico sekarang lagi kepanasan gara-gara hatinya terbakar. Udahlah jangan bahas itu toh dia juga bisa meredam api kebakaran itu sendiri. Oh ya gimana luka lo, parah gak?" Tanya Joni.
Edrea menggedikkan bahunya.
"Sepertinya gak parah buktinya sekarang udah gak papa," tutur Edrea kemudian ia beranjak dari depan Joni menuju pintu keluar UKS tersebut.
"Lo mau kemana?" Tanya Joni sembari mensejajarkan langkahnya dengan Edrea.
"Ke kelas lah bentar lagi bel masuk bunyi."
"Lo gak mau istirahat di UKS dulu gitu?"
"Ya ampun Jon. Kan gue tadi udah bilang kalau gue gak kenapa-napa, perih sama panas di punggung gue juga udah hilang jadi buat apa gue masih di UKS penuh-penuhin ruangan itu aja," jawab Edrea sembari terus berjalan.
"Udah ya gue mau ke kelas dulu bye." Edrea melambaikan tangannya saat berpisah dengan Joni yang telah berdiri di depan kelasnya.
Joni membalas lambaian tangan Edrea. Setelah memastikan Edrea masuk kedalam kelas, baru ia akan masuk kedalam kelasnya dan saat dirinya baru menginjakkan kaki satu langkah kedalam ruang kelas tersebut, dirinya sudah ditatap tajam oleh Zico.
Tapi lagi-lagi Joni hanya mengabaikan tatapan tersebut dan melewati bangku Zico dengan santai.
...****************...
Kini sudah saatnya jam pulang sekolah tiba, Edrea seperti biasa, ia akan berjalan menuju parkiran mobil bersama dengan kedua temannya.
"Hati-hati dijalan, bye," tutur Edrea saat ia berpisah dengan Yesi dan Resti yang kebetulan mobil mereka terparkir bersampingan sedangkan mobil Edrea berada jauh dari mereka.
__ADS_1
"Lo juga hati-hati. Sampai besok bye," teriak Yesi kala Edrea sudah menjauh dari dirinya. Edrea mengacungkan jempolnya dengan berbalik arah sebentar sebelum melanjutkan jalannya.
Edrea terus berjalan sembari melemparkan kunci mobilnya keatas berulang kali hingga langkahnya terhenti saat sudah berada di depan mobilnya.
Edrea membuka pintu mobil tersebut dan melempar tasnya ke kursi belakang sebelum dirinya masuk kedalam kursi kemudi. Tapi kini tubuhnya terhenti saat ada seseorang yang menariknya, memutar dan memeluk tubuhnya begitu erat. Ia sempat tertegun, alarm bahayanya pun kini juga sudah menyala.
Dan tanpa melihat orang yang memeluknya terlebih dahulu, Edrea langsung melancarkan aksinya dengan menggigit pundak orang tersebut yang membuat pelukan tadi terlepas.
"Stttt," desis orang tersebut sembari memegangi pundaknya.
Edrea tak merasa iba dan kini ia malah kembali menyerang menggunakan lengan tangannya yang ia lingkarkan ke leher orang tersebut.
"Mau apa lo hah? Berani-beraninya main peluk orang aja. Ini sama aja pelecehan tau gak lo. Rasain nih." Edrea semakin mengeratkan kunciannya hingga membuat orang tadi terbatuk dan berusaha melepaskan tangan Edrea dari lehernya.
"Uhuk, Rea lepasin. Uhuk ini gue Zico." Edrea terdiam tapi lengannya masih melingkar indah di leher orang yang mengaku Zico itu, kemudian karena rasa penasaran dan juga ia tak percaya dengan ucapan orang itu, ia kini melepaskan hoodie yang menutup kepala orang tadi.
Dan memang benar saja orang dibalik Hoodie hitam tersebut adalah Zico sama seperti pengakuannya tadi.
"Maaf maaf gue gak tau kalau itu lo," tutur Edrea sembari melepaskan lengannya dari leher Zico.
"Gue tadi cuma refleks aja. Sekali lagi maaf, mana yang sakit biar gue lihat," tutur Edrea yang merasa tak enak hati dengan Zico.
"Gak ada yang sakit, tapi ada satu di tubuh gue yang sekarang tengah panas dan perih," ucap Zico.
"Seriusan? Dimana? coba sini biar gue lihat. Siapa tau gue bisa obatin luka lo itu." Zico tersenyum kemudian ia mengambil tangan Edrea dan menaruh tangan tersebut ke dada Zico.
"Disini, di dalam hati gue rasanya sekarang sangat sakit dan apa yang lo katakan itu memang benar. Luka perih dan panas ini hanya lo yang bisa sembuhin." Edrea mengerutkan keningnya, mencerna setiap ucapan dari Zico dan saat dirinya sudah paham, ia langsung memukul dengan keras dada bidang tersebut.
"Aduh aduh dasar buaya jantan gombal mulu kerjaannya."
"Gue gak lagi gombal Rea tapi ini memang kenyataannya. Hati gue tadi sempat panas dan sakit saat lihat lo berduaan di UKS dengan Joni. Dan saking asiknya, lo sampai lupa dengan keberadaan gue disana. Sakit Rea kalau diingat-ingat lagi," tutur Zico dramatis.
"Bentar-bentar, Lo beneran Zico yang gue kenal kan?" Zico berdecak.
__ADS_1
"Ya iya lah Rea, mau siapa lagi coba. Orang yang punya nama Zico di sekolah ini juga cuma gue doang." Edrea tampak berpikir sembari melihat Zico dari atas sampai bawah.
"Tapi setahu gue, Zico yang gue kenal tuh orangnya beuhhh cuek, dingin, tanpa ekspresi, datar kayak kanebo kering, senyum aja baru tadi pagi gue lihatnya," ucap Edrea sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
Zico menghela nafas kemudian ia mendekati Edrea lebih dekat lagi.
"Itu Zico yang dulu. Zico yang penuh dengan kegelapan disetiap harinya tapi sekarang kegelapan itu perlahan jadi berwarna setelah kehadiran lo di samping gue. Thanks ya Re." Edrea hanya bisa mengangguk dan melihat wajah Zico yang tampak menyimpan sejuta rahasia yang kini membuat dirinya ingin tau rahasia apa yang selama ini Zico sembunyikan lewat sosoknya yang bergitu keras dan kasar jika bersama seorang wanita.
"Hey, kenapa malah ngalamun kayak gitu hmmm?"
Edrea menggelengkan kepalanya.
"Oh ya Lo gak mau pulang?" Tanya Edrea.
"Kita pulang bareng yuk," ajak Zico.
"Gue bawa mobil sendiri Zic. Atau lo yang gak bawa mobil, kalau lo gak bawa ya udah ayo. Tapi lo yang nyetir hehehe."
"Gue juga bawa mobil Rea."
"Lha kalau lo bawa mobil dan gue juga bawa mobil kenapa lo ngajakin gue pulang bareng coba?"
"Ya kan bisa depan belakang sayang," ucap Zico sembari mencolek hidung mancung Edrea.
Edrea yang di panggil dengan sebutan sayang oleh Zico pun tampak malu-malu. Ya maklum lah di dalam hatinya masih ada rasa suka kepada Zico walaupun dengan berbagai cara dia ingin melupakan laki-laki didepannya itu tapi tetap saja tak berhasil hingga sekarang.
"Sayang-sayang kepala lo peang," ucap Edrea sembari beranjak masuk kedalam mobilnya.
"Tapi lo suka kan gue panggil sayang," goda Zico dengan melihat wajah Edrea dari balik kaca mobil tersebut yang perlahan Edrea turunkan.
"Ish kata siapa coba."
"Bukan kata siapa-siapa tapi dilihat dari pipi lo yang merah kayak tomat, bisa dipastikan dan disimpulkan bahwa memang lo suka dengan panggilan itu." Edrea memelototkan matanya kemudian ia menutup kembali kaca mobil tersebut sembari merutuki dirinya sendiri.
__ADS_1
"Udah gak usah malu-malu serigala kayak gitu. Gue tunggu di mobil. Lo jalan duluan, nanti biar gue dibelakang mobil lo," teriak Zico supaya Edrea bisa mendengar ucapannya, setelah itu ia beranjak dari samping mobil Edrea menuju mobilnya.