The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 149


__ADS_3

Kini helikopter yang di tumpangi oleh Zico untuk melarikan diri telah sampai di negara tetangga yaitu Singapura telah terhenti tepat di salah satu rumah yang tampak besar. Dan saat dirinya baru juga turun dari helikopter tadi, pikirannya langsung tertuju ke orang-orang yang masuk ke perangkapnya tadi. Apakah orang-orang itu sudah mati atau masih bisa melarikan diri? Tapi ia yakin mereka semua tak akan bisa melarikan diri dan mereka mati sia-sia pada saat itu juga.


Dan keyakinannya itu telah didukung dengan salah satu anak buahnya yang mengamati rumah itu dari kejauhan yang kini sudah mengabari situasi di rumah itu dan anak buahnya itu juga memberitahunya bahwa ia tak melihat ada orang-orang yang dibawa keluarga Abhivandya keluar dari rumah itu.


Zico tersenyum penuh kemenangan setelah membaca pesan tadi.


"Ma, Mama sekarang yang tenang ya di sana. Zico sudah balas mereka dan sekarang mereka sudah Zico antarkan ke neraka. Semua nyawa keluarga itu telah lenyap ditangan Zico," batin Zico sembari menengadahkan kepalanya menghadap kearah langit yang tampak mendung.


Disaat Zico tengah menikmati kebahagiaan itu, disisi lain, ada segerombolan orang yang tengah bersiap untuk meluncur ke titik lokasi Zico saat ini.


"Pastikan lagi, apa orang itu benar-benar sudah berhenti di Singapura atau masih bergerak lagi?" perintah seorang bos didalam gerombolan orang-orang itu. Dan salah satu anak buahnya yang bertugas untuk melacak pun segera menjalankan tugasnya lalu setelah memastikan semuanya, anak buah itu angkat suara.


"Aman. Dia masih di Singapura dan kemungkinan memang dia akan menetap di negara itu sesuai dengan informasi yang saya dapat tadi," ujarnya.


"Baik, kalau gitu kita langsung kesana. Kalian tidak perlu bawa senjata karena disana sudah saya persiapkan semuanya. Pesawat pribadi saya sudah standby di bandara. Jika tidak ada yang ketinggalan silahkan kalian segera menuju ke lokasi pesawat!" perintahnya dan para anak buahnya yang memang sudah siap pun bergegas keluar dari markas mereka menuju ke bandara sesuai dengan bosnya katakan sebelumnya. Saat di ruangan tadi hanya tersisa seorang bos tadi, perlahan tangan orang itu meraih sesuatu yang selalu menggantung dilehernya. Ia tersenyum sembari mengelus sebuah liontin di kalung tersebut.


"Siapapun yang berani nyentuh dan ganggu ketenangan kamu. Orang itu akan aku pastikan musnah dari dunia ini, Edne," ucapnya diakhiri dengan kecupan singkat di liontin kalung tadi. Setelah itu ia baru menyusul anak buahnya yang perlahan sudah lebih dulu berangkat ke bandara.

__ADS_1


...****************...


Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam akhirnya gerombolan orang-orang yang akan mencari keberadaan Zico telah sampai di Singapore Changi Airport dan setelah mereka masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan oleh bos mereka, dengan gerak cepat mereka menuju ke titik dimana helikopter yang di tumpangi Zico terhenti.


"Arah GPS berada di arah barat daya," ujar salah satu orang disana yang bertugas untuk selalu memantau pergerakan dari helikopter tersebut.


Setelah ucapan itu, mobil yang ia tumpangi mengikuti arah GPS yang tertera dilayar ponselnya. Sedangkan mobil bosnya juga teman-temannya yang lain mengikuti dari belakang.


"Stop!" teriak orang tersebut saat arah GPS itu sudah berada di titik yang ia tuju.


Ia menatap keluar kaca mobil tersebut disisi kanannya yang langsung menampilkan sebuah rumah besar dengan gerbang yang menjulang tinggi dan tertutup rapat.


"Turun! dan kepung rumah itu. Jangan lupa bawa senjata kalian! Lemahkan mereka semua yang menghalangi kita untuk bertemu dengan laki-laki bajingan itu!" perintah dari sang bos itu pun lagi-lagi langsung dilaksanakan oleh para anak buahnya. Begitu juga dengan dirinya yang tentunya akan ikut bertarung melawan orang-orang di dalam rumah tersebut.


"Berpencar sekarang!" ucap bos tadi. Dan dengan sigap mereka terpisah membentuk beberapa gerombolan untuk memudahkan mereka segera menangkap Zico.


Setelah dirasa semuanya berada di posisi mereka masing-masing, bos itu memberikan aba-aba ke anak buahnya dan tanpa hitungan menit mereka semua berhasil masuk ke lingkungan rumah tersebut yang langsung disambut oleh anak buah Zico.

__ADS_1


"Lawan mereka! jangan ada yang tersisa!" teriak bos tersebut yang membuat anak buahnya juga anak buah Zico pada detik itu juga saling mengayunkan senyatanya, saling melukai dan berusaha melenyapkan lawan mereka masing-masing.


Sedangkan bos mereka yang membantu anak buahnya untuk membasmi anak buah Zico, kini perlahan orang tersebut maju mendekati pintu utama rumah tersebut untuk menemui Zico yang ia yakini, orang tersebut berada di dalam rumah tersebut. Dan dengan satu kali tendangan, pintu utama rumah itu terbuka. Ia berdecak saat 5 orang yang berada di dalam rumah tersebut mengeroyok dirinya.


"Menyusahkan," gumamnya sebelum dirinya mengeluarkan pistol di balik jaketnya dan dengan gerakan cepat peluru-peluru di pistol tersebut mengenai tubuh 5 orang tersebut yang langsung membuat mereka ambruk seketika. Setelahnya dengan segera orang itu berlari menuju lantai atas dan menuju kesuatu ruangan dan lagi-lagi dengan sekali dobrakan ia membuka pintu ruangan tersebut. Ia tersenyum miring saat menatap seseorang yang terduduk di kursi roda dengan tangan yang membawa pistol dan pistol itu diarahkan kearah dirinya. Begitu juga dengannya yang tak mau kalah, pistol yang tadi ia gunakan untuk menghabisi anak buah Zico kini terarah tepat di orang yang ia cari.


"Mari kita lihat peluru siapa yang akan membuat kita mati seketika," ucap orang tersebut yang justru dibalas dengan smrik oleh Zico.


"Tidak semudah itu," ucap Zico dan beberapa saat setelahnya anak buah Zico datang mengitari orang tersebut dengan menodongkan senjata mereka.


"Cih, ternyata orang lemah," ujarnya dengan tangan yang perlahan mulai mengambil satu pistol lagi dan tanpa aba-aba ia langsung menembak satu-persatu anak buah Zico dengan sesekali ia menghindari serangan balik dari mereka. Dan hanya hitungan menit saja anak buah Zico dapat ia lumpuhkan.


Zico yang melihat hal itu pun merasa geram, ia pun kini menekan pelatuk pistolnya dan membuat peluru didalam telah meluncur kearah orang tadi yang tampak saat ini kurang waspada. Alhasil peluru tersebut berhasil melukai lengan tangannya.


Bukannya takut orang tersebut justru tersenyum remeh saat berkali-kali peluru dari pistol Zico kembali melayang kearahnya tapi hanya satu peluru yang bisa melukainya dan itu hanya di lengan saja.


"Oke cukup untuk bermain-mainnya. Sekarang giliran saya," ucapnya dan dengan tatapan tajam ditambah aura mematikan yang terpancar dari orang tersebut, tangan kanan yang memegang pistol itu kini menekan pelatuk pistol tersebut dan....

__ADS_1


Dorrr!!


__ADS_2