The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 73


__ADS_3

Entah kenapa Edrea malam ini tak bisa tidur karena memikirkan hubungan antara Leon dan juga keluarganya yang sudah sangat dekat.


"Sebenarnya siapa Leon itu? kenapa Mommy tadi gak canggung dengan dia? atau jangan-jangan Leon itu juga saudara kembar gue makanya Mommy kelihatan sayang banget sama dia. Ahhh tapi gak mungkin secara wajah Leon gak ada mirip-miripnya sama keluarga ini," gumam Edrea.


"Haish kenapa pikiran gue terus aja kepo tentang Leon sih. Ah elah gue perlu tanya sama Mommy nanti," sambungnya dan ketika ia terus menerawang lurus ke langit-langit kamarnya, tiba-tiba bunyi pesan masuk di ponselnya terdengar.


Edrea langsung meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya dan segera melihat siapa pengirim pesan tersebut.


"Nomor baru?" gumam Edrea tapi ia masih saja membuka isi pesan tersebut.


📨 : 082xxxxxxxxx


"Tidur gih udah malam. Jangan begadang terus gak baik."


Edrea mengerutkan keningnya setelah membaca isi pesan tersebut.


"Ini nomor siapa sih kok tau gue masih begadang? Atau jangan-jangan ada sasaeng fans lagi yang nungguin gue diluar rumah. Ahhhh berasa artis Korea kan gue kalau kayak gini," ujar Edrea yang masih saja sempat narsis.


Ting!!


Bunyi pesan masuk kembali terdengar.


📨 : 082xxxxxxxxx


"Gak usah mikirin yang enggak-enggak. Tidur buruan, besok pagi harus sekolah."


Edrea kini tak bisa menahan diri untuk tak melihat kondisi diluar rumahnya saat ini. Siapa tau kan orang tersebut bisa ia temukan malam itu juga dan rasa penasarannya tak akan menghantui otaknya terus menerus.


Edrea kini menuju balkon kamarnya dan menatap ke sekeliling rumahnya yang tampak sepi dan hanya ada dua orang security yang berjaga malam di pos security rumah tersebut. Disekitar jalan di depan rumahnya juga dilihat-lihat tak ada yang mencurigakan walaupun ia juga tak yakin karena pencahayaannya yang terbatas ditambah jarak antara rumahnya juga jalan tersebut lumayan jauh.


"Gak ada siapa-siapa tuh. Tapi gue masih penasaran sama orang yang seakan-akan tau gue sekarang lagi ngapain di kamar," tutur Edrea.


Sesaat setelah ucapannya tadi, kini matanya melebar sempurna.


"Atau jangan-jangan kamar gue ada kamera pengawas yang tersambung langsung dengan pelaku itu. Kalau iya, alamat sudah. Dia tau luar dalamnya gue." Edrea kini berlari masuk kedalam kamarnya kembali dan menelisik satu persatu sudut ruangan tersebut bahkan setiap boneka dan barang-barang dikamarnya ia cek satu persatu. Tapi lagi-lagi hasilnya tetap sama, Nihil. Ia tak menemukan bukti tentang pikiran negatifnya tadi.


Ting!!

__ADS_1


Untuk ketiga kalinya pesan dari nomor yang sama masuk ke ponsel Edrea.


📨 : 082xxxxxxxxx


"Lo gak perlu tau gue. Gue gak akan macam-macam sama lo kok. Jadi berhentilah cari bukti untuk menemukan keberadaan gue. Anggap saja gue fans lo yang akan lindungi lo dari kejauhan. Buruan tidur ya cantik. Gak usah penasaran lagi sama gue. Good night princess."


Edrea kini memencet nomor tersebut untuk ia hubungi. Tapi sayang nomor tersebut sudah tak aktif lagi.


"Astaga ada-ada saja yang bikin pikiran dan penasaran. Masalah Leon aja belum kelar udah ditambah lagi. Ahhhh susah emang jadi orang cantik, dimana-mana ada aja fans yang buat penasaran kayak gini. Huh," tutur Edrea dan bukannya ia langsung kembali ke kasurnya dan mencoba untuk menutup mata, Edrea justru keluar dari kamar tersebut lalu menuju lantai satu untuk membuat susu untuknya. Siapa tau setelah minum susu ia bisa tidur nyenyak nanti.


"Ya ampun ini rumah udah kayak goa aja," tutur Edrea sembari menyalakan flash ponselnya untuk menuju dapur rumah tersebut.


Saat dirinya sudah sampai, ia langsung menyalakan lampu dapur tersebut agar tak terlalu gelap.


Setelah susunya siap, Edrea beranjak menuju kamarnya lagi, tapi saat dirinya melewati ruang keluarga, telinganya mendengar dengkuran halus yang seketika membuat bulu kuduk Edrea berdiri.


"Aduh ada-ada aja sih yang ganggu gue hari ini. Ya gak setan, ya gak manusia hobinya ganggu aja," gerutu Edrea dan perlahan dirinya memberanikan diri untuk menghampiri ruang keluarga.


Saat dirinya sudah sampai dan mengarahkan lampu flash tadi ke salah satu sofa panjang di depannya, bertepatan itu pula lampu flash tadi menyinari wajah seseorang yang menatap kearahnya dengan ekspresi wajah datar.


"Tolongin Edrea!! tolong!" teriaknya lagi dengan tubuh yang sudah berjongkok, kedua telapak tangannya menutup telinga, satu gelas susu yang ia bawa tadi sudah tumpah membasahi lantai disekitarnya dan ponsel yang ia genggam tadi sudah terlempar entah kemana.


"Rea ada apa?" tanya Mommy Della saat lampu rumah tersebut semuanya sudah menyala dan saat matanya menatap Edrea yang tengah ketakutan sembari berjalan mendekati Edrea.


"Hantu Mom, Rea lihat hantu," adu Edrea tanpa merubah posisinya tadi.


Mommy Della kini memeluk tubuh Edrea dan membantu Edrea untuk berdiri dari jongkoknya tadi.


"Hantu apaan sih Rea?" tanya Azlan yang juga mendekati sang adik.


"Itu bang hantu, di sofa situ ada hantu tadi," tutur Edrea sembari menunjuk sofa tadi.


Semua orang kini mengikuti jari telunjuk Edrea dan mereka semua hanya bisa menghela nafas kesal saat melihat dan bisa menebak sumber kekacauan malam ini.


"Astaga Rea. Yang kamu lihat tadi bukan hantu tapi bang Adam," tutur Erland.


"Ish bukan. Orang Rea tadi benar-benar lihat pakai mata kepala Rea sendiri kalau Rea tadi lihat hantu. Rea gak bohong beneran." Erland kini memutar bola matanya jengah kemudian ia menarik tubuh Edrea agar menjauh dari tubuh sang Mommy kemudian ia mengarahkan tubuh tersebut ke arah sofa tadi.

__ADS_1


"Buka mata lo!" perintah Erland yang mendapat gelengan kepala oleh Edrea.


"Kalau lo gak mau buka, gue gak mau ngasih uang bulanan lagi ke lo," ancam Erland.


"Ish bang, kalau ngancem yang lain kek. Jangan masalah uang dan barang-barang penting lainnya."


"Bodo amat. Buka sekarang atau gak dapat uang bulanan dari gue lagi." Edrea berdecak lalu perlahan matanya ia buka. Dan dirinya kini melongo saat matanya menatap Adam yang tengah tertidur pulas di sandaran sofa tersebut.


"Lho kok hantunya berubah jadi bang Adam?"


Tuk!!


Erland yang geram pun memukul dahi Edrea dengan pelan.


"Dari tadi itu memang bang Adam bukan hantu dan sejenisnya ogep. Dah lah capek punya adek kayak lo," tutur Erland kemudian beranjak menuju kamarnya kembali dan melanjutkan mimpi indahnya yang sayangnya tadi sempat terputus gara-gara ulah Edrea. Dan tak lama setelahnya disusul oleh Azlan yang ikut naik menuju kamar pribadinya. Begitu juga dengan Art dan pekerja lainnya setelah Daddy Aiden memerintahkan mereka untuk kembali istirahat, semua art tadi berpencar ke kamarnya masing-masing dan meninggalkan Edrea, Mommy Della, Daddy Aiden juga Adam disana.


Sedangkan Edrea, kini mendekati Adam dan menggoyangkan tubuh abangnya itu agar sang empu bangun dari tidurnya.


"Bang bangun," ucap Edrea.


Adam perlahan menggeliatkan tubuhnya dan mengerjabkan matanya beberapa kali.


"Abang kenapa tidur disini sih? kenapa gak tidur dikamar aja?" tanya Edrea.


"Kunci kamar Abang ketinggalan di apartemen," jawab Adam sembari memejamkan matanya kembali.


"Tapi kan bisa minta kunci cadangan ke mbak Diana tadi."


"Gak enak bangunin orang. Dah lah sana jangan ganggu Abang dulu. Abang mau tidur lagi," usir Adam.


Edrea berdecak kemudian ia segera pergi menuju kamarnya tapi sebelumnya ia mengambil ponselnya kembali.


"Pindah ke kamar dulu Dam. Tidur di sofa bikin tubuh kamu nanti sakit lho," ucap Mommy Della sembari memberikan kunci cadangan kearah Adam.


"Terimakasih Mom. Adam ke kamar dulu. Good night," ucap Adam tak lupa ia meninggalkan ciuman di pipi Mommy Della sebelum ia berjalan sempoyongan kearah kamarnya.


Mommy Della hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menyusul Daddy Aiden yang ternyata sudah lebih dulu meninggalkan ruang keluarga itu setelah memberikan kunci cadangan tadi ke Mommy Della. Sedangkan beberapa art kini membersihkan tumpahan susu tadi walaupun Daddy Aiden memerintahkan untuk nanti pagi saja yang membersihkannya, tapi para art tak ingin menunda pekerjaannya dan alhasil di malam hari mereka harus mengepel lantai walaupun hanya sebagai saja.

__ADS_1


__ADS_2