
Beberapa mobil yang berisi keluarga Abhivandya, Vivian juga beberapa anak buah Daddy Aiden kini telah berhenti disalah satu rumah terbengkalai.
"Ini beneran lokasinya?" tanya Mommy Della kepada Daddy Aiden.
"Hmmm harusnya sih iya. Karena alamat yang dikirimkan oleh orang misterius itu dan menurut google maps juga ini tempatnya. Udah lah buat mastiin mending kita turun dan kedalam sekarang juga," tutur Daddy Aiden lalu ia turun dari mobil terlebih dahulu baru disusul Mommy Della juga yang lainnya.
"Bergerak sekarang. Jangan ada yang teledor. Jaga diri masing-masing dan selalu waspada saat didalam nanti," ucap Daddy Aiden kepada seluruh orang yang sekarang berada disekitarnya dan hal itu langsung disetujui oleh mereka.
Setelah mendengar arahan dari Daddy Aiden mereka semua perlahan tapi pasti mulai memasuki rumah terbengkalai tersebut.
Mereka semua menelusuri setiap ruangan dirumah tersebut hingga mereka berhasil menemukan keberadaan Zico yang memang tengah berada di tempat tersebut dan laki-laki itu dalam keadaan segar bugar walaupun ada beberapa luka yang terlihat di lengan tangan dan kakinya juga tubuhnya terikat oleh rantai. Sehingga tak memungkinkan dirinya untuk melarikan diri dari rumah tersebut.
Saat kelurga Abhivandya ditambah Vivian masuk kedalam ruangan itu, Zico menatap mereka dengan tatapan tajam.
Azlan yang sudah memendam emosi sedari beberapa hari yang lalu pun kini ia mengeluarkan pistolnya dan berniat untuk menembak Zico pada saat itu juga. Tapi sayangnya niatnya itu harus terhalang oleh Daddy Aiden yang tiba-tiba memegang ujung pistol tersebut dengan satu tangannya.
"Jangan gegabah. Kita belum tau motivasi dia dibalik rencananya itu," ujar Daddy Aiden tanpa mengalihkan tatapannya dari Zico. Azlan yang mendengar penuturan dari sang Daddy pun hanya bisa menggeram kesal.
"Vi," panggil Daddy Aiden sembari melepaskan tangannya dari genggaman di ujung pistol Azlan tadi.
Vivian yang sedari tadi terus menatap Zico dengan air mata yang mengalir di pipinya pun kini ia mengalihkan pandangannya kearah Daddy Aiden sembari mengusap kasar air matanya.
"Iya Dad, ada apa?" tanyanya.
"Kamu gak mau bicara sama dia untuk terakhir kalinya?" Tubuh Vivian menegang saat mendengar kata terakhir kali keluar dari bibir Daddy Aiden. Apakah hari ini juga tepat didepan matanya Zico akan kehilangan nyawanya? Jika iya, apakah dia sanggup melihat itu semua? Tapi itu semua juga konsekuensi Zico yang telah bermain-main dengan keluarga Abhivandya juga sebagai balasan akan kelakuannya yang sangat mengerikan itu.
__ADS_1
"Apa boleh Vivian bicara sama dia, Dad?"
"Jika kamu mau. Jika tidak kita langsung akan bertindak," ujar Daddy Aiden.
Vivian tak membalas ucapan dari Daddy Aiden lagi, ia sekarang justru berlari menuju kearah Zico yang semakin menatapnya dengan penuh kebencian.
"Apa-apaan sih Dad, kenapa Vivian dikasih kesempatan buat bicara sama bajingan itu? kalau nanti kejadian di markas waktu itu terulang lagi gimana? atau malah Vivian bantuin dia buat kabur dari sini, emang Daddy mau kita kehilangan jejek dia lagi?" protes Erland.
"Please lah kamu jangan terlalu bodoh dan negatif thinking dulu. Kalau pun Vivian berusaha bantu adiknya kabur dari sini, dia gak akan pernah berhasil. Orang kita lebih banyak dari pada mereka. Dan walaupun mereka berdua menyerang kita, nyawa mereka seketika akan melayang juga ditangan kita ataupun anak buah Daddy. Jadi tenang aja, kejadian kemarin tak akan terulang lagi hari ini," ujar Daddy Aiden.
...****************...
Vivian kini berdiri tepat didepan Zico, menatap lekat-lekat wajah adik laki-lakinya itu sebelum ia berhambur ke pelukan Zico.
"Minggir! saya tidak butuh kata maaf dan pelukan dari anda," ucap Zico tapi tak dihiraukan oleh Vivian. Ia terus memeluk tubuh Zico dengan erat walaupun laki-laki itu terus memberontak dalam pelukannya. Hingga tangannya kini bergerak untuk mengelus lembut rambut Zico yang anehnya membuat laki-laki itu berhenti memberontak bahkan tatapan tajamnya dengan penuh kobaran api kebencian kini perlahan tatapannya berubah menjadi tatapan sendu.
"Kamu tau sayang. Jika waktu bisa di putar, Kakak ingin sekali merubah hidup kita berdua. Dan mungkin jika itu semua terjadi, pasti kita tidak terjebak dalam dunia hitam ini, sayang. Dan kita akan hidup bahagia di dunia ini, menikmati sisa umur kita tanpa adanya dendam di hati kamu dan tanpa ada penyesalan di diri Kakak. Kakak sayang kamu, little boy. Kakak mohon berubah lah sebelum terlambat. Dan Kakak juga mohon katakan alasan kamu kenapa mencelakai semua orang, sayang," ucap Vivian kemudian ia melepaskan pelukannya dan berlatih kedua tangannya menangkup pipi Zico sehingga mereka berdua saling bertatapan.
"Katakan, littel boy. Kakak akan dengar semua cerita kamu," ujarnya yang membuat mata Zico berkaca-kaca.
"Kak, tolong Jio. Jio gak mau seperti ini Kak. Jio sakit Kak, tolong," Raung Zico yang membuat semua orang disana mengerutkan keningnya. Terutama Vivian yang kini mulai bingung dengan ucapan dari Zico.
"Jio?" beo Edrea.
Vivian dan Zico langsung menatap kearah sumber suara.
__ADS_1
"Nama dia sewaktu kecil dan saat masih tinggal dengan keluargaku," jawab Vivian yang membuat semua orang disana beroh riya.
Sedangkan Zico, ia tak mengalihkan pandangannya kearah Edrea.
"Rea," panggilnya.
"Lo manggil gue. Mau apa lo? mau perkosa gue lagi hah!" ketus Edrea.
"Itu bukan aku, Rea. Itu bukan aku, hiks," tangis Zico.
"Bukan lo apaan. Jelas-jelas wajah dan proporsi tubuh aja udah jelas bahwa itu lo. Bahkan gue lihat pakai mata kepala gue sendiri. Mau ngelak apa lagi lo?" Zico menggelengkan kepalanya.
"Tolong percaya aku. Itu semua bukan aku yang ngelakuin. Kak, tolong percaya sama Jio. Jio gak pernah ngelakuin itu semua. Kak, tolongin Jio. Jio sakit Kak, Jio sakit," ucap Zico dengan suara sendunya.
"Halah banyak drama lo. Lo pikir kita bisa dikelabui dengan drama murahan lo ini? Sorry say, gak mempan," timpal Erland.
Vivian mengabaikan setiap cibiran dari Triplets untuk adiknya itu. Ia justru sekarang kembali memeluk tubuh Zico yang tengah bergetar.
"Katakan dimana yang sakit, little boy. Biar Kakak obatin. Katakan sayang." Vivian kembali melepaskan pelukannya dan menatap Zico yang tengah menggelengkan kepalanya.
"Jio gak tau Kak, Jio bingung. Dan Jio juga gak tau cara ngobatinnya." Vivian mengelus pipi Zico dengan lembut.
"Stop bermain drama, Zico! kita disini muak dengan semua ini!" teriak Azlan yang membuat Zico seketika kembali berubah ke ekspresi mematikannya.
Vivian yang melihat perubahan itu pun sempat terbengong untuk sesaat sembari berpikir, kenapa adiknya itu cepat sekali merubah ekspresi wajahnya dari yang lembut kembali menjadi garang? Dan sakit yang dimaksud oleh Zico tadi itu apa? Kenapa dirinya sendiri tak tau dimana letak sakitnya dan juga tak tau cara mengobatinya? Vivian hari ini benar-benar dibuat berpikir keras akan perubahan Zico saat ini.
__ADS_1