
Edrea terus memberontak dalam pelukan tersebut hingga akhirnya Azlan dan Erland melepaskan pelukannya itu.
Dan setelah pelukan itu terlepas, keduanya bisa melihat air mata Edrea yang terus mengalir di pipinya.
"Kenapa nangis hmmm?" tanya Azlan dan saat tangannya terulur untuk menghapus air mata adik perempuannya itu, Edrea langsung menangkis tangannya.
"Rea benci kalian!" teriak Edrea yang membuat dua orang yang berdiri didepannya mengerutkan keningnya.
"Beri kita alasan kenapa lo sekarang benci sama kita?" tanya Erland.
"Ka---kalian hiks udah bunuh Leon," jawab Edrea dengan sesegukan. Dan hal tersebut membuat keduanya memutar bola matanya malas.
Dan beberapa saat tubuh Edrea merasakan ada sepasang tangan yang memeluknya dari belakang.
"Aku masih hidup Edne. Mereka tidak akan pernah tega membunuhku," bisik Leon yang membuat Edrea kini memutar tubuhnya. Untuk memastikan jika apa yang ia dengar tadi memang kenyataan bukan hanya ilusi dirinya saja.
Dan setelah ia melihat tubuh Leon yang berdiri di depannya, dengan cepat Edrea memeluk kembali tubuh laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Hiks aku takut kamu kenapa-napa El," ujar Edrea.
"Tenang lah, aku baik-baik saja. Dan tembakan mereka tadi bukan untukku melainkan untuk seseorang di belakangku," ucap Leon yang membuat Edrea kini menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah Leon sebelum akhirnya Leon sedikit merubah posisi berdirinya agar Edrea bisa melihat orang yang sekarang sudah tergeletak di lantai tersebut.
"Dia anak buah Virgon yang selama ini menjadi mata-mata disini. Kita sudah tau niatan dia untuk apa gabung dengan Ragaza. Tapi saat Erland ingin menghabisinya, gue sengaja mencegah dia, supaya kita tau sampai mana dirinya berhasil mengorek informasi tentang Ragaza. Dan ternyata selama dia ikut dengan Ragaza hanya secuil informasi yang dia dapatkan dan akhirnya dia berganti tugas untuk membunuh kita berdua. Tapi lagi-lagi usahanya itu gagal, hingga puncaknya saat ini. Saat kita melihat dengan mata kepala kita sendiri saat dia menodongkan pistol bukan kearah gue ataupun Erland, melainkan kearah lo," tutur Azlan yang membuat Edrea mengalihkan pandangannya kearah kedua abangnya itu.
"Jadi apa lo masih mau benci kita seperti yang lo ucapkan sebelumnya?" tanya Erland yang membuat Edrea dengan cepat menggelengkan kepalanya. Lalu setelahnya ia berlari kearah Azlan dan Erland kemudian ia memeluk tubuh dua saudara kembarnya itu.
"Maafin atas ucapan Rea tadi bang. Rea tidak bermaksud untuk benci sama kalian. Rea hanya merasa kecewa saja jika kalian melukai El sampai buat dia mati. Dan jika boleh jujur Rea tidak mau jauh dari El lagi seperti dulu. Begitu juga dengan kalian, Rea tidak mau jauh dari kalian berdua. Rea masih mau dijadikan queen sama kalian, Rea masih mau disayang kalian walaupun Rea rasa kadang kalian sangat posesif dengan Rea, tapi yakinlah Rea justru suka di posesifin kalian," ucap Edrea yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Kita juga sayang sama lo, Rea, lebih dari siapapun," balas Erland dengan sesekali memberikan ciuman di kepala Edrea.
"Love you," ucap Edrea.
"Too," balas Azlan dan Erland secara bersamaan.
Leon yang melihat hubungan persaudaraan yang begitu harmonis pun ia kini mengembangkan sebuah senyuman di bibirnya. Bahkan sempat terlintas bayangan tentang kebersamaan dirinya dan juga Kakak laki-lakinya yang dulu tak kalah harmonis dari mereka bertiga. Tapi sayangnya sekarang mereka berpisah entah sampai kapan mereka tidak ada yang tau.
__ADS_1
"El," panggil Erland yang membuat Leon tersadar dari lamunannya.
"Gue titip Edrea. Jagain dia jangan sampai buat dia terluka apalagi sampai buat dia meneteskan air mata. Dan jika sampai lo berani melukai dia, gue ataupun bang Az gak akan segan-segan buat habisin lo. Kita tidak peduli lagi dengan status lo dan kita juga tidak akan peduli dengan konsekuensi yang akan kita terima dari keluarga lo saat nyawa lo melayang di tangan kita. Karena perlu lo ingat, seujung kuku saja lo melukai Rea, maka urusan lo bukan lagi dengan dia melainkan dengan kita," ujar Erland dengan serius.
"Gue tidak ada niatan bahkan tidak akan pernah melukai Edne entah itu dari luar tubuh dia ataupun perasaannya. Karena dia separuh nyawa gue. Jika dia terluka, maka separuh raga gue akan mati bersamaan dengan rasa sakit yang dia rasakan. Dan gue janji sama kalian berdua kalau gue akan melindungi Edne dimanapun dia berada, tidak peduli jika nyawa gue yang menjadi taruhannya," ucap Leon dengan mantap.
"Kita pegang janji lo. Tapi jika lo mengkhianati kita, lo tau sendiri konsekuensinya," ujar Azlan yang diangguki oleh Leon.
Sedangkan Edrea yang sedari tadi menyimak percakapan dari ketiga laki-laki tersebut. Ia kini mulai angkat suara.
"Suka deh kalau begini. Kan adem lihatnya. Oh ya ini udah selesai kan saling mengucap janjinya? Jika sudah buruan kita kerumah sakit sekarang, kasihan ayang beb yang masih berdarah-darah tuh lengannya. Uhhhh utu utu utu sayang. Sakit ya?" ucap Edrea sembari menghampiri Leon dan pertanyaannya tadi diangguki manja oleh Leon.
"Sabar sebentar ya, tahan rasa sakitnya. Kita kerumah sakit sekarang," ujar Edrea dengan suara lembut. Dan setelah ia mengucapkan perkataannya tadi, ia langsung menuntun Leon keluar dari basecamp tersebut meninggalkan kedua saudara kembarnya yang tengah menatapnya dengan tatapan malas mereka. Tapi setelahnya dengan langkah terpaksa ia mengikuti Edrea dan juga Leon yang sekarang sudah masuk kedalam mobil.
Tapi sebelum mereka berdua pergi menyusul kedua orang tadi, Azlan lebih dulu menghubungi salah satu temannya.
"Dua orang datang ke basecamp sekarang. Bereskan mayat penghianat dari sini. Dan untuk anak buah Virgon yang tadi terluka dan masih bernyawa, kasih kompensasi ke mereka. Dan untuk yang sudah tidak bernyawa urus biaya pemakaman mereka dan jangan lupa kasih uang duka untuk keluarga mereka. Dan uang keperluan itu semua, akan gue transfer setelah ini," ucap Azlan. Dan setelah dirinya mendapat persetujuan atas ucapannya tadi, Azlan langsung mematikan sambungan telpon tersebut. Lalu dengan cepat ia mengotak-atik ponselnya guna untuk mentransfer sejumlah uang yang ia rasa cukup untuk biaya kekacauan yang tadi sempat terjadi itu. Kemudian setelah semua urusannya itu beres, barulah ia dan juga Erland meninggalkan basecamp tadi.
__ADS_1