
Vivian yang baru saja keluar dari ruang kerjanya dan kini berjalan menuju ke kamarnya pun ia mengerutkan keningnya saat melihat pintu kamar miliknya terbuka lebar.
"Perasaan pintu kamar tadi udah aku tutup. Tapi sekarang kok kebuka. Apa ada salah satu mbak yang masuk buat bersihin kamarku? Haishhhh dah lah daripada bingung sendiri mending samperin aja. Takut-takut bukan mbak yang masuk melainkan pencuri lagi," gumam Vivian kemudian ia dengan cepat berjalan mendekati kamar pribadinya. Hingga saat dirinya sudah berada di ambang pintu, ia menghela nafas lega saat melihat tubuh seseorang yang sangat ia kenali tengah terbaring di atas ranjangnya.
"Tumben kesini. Ada apa?" tanya Vivian sembari menutup pintu kamar tersebut. Takut-takut jika saat dirinya mengobrol serius dengan Erland ada orang lain yang mendengarkannya.
Sedangkan Erland yang tadinya mulai memejamkan matanya, kini mata itu kembali terbuka saat telinganya mendengar suara Vivian. Dan dengan cepat ia sekarang mendudukkan tubuhnya diatas ranjang dengan tatapan mata yang tertuju kearah Vivian yang tengah duduk santai di salah satu tempat duduk di kamar tersebut.
"Kak, kesini sebentar," ucap Erland.
"Kamu aja yang kesini. Udah keburu mager buat berpindah tempat soalnya," ujar Vivian.
"Ck, ayolah kesini sebentar," rengek Erland.
"Apaan sih Er. Biasanya kamu juga yang nyamperin aku tanpa aku suruh. Udah deh jangan manja. Cepat kesini dan kasih tau aku tujuan kamu datang kesini tuh apa. Karena aku yakin kedatangan kamu bukan hanya sekedar main saja tapi ada tujuan tertentu yang membutuhkan bantuan ku," ucap Vivian yang membuat Erland kini menghela nafas. Dan mau tak mau, ia sekarang beranjak dari ranjang menuju kearah Vivian berada. Dan setelah sampai ia langsung mendudukkan tubuhnya disamping perempuan tersebut lalu tanpa permisi ia memeluk tubuh Vivian dengan sangat erat.
"Eh eh eh kenapa ini?" tanya Vivian terheran-heran. Pasalnya jika Erland sudah bersikap manja dengannya pasti ada sesuatu hal yang membuat hati laki-laki itu dilanda kegalauan.
"Jangan tanya kenapa dulu. Biarin gue meluk lo sebentar saja. Mood gue lagi obrak-abrikan soalnya," tutur Erland yang sesuai dengan tebakan Vivian sebelumnya. Dan permintaan dari Erland tadi langsung di setuju oleh Vivian. Bahkan perempuan itu kini membalas pelukan dari Erland dengan sesekali ia membelai kepala laki-laki didalam pelukannya itu.
Disaat Vivian tengah memberikan ketenangan kepada Erland, tiba-tiba saja ponselnya berdering nyaring memenuhi seluruh ruangan tersebut.
"Er, lepasin bentar. Aku mau ngangkat telepon," ucap Vivian dengan berusaha melepaskan pelukan dari Erland. Tapi usahanya itu tampaknya sia-sia karena sekuat apapun tenaga untuk melepaskan pelukan dari Erland, laki-laki itu justru semakin mengeratkan pelukannya tersebut.
"Er, ayolah. Aku mau ambil ponselku. Kamu juga jangan manja kayak gini. Buruan lepasin keburu yang telepon kabur," tutur Vivian yang membuat Erland kini berdecak dan dengan terpaksa ia melepaskan pelukannya tadi.
__ADS_1
Vivian yang sudah terbebas dari Erland pun dengan cepat ia berlari kearah ponselnya berada dan setelahnya ia mengangkat sebuah video call dari seseorang yang selama ini ia rindukan.
"Hay sayang," sapa Vivian dengan senyum manisnya.
Erland yang kepo dengan siapa Vivian tengah bercakap pun dengan segera ia menghampiri Vivian yang tengah terduduk di atas ranjang.
📞 : "Hay Kak. Bagaimana kabar Kakak, baik kan?" tanya seseorang dari sebrang.
"Baik sayang. Kalau kamu gimana? Baik juga kan? semuanya lancar?" tanya Vivian.
📞 : "Keadaanku jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan semuanya lancar," jawabnya.
Erland yang sekarang semakin mendekat dan sudah melihat siapa seseorang yang dipanggil sayang oleh Vivian pun ia menghela nafas. Dan dengan jail, ia naik keatas ranjang untuk memeluk tubuh Vivian dari belakang.
Dan hal tersebut membuat Vivian ataupun seseorang yang berada di layar ponsel Vivian tampak terkejut sesaat.
"Ck, kalau lo mau video call sama dia, video call aja sih. Gue gak akan ganggu. Dan sebelumnya kan gue udah bilang kalau gue lagi butuh ketenangan. Toh lo tadi juga mau-mau aja gue peluk tapi karena ada video call dari Zico, Lo jadi ngelupain gue yang datang lebih dulu daripada dia," tutur Erland diakhir dengan ia menatap tajam kearah layar ponsel milik Vivian.
"Ya kan dia adik aku. Jadi dia yang harus aku utamakan daripada kamu," ujar Vivian tak mau kalah. Dan perdebatan dari kedua orang tadi membuat Zico yang berada di sebrang tampak menggelengkan kepalanya dengan senyumannya.
📞 : "Apa kalian terus ingin bertengkar di hadapanku?" tanya Zico yang berhasil mengalihkan perhatian kedua orang tadi.
"Pertengkaran ini juga gara-gara lo. Kalau lo gak gangguin kita, kita juga gak akan bertengkar. Dasar Zico," balas Erland dengan sengaja memanggil nama yang selama ini dilarang oleh siapapun yang tau penyakit Zico. Dan hal tersebut langsung membuat Vivian menepuk kencang paha Erland ditambah dengan ia menatap wajah Erland dengan tatapan tajam.
"Kamu apa-apaan sih Er. Kalau lo cuma mau cari gara-gara, mending lo sekarang keluar dari sini," usir Vivian.
__ADS_1
"Lo ngusir gue?"
"Iya!" jawab Vivian dengan mantap.
"Tega ya Lo," ucap Erland.
"Ngapain aku gak tega sama orang yang jelas-jelas cari gara-gara sama orang lain," ujar Vivian dengan tatapan sengitnya.
📞 : "Sudah-sudah kalian ini seperti Tom and Jerry saja," timpal Zico yang sudah jengah melihat pertengkaran keduanya.
"Dia duluan yang cari masalah," ujar Vivian.
📞 : "Udah Kak, gak usah di besar-besarkan masalahnya. Toh aku juga sudah tidak masalah jika ada seseorang yang manggil Jio dengan sebutan Zico lagi. Udah gak ngaruh sama sekali untukku," ucap Zico yang membuat kedua orang itu kini kembali fokus dengan laki-laki di dalam layar ponsel tersebut hingga mereka berdua melupakan pertengkaran mereka tadi.
"Lo udah sembuh?" tanya Erland penasaran.
📞 : "Hmmmm bisa di bilang begitu. Tapi belum sembuh total. Doain aja semuanya berjalan lancar biar gue gak gangguin lo dan keluarga Daddy lagi," ujar Zico.
"Ya elah, kenapa lo pakai sembuh segala sih. Gak ada lagi kan orang menyebalkan yang membuat raga dan pikiran gue terkuras habis karena ulah dia. Ck, gak asik lo," tutur Erland dengan sedikit candaannya. Tapi lagi-lagi ucapannya tadi langsung mendapat timbal balik dengan pukulan di pahanya.
"Aws, sakit elah. Paha gue lama-lama gepeng nih gara-gara lo pukul terus dari tadi," omel Erland.
📞 : "Bodoamat deh gue gak asik lagi buat lo. Yang penting gue sekarang fokus buat sembuh. Lagian punya penyakit kayak gini tuh buat capek diri sendiri. Lo sih enak-enak saja lihatnya tapi gue mati-matian ngelawan penyakit ini," ujar Zico.
"Ck, kamu gak usah dengarin ucapan dia. Dia anaknya emang gak jelas. Biarin saja dia mau bilang apa, yang penting kamu tetap fokus untuk sembuh dan kalau sudah sembuh cepatlah pulang. Karena Kakak sudah benar-benar rindu kamu," timpal Vivian yang membuat Zico kini tersenyum lebar di balik layar ponsel tersebut.
__ADS_1
📞 : "Jio juga rindu Kakak. Jio juga gak sabar buat ketemu Kakak dengan keadaan Jio yang kembali normal seperti Jio yang dulu Kakak kenal. I Miss you so much, Kak," ucap Zico yang terlihat benar-benar tengah menahan kerinduan untuk satu-satunya keluarga yang saat ini ia miliki.