The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 102


__ADS_3

Baru saja Edrea ingin keluar dari restauran dimana dia tadi menikmati makan siangnya, bertepatan itu pula kedua Abangnya terlihat mendekati dirinya dengan tatapan tajam mereka. Edrea sempat gelagapan melihat dua laki-laki tampan yang sekarang menjadi pusat perhatian semua pengunjung mall tersebut, tak terkecuali dengan kedua sahabatnya yang sekarang turut melihat Azlan dan Erland bahkan mereka berdua telah heboh sendiri. Sampai tak memperhatikan Edrea yang setengah mati menahan takut atas tatapan kedua Abangnya.


"Anjir itu manusia apa dewa Yunani, terlalu sempurna," ucap Yesi dengan binar kekaguman di matanya.


"Iya weh. Ganteng banget ya Allah. Yang kayak gini maksud hamba ya Allah," pekik Resti yang tak kalah kagumnya dengan Yesi.


Edrea yang mendengar pekikan tertahan dari kedua sahabatnya pun mencebikkan bibirnya dengan cibiran kecil. Ia tak terima jika dewa Yunani disamakan dengan kedua Abangnya.


"Mana ada dewa Yunani punya sifat kayak iblis. Mereka pada gak tau aja sih gimana sifat asli bang Az sama bang Er. Kalau tau ngelus dada deh kalian sampai tepos tuh dada," gerutu Edrea.


Semakin lama semakin dekat Azlan dan Erland menghampiri Edrea hingga keduanya telah sampai di depan ketiga wanita dengan baju seragam yang sama.


"Pulang!" titah Erland tanpa bantahan.


Edrea yang baru sadar kedua Abangnya sudah berada di depannya kini menengadahkan kepalanya yang awalnya tertunduk kini menatap kearah wajah keduanya. Dengan cengiran khasnya Edrea melirik sekilas kearah kedua sahabatnya yang kini tengah menatap dirinya dan kedua Abangnya secara bergantian. Mungkin mereka bingung, kenapa Edrea bisa mengenal mereka berdua? Dan ketika mata Yesi dan Resti menatap Edrea, seakan-akan tatapan mata itu meminta penjelasan dengan sang empu.


"Rea! Pulang!" ulang Erland dengan suara yang sangat dingin.


Edrea tersentak saat mendengar suara menakutkan itu.


"Iya-iya. Ini Rea juga mau pulang," tutur Edrea dengan kerucutan di bibirnya.


Setelah mengatakan hal itu, Edrea menghadap kearah kedua sahabatnya yang sedari tadi menatapnya.


"Nanti gue jelasin. Gue harus pulang dulu sekarang, sebelum kedua singa gue ngamuk. Kalau sampai ngamuk di sini nanti bisa gawat," ucap Edrea yang mendapat pelototan dari Azlan dan Erland.


Tanpa bisa menjawab sepatah katapun, mereka berdua hanya bisa mengangguk, mengiyakan ucapan dari Edrea tadi karena kedua sahabat itu tampak takut akan tatapan Azlan dan Erland tadi.

__ADS_1


Setelah mendapat anggukan dari kedua sahabatnya, Edrea langsung menatap sekitar dan seketika matanya melebar saat sudah mulai banyak kaum hawa yang mulai mendekati kedua Abangnya. Sebegitu menariknya kah kedua Abangnya yang sekarang seperti kulkas berjalan, datar, dingin, dan sangat-sangatlah cuek itu?


Dan karena Edrea merasa risih mendapatkan tatapan dari kaum hawa yang secara terang-terangan menatapnya dengan tatapan iri, Edrea secepat mungkin menggandeng kedua Abangnya untuk segera menjauh dari para kaum hawa yang sudah menyatu jadi satu. Edrea terus menarik tangan keduanya sampai mereka bertiga keluar dari mall.


"Abang ih, kenapa malah nyusul Rea sampai dalam mall sih?" sebal Edrea sembari berjalan menuju mobil milik Azlan yang tak jauh dari pintu keluar mall tersebut.


Tak ada jawaban dari keduanya, hingga sampai di dalam mobil.


"Abang ih kok Rea di diemin," geram Edrea.


"Berisik Rea! Kalau lo gak di jemput di dalam mall gue yakin Lo akan kabur lagi," jawab Erland yang duduk di kursi belakang bersama Edrea. Entah kenapa Edrea saat ini ingin sekali duduk di belakang. Biasanya saja dirinya harus rebutan dulu dengan Erland agar bisa duduk di sebelah kemudi tapi entah kenapa keduanya sekarang malah enggan di depan.


"Ih sok tau banget sih bang. Kata siapa juga Rea mau kabur? Rea gak akan kabur kok." Erland hanya menanggapi ucapan Edrea tadi dengan dengusan nafas malas.


Tak ada lagi percakapan dari ketiga manusia yang berada didalam mobil yang sama itu. Hanya ada keheningan disana tapi jika Azlan dan Erland melirik kearah Edrea, terlihat Adik perempuan satu-satunya itu, bibirnya terus saja komat-kamit seperti dia tengah mengumpat dengan sumpah serapah untuk Azlan dan Erland. Tapi mereka berdua mana peduli dengan dumelan Edrea. Yang mereka pikir sekarang, bagaimana caranya agar Edrea tak lolos lagi dalam pantauan keduanya?


Mobil yang di kendarai oleh Azlan kini sudah memasuki lingkungan rumah mewah yang bertahun-tahun mereka tinggali.


Setelah mobil itu terparkir rapi di garasi, Edrea langsung keluar tanpa mengatakan sepatah katapun. Bahkan ketika ia menutup kembali pintu mobil itu, ia sengaja menutupnya dengan sekuat tenaga. Tak peduli jika pintu mobil itu akan rusak nantinya. Biarkan saja ia meluapkan emosinya ke pintu mobil karena kalau meluapkan emosi ke Azlan atau Erland, ia yakin nyawanya tak akan selamat nanti.


"Assalamualaikum. Anak Mommy yang paling cantik pulang!" teriak Edrea saat dirinya sudah memasuki rumah tersebut.


Mommy Della yang tengah bersantai di dalam ruang keluarga pun mendengus saat mendengar suara cempreng dari anak perempuannya itu.


"Waalaikumsalam," jawab Mommy Della dengan teriakan pula. Karena kalau dia menjawab hanya bisa di dengar olehnya saja, Edrea nanti akan mencak-mencak memarahi dirinya.


Edrea yang mendengar sautan dari Mommynya pun kini berlari menuju ruang keluarga. Ia berniat akan mengadukan semua tingkah Azlan dan Erland tadi kepada Mommynya.

__ADS_1


"Mommy," rengek Edrea setelah sampai dan duduk disamping Mommy Della tak lupa ia juga sudah memeluk tubuh sang Mommy dari samping.


"Ada apa?" tanya Mommy Della dengan lembut.


"Masak Abang tadi nyamperin Rea sampai di dalam mall. Padahal Rea kan mau quality time sama teman-teman Edrea setelah ujian akhir semester selesai. Tapi acara quality time hancur gara-gara Abang," adu Edrea dengan wajah tertekuk.


Mommy Della mengelus rambut Edrea dengan penuh kasih sayang.


"Ya udah sih biarin aja. Siapa tau Abang kamu mau ikut quality time gara-gara ada teman kamu yang mereka taksir," ucap Mommy Della.


Edrea mencebikkan bibirnya. Mana ada mereka naksir Yesi ataupun Resti. Orang kedua Abangnya itu saja baru pertama kali bertemu dengan kedua sahabatnya. Mana bisa mereka langsung suka begitu saja.


"Mereka aslinya gak ikut quality time secara keseluruhan. Lebih tepatnya mereka berdua hanya jemput Rea," tutur Edrea.


"Lah kalau hanya jemput saja ya bagus dong jadi gak ganggu acara kalian." Edrea berdecak. Mommynya ini tak peka sekali dengan situasi hati dan pikiran Edrea.


Baru saja Edrea ingin menimpali ucapan sang Mommy, kedua Abangnya tiba-tiba menghampiri mereka berdua dengan barang bawaan yang Edrea tadi beli di mall.


"Jangan ngadu yang aneh-aneh," ucap Azlan setelah itu ia mencium telapak tangan Mommy Della dan tak lupa mencium pipi Mommynya itu kemudian ia duduk di sofa yang masih kosong. Diikuti Erland yang juga melakukan hal yang sama dengan Azlan.


"Siapa juga yang ngadu. Sok tau banget," geram Edrea. Dan karena dirinya malas untuk sekedar bertatap muka dengan kedua Abangnya itu, ia segera beranjak dari duduknya kemudian mengambil semua barang-barang yang ia beli tadi.


"Tuh buat kalian berdua." Edrea menaruh dua paper bag di meja ruangan tersebut. Setelah itu, ia melangkahkan kakinya pergi dari ruangan tersebut. Gini-gini dia masih ingat akan kedua saudara kembarnya makanya kemanapun dia berada akan selalu membelikan sesuatu kepada Azlan dan Erland.


"Lho Mommy gak dikasih?" tanya Mommy Della dengan teriakan.


Tanpa menoleh Edrea menjawab, "Nanti Rea kasih ke Mommy. Rea lupa barangnya yang mana," jawabnya. Setelah itu ia benar-benar menjauh dari ketiga orang yang sekarang tengah menggedikkan bahunya, melihat tingkah Edrea tadi.

__ADS_1


__ADS_2