The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 371


__ADS_3

Adam yang tadi pergi dari hadapan Erland, kini ia tengah berdiri di area taman hotel tersebut yang disana cukup banyak orang yang tengah bercanda ataupun hanya sekedar bercengkrama saja dengan lawan mereka. Dan hal tersebut lagi-lagi membuat otak pintarnya itu langsung memutar memory di masa lalunya.


Tapi tak bersalah lama, bayang-bayang masa lalunya itu hilang saat Adam menggelengkan kepalanya.


"Ya Tuhan kenapa bayangan masa lalu itu terus saja berpura di otak hamba? Hamba lelah tuhan jika harus mengingat seseorang yang sudah pergi dan memutuskan segalanya untuk menjauh dari hamba. Hamba ingin melupakan semuanya tentang dia Tuhan, hamba mohon, jangan siksa hamba dengan kenangan yang meninggalkan sejuta luka ini. Hamba lelah tuhan, hamba lelah!" jerit Adam didalam hatinya.


Ia kini memejamkan matanya untuk menahan gejolak didalam hati. Hingga tepukan dari seseorang di belakang membuat dirinya kini membuka matanya dan menoleh tepat di sampingnya karena orang yang sudah menepuk bahunya tadi berpindah tempat menjadi di sampingnya.


"Jio. Kenapa kamu ada disini?" heran Adam. Ya, orang yang menepuk bahunya itu adalah adik barunya yang memiliki nasib beruntung yang sama dengan dirinya, sama-sama di terima dan di jadikan anak angkat oleh keluarga Abhivandya. Ya, dia tau semua cerita tentang Zico yang akhirnya menjadi anak angkat Mommy Della dan Daddy Aiden seperti dirinya. Ia pun juga sudah tau fakta tentang Vivian yang merupakan anak kandung Daddy Aiden dan Mommy Della yang dulunya mereka anggap telah berpulang. Dan jangan tanya siapa pelaku yang menceritakan itu semua, yang jelas bukan Mommy Della ataupun Daddy Aiden melainkan si bontot, Edrea lah yang menceritakan secara detail mengenai dua orang pendatang baru di keluarganya itu.


"Seharusnya aku yang tanya bang Adam. Abang ngapain disini? Sendirian pula? Gak takut di culik sama tante-tante yang lihatin Abang dari tadi," ujar Zico dengan mata yang terus menuju kearah salah satu kursi yang diisi para emak-emak sosialita.


Adam mengerutkan keningnya namun setelah ia mengikuti arah pandang Zico, ia menghela nafas saat para emak-emak sosialita itu menatap dirinya dan juga Zico penuh dengan kekaguman dan bisik-bisik yang mereka yakini jika mereka berniat untuk menjodohkan mereka kesalah satu anaknya atau yang lebih kacau lagi, justru meminta mereka berdua di suruh menikah dengan mereka. Oh astaga, membayangkannya saja sudah sangat mengerikan, pikir keduanya.


Dan saat mata keduanya yang masih mengawasi para emak-emak tadi melihat salah satu dari kawanan mereka telah berdiri dan berjalan mendekati keduanya tak lupa dengan senyum lebarnya, mata mereka otomatis melotot.


"Bang." Adam menolehkan kepalanya kearah Zico yang masih menatap pergerakan dari salah satu emak-emak tadi.


"Abang tau kan apa yang ada di pikiranku?" Adam yang paham akan maksud yang di ucapkan oleh Zico tadi, ia menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku kasih aba-aba dengan hitungan ketiga." Adam lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya.


"Satu," mulai Zico.


"Dua."


"Tiga. Lari bang," ucap Zico dengan menepuk pundak Adam sebelum mereka berdua lari meninggalkan emak-emak tadi yang hampir sampai kearah mereka berdua. Dan karena kepergian dari keduanya membuat emak-emak tadi tampak berdecak sebal. Gagal sudah ia mengenal dan mendapat menantu seperti mereka berdua. Dan dengan rasa dongkol di hatinya serta mood dia sepertinya sudah hancur pun ia menghentak-hentakkan kakinya sembari berjalan menuju kearah teman-temannya lagi.


Sedangkan disisi lain, Adam dan Zico kini telah berada di luar gedung hotel. Entah mengapa kaki mereka membawa keduanya keluar dari gedung pencakar langit itu padahal mereka bisa kembali ke pesta pernikahan Azlan dan Zea yang jarak dari taman tadi ke tempat acara tidak teramat jauh seperti jarak taman dan depan gedung hotel yang terdapat kedua laki-laki itu saat ini.


"Hosh Hosh Hosh, gila capek juga. Huh," keluh Zico dengan menghapus kasar keringat yang berada di keningnya.


"Benar juga kata kamu, bang. Lumayan bakar kalori," timpal Zico.


"Eh tapi ngomong-ngomong kenapa kita malah kesini?" Ucap Zico dengan menatap kearah sekitarnya yang tak kalah ramai orang-orang berlalu lalang keluar masuk hotel tersebut.


Adam yang juga baru sadar pun ia juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Zico tadi.


"Ngapain kita larinya kesini?" Pertanyaan Adam tadi dijawab dengan gedikkan bahu oleh Zico karena ia juga tidak tau kenapa dirinya bisa ada di luar gedung. Pasalnya ia tadi berlari tanpa arah dan hanya mengikuti langkah kakinya saja.

__ADS_1


"Mana aku tau bang. Mungkin kita memang di suruh pergi dari acara Azlan sama Zea. Biar gak terlalu iri nanti kalau kita terus-terusan ada di sana," ujar Zico yang langsung mendapat tatapan penuh pertanyaan dari Adam hingga kening laki-laki itu berkerut.


"Kamu iri melihat Azlan menikah?" Dengan cepat Zico menganggukkan kepalanya.


"Siapa yang gak iri sih bang lihat orang nikah? Jio mah iri bangat sama mereka yang sudah menikah di usia muda seperti saat ini dengan jodoh yang insyaallah sudah di tulis di lauhul mahfudz mereka," ucap Zico lalu ia menatap lekat wajah Adam.


"Memangnya Abang gak iri sama seseorang yang sudah menemukan jodohnya?" Adam terdiam, ia rasa mungkin didalam lubuk hatinya yang paling dalam ia iri melihat hal tersebut apalagi usia dirinya sudah cukup matang untuk membina hubungan rumah tangga, tapi sayangnya trauma di masa lalunya itu membuat dirinya yang selalu ingin mencari pendamping hidup harus dihalangi oleh bayang-bayang masa lalu sialannya itu.


Zico yang melihat mata Adam menatap kosong udara pun, ia memberikan tepukan di pundak Kakaknya itu.


"Udah-udah bang gak usah di pikirin. Abang sekarang mau kemana? Mau kembali kedalam atau mau pergi?" tanya Zico untuk mengalihkan pikiran Adam yang ia tau tengah kacau itu.


"Kembali kedalam," ujar Adam.


"Oh ya udah kalau gitu. Jio pergi duluan ya bang. Dan tolong kasih tau Mommy atau Daddy atau kalau gak Kak Vivian aja deh karena Daddy sama Mommy pasti sibuk menyambut tamu undangan. Katakan ke Kak Vi, kalau aku pulang duluan, bilang udah ngantuk gitu aja. Oke bang." Adam tampak menghela nafas, namun setelahnya ia menganggukkan kepala. Tapi sesaat setelahnya ia berubah pikiran.


"Aku juga mau pulang. Kamu izin saja sendiri sama mereka, kabari mereka lewat chat," ujar Adam sebelum dirinya melangkahkan kakinya lebih dulu menuju ke mobil pribadinya. Sedangkan Zico, ia tampak melongo dengan mata yang terus tertuju kearah Adam.


"Gini ya rasanya punya Abang yang plin-plan. Awalnya ngomong A ehhhh sekarang ngomong B. Gampang banget berubahnya," gumam Zico sembari menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kelakuan Kakak pertamanya itu. Dan sebelum ia melihat mobil Adam mulai berjalan, Zico bergegas menuju kearah mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat parkir Adam itu. Lalu setelah ia sampai didalam mobilnya sesuai dengan ucapan Adam tadi, ia mengirimkan sebuah pesan kepada Vivian jika dirinya dan Adam pulang terlebih dahulu. Dan tanpa menunggu balasan dari Vivian, ia langsung menghidupkan mesin mobilnya kemudian menjalankan mobil itu kearah mobil Adam berjalan.

__ADS_1


__ADS_2