The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 213


__ADS_3

Edrea terus memandangi kedua gelang tersebut sembari mengingat-ingat nama El itu untuk siapa. Hingga saat matanya mulai lelah, tiba-tiba saja pikirannya yang tadi sempat lola akhirnya terkoneksi juga. Bahkan matanya yang tadi tinggal satu watt saja kini terbuka lebar, tubuh yang tadi ia baringkan kini sudah terduduk kembali diatas ranjangnya.


"Astaga gue baru ingat. Nama El itu pernah gue gunakan buat manggil Leon. Apa jangan-jangan nama kecil Leon tuh El ya?" Ucap Edrea dengan bertanya-tanya di dalam otaknya.


"Ah sepertinya sih bergitu dilihat dari reaksinya saat gue pertama kali panggil dia dengan sebutan itu, dia seperti syok gitu. Dan disaat paginya juga bang Az sama bang Er kayak kaget saat gue ngajak Leon buat berangkat ke sekolah dengan gue manggil Leon dengan sebutan El," tutur Edrea dengan menggebu-gebu.


"Oke fiks, nama yang terukir di gelang ini adalah nama gue waktu kecil dan nama Leon waktu kecil. Tapi anehnya kenapa gue gak ingat sama sekali kalau kita berdua pernah berteman?" sambung Edrea.


"Ada kejadian apa dimasa lalu yang buat keluarga gue sampai nyembuhin cerita masa kecil gue ini? Seberapa mengerikannya cerita itu? Haish gue penasaran. Tapi kata bang Er tadi gue gak boleh cari tau apapun sebelum Mommy dan Daddy kasih tau sendiri. Tapi sampai kapan gue nunggunya? Sampai gue jadi nenek-nenek gitu? Ya kali, yang ada gue udah pikun duluan," gumam Edrea di akhiri dengan helaan nafasnya.


"Apa gue tanya langsung sama Leon aja ya. Gak papa kali kalau cuma dengan cerita dikit aja tanpa lihat barang kenang-kenangan itu," ujar Edrea dan setelahnya ia meraih ponselnya lalu mulai mencari nomor Leon dan mencoba untuk menghubungi sang empu.


Dua kali telepon yang Edrea lakukan sama sekali tak mendapat respon apapun dari sang empu bahkan nomor ponsel Leon sudah tak aktif lagi dan hal itu yang membuat Edrea berdecak sebal.


"Udah tidur kali ya orangnya. Ya udah lah gue coba telepon lagi nanti pagi," ucap Edrea dan setalahnya ia meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas samping tempat tidurnya lalu setelahnya ia merebahkan tubuhnya kembali.


Namun baru saja matanya tertutup, ia teringat sesuatu lagi.


"Sebentar, apa jangan-jangan bukan Leon tapi justru nama di balik gelang ini adalah nama asli dari Mr. Misterius. Secara dia juga panggil gue dengan nama Edne. Haish dahlah pusing," geram Edrea sembari menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut dan tak berselang lama kantuk menyerang dan akhirnya Edrea tertidur juga setelah berjam-jam ia memikirkan masa kecilnya itu.


Paginya Edrea dibangunkan dengan suara gaduh dari luar kamarnya. Dan saat dirinya mulai membuka matanya ternyata jam sudah menunjukkan pukul 11 siang.


Tok tok tok!!!


"Rea! Lo baik-baik aja kan? Kalau lo baik-baik aja buka pintunya sekarang juga!" teriakan seseorang yang ia yakini adalah suara dari Azlan kini tengah menyapa telinganya.

__ADS_1


"Buka Rea!" timpal Erland dengan gedoran kerasnya.


Edrea yang masih berusaha untuk mengumpulkan nyawanya dengan terpaksa ia berjalan menuju pintu kamarnya tersebut untuk segera membuka pintu itu sebelum pintu kamarnya rusak gara-gara ulah kedua saudara kembarnya itu.


Dan saat pintu kamar itu terbuka dan memperlihatkan Edrea dengan muka bantalnya, Azlan dan Erland langsung memeluk tubuhnya yang hampir saja membuat tubuh Edrea terjatuh.


"Are you oke?" tanya Azlan yang membuat Edrea bingung.


"Abang apaan sih? Rea gak kenapa-napa. Gak usah khawatir gitu lah," jawab Edrea dengan suara serak khas bangun tidur.


Dua orang tadi kini melepaskan pelukannya dan menatap Edrea dari atas sampai bawah.


"Lo beneran gak papa?" tanya ulang Azlan yang diangguki oleh Edrea. Dan hal itu membuat Azlan dan Erland menghela nafas lega.


"Lo gak ingat kalau lo tadi teriak kencang banget sampai para bodyguard dan mbak kesini semua?" tanya Erland yang membuat Edrea kini melihat ke belakang kedua laki-laki didepannya itu. Dan benar saja banyak orang yang tengah berdiri di belakang Azlan dan Erland.


"Hehehe Rea gak papa kok semuanya. Kalian boleh kembali bekerja lagi," ujar Edrea dan tak berselang lama orang-orang tadi satu-persatu meninggalkan depan kamar Edrea.


Dan setelah semuanya pergi, Edrea menatap kedua Abangnya itu lalu setalahnya ia berjalan menuju sofa di kamar tersebut. Meninggalkan kedua Abangnya itu yang sekarang tengah mengikuti langkahnya.


"Jawab pertanyaan Abang tadi Rea. Lo tadi kenapa teriak begitu?" ulang Erland.


"Rea gak teriak lho bang. Orang Rea baru bangun tidur saat Abang gedor-godor pintu kamar Rea tadi," ujar Edrea.


"Jangan bohong Rea," ucap Azlan dengan tegas.

__ADS_1


"Bang, Rea gak bohong. Sumpah deh Rea gak teriak-teriak dari tadi. Apa Abang gak lihat nih di pipi Rea aja masih ada ilernya?" tutur Edrea.


"Tapi tadi kita semua yang ada dirumah ini dengar teriakan lo. Ya kali setan yang teriak-teriak. Gak ada kerjaan banget tuh setan, mana udah siang lagi gak takut apa kebakar sama matahari," omel Erland yang hanya di respon oleh Edrea dengan gedikkan bahunya.


"Apa lo tadi mimpi buruk?" tanya Azlan yang masih yakin jika teriakan tadi adalah teriakan dari Edrea.


"Gak tau. Rea udah lupa," jawab Edrea dengan polosnya.


"Ya sudah lah, kalau lo lupa. Mungkin memang lo tadi lagi mimpi yang buat lo kaget aja. Abang mau keluar sebentar, buat nuntasin tugas dari Daddy. Lo jangan kemana-mana tetap di rumah. Jangan lupa mandi sama makan," ucap Azlan yang diangguki oleh Edrea.


"Gue juga mau cari bapak dari anaknya temen laknat lo itu. Baik-baik dirumah," timpal Erland sembari mengacak rambut Edrea.


"Hmmm. Hati-hati dijalan. Semoga segera selesai ya tugas kalian," teriak Edrea saat dua saudara kembarnya itu sudah mulai menjauh darinya. Dan teriakannya tadi hanya dibalas acungan jempol oleh keduanya.


Edrea terus menatap kepergian Azlan dan Erland hingga mereka benar-benar sudah menghilang dari balik pintu kamarnya. Dan setalahnya Edrea kini segara bergerak menuju ponselnya berada.


Ia baru ingat tujuannya kemarin, ingin menanyakan masa kecilnya itu dengan Leon.


Edrea berdehem sesaat sebelum mulai menghubungi Leon. Tapi baru saja ia menekan nomor itu, Edrea telah disambut dengan suara operator yang memberitahukan jika nomor itu tengah tak aktif.


"Lah kok belum aktif sih. Masak dia belum bangun tidur?" tanya Edrea pada dirinya sendiri.


"Sepertinya begitu deh. Ya udah lah nanti sore biar gue coba lagi. Ah sekarang mending coba telepon Mr. Misterius itu. Buat tanya dia tau nama panggilan gue waktu kecil dari siapa," sambung Edrea dan setelahnya ia segera mencari nomor Mr. Misterius tersebut lalu langsung menghubunginya.


Tapi sayang ternyata nomor Mr. Misterius juga tak dapat Edrea hubungi bahkan setalah kejadian beberapa hari yang lalu, Mr. Misterius itu tak lagi mengirimkan pesan kepadanya tak seperti sebelum-sebelumnya yang rutin mengirimkan pesan walaupun hanya sekedar mengucapkan selamat pagi atau hal-hal kecil lainnya. Tapi sekarang, Mr. Misterius itu seakan-akan perlahan menghilang darinya.

__ADS_1


__ADS_2