The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 320


__ADS_3

Azlan yang baru saja tiba diruangan Zea, matanya langsung melotot saat mendapati keadaan Zea yang sudah berantakan dan tengah menangis tersedu-sedu.


"Sialan," umpat Azlan sebelum dirinya berlari kearah sang kekasih lalu memeluk tubuh rapuh itu.


"Maaf," ucap Azlan saat dirinya sudah memeluk tubuh Zea. Zea yang merasakan pelukan hangat itu pun ia membalas pelukan itu dengan sangat erat.


"Az, bawa aku pergi. Aku mohon," pinta Zea yang berada di dalam pelukan Azlan.


"Iya sayang. Aku akan membawa kamu pergi. Aku akan membantu kamu untuk menjauh dari keluarga gila itu," ujar Azlan dengan memberikan kecupan singkat di kening sang kekasih. Lalu setelahnya, ia perlahan membopong tubuh Zea menuju kearah brankarnya lagi.


"Katakan dimana yang sakit? Biar aku panggil dokter sekarang," tanya Azlan setelah ia mendudukkan tubuh Zea diatas brankar dan dengan menatap lekat wajah Zea sembari menghapus air mata perempuan itu.


Zea menggelengkan kepalanya.


"Aku sudah tidak kenapa-napa. Tidak ada yang sakit setelah kamu kembali lagi ke hadapanku," ujar Zea dengan senyuman di bibirnya.


Azlan yang melihat senyuman itu pun ia justru merasa bersalah dan dengan cepat ia memeluk kembali tubuh Zea.


"Maaf kan aku karena tadi sempat pergi dari hadapan kamu. Tapi yakinlah itu semua bukan kemauanku sendiri tapi kemauan Daddy. Biasalah kakek-kakek labil," tutur Azlan yang membuat Zea terkekeh kecil.


Daddy Aiden yang baru masuk kedalam kamar itu dan mendengar ucapan Azlan tadi ia langsung memberikan tatapan permusuhan kearah putranya itu.


"Oh gitu ya, kalau di belakang Daddy ngatain Daddy kakek-kakek. Anak seperti kamu ini sepertinya butuh jeweran," timpal Daddy Aiden yang berhasil membuat Azlan melepaskan pelukannya tadi kemudian ia menatap kearah Daddy Aiden yang tengah mendekat ke arahnya.


"Kesini kamu sekarang!" perintah Daddy Aiden yang justru membuat Azlan menghindari dirinya.


"Berani-beraninya ya kamu, anak laknat. Daddy batalkan acara pernikahan kamu besok baru tau rasa kamu," ancam Daddy Aiden yang membuat Azlan langsung menghentikan pergerakannya yang dari tadi terus ia lakukan untuk menghindari amukan dari sang Daddy. Sedangkan Zea yang tak tau apapun ia terlihat mengerutkan keningnya dengan tatapan yang menatap kearah dua pria yang berada di depan dan belakangnya itu secara bergantian.


"Pernikahan? Azlan mau nikah Dad?" tanya Zea penasaran yang dijawab angguk kepala oleh Daddy Aiden. Dan hal tersebut membuat Zea langsung menatap lekat kearah Azlan, sepertinya tengah menunggu penjelasan dari Azlan tentang pernikahan yang dimaksud oleh Daddy Aiden itu. Bahkan matanya kini sudah berkaca-kaca karena kekasihnya juga merupakan orang satu-satunya dalam hidupnya yang bisa membantu dia keluar dari zona toxic justru akan meninggalkan dan mencampakkan dirinya begitu saja, pikir Zea.


Azlan yang melihat perubahan ekspresi wajah dari Zea pun dengan cepat ia menggelengkan kepalanya, bertanda jika apa yang sedang di pikirkan oleh Zea itu salah besar.


"Sayang dengar dulu ya. Aku akan jelasin semuanya ke kamu. Jadi memang benar apa yang dikatakan sama Daddy tadi jika besok aku akan menikah tapi nikahnya juga sama kamu kok. Jadi tenang saja aku tidak akan mengkhianati kamu dengan menikah sama orang lain," jelas Azlan yang membuat Zea setidaknya bisa menghela nafas lega tapi beberapa saat setelahnya ia terlihat murung kembali.


"Eh kok wajahnya masih di tekuk gitu? Apa kamu tidak mau nikah sama aku?" tanya Azlan.


Zea menggelengkan kepalanya.


"Lha terus?"


Daddy Aiden yang paham atas kesediaan yang tengah melanda Zea kini ia mendekati calon menantunya itu lalu tanpa meminta izin ke Azlan terlebih dahulu ia kini memeluk Zea untuk memberikan ketenangan kepada gadis itu. Dan saat Azlan ingin melontarkan kata-kata protesannya, tangan Daddy Aiden dengan cepat membungkam mulut cerewet putranya itu dengan pelototan di matanya.


Dan dengan tangan satu yang masih berada di bibir Azlan dan yang satunya mengelus punggung Zea, Daddy Aiden mulai angkat suara, "Maaf Zea, bukan maksud Daddy ataupun Azlan untuk merendahkan diri kamu dengan memenuhi keinginan kedua orangtuamu itu. Tapi ini adalah salah satu cara agar kamu benar-benar keluar dari keluarga gila itu. Terus terang saja, Daddy dan Mommy sudah menganggap kamu sebagai anak kita sendiri. Dan jika kita sudah menganggap kamu sebagai anak kita, jadi Daddy ataupun Mommy tidak akan membiarkan kamu untuk disakiti oleh siapapun walaupun itu orangtua kamu sendiri. Daddy dan Mommy tidak akan sanggup melihat anak yang sudah kita anggap sebagai keluarga menderita. Tapi kamu tenang saja setelah pernikahan kalian besok selesai, kamu sudah benar-benar bebas dari mereka berdua. Kamu tidak akan merasakan sakit lagi seperti yang kamu rasakan sebelumnya. Kamu dengan sepenuhnya menjadi keluarga Abhivandya bukan keluarga mereka lagi. Mereka tidak akan bisa mengusik ketenangan kamu sampai kapanpun. Kamu akan hidup aman dengan keluarga Daddy dan di dalam pantauan Azlan. Kamu mulai sekarang anak Daddy bukan anak mereka lagi," ujarnya sembari melepaskan tangannya dari bibir Azlan dan beralih untuk mengusap rambut Zea ketika Daddy Aiden merasakan tubuh Zea yang bergetar.


"Hiks, maafin Zea, Dad. Maaf karena sudah membuat Daddy terlibat dalam permasalahan Zea. Maaf karena Zea hanya bisa merepotkan Daddy dan Mommy. Maaf karena gara-gara Zea, Daddy harus mengeluarkan uang yang Zea yakin jumlahnya tidak sedikit. Maafin Zea, Dad. Keberadaan Zea hanya menambah beban keluarga Daddy," ucap Zea.


"Hey hey hey. Apa yang kamu katakan. Daddy tidak merasa jika kamu menambah beban Daddy justru kamu semakin menambah warna dalam kehidupan keluarga kita. Kamu tidak akan pernah menjadi beban kita semua. Kamu anak kuat yang memang sepatutnya menjadi bagian keluarga Daddy. Masalah uang tidak seberapa dengan diri kamu. Jika uang bisa dicari tapi kamu tidak akan pernah terganti," ujar Daddy Aiden.


"Benar apa yang Daddy katakan sayang. Kamu itu membuat hidup kita sekeluarga tambah berwarna jadi jangan meminta maaf terus menerus karena kamu tidak melakukan kesalah apapun. Kita semua sayang sama kamu sekarang ataupun dimasa depan," timpal Azlan yang bergabung kedalam pelukan kedua orang di depannya itu hingga tubuh Zea kini berada di tengah-tengah kedua laki-laki tadi.


"Jadi sekarang jangan nangis lagi ya. Karena air mata kamu itu berharga," ujar Daddy Aiden sembari melepaskan pelukannya dari Zea tadi dan tangannya bergerak untuk menghapus air mata gadis tersebut yang diangguki oleh Zea.


Dan beberapa saat setelah Zea mulai tenang, Daddy Aiden bergerak dengan cepat kearah Azlan lalu setelahnya ia menjewer telinga putranya itu.


"Aws, sakit Dad," ringis Azlan dengan mencoba melepaskan tangan sang Daddy dari telinga.


"Bodoamat, Daddy gak peduli. Siapa suruh tadi kurang ajar sama Daddy. Jadi rasain hukuman ini. Biar kamu kapok dan gak sembarangan lagi buat bicara. Mana bicaranya di depan calon menantu Daddy lagi. Haishhhhh kamu ini ya," geram Daddy Aiden yang semakin mengencangkan jewerannya tadi.


"Arkhhhh Daddy udah Dad. Maaf deh maaf, Azlan tadi kelepasan. Azlan kapok Dad. Azlan janji gak akan ngulangi lagi, sumpah demi cacing di dalam tanah deh," ujar Azlan yang sudah tak tahan lagi merasakan panas di daun telinganya itu. Jika dirinya tak meminta maaf saat itu juga kemungkinan telinganya itu nantinya akan menjadi besar seperti telinga gajah karena ulah Daddynya. Sedangkan Zea yang melihat Azlan kesakitan itu pun bukannya menengahi atau membujuk Daddy Aiden untuk menghentikan hukumannya, ia justru tertawa dibuatnya.


Daddy Aiden yang melihat tawa dari Zea kembali lagi pun ia ikut tersenyum lalu setelahnya ia melepaskan jeweran di telinga putranya itu.


"Berhubung Zea udah ketawa lagi, hukuman kamu, Daddy hentikan sampai sini. Tapi ingat jika kamu melakukan hal yang sama lagi, Daddy tidak akan menjewer telinga kamu lagi melainkan akan Daddy potong sekalian tuh telinga biar tau rasakan kamu," ujar Daddy Aiden yang membuat Azlan langsung memegangi kedua telinganya.


Tapi Daddy Aiden tak peduli dengan yang dilakukan oleh Azlan itu karena matanya kini menatap kearah Zea.

__ADS_1


"Ze, Daddy tinggal dulu ya. Mau lihat perkembangan kondisi Leon gimana. Doakan Leon segera melalui masa kritisnya ya dan semoga segara sadar juga." Zea tampak menganggukkan kepalanya untuk membalas ucapan dari Daddy Aiden tadi.


"Dad, Zea boleh ikut kesana?" tanya Zea.


"Besok saja. Kamu sekarang istirahat dulu dan biar Daddy panggil dokter buat ngobatin luka lebam di pipi kamu itu. Ya sudah ya Daddy tinggal dulu. Kalau Azlan nakal sama kamu, bunuh aja dia. Daddy ikhlas," ujar Daddy Aiden yang langsung membuat Azlan melebarkan matanya.


"Ih tega banget sama anak sendiri," tutur Azlan tak terima yang hanya mendapat gedikkan bahu oleh Daddy Aiden. Dan tanpa menimpali ucapan Azlan, Daddy Aiden menggelus puncak kepala Zea sebelum akhirnya dirinya pergi dari kamar inap calon menantunya itu, meninggalkan Zea yang tengah terkekeh karena mendengar gerutuan dari Azlan.


Daddy Aiden yang kini telah keluar dari ruangan tersebut pun ia kini menghela nafas panjang. Ia tak menyangka jika kehidupan Zea ternyata penuh dengan tekanan. Jika ia tau kehidupan gadis malang itu lebih awal pasti ia akan memutuskan apa yang ia putuskan sekarang saat Azlan membawa dia ke rumah waktu itu. Tapi sayangnya ia baru mengetahui hari ini, dimana mereka tidak tau malu melakukan semua itu di depan umum dan disaat Zea dalam keadaan sakit. Dan itu benar-benar membuat Daddy Aiden tak habis pikir dengan manusia seperti kedua orangtua Zea itu.


"Mulai sekarang Daddy pastikan kamu akan selalu bahagia bersama kita Zea. Daddy janji akan melindungi kamu seperti Daddy melindungi anak Daddy sendiri. Dan untuk orangtua kamu, izinkan Daddy memberikan pelajaran ke mereka," gumam Daddy Aiden sembari menatap pintu kamar inap Zea tadi dan dengan kepalan di tangannya ia melanjutkan langkahnya.


Dan langkahnya itu terhenti saat dirinya telah sampai di depan ruang ICU. Tapi ia hanya menemukan Mommy Della dan Erland saja di kursi tunggu, tidak dengan Edrea yang entah kemana anak itu pergi.


"Lho Rea kemana?" tanya Daddy Aiden sembari duduk di samping sang istri.


"Dia masuk kedalam," jawab Mommy Della dengan menatap wajah Daddy Aiden.


"Masuk kedalam ruangan ini?" Mommy Della tampak menganggukkan kepalanya.


"Memangnya Leon sudah sadar?" tanya Daddy Aiden.


"Belum. Dia belum sadar hanya saja keadaan dia semakin membaik saja tapi belum melewati masa kritisnya," jawab Mommy Della dengan helaan nafasnya.


Sedangkan Daddy Aiden yang awalnya sudah mengeluarkan senyum bahagianya, senyuman itu luntur begitu saja saat mendapat kabar jika Leon masih saja kritis.


"Kirain tuh anak udah sadar. Tapi kalau dia masih kritis kenapa Rea boleh masuk?" tanya Daddy Aiden penasaran.


"Entahlah aku juga tidak tau. Mungkin Adam kasihan sama adiknya yang mukanya terus tertekuk sedari tadi," ujar Mommy Della yang diangguki mengerti oleh Daddy Aiden.


Dan setelah percakapan tadi tak ada lagi percakapan setelahnya, mereka bertiga tengah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga perhatian mereka teralihkan saat pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan Edrea yang tengah keluar dari ruangan tersebut dengan senyum tipis yang ia perlihatkan kepada ketiga orang yang tengah menatap kearahnya.


Ketiga orang tadi yang melihat senyum itu pun mereka membalas senyuman Edrea.


Edrea menganggukkan kepalanya lalu berjalan kearah kursi yang berada di tengah-tengah sang Mommy dan Erland itu. Dan setelah dia duduk tak ada pembicaraan yang terjadi diantara mereka. Entah karena canggung karena keadaan Edrea yang emosinya belum stabil atau entah karena tak ada topik pembicaraan, akhirnya keheningan itu tercipta.


"Ehemmm," dehem Daddy Aiden yang berhasil memecahkan keheningan tersebut bahkan ketiga orang yang duduk disampingnya itu kini menoleh kearahnya. Dan hal tersebut membuat Daddy Aiden menampilkan senyum canggungnya. Tapi senyuman itu hilang saat ia melihat salah satu anak buahnya menghampiri dirinya dengan membawa dua orang yang sebenarnya sangat-sangat tak ingin ia lihat itu.


"Maaf menganggu waktu tuan. Ini ada seseorang yang ingin berbicara dengan tuan katanya penting dan menyangkut tentang tuan muda Azlan," ujar anak buahnya itu yang membuat Mommy Della, Erland dan Edrea mengalihkan pandangannya kearah ketiga orang yang tengah berdiri didepan mereka.


Daddy Aiden menganggukkan kepalanya untuk menimpali ucapan dari anak buahnya tadi. Lalu setelah mendapat jawaban dari tuannya, orang tadi kini pergi dari tempat tersebut meninggalkan dua orang yang ia bawa tadi.


"Kita bicarakan ini semua di sebelah sana saja," ucap Daddy Aiden sembari berdiri dari duduknya. Lalu tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tadi, Daddy Aiden lebih dulu melangkahkan kakinya menuju ke kursi yang lumayan jauh dari ruang ICU, diikuti dua orang tadi.


"Mereka siapa Mom?" tanya Edrea yang akhirnya membuka suaranya kembali setelah berjam-jam ia hanya membisu saja.


"Entahlah Mommy juga tidak tau. Mungkin rekan bisnis Daddy kali. Sudahlah biarkan saja, itu urusan mereka," ujar Mommy Della yang membuat kedua anaknya itu mengangguk-anggukkan kepalanya walaupun mereka masih penasaran dengan dua orang tadi. Tapi walaupun begitu mereka memilih untuk mengikuti apa yang Mommy Della tadi katakan.


Cukup lama bahkan hampir satu jam Daddy Aiden berdiskusi dengan dua orang tadi sebelum akhirnya diskusi diantara mereka telah selesai karena terlihat Daddy Aiden melenggang pergi begitu saja dengan membawa sebuah map ditangannya meninggalkan kedua orang tadi yang tengah menatap sebal kearah Daddy Aiden sebelum mereka pergi meninggalkan tempat tadi.


Dan saat Daddy Aiden telah bergabung dengan anggota keluarganya tadi, ia langsung mendudukkan tubuhnya dengan kasar bahkan helaan nafasnya sampai terdengar oleh ketiga orang tadi.


"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Mommy Della.


"Azlan dan Zea besok akan menikah," ucap Daddy Aiden yang berhasil membuat ketiga orang tadi menatap tak percaya kearahnya.


"Hah? Aku gak salah dengar kan?" tanya Mommy Della untuk memastikan jika pendengarannya itu masih berfungsi normal seperti biasanya.


"Kamu tidak salah dengar sayang. Memang mereka berdua akan melakukan pernikahan besok," ucap Daddy Aiden.


"Jangan bercanda Dad. Gak lucu soalnya," tutur Erland yang sama tak percayanya dengan Mommy Della.


"Yeeee, siapa juga yang lagi ngelawak, Er. Apa yang Daddy katakan tadi benar adanya," ujar Daddy Aiden.


"Kok bisa?" kini giliran Edrea yang tengah kepo maksimal.

__ADS_1


Dan pertanyaan dari Edrea itu membuat Daddy Aiden menghela nafas sebelum akhirnya dirinya menceritakan semua kejadian yang ia lihat tadi hingga berakhir perjanjian yang ia buat dengan kedua orangtua Zea. Disetiap cerita itu berjalan, perubahan ekspresi dari ketiga orang itu terlihat bahkan kilatan amarah terlihat jelas di mata Mommy Della.


"Sialan," umpat Mommy Della yang membuat ketiga orang lainnya terperanjat kaget karena umpatannya tadi.


"Ini tidak bisa dibiarkan," lanjut Mommy Della sembari berdiri dari duduknya dan saat dirinya ingin beranjak dari tempat tersebut, lengannya ditarik oleh Daddy Aiden hingga tubuhnya duduk di pangkuan sang suami. Dan hal tersebut membuat kedua anaknya berdecak sebal. Bisa-bisa Daddy Aiden mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Mau kemana kamu hmm?" tanya Daddy Aiden dengan menyelipkan rambut Mommy Della ke belakang telinga istrinya itu.


"Aku mau nyamperin mereka. Aku tidak terima Zea di perlukan seperti yang kamu ceritakan itu," ucap Mommy Della dengan menggebu-gebu.


"Jangan buang tenaga kamu buat kasih pelajaran ke mereka karena aku sudah merencanakan sesuatu untuk memberikan pelajaran ke mereka. Kamu cukup duduk manis saja dan melihat apa yang akan terjadi di hidup mereka nantinya," ujar Daddy Aiden diakhiri dengan ia mengecup pipi istrinya itu.


Erland yang sudah tak tahan melihat kemesraan kedua orangtuanya itu pun ia kini mulai angkat suara, "Jadi berapa biaya yang Daddy keluarkan buat mengeluarkan Zea dari keluarga sialan itu?" tanyanya.


"100 M," jawab Daddy Aiden yang membuat kedua anaknya itu melongo tak percaya. Bahkan Erland hampir tersedak air liurnya sendiri saat mendengar jumlah yang cukup fantastis yang diinginkan keluarga Zea.


"Anj---ir itu mah mereka melakukan pemerasan namanya. Emang 100 M tuh dikit apa? Kita aja nyarinya sampai mata melotot, mereka malah seenak udelnya minta uang segitu. Gak ngotak," umpat Erland yang terlihat kesal.


"Iya, emang mereka pikir cari uang itu gampang apa. Dasar gak waras," timpal Edrea.


"Sudahlah tidak apa-apa yang penting Zea setelah ini tidak akan disiksa lagi sama mereka," ucap Mommy Della sembari turun dari pangkuan Daddy Aiden walaupun ia tadi juga sempat syok dengan nominal yang di ucapkan suaminya tadi. Tapi tidak masalah jika mereka harus mengeluarkan uang sebesar itu untuk membantu seseorang, lagian Mommy Della juga percaya suatu saat nanti uang itu akan diganti berkali-kali lipat oleh yang maha kuasa, walaupun tidak diganti dengan materi setidaknya diganti dengan kebahagiaan dan kesehatan saja sudah cukup bagi Mommy Della dan Daddy Aiden.


"Benar apa yang Mommy kalian katakan. Uang itu tidak ada bandingannya dengan nyawa Zea. Jika kita tidak melakukan hal ini, cepat atau lambat Zea akan kehilangan nyawanya entah ditangan orangtuanya sendiri atau justru dirinya sendiri yang mengakhiri hidupnya yang berujung kita nantinya akan menyesal," tutur Daddy Aiden yang membuat kedua anaknya itu menganggukkan kepalanya mengerti dan mensetujui apa yang dikatakan Daddy Aiden tadi. Dan jika orangtunya itu sudah memutuskan sesuatu mereka juga tidak akan bisa menganggu gugatnya karena mereka tau dan percaya jika sebelum mereka memutuskan sesuatu pasti mereka akan memikirkannya secara matang-matang sebelum bertindak.


"Jadi besok bang Az mau nikah?" Daddy Aiden menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Edrea itu.


"Ck, enak ya jadi bang Az bisa nikah muda seperti yang dia inginkan. Tapi giliran gue dulu ditolak mentah-mentah," gumam Erland yang masih bisa didengar oleh ketiga orang disampingnya itu.


"Ya gimana gak di tolak kalau calonnya saja modelan kaya perempuan yang nyulik Mommy itu. Walaupun kamu belum membawa dia kehadapan Mommy, Mommy punya firasat yang kuat jika perempuan itu tidak baik buat kamu. Makanya kamu minta izin langsung Mommy tolak mentah-mentah," ujar Mommy Della.


"Lho perempuan tadi mantan kamu, Er? Tanya Daddy Aiden yang membuat Erland berdecak sebal.


"Sepertinya memang iya, Dad. Karena sebelum aku dibawa ke ruangan besar itu, dia sempat nyapa aku dengan sebutan mantan camer. Aku pikir-pikir dia siapa kok sampai manggil aku dengan sebutan itu sedangkan aku saja tidak tau dan tidak pernah lihat dia. Aku ingat-ingat mantan Adam, bukan, karena Adam hanya punya mantan satu saja. Mantan Azlan juga bukan karena Zea merupakan pacar pertama dia. Kalau mantan Rea, gak mungkin lah Rea kan masih normal. Jadi satu kemungkinan jika perempuan itu adalah mantan Erland," ujar Mommy Della yang membuat Erland mengerucutkan bibirnya.


Sedangkan Daddy Aiden, ia justru tertawa terbahak-bahak menertawakan kemalangan dan nasib sial yang menimpa Erland itu.


"Ha-ha-ha, masih salah cari pasangan aja sok-sokan mau nikah. Cari dulu sana yang bener baru di bolehin buat nikah. Lah ini milih aja masih remidi mau sok-sokan membangun rumah tangga lagi. Anda sehat kan, nak? kalau sudah tidak sehat, kita periksa otak kamu sekarang juga mumpung kita ada di rumah sakit ini. Tenang aja Daddy akan temenin kamu kok," ucap Daddy Aiden yang semakin membuat Erland kesal setelah mati.


"Gak. Erland masih sehat. Otak Erland masih normal. Terimakasih atas tawarannya tadi. Tapi sayangnya Erland gak minat sama sekali," ujar Erland.


"Beneran nih gak minat? Yakin? Tapi Daddy takut otak kamu udah geser tau Er terbukti dengan kamu salah memilih pasangan. Mana dia yang nyakitin kamu lagi, puftttt hahahaha," tawa Daddy Aiden semakin menggelegar sampai ia tak sadar jika dirinya sekarang tegah berada di rumah sakit.


"Daddy," geram Erland yang membuat Daddy Aiden mengentikan tawanya tadi.


"Apa? Kenapa?" tanyanya dengan menghapus air mata yang keluar dari ujung matanya karena banyak tertawa.


"Ck, bodo lah. Daddy menyebalkan!" ucap Erland. Lalu setelah mengucapkan hal tersebut ia kini beranjak dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya.


"Eh, Er mau kemana?" teriak Mommy Della.


"Cari calon bini," jawab Erland tanpa menghentikan langkahnya.


"Emang ada yang mau sama kamu, Er. Daddy rasa gak ada yang mau tuh," timpal Daddy Aiden yang berhasil membuat Erland menghentikan langkahnya bahkan ia kini menatap tajam kearah Daddy Aiden. Tapi beberapa detik setelahnya, terlihat Erland menghentak-hentakkan kakinya.


"Daddy mah gitu. Menyebalkan," ucap Erland dan tatapannya kini beralih kearah Mommy Della. Dan dengan langkah yang dihentak-hentakkan Erland berjalan kembali kearah ketiga orang tadi.


"Mommy, Daddy nakal," rengek Erland saat dirinya berada di hadapan Mommy Della.


Mommy Della yang melihat sifat manja Erland keluar pun ia kini tersenyum lalu setelahnya ia merentangkan kedua tangannya yang langsung membuat Erland berhambur ke pelukannya.


Sedangkan Daddy Aiden yang melihat istrinya memeluk laki-laki lain pun ia memelototkan matanya dan siap untuk protes juga menjauhkan tubuh Erland dari Mommy Della. Tapi baru saja ia bergerak ingin menyentuh lengan Erland, tepukan keras yang ia dapatkan di pahanya dan pelototan mata dari Mommy Della membuat nyalinya menciut seketika. Ia tak berani lagi memisahkan kedua orang itu. Walaupun hatinya tak terima tapi kalau singa betinanya itu sudah memelototi dirinya, Daddy Aiden bisa apa. Tentunya ya hanya bisa pasrah saja dengan apa yang ia lihat sekarang tanpa bisa berbuat apapun seperti ide yang sudah berada di otaknya itu.


...****************...


Eps kali ini 3300 kata lebih, kalau sampai likenya gak nyampe 400, sad sih. Yuk ah semangat, masak authornya semangat kalian loyo sih. Semangat dong biar imbang kita. Jangan lupa buat ninggalin LIKE, VOTE, KOMEN dan HADIAH ya author tunggu. Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2