The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 210


__ADS_3

Leon kini berdiri di depan ruang guru, menunggu Edrea yang tengah berpamitan dengan guru-guru disekolah tersebut. Dan sudah hampir 30 menit lebih, akhirnya Edrea keluar juga dari ruangan tersebut.


Leon yang melihat pintu tersebut terbuka pun dengan segera mendekati Edrea.


"Nangis?" tanya Leon saat dirinya melihat mata sembab Edrea.


"Dikit," jawab Edrea.


"Udah, jangan nangis lagi. Kalau ada waktu luang lo juga masih bisa ketemu sama guru-guru disini. Jadi jangan sedih lagi. Kalau lo sedih, hati gue jadi sakit lihatnya," tutur Leon yang langsung mendapat cubitan di lengan dari Edrea.


"Gue gak akan mempan sama gombalan lo itu," ucap Edrea sembari mulai melangkahkan kakinya meninggalkan depan ruangan tersebut.


"Iya-iya deh percaya gue. Turunan Daddy mah gak ada yang gampang buat di taklukan dengan gombalan dong. Btw lo lapar gak?" tanya Leon saat dirinya sudah menyamakan langkahnya dengan langkah Edrea.


Edrea tampak berpikir sesaat.


"Gue rasa lapar sih. Emangnya kalau gue lapar lo mau traktir gue gitu?" tanya Edrea.


"Boleh, lagian gue juga lapar. Tapi kalau lo mau kita makan ke restoran favorit gue. Gue jamin makanan disana enak-enak dan pastinya lo bakal suka. Gimana, lo mau?" ujar Leon.


"Hmmmm gue sih ayok aja selagi itu gratis mah," tutur Edrea diakhiri dengan kekehan kecil.


Sedangkan Leon yang melihat kekehan itu pun ikut tersenyum.


"Terus ketawa kayak gini, little queen. Tawa yang bisa mengobati rinduku selama ini," batin Leon dengan terus memperhatikan wajah sumringah Edrea.


Hingga tak terasa langkah mereka telah sampai di parkiran sekolah tersebut. Dan sebelum Edrea menyentuh pintu mobil, Leon lebih dulu membukakan pintu itu.


"Silahkan," ucap Leon yang membuat Edrea lagi-lagi tersenyum.


"Terimakasih," ujar Edrea sembari masuk kedalam mobil tersebut.


Setelah memastikan Edrea sudah benar-benar masuk, Leon langsung menutup pintu tersebut dan beranjak menuju pintu kemudi.


Dan setalahnya mobil itu kini mulai melaju menuju tempat yang Leon tadi maksud.


Butuh waktu setengah jam akhirnya mereka berdua telah sampai di restoran tersebut.


Edrea menatap depan restoran itu. Restoran yang terlihat familiar walaupun baru pertama kali ia menginjakan kakinya di restoran tersebut.


"Masuk yuk," ajak Leon dengan tangan yang sudah menggandeng tangan Edrea.


Edrea menganggukkan kepalanya dan perlahan mereka berdua masuk kedalam restoran tersebut.


"Leon," panggil Edrea yang membuat Leon menghentikkan langkahnya.


"Kenapa? Lo gak suka sama restoran ini?" tanya Leon.


"Bukan. Gue suka kok. Hanya saja tempatnya tuh kayak gak asing gitu lho di pikiran gue. Tapi gue pikir-pikir lagi, gue baru pertamakali kesini," ujar Edrea yang justru membuat Leon kini tersenyum.


"Udah gak usah di pikirin lagi. Mungkin saja lo pernah ke salah satu restoran yang interiornya sama seperti restoran ini," tutur Leon.

__ADS_1


"Hmmm masak sih?"


"Entahlah. Kan cuma kemungkinan Rea. Udah yuk ke lantai atas. Gue udah pesan makanan buat kita," ujar Leon.


"Hah? Kapan lo pesannya? Kok gue gak tau?"


"Ya gimana lo mau tau kalau mata lo dari tadi jelalatan ke mana-mana," tutur Leon yang membuat Edrea berdecak sebal. Dan akhirnya ia mengikuti langkah Leon yang terus menggandeng tangannya itu tanpa menimpali ucapan Leon tadi.


Mereka berdua kini sudah sampai dilantai atas restoran tersebut dan bertepatan saat mereka berdua baru duduk, para pelayan di restoran tersebut telah tiba dan membawa makanan yang dipesan Leon tadi.


Edrea membelalakkan matanya saat kebanyakan dari makanan yang disajikan di meja tersebut adalah makanan kesukaan dirinya.


"Selamat menikmati," ucap salah satu pelayan tersebut yang mendapat anggukan dan senyum dari Leon maupun Edrea.


Dan setelah para pelayan itu pergi, Edrea kini menatap curiga ke arah Leon.


"Kenapa?" tanya Leon.


"Darimana lo tau makanan kesukaan gue? Jangan bilang kalau lo selama ini mata-matain gue dan cari tau semuanya tentang gue. Sejenis sesaeng fans kalau di korea. Ngaku aja lo," tutur Edrea.


Leon memutar bola matanya malas.


"Pikiran lo negatif mulu perasaan. Buat apa gue mata-matain lo, kurang kerjaan banget gue sampai ngelakuin itu. Dan kenapa gue bisa tau makanan kesukaan lo, ya karena gue tanya sama kembaran lo lah. Karena gue bawa lo kesini tuh mau balikin mood lo," ucap Leon.


"Apa? Lo masih gak percaya?" tanya Leon saat Edrea masih saja menatapnya.


"Percaya-percaya. Gue sebenernya juga bodoamat akan hal seperti itu. Yang penting gue sekarang makan sampai kenyang," tutur Edrea dan setalahnya tanpa dipersilahkan terlebih dulu, Edrea segera menyantap makanan didepannya. Sedangkan Leon hanya menggelengkan kepalanya.


"Mau nambah?" tanya Leon saat Edrea sudah terkapar kekenyangan.


"Gak. Lo mau perut gue meledak kalau gue masih nambah lagi," tutur Edrea yang membuat Leon terkekeh.


"Ya udah kalau gitu. Sekarang mau pulang atau mau lanjut kemana lagi?" tanya Leon yang sebenarnya ia tak ingin berpisah dengan Edrea.


"Langsung pulang aja deh. Gue takut si ibu negara ngomel gara-gara anaknya telat pulang nanti," ujar Edrea yang diangguki oleh Leon.


Dan setelahnya mereka kini bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut dan tanpa Edrea sadari, Leon tak membayar sepeserpun atas makanan mereka tadi.


Ditengah-tengah perjalanan, Edrea terus terdiam mungkin efek kekenyangan hingga saat mobil itu berhenti di lampu merah Edrea mulai angkat suara saat dirinya tak sengaja melihat seseorang yang tengah terduduk di pinggir jalan.


"Itu bukannya Mamanya Puri?" tanya Edrea sembari menunjuk kearah seorang wanita yang tengah meneduh di sebuah pohon dengan koper di sampingnya.


Leon mengikuti arah pandang Edrea.


"Sepertinya iya," ujar Leon.


"Kok beliau kayak diusir dari rumah gitu ya? Apa Papa Puri udah bangkrut dan rumah mereka di jual gitu?" tanya Edrea penasaran.


"Kemungkinan juga begitu. Tapi kalau dilihat-lihat sepertinya dia cuma sendirian gak ada suaminya tuh," ucap Leon.


"Lah iya juga. Mungkin di usir suaminya kali ya. Kasihan banget sih. Anaknya masuk penjara eh dia malah berkeliaran di jalanan begini," tutur Edrea yang merasa iba dengan keadaan yang tengah keluarga Puri jalani.

__ADS_1


"Ya udah sih itu juga udah jadi konsekuensi mereka karena udah ngelukain lo dan ngusik hidup keluarga lo."


"Iya juga sih. Tapi kasihan tau," ucap Edrea.


"Kalau kasihan, lo mau turun dan bantu dia gitu? Ingat Re, gimana waktu itu lo direndahkan sama mereka. Jangan terlalu merasa simpati sama orang yang tak punya perasaan seperti mereka. Emang saat lo punya niat baik sama mereka, mereka akan terima gitu aja? Gak Re, bisa aja mereka bersikap baik pada awalnya tapi akhirnya lo akan di tikam dari belakang sama mereka. Jadi jangan simpati lagi sama orang yang tak pernah menghargai orang lain. Bukan karena gue ngajarin lo atau menghasut lo untuk berbuat yang gak bener. Tapi gue pernah mengalaminya sendiri dan sifat orang tuh gak mudah untuk berubah," tutur Leon panjang lebar.


"Tapi---"


"Tapi apa lagi? Kalau lo masih mau berniat baik sama mereka, silahkan. Tapi gue gak akan ikutan jika apa yang gue katakan tadi benar terjadi sama lo," ucap Leon.


"Kalau masih mau, turun sekarang dan ajak dia masuk ke mobil sebelum lampu lalulintas berubah warna," sambung Leon yang mendapat gelengan dari Edrea.


"Gak deh. Gak jadi," ujar Edrea.


"Kenapa gak jadi?"


"Hmmm karena menurut gue, apa yang lo katakan itu benar," tutur Edrea yang membuat Leon tersenyum dan tangannya kini bergerak untuk mengacak rambut Edrea.


"Good girl," ujar Leon dan setalahnya lampu lalulintas itu kini sudah menjadi hijau kembali dan membuat Leon segera menjalankan mobilnya.


Tak berselang lama, mobil itu kini telah berhenti didepan rumah Edrea.


"Gak mampir dulu?" tanya Edrea.


"Gak. Lain kali aja," jawab Leon.


"Ya udah kalau gitu gue keluar dulu. Hati-hati dijalan. Thanks atas semuanya apalagi traktirannya tadi. Jangan kapok buat traktir gue lagi," ujar Edrea.


"Gak akan," tutur Leon yang diacungi jempol oleh Edrea dan saat Edrea ingin membuka pintu mobil tersebut. Leon angkat suara kembali.


"Sebentar Re," ucap Leon yang membuat Edrea mengurungkan niatnya.


"Kenapa?" tanyanya.


"Gue ada sesuatu buat lo," ucap Leon sembari mengambil sesuatu dari saku Hoodienya.


"Siniin tangan lo." Edrea mengerutkan keningnya tapi tanpa banyak bicara ia langsung menyodorkan tangannya dihadapan Leon.


Edrea membelalakkan matanya saat Leon mulai mengeluarkan sebuah gelang dan memakaikannya di tangannya.


Dan setalah Leon selesai memakai gelang tadi, ia langsung bergerak untuk mencium kening Edrea cukup lama dan berakhir membisikan sesuatu tepat di telinga Edrea.


"Jaga diri baik-baik. Jangan biarkan orang lain nyakitin lo lagi. Sampai ketemu di suatu hari nanti. Love you, Edne," bisik Leon yang ia akhirnya dengan mencuri kecupan di pipi Edrea dan hal itu berhasil membuat Edrea membeku ditempat.


Hingga ia merasakan elusan di kepalanya yang membuat dirinya kembali tersadar.


"Gu---gue keluar dulu," ucap Edrea dengan suara terbata.


"Silahkan. Jaga diri baik-baik saat gue gak ada di dekat lo," tutur Leon yang hanya diangguki oleh Edrea dan setelahnya Edrea membuka pintu mobil tersebut dan setalahnya ia melambaikan tangannya saat mobil yang di kendarai oleh Leon mulai melaju meninggalkan depan rumahnya.


"Oh astaga. Jantung gue. Arkhhhh Mommy anak kamu kena serangan jantung mendadak!" teriak Edrea sembari berlari memasuki pekarangan rumahnya. Dan tingkahnya itu membuat para pekerja rumahnya langsung menutup telinga mereka, karena mereka tak ingin telinga mereka tuli gara-gara mendengar teriakan membahana dari Edrea tadi.

__ADS_1


__ADS_2