The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 360


__ADS_3

Kini rumah keluarga Abhivandya telah sibuk-sibuknya mempersiapkan segala macam acara untuk pernikahan Edrea yang kebetulan akad nikahnya memang kedua mempelai menginginkan di rumah pengantin wanita dan resepsi pernikahannya baru akan di laksanakan di salah satu hotel ternama yang masih milik keluarga Abhivandya.


Ya, walaupun masih 2 hari lagi acara itu di laksanakan, tapi tetap saja semua persiapannya harus sudah matang sebelum hari H. Dan Leon yang sebagai mempelai pria, beberapa hari setelah kejadian pertengkaran kecil itu, ia sudah pulang ke kediamannya dan beberapa hari itu juga Edrea ataupun Leon tak saling bertemu ataupun bertukar kabar sedikitpun. Dan itu semua bukanlah keinginan dari keduanya melainkan keinginan para orangtua mereka. Awalnya mereka sempat protes saat Mommy Della ataupun Mommy Elia menyita ponsel keduanya. Tapi pada akhirnya mereka menyerah dengan protesan-protesan yang mereka lakukan karena hanya percuma saja, ucapan mereka hanya dianggap angin lalu oleh dua wanita paruh baya itu.


Dan kini Edrea yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya, kini ia tengah berdiri di balkon kamarnya, menyangga kepalanya dengan kedua tangannya sembari menatap orang-orang di bawah sana yang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


"Ck, gabut banget gue hidup di jaman modern berasa kayak hidup di jaman purbakala. Gak ada gadget dan media sosial. Laptop, ponsel, tablet sampai telepon rumah di umpetin semua sama Mommy. Ck, menyebalkan!" geram Edrea saat mengingat hidupnya yang teramat sepi tanpa di lengkapi oleh benda-benda canggih itu.


"Mana Daddy, Abang, Kak Vi sama Jio juga ikut-ikutan menyebalkan lagi. Masak mau pinjam ponsel mereka bentar aja gak di kasih. Kalau takut pulsa atau paket data mereka habis, gue bisa kok ganti dua kali lipat. Tapi mereka--- arkhhhh menyebalkan!" ucapnya dengan menghentak-hentakkan kakinya. Ia benar-benar sebal saat ini. Rasanya ia ingin sekali kabur dari rumah mewah yang selama ini menjadi tempatnya untuk pulang dan segera menemui Leon untuk menyalurkan rindu yang benar-benar menyiksa dirinya. Tapi dengan cara seperti apa ia akan kabur? sedangkan di setiap sudut rumah itu selalu saja ada beberapa bodyguard yang siap mencegah dan membatalkan aksinya itu.


"Ck, mana gue kangen banget lagi sama calon suami. Dia kira-kira sekarang lagi apa ya? Apa dia juga merasakan apa yang gue rasakan saat ini? Tersiksa karena tidak saling bertukar kabar? Semoga saja dia juga sama tersiksanya seperti gue. Ya kali gue disini menderita seperti ini, dia disana malah enak-enakan kan gak adil banget," gerutu Edrea yang tak ada habisnya.


"Tapi gue yakin seratus persen sih dia juga pasti lagi mencak-mencak sekarang. Lagian 5 hari di pisahkan dari gue tanpa adanya komunikasi, emangnya dia betah apa? Aku sih yakin dia gak betah sama sekali. Orang sebelumnya aja dia selalu nempelin gue kemana-mana, di tinggal sebentar aja dia udah mencak-mencak berakhir merajuk kayak bayi yang gak di bolehin beli es krim." Edrea kini membayangkan wajah menggemaskan Leon saat merajuk padanya.


"Haishhhhh kalau kayak gini kan gue jadi penasaran wajah dia sekarang seperti apa. Pasti gemes banget. Arkhhhh gue udah gak tahan, gue kangen banget!" teriak Edrea tertahan.


Sedangkan disisi lain, Leon kini tengah merengek di depan pintu kamarnya. Ya, dia lebih menderita di banding Edrea. Jika Edrea semua benda canggih telah disita oleh sang Mommy dan masih diberi kebebasan untuk keluar masuk kamar, berbeda dengan Leon., Mommy Elia tak hanya menyita semua fasilitas yang ia miliki selama ini melainkan ia juga di kurung di dalam kamarnya.


Sebenernya, Mommy Elia melakukan hal tersebut juga memiliki alasan dan alasannya adalah ia tak ingin Leon berniat untuk kabur kembali setelah dua hari yang lalu anak laki-lakinya itu sudah hampir keluar dari gerbang rumah tersebut yang sayangnya langsung ketahuan oleh salah satu bodyguard Leon. Ya, bodyguard itu bodyguard pribadi Leon yang sekarang justru berpihak kepada keluarga besarnya. Menyebalkan sekali bukan? Dan karena aksinya itu, Mommy Elia memutuskan untuk mengurung dirinya di dalam kamar dengan penjagaan di rumah tersebut yang ia perketat. Hingga tak tanggung-tanggung, 6 bodyguard sekaligus kini tengah berdiri tepat di bawah balkonnya sehingga ia yang sebelumnya memiliki rencana untuk kabur lagi dengan mengunakan beberapa selimut yang akan membantunya untuk turun kebawah, ia urungkan saat melihat 6 bodyguard tadi.


Jika 6 bodyguard itu tidak membawa senjata tajam, ia sih masih berani saja melawan mereka. Tapi sayangnya, mereka semua membawa senapan bahkan belati yang bisa di gunakan untuk melukai dirinya. Tak tanggung-tanggung memang Mommynya itu memberikan pelajaran kepadanya, anak sendiri saja ia tak pedulikan nyawanya. Sialan sekali memang. Tapi mau bagaimana lagi, ia masih sayang nyawanya. Dan jika nyawanya melayang nanti, Edrea akan menikah dengan siapa? Dengan Zico begitu? Jangan harap!


Leon terus menggedor-gedor pintu kamarnya setelah pintu itu kembali tertutup sesaat sesudah Mommy Della mengantarkan makan siang untuknya.


"Mommy, El mohon buka pintunya!" teriak Leon.


"Tidak akan," balas Mommy Elia yang ternyata masih berada di depan kamar Leon.

__ADS_1


"Ayolah Mommy. El tidak mau terkurung di sini lebih lama lagi." Sunyi, tak ada jawaban lagi dari Mommy Elia. Tapi Leon yakin Mommynya itu masih berdiri diluar kamarnya.


"Mommy, El mohon buka pintunya. El janji gak akan kabur lagi. El juga akan menuruti semua kemauan Mommy kalau Mom keluarin Leon dari kamar ini!" teriaknya lagi.


Mommy Elia yang berada di luar kamar anak bontotnya itu pun ia kini memutar bola matanya malas. Ia tau ucapan Leon itu hanya alibi saja. Jika dirinya menuruti ucapan Leon, ia yakin anak nakal yang sayangnya anak kandungnya itu pasti lagi-lagi akan berulah dengan alasan ia sudah rindu dengan kekasihnya yang sebentar lagi akan berganti status sebagai istrinya itu dan akan menghalalkan segala cara untuk bertemu dengannya.


"El, diam. Kamu ini berisik sekali kasihan para pelayan di samping pintumu sekarang yang harus menutup telinga gara-gara gedoran dan teriakan kamu," ucap Mommy Elia yang jadi tak enak hati kepada dua pelayan yang ditugaskan untuk selalu berdiri di samping kamar Leon, agar jika Leon menginginkan sesuatu, mereka langsung bisa melaporkan keinginan Leon kepada Mommy Della ataupun Alice atau juga Azzo.


"Ck, ini semua juga gara-gara Mommy. Kalau Mommy bukain pintu kamar El, El gak akan gedor pintu dan teriak-teriak seperti orang gila begini. Jadi kalau Mommy gak mau El melakukan hal seperti ini, buka pintunya sekarang!" ucap Leon yang masih gencar membujuk Mommy Elia.


"Gak akan. Mom akan keluarin dan buakin pintu kamar kamu disaat hari pernikahan kamu nanti tiba. Jadi tetap diam di dalam. Jangan bikin ulah lagi. Kalau kamu masih berulah, Mommy akan potong burung kamu lagi sampai habis," ancam Mommy Elia yang otomatis membuat Leon bergidik ngeri. Tapi sesaat setelahnya ia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayang-bayang mengerikan yang akan terjadi pada adik kecilnya itu.


"Ya sudah kalau begitu, kasih ponsel El sebentar," ujar Leon.


"Mommy sudah bilang sebelumnya kan kalau ponsel kamu dan yang lainnya akan Mommy kembalikan setelah proses ijab kabul selesai," balas Mommy Della yang membuat Leon kini berdecak sebal.


"Ya sudah kalau gak mau ya minimal bukain pintunya. Pengap tau Mom kalau lama-lama di dalam. El juga mau menghirup udara segar yang menenangkan," ujar Leon.


"Udahlah El, kamu nurut saja sama Mommy sebelum Mommy semakin bertindak yang lebih dari ini lagi nanti," timpal Azzo yang kini bergabung dengan sang Mommy, berdiri di depan pintu kamar Leon dengan membawa Callie di gendongannya.


"Heyyy laki-laki cemen, jangan ikut campur kamu," ucap Leon yang berhasil membuat Azzo kini mendengus kesal. Adiknya itu senang sekali mengatai dirinya seperti laki-laki pengecutlah, cemen lah, ini lah, itu lah yang sangat-sangat mengganggu pendengaran.


Callie yang sedari tadi diam di dalam gendongan ayahnya itu pun ia kini mulai angkat suara saat mendengar suara Leon dari sebrang pintu di hadapannya itu.


"Daddy," panggilnya dengan suara yang terdengar sangat gembira. Beberapa bulan tak bertemu dengan laki-laki yang merawatnya itu karena ia harus ikut bersama dengan orangtua kandungnya yang kembali ke negara asalnya, terlihat pancaran kerinduan di mata indahnya saat ini.


Leon yang mendengar suara keponakan sekaligus anak angkatnya itu, ia seperti merasakan secercah harapan yang sebentar lagi akan membuat bibirnya terus tersenyum nantinya.

__ADS_1


"Callie, itu kamu kan?" tanya Leon untuk sekedar basa-basi saja.


"Iya Daddy ini Callie. Daddy sekarang ada dimana? Kenapa Callie beberapa hari ini hanya mendengar suara Daddy saja tapi Callie tidak bisa melihat wajah Daddy? Apa Daddy sekarang lagi main petak umpet dengan Oma dan Papa?" tanya Callie yang kelewat polos.


"Tidak sayang. Daddy tidak lagi main petak umpet, tapi Daddy di kurung di dalam sini sama Oma. Daddy sudah berusaha sebisa mungkin untuk membujuk Oma agar Daddy keluar dari sini dan segara bertemu dengan Callie, tapi sayangnya usaha Daddy tidak didengar oleh Oma. Oma masih saja tidak mau mengeluarkan Daddy dari sini. Jadi Daddy minta bantuan Callie untuk membujuk Oma agar Daddy bisa bebas dari sini. Kamu tau sayang, di dalam sini itu sangat gelap, tidak ada pencahayaan sama sekali, dan ada banyak serangga di sekeliling Daddy sekarang. Ruangan ini benar-benar sangat menakutkan sayang. Jadi Daddy mohon Callie selamatkan Daddy dari sini. Daddy sangat menderita di dalam sini Callie hiks, Daddy sangat takut hiks hiks," ucap Leon yang langsung mendapat tatapan iba dari Callie.


Sedangkan Mommy Elia dan Azzo kini mereka berdua malah memutar bola mata mereka dengan malas.


"Drama," batin mereka berdua.


Sedangkan kedua art yang sedari tadi menyimak percakapan dari para majikannya itu, keduanya sekarang tampak terlihat tengah menahan tawanya saat mendengar ucapan drama dari tuan muda yang terkenal dengan sifat dinginnya itu.


Sedangkan Callie yang sudah termakan drama dari Leon, dengan mata yang berkaca-kaca ia menolehkan kepalanya kearah Mommy Elia. Dan hal tersebut membuat wanita paruh baya itu gelagapan sendiri dibuatnya.


"Aduh-aduh, sini-sini Callie sama Oma sini." Mommy Elia kini mengulurkan kedua tangannya, bersiap untuk mengambil Callie dari gendongan Azzo. Tapi sayangnya sebelum tangan itu mendarat di tubuh Callie, anak perempuan itu sudah lebih dulu memeluk erat leher Azzo.


"Cal gak mau sama Oma. Oma jahat sudah mengurung Daddy didalam. Cal mulai sekarang tidak mau dekat-dekat lagi sama Oma," suara bergetar dari Callie membuat Leon berjingkrak-jingkrak di dalam kamarnya. Ia yakin dramanya kali ini akan berhasil. Anaknya itu benar-benar sangat pengertian dan tau kondisinya saat ini.


"Lanjutkan nak. Semangat, Daddy dukung kamu," gumam Leon memberikan dukungan yang sayangnya tak bisa Callie dengar sama sekali.


Sedangkan Mommy Elia yang mendapat penolakan dari cucunya sendiri kini senyuman yang tadi terpatri di bibirnya kini luntur seketika, bahkan tangannya yang tadi terulur kini kembali ke posisi semula. Jika ditanya bagaimana rasanya mendapat penolakan dari Callie, ia akan menjawab dengan jujur jika hatinya saat ini benar-benar sangat sakit, lebih sakit daripada di tolak oleh laki-laki yang ia incar dulu saat masih duduk di bangku sekolah.


Azzo yang melihat kesedihan dimata sang Mommy pun ia kini mengelus lembut sudah pirang milik anaknya itu.


"Sayang, gak boleh gitu sama Oma. Gak baik," tegur Azzo dengan hati-hati.


Diam, Callie sama sekali tak berniat membalas ucapan dari Papanya itu karena bibirnya sekarang tengah sibuk mengerucut menahan isakan saat air matanya mulai mengalir.

__ADS_1


Sedangkan Azzo yang tau anaknya itu sudah menangis dalam diam pun ia tak henti-hentinya mengumpati Leon di dalam hatinya. Ingin sekali ia memukul kepala adiknya karena telah berhasil mencuci otak Callie dengan drama sialannya itu.


Sedangkan Mommy Elia, ia justru panik di buatnya saat melihat air mata sang cucu mengalir deras membasahi pipi chubbynya. Ia benar-benar tak tega melihat cucu satu-satunya itu bersedih. Karena ia dulu sampai sekarang berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu membuat Callie senang dan gembira, memastikan tidak ada air mata kesedihan di mata anak perempuan itu karena ia yakin Callie dulu sudah mendapatkan banyak sekali penderitaan saat dirinya masih bayi hingga sekarang. Di pisahkan dengan kedua orangtuanya secara paksa dan tidak mendapat kasih sayang dari orangtua kandungnya. Membayangkan seberapa tersiksanya Callie selama ini membuat hati Mommy Elia benar-benar seperti di iris oleh ribuan belati, sakit dan perih sekali. Dan lagi-lagi jika ia mengingat hal tersebut, ia selalu saja menyalahkan dirinya yang dulu tidak bisa menolong kedua putranya dari sosok iblis seperti suaminya itu hingga mereka perlahan kehilangan kebahagiaan mereka dan salah satunya penyebabnya karena dirinya sendiri yang tak becus menjadi seorang ibu untuk mereka berdua.


__ADS_2