
Sesudah sarapan, triplets kini sudah mulai keluar dari rumah tersebut menuju mobil mereka masing-masing. Tapi saat Edrea ingin masuk kedalam mobilnya, ia melirik sekilas kearah Azlan dan Erland yang tak sedikitpun menujukan kekhawatiran mereka. Hal itu membuat Edrea sempat berpikir bahwa perempuan yang ia lihat di foto waktu itu tidaklah bersekolah di sekolah yang sama dengannya, tapi dengan cepat pikirannya itu ia buang jauh-jauh.
"Rea, lo kesekolah sendiri bisa kan? ruang kepala sekolah nanti setelah lobi lurus dikit terus belok kanan, nanti tinggal lo lihat aja papan nama ruangannya," ujar Azlan sebelum ia memasuki mobil.
"Lah emang Abang mau kemana?" tanya Edrea.
"Mau mampir ke restoran Abang dulu. Ada sesuatu yang harus Abang selesaikan disana," jawab Azlan yang diangguki oleh Edrea.
"Kalau bang Er--- Eh kok udah jalan duluan gak nungguin Rea," ucap Edrea saat melihat motor sport yang dikendarai Erland sudah menjauhi mereka.
"Mungkin dia buru-buru mau nyontek PR sama temannya disekolah. Udah lah mending lo cepetan nyusul dia sana," ujar Azlan yang diangguki oleh Edrea. Dan setelah itu, Edrea langsung masuk kedalam mobilnya kemudian ia bergegas melajukan mobil tersebut meninggalkan rumah keluarganya.
Sedangkan Azlan yang sudah melihat dan memastikan bahwa Edrea sudah menjauh dari rumah tersebut, ia mulai menjalankan mobilnya bukan menuju ke tempat yang ia katakan tadi, melainkan ia ke rumah Kayla untuk memenuhi Zea. Dan ia juga yakin Erland terburu-buru berangkat bukan untuk mencontek PR disekolah tapi karena ia tak mau Edrea mengikuti dirinya ke rumah Kayla.
Edrea yang kini tengah berada di tengah perjalanan pun, kini ia berpikir keras.
"Sepertinya bang Er memang masih jomblo. Terlihat saat gue masuk ke kamarnya waktu itu, gue gak nemuin bukti apa-apa yang berbau perempuan dan pagi ini, bang Er juga langsung kesekolah gak mampir-mampir dulu kayak bang Az. Haish entahlah," ujar Edrea diakhiri dengan ia menggedikkan bahunya.
Edrea terus melajukan mobilnya hingga tak berselang lama dirinya sudah memasuki lingkungan sekolah barunya itu. Dan saat dirinya sudah memarkirkan mobilnya lalu keluar dari mobilnya itu seketika membuat para siswa-siswi mengalihkan pandangan mereka kearah dirinya. Tapi Edrea mana peduli dengan semua orang itu, yang ia pedulikan kini adalah mencari Erland dan memastikan jika laki-laki itu juga sudah sampai disekolah tersebut.
__ADS_1
Ia kini berjalan menuju parkiran motor disekolah itu, mencoba untuk menelusuri satu-persatu deretan motor-motor disana.
"Lho kok motor bang Er belum ada. Jangan-jangan apa yang dikatakan sama bang Az tadi cuma bohongan. Jadi kalau mereka bohong, mereka berdua sebenarnya kemana? Atau jangan-jangan mereka ngapel di rumah pacar mereka lagi. Wah besok perlu diikuti," gumam Edrea.
Lalu setelah memastikan motor Erland yang belum ada di parkiran tersebut, Edrea memilih untuk langsung menuju ke ruang kepala sekolah.
Disetiap langkahnya tidak sedikit orang yang menatap kagum dengan kecantikannya terutama kaum adam yang melihat Edrea dari atas sampai bawah. Dan hal itu membuat Edrea merasa risih sendiri.
"Matanya pengen gue colok pakai pisau," batin Edrea dengan melirik tajam kearah laki-laki yang tadi menatapnya seperti dirinya adalah mangsa bagi laki-laki tersebut.
Edrea terus berjalan tanpa memperdulikan bisik-bisik para siswa-siswi yang jelas-jelas mereka tujukan kepadanya hingga akhirnya ia kini telah sampai di depan ruang kepala sekolah. Dan tanpa menunggu lama, Edrea langsung mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Masuk!" perintah kepala sekolah tersebut yang membuat Edrea langsung membuka pintu ruangan tersebut dan kemudian ia masuk untuk berhadapan dengan kepala sekolah tersebut.
"Kamu kapan pulang kerumah hmm?" tanya Azlan sembari bergelayut manja dalam perlukan Zea.
Zea yang tengah sibuk menyiapkan makanan untuk semua orang karena ia sudah berhari-hari menginap di rumah Kayla pun hanya bisa pasrah dengan kemanjaan dari kekasihnya itu.
"Entahlah, sepertinya aku tidak akan pernah pulang lagi. Kamu juga lihat sendiri kan, sudah berhari-hari bahkan berminggu-minggu aku tinggal dirumah Kayla tapi Mama sama Papa tidak pernah mencari keberadaanku sedetikpun. Dan juga kalau aku dirumah ujung-ujungnya batin aku yang kena karena setiap hari akan dengar dan lihat mereka bertengkar. Jadi lebih baik aku pergi dari rumah itu walaupun hidup susah tidak apa yang terpenting batinku dan mentalku tidak goyah lagi," ujar Zea dengan perkataan yang jujur apa adanya. Bahkan anak perempuan yang dulu taunya hanya menghambur-hamburkan uang orangtuanya, kini dengan susah payah dirinya sudah mulai bekerja paruh waktu seperti yang dilakukan Kayla untuk menghidupi dirinya sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Ya walaupun rumah masih numpang di rumah Kayla, karena saat dirinya juga ingin pindah dan mencari kontrakan yang sederhana, justru Kayla merengek tak mau ditinggal olehnya. Alhasil dengan berat hati dan rasa tak enak, Zea tak jadi meninggalkan rumah tersebut.
__ADS_1
Azlan yang mengerti dengan penderita dari kekasihnya itu pun merasa iba dengannya.
"Ya sudah kalau itu mau kamu. Aku hanya bisa mendukung keputusanmu itu. Tapi jika orangtuamu mencari dan memintamu untuk pulang kembali, maka jangan tolak mereka dan jangan sampai kamu jadi pembangkang. Ingat kamu tercipta lewat mereka berdua. Dan jika saat itu tiba, bilang ke aku. Aku akan menemanimu datang ke sana," ujar Azlan yang sudah melepaskan pelukannya tadi dan sekarang ia tengah berhadapan dengan Zea.
"Baiklah. Aku akan kasih tau ke kamu," ucap Zea sembari tersenyum.
"Sarapannya udah selesai, panggil Kayla sama Erland gih, suruh mereka kesini," sambung Zea yang diangguki oleh Azlan. Dan setalahnya Azlan bergegas menuju ke ruang tamu untuk memanggil kedua orang tadi.
Dan saat dirinya sudah berada diruang tamu, ia menghela nafas saat melihat sepasang sejoli itu tengah bermesraan.
"Ehemmm," dehem Azlan yang berhasil membuat kedua orang itu mengalihkan perhatian mereka.
"Sarapan dulu," ujar Azlan lalu tanpa menunggu jawaban dari dua orang tadi Azlan langsung kembali menuju ke tempat Zea berada, diikuti oleh Erland dan Kayla.
"Silahkan dinikmati," ucap Zea saat dirinya tengah menghidangkan makanan tersebut di meja makan.
"Wah sepertinya enak nih. Thanks Ze," ucap Kayla yang diangguki oleh Zea.
"Kalian berdua udah sarapan dirumah?" tanya Kayla yang diangguki oleh keduanya.
__ADS_1
"Sarapannya buat kalian berdua saja, biar kalian kenyang dan gak pingsan nanti disekolah," ujar Azlan.
"Ya sudah kalau gitu. Kita sarapan berdua aja Ze, mereka mah perutnya udah kenyang," ucap Kayla yang membuat Zea terkekeh kecil. Lalu setalahnya tanpa mengucap sepatah kata lagi, Zea dan Kayla mulai memakan sarapan mereka. Sedangkan Azlan dan Erland, mereka berdua kini tengah menatap kearah wajah pujaan hati mereka masing-masing dengan senyum yang mengembang di bibir mereka. Bahkan sesekali mereka mengelap sisa makanan yang tertinggal di bibir Kayla ataupun Zea tanpa ada rasa canggung sedikitpun.