The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 91


__ADS_3

"Lo punya foto orang itu?" tanya Erland.


Edrea menoleh kearah Erland dengan kerutan di dahinya bahkan tatapannya berubah menjadi tatapan intimidasi.


Erland yang tau isi pikiran dari Edrea pun dengan segera menyentil kening adik perempuan satu-satunya itu.


"Jangan mikir yang aneh-aneh bisa gak sih," geram Erland. Edrea mengerucutkan bibirnya sembari mengelus dahinya yang tampak memerah itu.


"Ya kan siapa tau setelah gue kasih lihat wajah dia, Abang jadi suka sama dia. Ihhh amit-amit deh. Gue gak akan mau, gak akan terima dan gak akan kasih restu buat hubungan kalian berdua. Dia jadi kakak ipar gue, oh tak akan pernah bisa. Mau Lo maksa gue dengan nyogok gue pakai apapun gue gak akan merubah keputusan gue ini," tutur Edrea.


Erland kini mengelus dadanya agar diberi kesabaran saat menghadapi seorang wanita yang selalu saja berpikir yang tidak-tidak tentangnya. Untung dia adiknya kalau tidak mungkin Erland sudah membuangnya kelaut sedari kemarin. Walaupun mereka berdua sering bertengkar layaknya Tom and Jerry, Erland juga masih punya rasa sayang sama adiknya itu.


"Jangan ngada-ngada deh Rea. Gue juga ogah punya pasangan yang suka nyinyir kesana kemari. Iri sama kehidupan orang lain. Jadi walaupun Lo setuju, gue yang akan nolak." Edrea kini tersenyum kemudian ia mencium pipi Erland yang kebetulan wajah Abang keduanya itu berada di sisi kanannya.


"Ini nih baru Abang gue. Cari wanita yang benar ya abang-abang ku. Biar bisa gue ajak hangout bareng sekalian gue cuci otak mereka biar habisin uang kalian," ucap Edrea dengan diakhiri tawa devilnya.


"Astagfirullah, insyaf," tutur Azlan.


"Anjir emang nih anak. Bini gue nanti gak akan gue kasih izin kalau mau ketemu sama lo," timpal Erland.


"Tidak semudah itu brother mau jauhin gue sama kakak ipar gue nanti. Yang ada mereka nanti akan nempel sama gue, hahahaha."


"Astaga, sarap nih orang lama-lama. Udah sana keluar dan masuk ke sekolah lo dari pada disini bikin orang darah tinggi aja," tutur Azlan.


Saat Edrea ingin membuka pintu mobil tersebut, tangan Erland lebih dahulu mencegah tubuh Edrea untuk keluar dari mobil itu.

__ADS_1


"Lo belum kasih tau kita tentang foto orang yang lo sebut ganggu hidup lo di dunia ini," ucap Erland.


"Hmmmm gue sebenernya gak punya fotonya bang hehehe. Buat apa juga gue nyimpen foto orang yang gak penting seperti dia menuh-menuhin memori hp gue aja," tutur Edrea kemudian ia segera keluar dari mobil tersebut.


Azlan dan Erland kini saling pandang setelah pintu disamping kursi Edrea tadi tertutup kembali. Setelah itu mereka sama-sama menghela nafas.


Saat Edrea sudah dipastikan masuk tanpa halangan sedikitpun, mobil Azlan kini melaju menuju SMA Balerix.


Sementara itu Edrea masih berjalan santai hingga ada satu lengan seseorang yang tersampir di bahunya. Ia menoleh ke lengan tersebut sebelum beralih menatap seseorang yang sekarang berada di sampingnya dengan senyum manisnya.


"Selamat pagi," ucapnya.


Edrea menghela nafas lega saat tau lengan itu milik siapa. Ia kira tadi lengan jadi-jadian.


"Lo ya, ngagetin aja," tutur Edrea sembari mencubit pinggang orang tersebut.


"Gimana udah siap ujian?" Edrea menganggukkan kepalanya.


"Siap dong. Emang gue, Lo. Oh ya kemarin Lo kemana? Padahal gue kemarin lagi perform pertama kali di hadapan publik lho," tanya Edrea penasaran pasalnya orang tersebut yang tak lain adalah Zico tak ia lihat seharian kemarin.


Zico sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Edrea.


"Gue kemarin ada urusan yang mendadak banget. Jadi maaf gue gak bisa nonton perform Lo," jawab Zico dengan ekspresi wajah penuh dengan penyesalan.


Edrea kini menghempaskan lengan Zico yang masih bertengger di bahunya tadi.

__ADS_1


"Ck, padahal gue berharap lo lihat gue di barisan paling depan sendiri. Tapi taunya... Ah sudahlah," tutur Edrea yang berakting merujuk dengan Zico. Setelah mengatakan hal tersebut Edrea langsung menambah kecepatan langkah kakinya.


"Rea tungguin gue. Maaf kemarin benar-benar penting banget soalnya dan gak bisa gue tinggal," teriak Zico sembari berlari untuk menyamakan langkah kaki Edrea.


Setelah ia berhasil menyamai langkah kaki Edrea, ia langsung menghentikan langkah tersebut.


"Gue minta maaf. Maafin gue ya. Gue kemarin benar-benar sibuk. Lo telepon, ngirim pesan dan lain sebagainya saja aku gak bisa balas itu semua karena gue kemarin benar-benar gak bisa diganggu. Maafin gue ya, please," tutur Zico dengan menyatukan kedua telapak tangannya untuk memohon ampun ke Edrea.


"Huh, oke gue maafin lo. Tapi setidaknya setelah Lo gak sibuk ya bales hubungin gue dong. Masak gadis cantik sebelas dua belas mukanya sama Dilraba Dilmurat gini kok dicuekin. Gak banget tau," ucap Edrea dengan kerucutan di bibirnya dan acara merajuknya itu berhasil membuat Zico tambah gemas dengannya dan dengan reflek, ia mencubit kedua pipi Edrea sesaat.


"Lo kalau lagi ngambek gemesin tau Rea. Tapi sekali lagi gue minta maaf karena udah cuekin lo kemarin."


"Hmmm berhubungan gue ini anak baik dan tidak sombong maka lo gue maafin tapi dengan satu syarat." Zico mengerutkan keningnya.


"Syarat?" Edrea menganggukkan kepalanya.


"Syaratnya apa? katakan."


"Traktir gue makan bakso di kantin ini sehabis ujian nanti," ucap Edrea.


"Ck, kirain syaratnya yang berat gitu. Eh taunya malah minta bakso. Kalau itu mah langsung gue kabulin. Mau berapa porsi, satu, dua atau sekalian sama gerobak-gerobaknya?"


"Satu aja udah cukup di tambah es teh."


"Ashiap, apa sih yang gak buat lo," tutur Zico yang langsung membuat Edrea berekspresi seakan-akan dirinya ingin muntah mendengar ucapan dari Zico tadi.

__ADS_1


Setelah itu mereka kembali melanjutkan langkah kaki mereka yang sempat tertunda tadi dengan diiringi canda tawa dari keduanya.


Mereka berdua tak tau jika setiap gerak gerik dari interaksi mereka berdua yang terbilang cukup romantis tengah di perhatikan oleh satu laki-laki yang menatap mereka dengan tatapan tajam dan tak terima bahkan tangannya saja sudah mengepal sempurna. Tapi walaupun begitu, dirinya juga bisa apa? Memisahkan mereka berdua? itu bukan cara yang tepat karena dia tak ingin Edrea merasakan patah hati yang disebabkan karena perpisahan. Yang ia bisa sekarang hanya memantau Edrea dari kejauhan, memastikan gadis cantik itu tetap aman walaupun dia tak berada disampingnya. Melihat Edrea bahagia dengan senyum yang merekah di bibirnya walaupun alasan Edrea bahagian bukan dirinya tapi setidaknya gadis cantik itu tak meneteskan air mata. Jika sampai Edrea meneteskan air mata maka orang yang membuat hati Edrea sedih akan langsung berhadapan dengannya. Tak peduli resiko yang akan ia tanggung nanti. Apapun akan ia lakukan untuk melindungi gadis yang selalu cantik di matanya itu.


__ADS_2