The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 148


__ADS_3

Semua orang disana nampak panik dan sesekali mencoba untuk mendobrak pintu itu walaupun tadi sudah dinyatakan pintunya tidak bisa dibuka dengan cara di dobrak dan lain sebagainya tapi setidaknya mereka masih bisa berusaha.


Sedangkan Daddy Aiden hanya terdiam tapi matanya menyapu setiap sudut ruangan tersebut hingga ia menyadari jika di ruang tersebut ada sebuah balkon. Daddy Aiden lebih dahulu lari kearah balkon itu untuk melihat situasi dibawah.


"Semuanya! ini satu-satunya cara agar kita selamat dari ledakan bom itu dengan cara kita lompat dari lantai ini kebawah. Dibawah ada kolam renang setidaknya tulang kita tidak remuk saat mendarat di bawah. Lakukan sekarang!" teriak Daddy Aiden yang membuat semuanya merapat kearah balkon ruangan tersebut dan satu-persatu orang-orang disitu terjun kebawah.


"Dad, waktu kita tinggal 2 menit lagi. Ayo percepat Dad!" teriak Erland yang sudah turun kebawah dan diatas hanya tinggal Daddy Aiden dan Mommy Della juga sisa 5 anak buah Azlan dan Erland.


"Pegangan," ucap Daddy Aiden ke Mommy Della. Mommy Della pun mengangguk kemudian ia memeluk tubuh sang suami saat tubuhnya terangkat untuk Daddy Aiden gendong dan hanya hitungan detik saja tubuh keduanya terasa melayang di udara sebelum akhirnya mendarat di kolam tersebut.


"Kamu gak papa?" tanya Daddy Aiden sembari mengusap pipi Mommy Della yang basah akan air kolam tersebut yang dijawab dengan gelengan kepala.


"Oke semuanya! Dalam hitungan ketiga, kita menyelam lebih dalam lagi dikolam ini kalau perlu sampai bawah. Agar kita nanti tidak terkena pecahan kaca atau sebagainya!" teriak Erland mengintruksi mereka semua. Dan kini Erland kembali mengintruksi mereka untuk berancang-ancang menyelam kolam tersebut dan benar saja saat bertepatan dengan mereka yang menyelam ke kolam tadi, saat itu pula ledakan dari bom dilantai dua terdengar. Banyak serpihan material yang terjatuh di kolam tersebut tapi untungnya tak mengenai siapapun disana.


Saat material yang berjatuhan mulai mereda, Azlan memberanikan diri untuk lebih dulu naik kepermukaan air melihat kondisi disana. Dan saat sudah dipastikan aman, Azlan mengkode lewat tangannya yang menempelkan jari telunjuk dan jari jempolnya membuat huruf O disana. Saat kode itu dilihat oleh semua orang disana, mereka semua juga ikut naik ke permukaan.


"Huft akhirnya," ucap Edrea sembari mengambil pasokan oksigen untuk paru-parunya.


"Langsung kembali ke mobil!" perintah Daddy Aiden setelah laki-laki itu keluar dari kolam tersebut bersama dengan Mommy Della kemudian ia berjalan keluar dari area rumah yang dimana rumah itu sudah hancur dibagian lantai duanya.

__ADS_1


Langkah kaki pasutri itu diikuti semua orang yang berada disana. Hingga langkah kaki mereka berhenti di deretan mobil-mobilan yang masih terparkir seperti sebelumnya. Dan untungnya mobil itu masih dalam kondisi yang aman tanpa di sabotase oleh anak buah Zico.


"Kamu kemarin bawain aku baju ganti?" tanya Daddy Aiden saat ia melihat ada pakaian yang berada di kursi kemudi dan kursi yang di tempati Mommy Della.


"Enggak. Kita kan hanya bawa senjata aja dan untuk pakaian, ya hanya baju yang menempel di tubuh kita ini saja tidak ada yang lain. Tapi kenapa tiba-tiba ada pakaian disini?" ucap Mommy Della dengan bingung.


Daddy Aiden kini mengedarkan pandangannya kearah mobil Azlan dan Erland juga mobil yang lainnya yang nampaknya orang-orang itu juga mendapatkan satu set pakaian, terbukti tangan-tangan mereka memegang pakaian tersebut.


"Siapa yang ngasih ini ke kita? apa ada salah satu dari kalian yang meminta bantuan!" tanya Erland karena tak mungkin jika sang Daddy menghubungi anak buahnya yang masih di kota, jika memang Daddy Aiden melakukannya, anak buahnya akan sampai hari berikutnya.


Semua orang disana menggelengkan kepalanya, mereka juga tak tau kenapa ada orang baik yang mengirimkan mereka pakaian gratis seperti ini.


"Semua aman bos. Terlihat tak ada yang lecet sama sekali di keluarga Abhivandya terutama Nona Edrea. Masalah baju sudah saya tangani untuk mereka," ucapnya saat sambungan telepon tersambung dengan orang yang ia sebut sebagai bosnya itu.


📞 : "Bagus. Terus pantau mereka, pastikan dalam keadaan aman."


"Baik bos. Laksana," tuturnya setelah itu sambungan telepon keduanya terputus. Orang yang tengah bersembunyi itu saat ini terus melihat setiap hal yang dilakukan oleh orang-orang itu sedangkan sang bos kini tengah sibuk dengan laptop di depannya.


"Kemungkinan helikopter yang ditumpangi laki-laki itu mendarat di Singapura," celetuk satu orang yang juga berada di satu ruangan dengan orang yang disebut bos tadi.

__ADS_1


"Terus pantau pergerakan helikopter itu. Jika helikopter itu sudah benar-benar mendarat kita segera kesana. Dan kita tuntaskan hari itu juga," ucapnya penuh dengan ketegasan.


Setelah perkata yang tak terbantahkan orang tadi, tak ada lagi suara yang terdengar dalam ruangan serba hitam dan putih itu. Hanya ada keterdiaman disana.


Sedangkan disisi lain saat semua orang sudah berganti pakaian, mereka berkumpul untuk membahas pencarian Zico kedepannya.


"Kita tidak bisa mencari kemana dia pergi saat ini. Jadi untuk kasus ini kita hentikan saja sampai disini. Mungkin Zico juga sudah menganggap kita semua mati dari insiden ledakan tadi. Tapi walaupun begitu kita semua harus tetap hati-hati dan jika kalian saat berpergian dan bertemu dengan laki-laki itu, segera hubungi salah satu dari kita," tutur Daddy Aiden yang diangguki oleh semuanya terkecuali dengan Azlan dan Erland yang justru keduanya tengah mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yang mengeras.


"Kalau begitu kalian boleh bubar. Dan terimakasih atas bantuannya," sambung Daddy Aiden dan kini perlahan dua kelompok anak buah dari kedua jagoannya telah masuk kedalam mobil masing-masing.


"Kita juga pergi dari sini," perintah Daddy Aiden.


"Kenapa kita gak berusaha lagi Dad buat cari bajingan itu sampai dapat!" ucap Azlan yang akhirnya mengeluarkan ketidak setujuannya dari keputusan Daddy Aiden tadi.


Daddy Aiden yang hampir melangkahkan kakinya kini harus terhenti dan mantap lekat-lekat wajah kedua putranya.


"Memangnya kita mau cari dia kemana? kamu tau keberadaan dia sekarang? tidak bukan? jadi jangan buang-buang waktu lagi. Biarkan dia menikmati hidupnya di luar dengan bahagia sebelum dia melihat kenyataan bahwa kita semua masih hidup. Dan jika diketahui oleh dia, Dad yakin tanpa kita cari dia ke penjuru dunia. Orang itu akan muncul dengan sendirinya dihadapan kita. Karena apa yang dia harapkan belum tersampaikan. Dan harapan dia yaitu dengan lenyapnya semua keluarga Abhivandya," ujar Daddy Aiden dengan senyum miringnya.


"Kita tak perlu bersusah payah cari dia. Yang harus kita lakukan yaitu menorehkan prestasi baru dalam bidang bisnis maupun pendidikan untuk kalian sebagai pancingan agar dia keluar dari persembunyiannya," sambungnya kemudian ia berbalik arah menuju ke mobil miliknya yang didalamnya sudah ada Mommy Della yang menunggunya sedari tadi.

__ADS_1


Azlan dan Erland hanya bisa menggeram kesal tapi apa yang diucapkan sang Daddy ada benarnya juga. Pasti Zico saat tau mereka masih hidup, orang itu akan kembali dan saat itu juga mereka akan membunuh laki-laki sialan itu. Mereka bahkan sudah tidak peduli dengan perasaan Vivian nanti. Biarkan perempuan itu mau benci ke mereka setelah pembunuhan Zico mereka lakukan, atau malah mau balas dendam menggantikan Zico? tak apa mereka akan menyambut dendam Vivian dengan tangan yang selalu terbuka. Tak ada kata takut sekali pun walaupun lawan mereka nanti adalah perempuan yang hampir tau kelemahan mereka sepenuhnya.


__ADS_2