The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 193


__ADS_3

Handoko yang melihat Puri kabur pun dengan cepat ia mengkode bodyguardnya lalu setelahnya ia angkat suara.


"Pak, dia orangnya!" ucap Handoko sembari menunjuk Puri yang berjarak tak jauh dari mereka semua.


Polisi yang melihat calon tawanannya itu mencoba melarikan diri pun langsung bergerak untuk mengejar Puri.


Sedangkan Puri kini membelalakkan matanya lalu ia semakin mengencangkan larinya. Hingga saat dirinya sampai didepan gerbang rumah tersebut, dengan gesit ia membuka pintu gerbang tersebut. Tapi saat pintu itu terbuka, dirinya sudah dihadang oleh para bodyguard Handoko yang ternyata sebagian sudah berjaga-jaga di luar gerbang tersebut.


Puri yang ingin di tangkap oleh salah satu bodyguard itu, ia terus memundurkan langkahnya hingga tubuhnya menabrak gerombolan polisi yang sudah mengepungnya.


"Saya mohon kerjasamanya nona. Jangan mencoba untuk melarikan diri dari kami," ujar polisi yang sama dengan polisi yang berbicara dengan Handoko tadi dengan tangan yang bergerak untuk mengeluarkan sebuah borgol lalu setelahnya dengan dibantu polisi lain, Puri berhasil di taklukan walaupun wanita itu terus memberontak dengan teriakan-teriakannya.


Dan setelah kedua tangan Puri di borgol, polisi-polisi tadi membawanya masuk kedalam mobil.


Tiwi yang melihat anaknya sudah tak bisa berkutik lagi pun kini menatap Handoko.


"Tolong, bantu Puri lepas dari pihak berwajib. Puri tidak salah. Puri hanya di fitnah," ucap Tiwi dengan menggoyang-goyangkan lengan Handoko bahkan air matanya juga sudah mengalir deras di pipinya.

__ADS_1


Handoko yang sudah merasa jijik dengan Tiwi pun dengan kasar ia menghentakkan tangannya hingga tangan Tiwi tadi terlepas dari lengan Handoko.


"Tidak akan. Buat apa aku membantu wanita sialan yang sudah membuat perusahaanku hancur. Dan mungkin aku sangat bersyukur atas tertangkapnya Puri oleh pihak berwajib. Karena dengan begitu satu dari banyaknya wanita murahan berkurang di masyarakat ini. Ah satu lagi, salah atau tidaknya dia, pihak polisi lebih tau yang sebenarnya," tutur Handoko tanpa berniat menatap sedikitpun kearah Tiwi. Dan tatapannya kini justru menatap kearah Puri yang tengah meraung-raung didalam mobil polisi tersebut. Dan tanpa Tiwi ketahui, Devano kini telah tersenyum senang akan semua yang wanita itu terima saat ini bahkan laki-laki itu justru berharap jika Puri dihukum seberat-beratnya atas keresahan yang wanita itu buat.


"Handoko! kamu jangan egois karena setidaknya Puri juga pernah menjadi anak kesayangan kamu!" bentak Tiwi yang berhasil membuat Handoko mengalihkan pandangannya kearahnya.


"Memang benar, tapi itu dulu sebelum aku mengetahui kebenarannya. Dan sekarang aku justru sangat menyesal sudah menghambur-hamburkan uangku hanya untuk memanjakan anak tidak tau diri, anak sialan, anak haram dan wanita murahan seperti dia! Dan kamu jangan pernah meninggikan suara kamu di hadapanku," ucap Handoko sembari menunjuk wajah Tiwi.


Mereka berdua kini saling melemparkan tatapan membunuh satu sama lain hingga terdengar suara seseorang yang membuat mereka menghentikkan aksi tersebut.


"Maaf sebelumnya, tuan Handoko dan nyonya. Saya disini selaku pihak kepolisian mengucapakan terimakasih karena sudah mempermudah pekerjaan kami dan putri anda akan kami bawa ke kantor polisi sekarang. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih atas waktu tuan dan Nyonya, kami pamit undur diri. Selamat siang dan permisi," ujar polisi tersebut yang diangguki oleh Handoko bahkan laki-laki itu sempat melempar senyuman kearah polisi tersebut.


Polisi tadi menatap kearah Tiwi lalu Handoko. Sepertinya polisi itu tengah meminta pertolongan ke Handoko lewat tatapan matanya. Dan untungnya Handoko peka akan hal itu, kemudian ia mengerahkan dua bodyguardnya untuk menjauhkan Tiwi dari polisi tersebut.


"Tidak, lepaskan!" berontak Tiwi saat bodyguard Handoko tadi berhasil melepaskan tangannya dari lengan polisi tadi.


"Abaikan saja dia, Pak. Dia memang sedang terkena gangguan jiwa. Maaf karena sudah mengganggu bapak dan pihak kepolisian yang lain," tutur Handoko. Polisi tadi tampak mengangguk, memahami situasi nyonya dirumah tersebut dan setelahnya ia kembali melangkahkan kakinya menuju mobil polisi.

__ADS_1


"Tidak! Jangan bawa Puri pergi! Dia tidak bersalah!" teriak Tiwi saat melihat mobil-mobil polisi tersebut sudah mulai melaju meninggalkan rumah tersebut.


"Tidak! Puri!" teriaknya lagi yang membuat Handoko kini menutup kedua telinganya.


"Kalian berdua, seret wanita gila ini keluar dari rumah ini dan pastikan dia benar-benar pergi dari depan gerbang," perintah Handoko. Kedua bodyguard tersebut mengangguk lalu setalahnya tanpa memiliki rasa iba sedikit pun, mereka langsung memaksa Tiwi berdiri dari duduknya lalu menyeret tubuh wanita itu hingga membuat Tiwi yang tak bisa menyamakan langkah kaki bodyguard tersebut, membaut langkah terseok-seok hingga mereka telah sampai di luar gerbang rumah tersebut.


Dan tanpa mengucap sepatah kata pun, para bodyguard tadi langsung meninggalkan Tiwi bergitu saja. Bahkan pintu gerbang yang tadinya terbuka lebar kini juga telah di tutup dan dikunci oleh dua bodyguard tadi supaya Tiwi tidak bisa masuk dan membuat onar lagi dirumah itu.


Tiwi yang baru tersadar jika dirinya sekarang sudah berada di luar pekarangan rumah Handoko pun dengan geram ia mengambil sebongkah batu lalu melemparnya kearah pintu gerbang tadi.


"Handoko! tunggu pembalasanku. Aku tidak akan pernah melepaskanmu sebelum nyawamu melayang di tanganku!" teriak Tiwi sekencang-kencangnya agar Handoko yang masih didepan pintu utama rumah tersebut mendengar suaranya.


Sedangkan Handoko yang sudah benar-benar lelah mengurusi dua hama yang tinggal dirumahnya itu pun tak lagi membalas ucapan dari Tiwi tadi bahkan ia tak peduli dengan semua ancaman yang dilontarkan Puri tadi.


Dan kini laki-laki itu sudah kembali masuk lagi kedalam rumahnya. Ia menghela nafas saat ia mendudukkan tubuhnya di sofa yang ia duduki tadi. Dan kini ia memijit pangkal hidungnya saat pikirannya itu mengarah ke harta besar satu-satunya yang di tinggalkan oleh mendiang ayahnya itu. Bagaimana ia bisa membangkitkan lagi perusahaan itu? sedangkan dia sendiri saat ini tak memegang uang yang cukup banyak untuk memulai bisnis lagi. Dan satu lagi, dia juga harus membersihkan nama baiknya yang sudah tercoreng gara-gara perlakuan Tiwi dan Puri itu.


Handoko kini menjambak rambutnya. Ia benar-benar frustasi dengan apa yang ia hadapi saat ini.

__ADS_1


"Pa, Ma maafkan aku yang tidak bisa menjaga peninggalan kalian baik-baik. Dan gara-gara aku yang ceroboh ini semuanya perlahan hilang sekarang. Handoko benar-benar minta maaf ke kalian. Semoga Papa dan Mama di surga memaafkan kesalahan Handoko ini," gumam Handoko sembari menengadahkan kepalanya. Bahkan air matanya kini kembali membasahi pipinya.


Jika ia ditanya menyesal, ia dengan lantang akan mengakui penyesalan itu. Penyesalan akan kebodohan yang selalu percaya dengan omongan wanita sialan itu hingga terjebak bertahun-tahun dalam permainan wanita itu tanpa menaruh curiga sedikitpun.


__ADS_2