The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 353


__ADS_3

Mereka berdua terus melangkah memasuki rumah sakit itu semakin dalam hingga suster yang sebelumnya mereka tanyai keberadaan Zico menatap mereka dengan tatapan bingung.


"Dasar manusia-manusia aneh. Untung saja tampan kalau tidak mungkin sudah dianggap orang gila," gumam suster tersebut yang terus menatap punggung keduanya yang kini perlahan mulai menghilang dari pandangannya.


"Kita mau cari dia mulai dari mana? Dirumah sakit ini kamar inapnya banyak banget," ujar Leon yang kini dibuat bingung sendiri.


Erland yang sedari tadi fokus dengan jalannya pun kini ia berdecak sebal mendengar ucapan dari Leon tadi.


"Ck, tinggal bukain kamar disini satu-satu apa susahnya sih. Dan biar kita segera nemuin Jio, Lo jangan banyak tanya," balas Erland tanpa menghentikan langkahnya.


Sedangkan Leon yang mendengar ide dari Erland pun ia mendengus kesal. Kalau begitu caranya, mau selesai kapan untuk mengintip satu-persatu kamar inap di rumah sakit itu.


Hingga tiba-tiba saja dirinya mendapatkan sebuah ide. Dan tanpa pikir panjang ia membalikan tubuhnya meninggalkan Erland yang masih sibuk membuka satu-persatu kamar inap yang berakhir dirinya meminta maaf karena telah mengganggu pasien lain yang ternyata bukan Zico. Bahkan karena kesibukannya itu ia sampai tak menyadari jika Leon telah pergi meninggalkannya.


Leon terus berjalan lebih tepatnya berlari kecil kembali menuju kearah tempat pendaftaran. Dan lagi-lagi apa yang di lakukan laki-laki itu membuat suster yang bertugas disana bertanya-tanya dalam otak mereka.


"Hufttt." Helaan nafas terdengar saat Leon telah sampai di depan suster tadi.


"Ada apa Kak?" tanya suster tersebut. Leon yang tadi membungkukkan tubuhnya, kini ia kembali menegakkan tubuhnya dan menatap wajah suster tersebut.


"Begini Sus, saya butuh informasi dari suster mengenai pasien yang malam ini terlibat dalam kecelakaan," ujar Leon.


"Untuk apa ya Kak?" tanya suster tadi.


"Ck, salah satu orang yang terlibat dalam kecelakaan itu adalah keluarga saya, Sus. Jadi buruan kasih tau dimana pasien yang terlibat dalam kecelakaan malam ini," ucap Leon tak sabaran.


"Ahhhh baiklah. Tunggu sebentar ya Kak, saya carikan dulu," ujar suster tersebut yang tampak takut melihat raut wajah Leon yang berubah menjadi mendung.


Leon tak menimpali ucapan dari suster tadi, ia memilih untuk mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi di depan tempat pendaftaran tadi.


Beberapa saat setelahnya, suster tadi kembali angkat suara yang membuat Leon kini langsung berdiri dari duduknya.


"Ada 5 pasien yang mengalami kecelakaan malam ini. Masing-masing dari mereka sekarang lagi berada di UGD, ICU, Kamar melati nomor 5, Kamar Cempaka nomor 7 dan ruang VIP nomor 1 yang berada di lantai dua rumah sakit ini," jelas suster tadi.


"Cuma itu saja Sus? Gak ada yang kelewat?"


"Sepertinya memang hanya itu saja Kak," jawab suster tersebut.


"Baiklah kalau begitu terimakasih," ujar Leon lalu setelahnya ia berlari menuju ke tempat UGD dan ICU yang berada tak jauh dari tempat pendaftaran tadi. Dan saat dirinya sudah mendatangi dua tempat tersebut dan juga sempat bertanya ke salah satu orang-orang yang menunggu pasien yang ternyata di dalam kedua ruangan itu bukan lah orang yang ia cari beberapa jam ini. Dan hal tersebut membuat Leon kembali berlari mencari keberadaan Erland yang entah sudah kemana laki-laki itu sekarang.


"Ck, kalau kayak gini gue berasa lagi main kucing-kucingan. Yang satu belum ketemu eh satunya lagi ikut ngilang," gerutu Leon. Lalu setelahnya ia memilih untuk melangkahkan kakinya menuju kearah kamar yang suster tadi bilang. Tapi baru saja kakinya bergerak beberapa langkah, matanya tak sengaja melihat sosok Erland yang tengah berjalan lesu menuju kearah dirinya.


"Gimana? Udah ketemu?" tanya Leon saat Erland telah sampai didepannya. Dan pertanyaannya tadi mendapat gelengan dari Erland.


"Lo udah cari di kamar melati nomor 5 sama kamar Cempaka nomor 7 belum?" tanya Leon.


"Udah, gue udah cariin dia kesemua kamar yang ada di lantai ini," ujar Erland yang mendapat anggukan dari Leon.


"Oke kalau gitu kita ke kamar VIP atas. Kalau dia gak ada disana berarti mobil itu jalan sendiri kesini," tutur Leon lalu setelahnya tanpa peduli Erland tengah kelelahan, ia lebih dulu melangkahkan kakinya menuju ke sebuah lift tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.


Erland yang tenaganya benar-benar terkuras pun mau tak mau ia menyusul langkah Leon yang sudah masuk kedalam lift tersebut.


Beberapa saat lift yang mengantarkan kedua manusia itu akhirnya terbuka saat mereka telah sampai di lantai dua rumah sakit tersebut.


Dan tanpa banyak bicara, Leon berjalan untuk mencari kamar VIP nomor 1 sesuai dengan ucapan dari suster tadi.


"Mau Lo atau gue yang buka?" tanya Leon saat keduanya telah menemukan kamar yang Leon maksud.


"Lo aja, gue udah capek ngomong maaf karena salah masuk kamar," ujar Erland.

__ADS_1


"Suruh siapa punya otak gak dimanfaatin," batin Leon sebelum tangannya meraih kenop pintu kamar di depannya itu.


Dan saat pintu itu terbuka lebar, mereka berdua terdiam sesaat karena kamar itu begitu sunyi dengan lampu yang temaram.


"Ini benaran kamar VIP kan?" tanya Erland yang membuat Leon kini memundurkan tubuhnya dan melihat kembali papan yang berada disamping pintu kamar tersebut.


"Kalau menurut papan ini sih memang kamar ini adalah kamar VIP nomor satu. Tapi kok kalau di lihat-lihat kamarnya kayak kamar mayat ya, sepi kayak gak ada pasiennya. Atau jangan-jangan gue tadi di kerjain sama suster lagi. Wahhhhh jahat banget tuh suster, sialan," umpat Leon yang tiba-tiba merasa dirinya di permainkan oleh suster tadi.


Sedangkan Erland yang sedari tadi mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar tersebut dengan mengandalkan mata elangnya, kini ia mengerutkan keningnya saat matanya tak sengaja menangkap sosok yang tampak tengah berbaring di sofa ruangan tersebut.


"Bentar deh. Coba lo lihat di sebelah sana. Dia orang bukan sih?" Leon mengikuti arah tunjuk dari Erland. Dan saat matanya juga menatap obyek yang menyita perhatian Erland tadi, tiba-tiba saja bulu kuduknya berdiri.


"Er, kok gue tiba-tiba merinding ya. Jangan-jangan itu bukan orang lagi tapi---" ucapan Leon menggantung saat Erland sudah lebih dulu berlari meninggalkan dirinya sendiri di depan pintu kamar tersebut.


"Anjir, sialan. Gue ditinggal!" umpat Leon sembari melirik kearah dalam kamar tersebut. Dan lagi-lagi bulu kuduknya merinding dan dari pada dirinya nanti terkena aura mistis lebih baik dirinya ikut kebur menyusul Erland yang kemungkinan laki-laki itu sekarang sudah sampai di lantai bawah.


Sedangkan Zico yang berada di ruangan yang sempat dua orang tadi kunjungi pun matanya yang tadinya tertutup kini mengerjab.


"Kayak ada orang kesini tadi," gumam Zico dengan mendudukkan tubuhnya diatas sofa tersebut. Ia menatap ke sekelilingnya hingga tatapannya jatuh ke pintu kamar yang terbuka.


"Eh kok kebuka? Jangan-jangan si cantik kabur dari rumah sakit lagi. Dan ini kenapa lampunya padam?" ujar Zico kemudian bergegas menuju kearah saklar di kamar tersebut. Tapi saat ia mencoba menyalakan lampunya, ternyata lampu itu sama sekali tak menyela.


"Ck, katanya kamar VIP tapi lampu aja sampai bisa mati gini," gerutu Zico. Lalu dengan hati-hati ia mencoba untuk berjalan menuju brankar di kamar tersebut. Dan saat ia menemukan perempuan yang ia tabrak tadi masih diatas brankar itu pun bibirnya kini tersenyum. Tapi senyumannya luntur saat ia sadar jika pintu di kamar itu masih terbuka. Bahkan tatapan matanya kini kearah pintu tersebut.


"Apa tadi benar-benar ada orang yang berniat untuk masuk kesini? Tapi siapa? Dokter atau suster? Tapi aku rasa bukan dokter ataupun suster. Terus kalau bukan petugas medis siapa dong? Ya kali demit. Hih." Zico bergidik ngeri membayangkan sosok menyeramkan yang ingin bermain-main di kamar tersebut. Dan sebelum dirinya di buat semakin ketakutan, ia kini memencet tombol untuk memanggil suster. Dan dengan harap-harap cemas ia menunggu suster tadi dengan menggenggam tangan perempuan yang masih saja asik dalam tidurnya.


Hingga tak berselang lama, salah satu suster masuk kedalam kamar tersebut. Dan belum sempat suster tersebut membuka mulutnya untuk bertanya, Zico lebih dulu berucap.


"Sus, saya mau pasien ini di pindah ke kamar VIP yang lain, yang terjamin kualitasnya. Bukan yang abal-abal seperti ini," ujar Zico.


"Tapi---" belum sempat suster itu menyelesaikan perkataannya, lagi-lagi Zico memotong ucapannya.


Suster itu tampak terdiam, mau menimpali ucapan dari Zico, sudah di pastikan masalahnya akan semakin panjang. Dan daripada ia mendapatkan masalah, alhasil suster tersebut menganggukkan kepalanya lalu dengan cepat ia berjalan menuju ke brankar dan dengan sigap ia mulai mendorong brankar tadi di bantu dengan Zico.


Zico kini bisa menghela nafas lega saat mereka bertiga telah kembali masuk ke salah satu kamar VIP yang menurut Zico jauh lebih bagus dari sebelumnya.


"Apa ada yang perlu saya bantu lagi, Kak?" tanya suster tersebut dengan takut-takut.


"Tunggu dia disini sebentar, saya mau keluar," ujar Zico dan tanpa menunggu persetujuan dari suster tadi ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke parkiran mobil untuk mengambil power bank disana.


Dan baru saja dirinya ingin membuka pintu mobilnya, tiba-tiba saja lehernya di apit oleh seseorang dari belakang. Dan hal tersebut membuat dirinya kesusahan untuk bernafas.


"Sialan ya lo, anjing emang. Orang rumah sibuk nyariin lo, Lo malah enak-enak disini. Sialan emang," geram orang yang mengapit lehernya tadi. Dan saat Zico memaksa kepalanya untuk menoleh barulah dia bisa melihat siapa pelaku dari pengapitan tersebut yang ternyata adalah Erland. Ya, saat Erland tadi kabur dari depan kamar VIP tadi, dirinya dan Leon memutuskan untuk menunggu Zico di area parkir saja. Dan lihatlah sekarang, dirinya bisa menemukan laki-laki yang mereka cari selama berjam-jam lamanya.


Leon yang tadi berdiri di belakang Erland kini ia bergerak untuk melepaskan tangan Erland dari leher Zico. Ngeri juga kalau aksi dari Erland tadi membuat Zico kehilangan nyawanya.


"Er, anak orang bisa mati. Dan ingat kalau nyawa tuh manusia sampai hilang, habis lo sama Vivian," ucap Leon dengan menarik lengan Erland agar menjauh dari Zico. Hingga dengan kekuatan yang masih tersisa di tubuhnya, Leon akhirnya bisa menjauhkan Erland dari Zico.


"Uhuk uhuk uhuk." Zico terbatuk dengan mengelus lehernya yang tampak memerah karena ulah dari Erland tadi.


"Maksud lo apaan sih? Main cekik orang aja," geram Zico.


"Lo yang apaan, njir! Lo kenapa tadi tiba-tiba ngilang gitu aja dari rumah? Gak pakai pamit dulu kalau mau pergi? Lo tau gak gara-gara ulah lo yang main hilang-hilangan kayak gini, satu rumah gue gempar nyariin lo! Dan lo tau Kak Vi sampai nangis gara-gara khawatir sama lo!" ucap Erland dengan menunjuk-nunjuk wajah Zico yang tampak terdiam mematung di tempatnya.


"Kak Vi nangis?" beo Zico.


"Ya, dan itu gara-gara lo!" Ucapan dari Erland tadi membuat perasaan Zico kini merasa bersalah. Ia juga tidak menyangka jika Vivian masih memikirkan dan mengkhawatirkan dirinya. Padahal sebelumnya ia menyangka Vivian akan melupakan dirinya saat ia sudah bersama dengan keluarga kandungnya itu. Tapi nyatanya, prasangkanya itu salah besar dan akhirnya dirinya sendiri yang sekarang merasa bersalah.


"Er, udah. Jangan emosi mulu. Ingat ini masih di kawasan rumah sakit. Kalau sampai kalian berantem disini yang ada semua masalah gak akan selesai dan berakhir kalian nanti akan di usir sama satpam di rumah sakit ini. Jadi kalian berdua tenang dulu. Atur emosi kalian karena gue gak akan misahin kalian lagi kalau sampai kalian nanti baku hantam," ujar Leon sembari melepaskan tangannya dari lengan Erland saat dirasa laki-laki itu sudah sedikit lebih tenang.

__ADS_1


Sedangkan Zico yang sedari tadi hanya diam kini ia menatap wajah Leon.


"Gue boleh minta tolong sama lo?" tanya Zico untuk Leon yang membuat sang empu memincingkan alisnya.


"Gue minta tolong lo telepon siapapun yang sekarang posisinya ada di rumah keluarga Erland." Leon menganggukkan kepalanya, kemudian ia mulai melakukan apa yang di katakan oleh Zico tadi.


Ia kini mulai menghubungi nomor Daddy Aiden. Dan tak berselang lama, telepon tersebut tersambung.


📞 : "Halo, ada apa El? Apa kalian sudah menemukan Jio?" tanya Daddy Aiden dari sebrang.


"Halo Dad. Daddy tidak perlu khawatir, El sama Erland sudah menemukan Jio. Dan sekarang dia sudah ada sama kita," ucap Leon dan setelahnya terdengar helaan nafas dari sebrang.


"Oh ya Dad. Tapi Jio sekarang lagi mau ngomong sama Kakaknya," sambung Leon yang sepertinya mengerti atas apa keinginan Zico saat ini.


📞 : "Baiklah kalau gitu, Dad kasih ponsel Daddy ke dia dulu." Leon menganggukkan kepalanya walaupun tak di lihat oleh Daddy Aiden.


📞 : "Hiks halo." Suara isakan dari seseorang di sebrang membuat Leon langsung menyodorkan teleponnya kearah Zico yang langsung di terima oleh laki-laki tersebut.


"Ha---halo Kak," ucap Zico dengan gugup.


📞 : "Hiks ini Jio bukan?"


"Iya Kak ini Jio. Kak maaf Jio sudah bikin Kakak khawatir," ucap Jio dengan kepala yang tertunduk.


📞 : "Kamu lagi dimana sayang? Kata Azlan, kamu tadi kecelakaan? Kalau iya gimana keadaanmu sekarang? Dan kasih tau Kakak, kamu sekarang di rumah sakit mana biar Kakak kesana." Bukannya menimpali ucapan Zico sebelumnya, Vivian justru melontarkan segala pertanyaan yang sedari tadi berputar di otaknya.


Zico yang mendengar pertanyaan penuh dengan kekhawatiran itu pun rasa bersalahnya semakin besar. Bahkan air matanya kini sampai menetes.


"Kak, Kakak tidak perlu khawatir. Jio baik-baik saja. Tadi Jio hanya sial saja sampai menabrak orang di jalan. Tapi keadaan Jio baik-baik saja dan keadaan orang yang Jio tabrak syukurnya juga hanya terdapat luka yang tidak terlalu serius. Kakak tidak perlu kesini karena ini sudah malam. Kakak istirahat saja ya di rumah," ujar Zico sembari mengusap air matanya tadi.


📞 : "Tapi---"


"Jio tidak papa Kakakku sayang. Jio baik-baik saja. Kakak tenang saja ya. Dan maafkan Jio karena ulah Jio kalian semua jadi panik disana," ujar Zico penuh dengan penyesalan.


📞 : "Minta maafnya nanti karena Kakak belum tau detail kenapa kamu pergi dari rumah tadi dan berakhir kecelakaan. Kalau kamu melarang Kakak pergi kesana sekarang, setidaknya kasih tau Kakak dimana rumah sakit yang kamu singgahi sekarang, biar besok pagi Kakak kesana. Kakak juga tidak percaya kalau kamu beneran dalam keadaan baik-baik saja. Jadi katakan nama rumah sakitnya," ucap Vivian mutlak.


"Tapi Kak---"


📞 : "Oke kalau kamu gak mau ngasih tau Kakak alamat rumah sakit itu, Kakak akan marah sama kamu dan gak akan pernah maafin kamu." Zico yang mendengar ancaman dari Vivian itu pun ia menggigit bibir bawahnya.


📞 : "Jio!" Panggil Vivian yang tak mendapat respon apapun dari Zico karena laki-laki itu masih asik diam.


📞 : "Oke Kakak rasa kamu memang memilih Kakak untuk marah sama kamu. Baiklah kalau itu mau kamu, Kakak akan---"


"Iya-iya Kak. Jio nanti akan share lock alamat rumah sakitnya. Asalkan kalau Kakak mau kesini jangan malam ini. Ingat ini sudah terlalu malam untuk Kakak keluar. Kakak istirahat dulu, jangan kemana-mana dan jangan khawatirin Jio lagi karena Jio baik-baik saja. Bisa kan Kak?" Terdengar helaan nafas dari sebrang yang tentunya itu dilakukan oleh Vivian.


📞 : "Baiklah-baiklah Kakak akan menuruti apa kemauanmu. Tapi ingat kamu juga harus segera tidur. Jangan begadang walaupun kamu sekarang lagi ada di rumah sakit, paham little boy?" Zico yang mendengar panggilan kesayangan dari Kakaknya itu pun ia terkekeh.


"Baiklah my princess. Ya sudah kalau gitu Jio tutup dulu ya sambungan teleponnya. Selamat malam Kak," ujar Zico.


📞 : "Selamat malam juga sayang."


"Assalamualaikum."


📞 : "Waalaikumsalam." Ucapan salam itu mengakhiri sambungan telepon keduanya karena setelah Zico mendengar balasan salam dari Vivian, ia langsung mematikan sambungan telepon tersebut. Lalu setelahnya ia menyodorkan ponsel yang tadi berada di tangannya kearah Leon yang langsung di terima oleh laki-laki tersebut. Dan saat dirinya mengalihkan pandangannya kearah Erland, ia kini menghela nafas saat melihat tatapan Erland yang benar-benar tak bersahabat itu mengarah ke dirinya.


...****************...


Eps ini 2500 kata lebih. Kalau sampai likenya gak nyampe 400 dalam sehari nangis juga nih😞 Yuk ah kencengin LIKE, VOTE, HADIAH, dan KOMEN. Jangan jadi readers yang gemar membaca tapi tidak meninggalkan jejak bacaan mereka, itu namanya tidak baik. Tapi author percaya yang baca cerita ini orangnya baik-baik semua. Sayang kalian banyak-banyak deh dan See you next eps bye 👋

__ADS_1


__ADS_2