
Leon terus berlari hingga ia sampai tepat di depan pintu kamarnya. Dan tanpa ba-bi-bu lagi, ia kini membuka pintu tersebut.
Saat pintu itu terbuka lebar, matanya kini bisa melihat Edrea yang tengah terduduk di atas ranjangnya. Bahkan kekasihnya itu kini menatap dirinya dengan tatapan yang berbeda.
"Sa---sayang," panggil Leon yang tiba-tiba saja dilanda kegugupan sembari ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar tersebut.
Namun baru beberapa langkah, ia maju kedepan, suara Edrea membuat langkahnya terhenti.
"Tutup pintunya," ucap Edrea yang langsung membuat Leon membalikkan tubuhnya kemudian segera menjalankan perintah yang diberikan oleh Edrea tadi.
Lalu setelahnya Leon perlahan mendekati Edrea.
"Sayang, kenapa bisa masuk ke sini? Kata Callie tadi, dia yang kurung kamu disini. Maaf ya sayang atas kelakuan Callie yang lagi kumat jahilnya," tutur Leon dengan tangan yang bergerak, berniat untuk mengelus kepala kekasihnya itu.
Tapi sayangnya, belum sempat tangan itu mendarat di kepala Edrea, kekasihnya itu lebih dulu mencekal lengannya kemudian ia menarik kasar tubuh Leon hingga laki-laki tersebut berjongkok tepat di depan Edrea.
"Sayang kamu kenapa sih?" ucap Leon dengan perasaan yang semakin cemas setelah melihat perubahan dari kekasihnya itu.
Namun sayangnya pertanyaannya tadi sama sekali tak mendapat jawaban dari Edrea, dan justru kekasihnya itu kini menangkup kedua pipi Leon.
"Tatap mata gue, El!" perintah Edrea. Yang justru membuat Leon kini berdecak sebal.
"Gua gue gua gue. Manggil itu yang benar, emangnya aku ini masih teman kamu apa? Aku ini udah jadi pacar kamu jadi tidak ada panggilan dengan sebutan lo gue lagi. Paham!" protes Leon yang menyuarakan ketidaksukaan itu.
"Gue gak peduli," tutur Edrea yang langsung mendapat tatapan tajam dari Leon.
"Oke-oke, aku peduli," ralat Edrea dengan mengganti panggilannya tadi. Karena seserius apapun dirinya dan sebisa mungkin untuk menampilkan sisi sangarnya, Edrea tetap saja di buat takut jika melihat Leon yang sudah mengeluarkan jurus andalannya untuk menaklukkan lawan.
"Nah gitu dong. Ini baru pacar aku," ucap Leon dengan mengelus pipi Edrea, tak menghiraukan pipinya sendiri masih di tangan kekasihnya itu.
"Ada apa dengan mata kamu hmmm? Kenapa aku disuruh lihatin? Apa mata kamu ada yang sakit? Atau tidak sengaja saat bermain sama Callie tadi terluka?" sambung Leon dengan melontarkan pertanyaan beruntun untuk Edrea.
"Ck, bukan itu semua," ujar Edrea.
"Lah kalau bukan itu semua, terus apa dong?" tanya Leon sekaligus berusaha untuk mengalihkan perhatian Edrea yang sepertinya ia curiga kekasihnya itu ingin mengintrogasinya.
"Tatap saja apa susahnya sih," geram Edrea.
"Tapi sayangnya aku gak mau natap mata kamu," goda Leon bahkan ia kini memejamkan kedua matanya itu.
"Leon!" geram Edrea.
"Apa sayang?"
"Buka mata kamu!"
"Tidak mau," tolak Leon dengan senyuman di bibirnya.
Sedangkan Edrea yang sudah benar-benar dibuat geram pun salah satu tangannya itu kini bergerak untuk menepuk pipi Leon dengan cukup keras hingga membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.
Tapi bukannya ia mendapatkan iba dari Edrea, ia justru mendapat cengkraman di rahangnya dari Edrea.
"Tatap mataku, Leon!" garang Edrea yang kini membuat Leon langsung menuruti perintahnya tersebut.
"Buka matamu lebar-lebar!" perintah Edrea kembali.
"Buat apa?" tanya Leon dengan bibir yang begitu lucu. Bahkan Edrea saja hampir luluh di buatnya.
__ADS_1
"Sabar-sabar. Jangan sampai khilaf. Arkhhhh tapi gue gak bisa lihat dia dalam mode lucu gini. Bibirnya ahhhhh kayak ikan ******. Gemes banget, astaga," batin Edrea menjerit melihat kegemasan di depan matanya itu.
"Tidak-tidak. Edrea, kamu harus sadar dan kembali fokus ke tujuan utama kamu tadi," batin Edrea lagi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sayang kenapa?" tanya Leon yang merasa heran dengan tingkah kekasihnya tadi.
"Stop! Jangan bicara lagi. Kamu tinggal menuruti apa yang aku perintahkan tadi untuk membuka lebar-lebar mata kamu. Tapi jika kamu tidak mau melakukannya, jangan salahkan aku, jika aku nantinya mengiris kelopak mata kamu ini. Biar mata kamu terbuka selamanya," ancam Edrea yang membuat Leon tampak menelan salivanya.
"Kejam banget sih jadi pacar," ucap Leon yang langsung mendapat pelototan dari Edrea.
"Buruan!" perintah Edrea.
"Iya," ucap Leon dengan patuh. Dan sesuai dengan perintah dari Edrea tadi, Leon kini melebarkan matanya selebar mungkin yang ia bisa.
Edrea yang sudah melihat mata Leon terbuka lebar pun ia kini menelisik bola mata tersebut dengan penuh ketelitian.
"Kenapa kamu menyembunyikan warna bola mata kamu yang asli dengan mengunakan softlens?" tanya Edrea dengan perlahan melepaskan cengkraman tangannya di rahang Leon, karena ia sudah tak tega melihat kekasihnya itu tampak kesakitan.
"Kamu ngomong apa sih sayang? Warna mata aku itu sama seperti yang kamu lihat sekarang," elak Leon.
"Jangan bohong El dan jangan mencoba menyembunyikannya lagi dariku. Aku sekarang sudah tau semuanya. Jadi percuma saja kamu menyembunyikannya lagi dariku," ujar Edrea yang membuat jantung Leon kini berdebar tak karuan.
"Aku sudah tau warna bola mata aslimu itu adalah warna amber sesuai dengan warna bola mata di foto dua laki-laki itu yang merupakan foto kamu dan Kakak kamu," ucap Edrea dengan menujuk kearah foto yang ia lihat pertama kali di kamar tersebut.
"Jadi aku mohon lepas softlens yang sedang kamu pakai sekarang. Aku mau lihat secara langsung mata asli kamu tanpa penghalang lagi," sambung Edrea yang membuat Leon menghela nafas.
"Baiklah aku akan melepas lensa kontak ini," ucap Leon. Kemudian perlahan ia melepaskan softlens yang sekarang tengah ia pakai itu dengan kepala yang ia tundukkan. Dan setelah ia selesai melepas kedua softlens tersebut, kepalanya ia tegakkan kembali agar Edrea bisa melihat jelas warna bola matanya itu.
Edrea yang melihat itu pun tangannya kini bergerak untuk memegang kelopak mata Leon.
"Kamu tau El, mata kamu ini mengingatkanku dengan seseorang yang selalu menjagaku, selalu mengawasiku dan selalu ada disaat aku dalam bahaya," tutur Edrea yang semakin membuat tubuh Leon semakin menegang.
"Tapi aku sekarang sepertinya sudah bisa bernafas lega dan bisa tidur dengan nyenyak karena aku sudah tau siapa orang yang selalu aku cari identitasnya itu," tutur Edrea yang membuat Leon kini membuang pandangannya dari mata Edrea.
"Dan aku ingin membagi informasi ini denganmu karena ini merupakan kabar bahagia untukku." Edrea tampak menghela nafas sesaat sebelum dirinya melanjutkan ucapannya itu.
"Dan perlu kamu tau El, orang itu adalah seseorang yang kini tengah berhadapan langsung dengan diriku. Laki-laki yang selalu berada di sampingku, yang selalu memakai topeng untuk menyembunyikan wajah aslinya dan lebih parahnya lagi orang itu tanpa aku sadari sudah menjadi kekasihku," tutur Edrea dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Dan beberapa detik setelahnya Edrea memukul-mukul badan Leon dengan membabi buta.
"Kenapa? kenapa kamu menyembunyikan semua ini dariku, El? Kenapa kamu harus menjadi dua orang berbeda tapi memiliki tujuan yang sama hanya untuk menjagaku? Kenapa kamu dari awal tidak memperlihatkan wajah aslimu tanpa harus menyamar menjadi Leon yang aku kenal ataupun menyamar jadi Mr. Misterius? Kenapa El? Kenapa? hiks. Apa kamu tau aku selalu dibuat kebingungan saat menerima pesan dan pertolongan dari Mr. Misterius. Bahkan tidurku tidak nyenyak karena memikirkan siapa orang dibalik Mr. Misterius itu!" ucap Edrea dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya.
Leon yang sedari tadi diam dan hanya bisa pasrah saat mendapat pukulan dari Edrea, ia kini berdiri dari duduknya tadi untuk segera memeluk tubuh kekasihnya tersebut.
"Maaf." Satu kata yang saat ini bisa Leon ucapkan. Ia sadar jika apa yang dia lakukan itu merupakan kesalah besar. Tapi ia melakukan hal tersebut bukan semata-mata hanya untuk membohongi Edrea melainkan ada alasan lain dibalik aksinya itu.
"Aku capek El, aku capek kamu bohongi seperti ini," tutur Edrea yang masih memukuli dada Leon itu.
"Maaf sayang, aku tidak bermaksud untuk membohongi kamu. Aku melakukan itu semua karena ada alasannya," ujar Leon.
"Katakan apa alasan kamu melakukan semua ini?" ucap Edrea yang menuntut kejelasan lebih jauh dari permasalahan tersebut.
"Aku akan memberitahu alasanku melakukan hal itu setelah kamu tenang dan tidak menangis lagi," tutur Leon sembari melepaskan pelukannya dan kini ia menangkup kedua pipi Edrea hingga membuat kekasihnya itu menengadahkan kepalanya mengikuti arahan dari tangan Leon tersebut.
"Sudah ya jangan nangis lagi dan aku benar-benar minta maaf sama kamu atas apa yang aku lakukan selama ini di belakangmu," ujar Leon dengan menghapus air mata Edrea menggunakan jari jempolnya.
"Hiks tapi kamu jahat banget tau," ucap Edrea yang justru semakin mengencang tangisannya.
__ADS_1
"Iya aku tau kalau aku jagat sayang, makanya aku minta maaf sama kamu. Dan aku janji mulai saat ini, aku tidak akan membohongimu lagi dan tidak akan menyembunyikan apapun dari kamu. Dan satu lagi, kalau kamu berhenti menangis, apapun yang kamu inginkan akan aku turuti," tutur Leon yang kini membuat Edrea menatap dirinya dengan mata yang berbinar.
"Janji kamu akan menuruti semua yang aku inginkan," ucap Edrea.
"Iya sayang aku janji," tutur Leon.
"Baiklah kalau gitu, aku tidak akan menangis lagi," ujar Edrea sembari menghapus air matanya dengan kasar dan disaat ia ingin menghapus ingusnya, Leon bergerak cepat untuk mencegah tangan Edrea menyentuh area hidung gadis tersebut.
"Tunggu sebentar. Jangan dihapus dulu," ucap Leon dan setelahnya ia bergegas mencari tisu di kamar tersebut. Lalu saat ia sudah mendapatkan barang tadi, ia kembali menghampiri Edrea.
"Hadap aku," tutur Leon yang langsung dituruti oleh Edrea.
"Ish pacar aku jorok," ucap Leon yang tengah membersihkan ingus di hidung Edrea.
"Biarin. Ini juga gara-gara kamu. Kalau kamu tidak membohongiku, aku tidak akan menangis seperti ini," ujar Edrea diakhiri dengan ia mengerucutkan bibirnya.
Leon yang melihat wajah Edrea yang sekarang benar-benar lucu dengan hidung dan pipi yang memerah di tambah bibir yang maju beberapa senti kedepan pun ia sudah tak bisa lagi menahan kegemasannya itu. Hingga ia sekarang dengan sengaja mengigit pipi Edrea.
"Aws sakit!" teriak Edrea.
"Rasain. Siapa suruh bikin orang gemas," tutur Leon sembari duduk disamping tubuh Edrea.
"Gemas sih gemas. Tapi jangan gigit pipi juga kali. Sakit tau," protes Edrea.
"Uluh-uluh maafin aku sayang. Aku tadi kelepasan," ujar Leon dengan mengelus pipi bekas gigitannya tadi.
"Lain kali jangan di ulangi," ucap Edrea.
"Iya sayang. Aku tidak akan mengulanginya," tutur Leon.
Dan beberapa saat setelah percakapan tersebut terjadi, mereka berdua sempat terdiam beberapa menit karena tiba-tiba saja Leon mendapat panggilan entah dari siapa Edrea juga tidak tau dan tidak mau tau. Karena pikirannya sekarang tengah dikuasi dengan kebenaran yang baru saja ia temukan itu.
"Udah teleponnya?" tanya Edrea saat melihat tubuh Leon sudah mendekatinya kembali. Dan pertanyaan tadi dijawab angguk kepala oleh laki-laki tersebut.
"Baiklah kalau begitu aku mau menagih janji kamu tadi," ujar Edrea.
"Lah ini kita mau bicara langsung pada intinya? Kamu tidak mau tanya dulu siapa orang yang tadi telepon aku?" tanya Leon.
"Tidak. Buat apa aku tanya seperti itu. Karena aku yakin kamu tidak akan selingkuh dari aku," jawab Edrea dengan penuh percaya diri.
"Tapi kalau aku ternyata selingkuh gimana?" tanya Leon yang langsung mendapat tatapan tajam, setajam silet dari Edrea.
"Kalau sampai itu terjadi, siap-siap saja mata kamu aku congkel, tubuh kamu aku potong-potong dan terakhir akan aku berikan potongan tubuh kamu itu kepada buaya di kebun binatang," tutur Edrea yang berhasil membuat Leon bergidik ngeri dengan kekejaman dari kekasihnya itu.
"Kalau sudah di ancam gini aku bisa apa sayang. Jadi daripada aku cari penyakit, mending aku setia dengan satu orang wanita yaitu kamu. Perempuan yang sangat sempurna di mataku," ucap Leon.
"Halah gombal banget sih jadi orang. Udahlah, kita kembali fokus dengan topik pembicaraan kita sebelumnya. Jadi apa alasan kamu melakukan penyamaran sebagai Leon yang aku kenal dan sebagian Mr. Misterius itu?" tanya Edrea.
"Sebenarnya alasannya itu cuma simpel sayang, yaitu---" belum sempat Leon menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka lebar yang membuat dua orang itu mengalihkan pandangannya.
"Huwaaaaa Mommy," tangis Callie yang kini berjalan mendekati kedua orang tersebut.
Sedangkan Edrea dan Leon yang pembicaraannya harus terganggu pun mereka berdecak sebal apalagi dengan Edrea yang sebenarnya masih dendam dengan Callie.
"Urus noh anak kamu. Jangan biarkan dia mendekatiku," ucap Edrea.
"Eh tapi dia manggil nama kamu lho sayang. Dan perlu kamu ingat dia juga anak kamu. Jadi lebih kamu aja sana yang ngurus," ujar Leon.
__ADS_1
"Gak mau. Kamu aja sana. Aku masih ngabek dan marah sama dia soalnya," tutur Edrea yang sekarang justru berjalan menuju ke balkon di kamar tersebut tanpa memperdulikan Callie yang terus meraung dalam pelukan Leon.