
Setelah sampai orang tadi melepaskan tangannya dari pergelangan Zea, kemudian tanpa di duga orang tadi langsung memeluk tubuh Zea sangat erat dan hal itu membuat tubuh Zea seakan-akan membeku.
"Maaf," ucapnya. Zea mengerjabkan matanya.
"Eh ah kenapa malah minta maaf? Lo gak salah Az, gue yang salah tapi gue gak tau letak kesalahan gue dimana?" tutur Zea. Yap orang yang menariknya hingga sampai di rooftop itu adalah Azlan. Setelah dia tadi mengucapkan kalimat jika ia ingin menjauh dari Azlan karena menurutnya ia hanya bisa menyusahkan saja dan setelah dirinya pergi, Azlan langsung berlari dan menghentikan langkah Zea tadi.
"Lo gak salah Ze. Gue yang salah karena entah kenapa perasaan gue tadi sedikit berantakan. Maaf," ucap Azlan tanpa melepaskan pelukannya.
Zea tampak menghela nafas dan membalas pelukan Azlan.
"Baiklah entah siapa yang salah, sama-sama saling memaafkan saja. Dan apa gue masih boleh berteman lagi sama lo?" tanya Zea.
Azlan melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Zea.
"Tentu," ucap Azlan sembari tersenyum.
"Thanks Az." Zea kembali memeluk tubuh Azlan sekilas sebelum melepaskannya lagi.
"Belum makan siang kan?" Zea menggelengkan kepalanya.
Azlan tersenyum kemudian ia menarik pelan tubuh Zea turun dari rooftop sekolah itu.
"Mau kemana?"
"Kekantin. Makan, gue laper. Toh masih 20 menit lagi bel masuk bunyi," ucap Azlan.
Kini dua orang yang masih saling menautkan tangan mereka satu sama lain telah sampai di area kantin dan semua pasang mata yang berada disana kini menatap mereka berdua terlebih mengarah ke tangan yang saling menggenggam itu. Bahkan bisikan para warga sekolah bisa di dengarkan keduanya.
"Az, tangan lo lepasin dulu deh," pinta Zea yang mulai risih dengan tatapan orang-orang disekitarnya. Azlan menoleh kearah Zea dengan kerutan di keningnya.
"Kenapa? Lo gak suka gue gandeng?"
"Bukan gitu, tapi gue risih dilihatin para fans lo."
Azlan kini melihat sekelilingnya dan benar saja banyak pasang mata yang melihat kearah mereka berdua.
"Udah lah biarin aja. Toh mereka lihatin kita juga pakai mata mereka sendiri bukan pinjam ke orang lain."
Zea berdecak dan kembali berjalan menuju salah satu meja yang kosong setelah tangannya lagi-lagi ditarik oleh Azlan.
"Duduk. Jangan kemana-mana biar gue yang pesan makanan," ucap Azlan.
Zea melongo dan mengangguk begitu saja. Setelahnya Azlan pergi dari hadapannya untuk memesan makan siang untuk mereka berdua.
Saat dirinya masih menunggu kedatangan Azlan, ada beberapa orang yang tiba-tiba menggebrak mejanya.
__ADS_1
Brakkk!!!
Suara nyaring tadi mampu membuat dirinya yang tadinya tengah melamun terperanjat kaget.
"Astagfirullah, Maimunah bisa santai dikit gak sih main gebrak-gebrak seenak jidat aja," tutur Zea sembari melihat gerombolan orang tadi.
"Setelah di buang Erland begitu saja terus lo sekarang menggoda Azlan yang udah lama gue incer hah?" ucap Muna, wanita yang selalu mendambakan Azlan dan juga Erland untuk di jadikan kekasihnya.
"Sorry to say ya, gue orangnya paling anti yang namanya goda menggoda sama laki-laki. Gak kayak lo, semua laki-laki tampan harus bisa lo miliki bahkan dengan cara licik sekali pun dan juga tubuh lo pastinya sebagai pancingan mereka agar luluh sama lo. Padahal kan mereka sama sekali gak tertarik sama lo tapi hanya memanfaatkan tubuh lo buat muasin hasrat mereka," tutur Zea.
"Jangan sembarang ngomong ya lo," bentak Muna.
"Hmmm gue ngomong yang sebenarnya tuh gak sembarangan atau pun omong kosong," ujar Zea tak ada rasa takut sama sekali.
Muna mengepalkan tangannya dan dengan cepat ia menampar pipi Zea cukup keras bertepatan dengan tamparan itu, Azlan telah kembali dan menyaksikan itu semua.
Zea tersenyum miring kemudian tanpa Azlan duga, Zea berdiri dan dengan kencang ia menampar balik pipi Muna.
Azlan yang belum sempat menghampiri Zea tadi tersenyum melihat keberanian dan aksi Zea.
"Good girl," gumam Azlan. Kemudian ia beranjak dari tempatnya berdiri tadi menghampiri meja Zea berada.
Baru saja Azlan mendekat, Muna sekarang sudah menggenggam satu gelas yang berisi jus dan berniat untuk mengguyur tubuh Zea tapi sayang jus itu tak mendarat di tubuh Zea melainkan mendarat di punggung Azlan yang tadi sempat melindungi tubuh Zea.
"Az---Azlan," gugup Muna.
"Maaf maaf gue tadi gak bermaksud---" Belum sempat Muna menyelesaikan ucapannya, Azlan sudah memutus ucapan tadi.
"Gak bermaksud apa hah? Semua orang disini juga tau maksud lo tadi," ucap Azlan dengan dingin.
"Tapi gue ngelakuin itu karena dia yang mulai duluan. Ngatain gue jadi wanita gak benar. Tanya aja sama teman-teman gue yang sedari tadi denger langsung perkata itu keluar dari mulut wanita ini," tutur Muna tak terima dan dia juga memasang wajah memelas agar Azlan luluh kepadanya dan membelanya.
Azlan memincingkan sebelah alisnya kemudian ia menatap kearah teman-teman Muna yang tengah mengangguk serentak.
"Lo pikir gue bodoh mau percaya sama omongan lo dan teman-teman lo ini yang pastinya akan bela lo walaupun itu salah sekalipun." Setelah mengucapkan itu Azlan menoleh ke sekelilingnya.
"Apa kalian tau siapa yang mencari masalah terlebih dahulu?" teriak Azlan. Orang-orang yang masih berada di kantin tersebut tampak takut dengan Azlan yang terlihat begitu marah. Kemudian mereka semua menujuk kearah Muna untuk menjawab pertanyaan dari Azlan tadi.
"See, mereka nunjuk lo yang berarti lo adalah biang masalah dari permasalahan ini," tutur Azlan.
"Minta maaf sama Zea sekarang!" perintah Azlan dengan bentakan.
Muna masih terdiam ditempat, tak sudi untuk meminta maaf terlebih dahulu secara menurut dia Zea lah yang sudah bersalah kepadanya bukan dia.
"Az, udah lah. Kita pergi aja dari sini. Lo juga harus ganti baju seragam lo yang basah ini," bisik Zea.
__ADS_1
Tapi Azlan tak menuruti ucapan Zea tadi. Ia malah semakin menatap tajam kearah Muna dengan tangannya ia gunakan untuk menggenggam tangan Zea. Hal itu membuat Muna semakin meradang tapi ia tak bisa menghancurkan Zea saat Azlan berada di hadapannya. Bisa hancur reputasinya di mata Azlan nanti dan ia tak bisa mendapatkan laki-laki itu untuk jadi pasangannya.
"Buruan!" gertak Azlan. Muna kini mendekat kearah Zea dengan tatapan mata kebencian.
"Sorry," ucapnya tak ikhlas.
"Buat apa?" tanya Zea.
"Toh lo minta maaf juga gak ikhlas sama sekali," sambungnya.
Muna menggertakkan giginya. Setelahnya ia menjulurkan tangannya kearah Zea.
"Gue minta maaf untuk semua yang gue lakuin tadi ke lo. Permintaan maaf gue tulus dari hati gue," tutur Muna.
"Lo ngomong apa sih kok gue gak dengar." Tangan Muna yang tak kunjung dibalas oleh Zea pun kini ia tarik kembali.
"Gue minta maaf sama lo. Puas!" teriak Muna dan belum sempat Zea menjawab perkataannya tadi, Muna sudah pergi begitu saja dari hadapannya juga Azlan.
"Lah, berarti gak ikhlas dia minta maafnya. Haish biarin lah anggap aja orang gila," gumam Zea.
"Iya iya anggap aja dia orang gila yang terlalu terobsesi sama gue." Zea memutar bola matanya malas.
"Iya in aja deh. Eh iya hampir lupa. Lo ganti baju dulu sana gih!" perintah Zea.
Bukannya langsung pergi, Azlan malah mendudukkan tubuhnya di kursi tadi dan mulai makan bakso yang tadi ia pesan. Untung saja dua porsi bakso tadi tak jadi sasaran emosi Muna.
"Azlan," teriak Zea.
"Apa?"
"Ganti baju sana!"
"Ck, cuma basah dikit doang toh nanti juga kering sendiri."
Zea yang mulai sebal pun langsung menarik paksa Azlan dan membawa laki-laki itu menuju toilet pria.
"Bakso gue belum habis Ze," protes Azlan.
"Pulang sekolah nanti gue beliin lagi yang penting lo ganti baju dulu. Lo punya baju ganti gak di mobil atau tas lo?" tanya Zea.
Azlan menggelengkan kepalanya.
"Kalau gitu lo tunggu sini jangan kemana-mana. Kalau sampai lo pergi dari sini, gue bunuh lo," ucap Zea dan kini ia segera pergi untuk membeli baju seragam baru untuk Azlan.
Sedangkan Azlan, ia bergidik negeri atas ucapan dari Zea tadi dan kini ia tetap berdiri tegap di depan kamar mandi pria tadi sesuai dengan ucapan Zea. Daripada nyawa melayang ditangan Zea kalau dirinya pergi dari tempat itu sekarang. Cuek-cuek gitu dia juga masih sayang nyawanya.
__ADS_1