The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 187


__ADS_3

Iyas kini sudah kembali kedalam mobilnya setelah berpikir panjang lebar mengenai masalah di kantor polisi tadi. Dan dengan tekat yang bulat akhirnya ia memutuskan untuk tak jadi melaporkan masalah terkait Puri dan juga Edrea setelah video full dari kejadian di sekolah tadi ia tonton. Untung saja temannya yang merupakan kuasa hukum keluarga Aiden berbesar hati mau mengirimkan video tersebut sekaligus untuk membuka matanya, alhasil karena menurut Iyas yang salah memang lah Puri jadi untuk apa ia melaporkan seseorang yang tak bersalah?


Dan mungkin ini juga menjadi kali terakhir dirinya menjadi kuasa hukum dari keluarga Handoko karena setelah ini ia juga akan mengundurkan diri dari kuasa hukum keluarga gila tersebut.


"Ini sama saja sudah menipuku. Untung saja aku tadi sempat lihat gerombolan dari keluarga tuan Aiden. Jika tidak reputasiku akan hancur karena membela orang yang benar-benar bersalah. Huft sudah cukup aku di permainan oleh keluarga tersebut," gumam Iyas dan kini ia meraih ponselnya untuk segera menghubungi Mama Puri.


Disisi lain, tepatnya dirumah sakit, Puri sudah di pindahkan ke ruang rawat inap karena kondisinya sudah lumayan membaik. Dan saat ini sepasang ibu dan anak itu tengah bercengkrama dengan sesekali Mama Puri menyuapi anaknya dengan buah-buahan.


"Apa Mama sudah telepon Om Iyas buat laporin masalah tadi ke kantor polisi?" tanya Puri.


"Kamu tenang saja. Mama sudah telepon Iyas buat nanganin masalah kamu dan mungkin sebentar lagi kita akan mendapat kabar gembira karena perempuan itu akan segera diciduk polisi," tutur Mama Puri yang membuat Puri tersenyum manis.


Lalu setelahnya ia memeluk tubuh sang Mama.


"Makasih Ma. Mama memang yang terbaik selalu membela Puri," ujar Puri.


"Itu sudah menjadi kewajiban Mama sebagai ibu kamu. Sudah-sudah jangan ada adegan melow lagi. Kamu habisin dulu buahnya," tutur Mama Puri sembari melepaskan pelukan dari anaknya tadi.


Puri kembali tersenyum kemudian ia membuka mulutnya lebar-lebar. Mama Puri yang tau jika itu adalah kode agar dirinya menyuapi sang putri pun dengan cepat ia menusuk salah satu buah yang sudah ia potong-potong tadi lalu tangannya tergerak menuju bibir Puri tapi sayang, belum sempat buah itu masuk, ponsel Mama Puri berdering.

__ADS_1


"Bentar Mama lihat siapa orang yang telepon Mama," ujar Mama Puri sembari menaruh kembali garpu tadi lalu tangannya bergerak mengambil ponselnya.


"Siapa Ma?" tanya Puri kepo.


"Iyas. Pasti dia sudah berhasil melaporkan keluarga itu kepolisi," tutur Mama Puri.


"Kalau begitu tunggu apa lagi. Angkat Ma," ucap Puri yang sudah tak sabar menunggu kabar bahagia yang tentunya akan menguntungkan baginya. Tidak tau saja dia apa yang sebenarnya terjadi dengan Iyas tadi.


Mama Puri pun menganggukkan kepalanya lalu dengan cepat ia menggeser ikon telepon berwarna hijau lalu ia menempelkan ponselnya ke telinganya.


"Halo, gimana? sudah berhasil kan?" tanya Mama Puri.


📞 : "Sebelumnya saya minta maaf kepada nyonya juga tuan ataupun nona Puri karena saya mulai hari ini dengan resmi akan mengundurkan diri menjadi pengacara keluarga Handoko. Dan untuk masalah tadi saya membatalkan untuk melaporkannya ke kantor polisi," tutur Iyas yang membuat Mama Puri kini melebarkan matanya.


"Apa kamu bilang? kamu tidak jadi melaporkan kasus Puri ke polisi?" teriak Mama Puri yang membuat Puri mengerutkan keningnya karena anak itu diam-diam memperhatikan Mamanya walaupun ia tak bisa mendengar suara dari Iyas.


📞 : "Benar nyonya. Saya tidak jadi melaporkan kasus nona Puri ke kantor polisi. Karena apa yang nyonya tadi ceritakan ke saya bukanlah cerita yang sebenarnya. Dan jika saya melaporkan hal itu tadi ke polisi, itu sama saja saya melakukan penipuan," ujar Iyas.


"Jadi menurut kamu, saya menipu kamu gitu? yang benar saja, buat apa saya menipu kamu tidak ada untungnya sama sekali. Dan cerita saya tadi benar-benar apa adanya, dimana coba ada unsur penipuan?" tutur Mama Puri dengan hati yang mulai gelisah.

__ADS_1


📞 : "Tidak perlu mengelak lagi nyonya karena saya sudah melihat bukti nyatanya. Jadi seperti yang saya ucapkan sebelumnya jika mulai hari ini saya Iyas Pratama secara resmi mengundurkan diri sebagai pengacara keluarga Handoko. Untuk memperjelas pengunduran saya biar saya nanti bertemu langsung dengan tuan Handoko untuk membicarakan ini semua. Dan saya ucapkan terimakasih atas kebaikan yang keluarga Handoko berikan ke saya. Selamat siang," ucap Iyas dan setalahnya ia mematikan sambungan telepon tadi tanpa menunggu persetujuan dari Mama Puri.


"Halo, halo. Iyas! Arkhhhh sialan," geram Mama Puri saat ia melihat layar ponselnya.


"Pengacara yang tak tau diri, sombong, bodoh lagi tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang salah. Gak guna juga punya pengacara seperti dia. Memang lebih baik dia mengundurkan diri saja dari pengacara keluarga Handoko. Tidak ada pantas-pantasnya dia disebut sebagai pengacara atau kuasa hukum. Otak masih dangkal saja sombongnya minta ampun. Emang dia pikir dengan dia mengundurkan diri kita tidak bisa cari pengacara lain? tentu saja sangat bisa bahkan pengacara yang jauh lebih hebat dari dia saja kita bisa menyewanya. Keluarga Handoko menggunakan dia sebagai pengacara karena kasihan saja karena dia tidak ada klien yang ia tangani masalahnya. Huft dasar pengacara bodoh, tidak tau terimakasih sama sekali. Jika saja keluarga Handoko tidak membantu dia pasti dia dan keluarganya menjadi gelandangan," gerutu Mama Puri.


"Mama tenang dulu. Minum gih," ujar Puri sembari menyodorkan sebotol air mineral kearah sang ibu. Dan dengan cepat Mama Puri menyaut botol tadi lalu ia langsung meminum isinya.


"Kalau Mama sudah mulai tenang cerita sama Puri, apa yang sudah terjadi sama Om Iyas," tutur Puri yang membuat sang Mama menatap kearahnya dengan tatapan serius. Lalu beberapa detik kemudian ia menghela nafas.


"Dia tidak jadi melaporkan masalah kamu ke kantor polisi bahkan dia juga mengundurkan diri dari pengacara keluarga kita," ucap Mama Puri.


Puri yang mendengarkan penuturan dari sang Mama pun kini membelalakkan matanya.


"Apa? kok bisa?"


"Mana Mama tau. Tapi kata dia tadi, dia sudah melihat bukti yang sebenarnya. Entah bukti apa Mama juga tidak tau," jawab Mama Puri. Dan tanpa ia ketahui, Puri sekarang tengah menggenggam erat selimut yang menutupi kakinya.


"Sial. Bukti apa yang sudah di lihat Om Iyas. Tidak mungkin jika bukti itu berupa foto-foto sialan itu? jika memang foto-foto itu, gue gak akan pernah melepaskan orang-orang yang sudah menyebarkan foto tersebut. Dan gue pastikan jika dia akan sama hancurnya dengan Edrea. Kalian semua yang sudah menghancurkan gue hari ini tunggu saja tanggal mainnya. Kehancuran itu akan berbalik ke kalian semua," batin Puri dengan kobaran kebencian yang teramat besar dihatinya.

__ADS_1


__ADS_2