
Sesuai dengan perkataan Daddy Aiden semalam, jika hari ini adalah hari keberangkatan Zico ke Rusia untuk pengobatannya. Dan bukan hanya Zico sendiri yang pergi ke negara itu hari ini, melainkan akan di temani oleh Daddy Aiden juga Mommy Della yang khawatir jika Zico akan kambuh saat di dalam pesawat. Walaupun pesawat itu merupakan pesawat pribadi yang hanya di tumpangi Zico dan beberapa anak buah Daddy Aiden yang akan mengawasinya selama laki-laki itu di sana, tapi bisa saja Zico mengamuk dan menghabiskan mereka semua, kan bisa bahaya. Dan untuk mengindari hal yang dikhawatirkan terjadi, alhasil mereka berdua memutuskan untuk ikut dalam perjalanan tersebut walaupun mereka nantinya hanya bolak-balik dan tak menetap disana selama beberapa hari karena harus mengurus kasus Zico di pengadilan.
"Kita berangkat dulu. Kalian dirumah jangan ribut mulu," ucap Mommy Della.
"Kalau sampai ribut dan berakhir rumah jadi kapal pecah, nama kalian bakal Dad coret dari kartu keluarga," ancam Daddy Aiden yang membuat ketiga anaknya berdecak sebal. Meraka juga tidak akan segila itu jika bertengkar dan menyebabkan kehancuran dalam rumah mereka. Kaya sih kaya tapi mereka masih punya otak untuk tak melakukan apa yang di ucapkan Daddy Aiden tadi.
"Vi, titip mereka ya. Kalau mereka nakal, cubit aja gak papa, Mom izinin," ujar Mommy Della yang diangguki oleh Vivian.
"Punya orangtua jahat banget sih. Kayak senang gitu lho lihat anaknya menderita. Heran aku tuh, gak habis pikir," ucap Erland dramatis.
"Iya ih. Harusnya kan disayang-sayang, dimanja lah ini, nauzubillah," timpal Edrea.
"Heh Maimunah, kurang apa coba Dad sama Mom sayang dan manjain kalian. Coba katakan hal apa dan barang apa yang kalian minta tidak kita berikan? katakan hmmm?" Edrea menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari menampilkan cengiran khasnya. Memang benar mereka sangat-sangatlah dimanja oleh kedua orangtuanya dan sepertinya ucapan dari Edrea tadi sangat salah besar.
"Gak Dad kasih uang jajan baru tau rasa kamu. Udah yuk berangkat aja, darah tinggi lama-lama disini," ujar Daddy Aiden sembari menggandeng tangan Mommy Della.
"Dih, Si kakek baperan." Daddy Aiden memelototkan matanya mendengar ucapan dari Edrea tadi.
"Oke fiks kamu gak Dad kasih uang jajan. Titik gak pakai koma."
"Ih kok gitu. Canda elah Dad. Jangan gitu dong sama anak sendiri. Tolonglah beri anak cantik anda ini uang," ujar Edrea.
"Gak."
__ADS_1
"Ayolah Dad. Maaf, maaf Rea tadi cuma bercanda beneran. Ya mana ada sih kakek-kakek setampan Daddy begini. Udah tampan ditambah gagah, juga kaya lagi duh idaman deh. Iya kan Mom?" Mommy Della yang dibawa-bawa pun mengerutkan keningnya.
"Ih apaan Mom dibawa-bawa segala. Udah ah mau berangkat kita. Yuk Jio kita berangkat," ucap Mommy Della lalu ia melepaskan genggaman tangan Daddy Aiden dan mendekati Zico yang tengah berpamitan dengan Vivian.
"Baik-baik disana sayang. Kakak disini akan selalu nungguin kamu kembali dengan keadaan yang jauh lebih baik dari ini. Jangan kambuh lagi ya sayang. Kontrol emosi kamu ya disana. Love you, littel boy," tutur Vivian sembari memeluk tubuh Zico yang tengah meneteskan air matanya.
"Doakan Jio selalu Kak, karena doa Kakak lah yang akan buat Jio melewati ini semua," ujar Zico yang langsung mendapat anggukan dari Vivian.
"Selalu sayang. Doa Kakak akan selalu bersama Jio dimanapun kamu berada." Vivian kini melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Zico dengan lekat kemudian ia mencium setiap inci wajah Zico kecuali bibir adik laki-lakinya itu. Dan setelah selesai, Zico pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Vivian sebelumnya.
"Love you more Kak," ucapnya.
Setelahnya ketiga orang itu juga beberapa anak buah Daddy Aiden mulai menjauh dari keempat pemuda-pemudi itu yang sedang melambaikan tangannya kearah mereka dan setelah beberapa orang itu tak terlihat lagi, triplets dan Vivian mulai keluar dari bandara.
"Kak Vi selama Daddy sama Mommy nganter Zico eh Jio ke Rusia, Kakak tidur di rumah kita kan?" tanya Edrea sembari bergelayut manja di lengan Vivian. Hubungan triplets juga Vivian sudah kembali membaik dari sebelumnya.
"Syukur deh kalau gitu," ujar Edrea dan tak berselang lama, mereka semua telah sampai di depan mobil Azlan.
"Kalian pulang dulu. Kakak ada janji sama klien."
"Janjinya dimana?" tanya Azlan.
"Di F&G Cafe."
__ADS_1
"Ya udah naik. Gue antar sampai sana. Lagian tadi kalau ada janji gak pakai mobil sendiri atau kalau gak tadi nyuruh sopir Daddy buat nungguin sebentar," ucap Azlan.
"Lupa tadi mau bilang sopir," ujar Vivian sembari nyengir kuda.
"Ya udah naik sekarang!" perintah Azlan yang langsung dituruti oleh Vivian. Kemudian setelah semuanya aman, mobil yang dikendarai oleh Azlan melaju dengan kecepatan normal.
Beberapa menit setelahnya, mobil itu berhenti di sebuah Cafe yang disebutkan oleh Vivian sebelumnya.
"Kalian hati-hati. Kalau ada apa-apa dijalan langsung kabarin aku." Triplets dengan serempak menganggukkan kepalanya dan setelahnya Vivian keluar dari mobil tersebut dan mulai masuk kedalam Cafe tadi.
Setelah memastikan perempuan itu benar-benar masuk, barulah Azlan kembali menjalankan mobilnya.
Tak ada percakapan yang terjadi didalam mobil itu, mereka semua sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing hingga tiba-tiba Edrea bersuara.
"Bang," panggil Edrea yang hanya mendapat deheman dari kedua Abangnya itu.
"Kita gangguin bang Adam yuk. Udah lama juga kita gak ketemu sama dia sejak nanganin masalah menyebalkan itu," ucap Edrea.
Erland yang tadinya sedang sibuk membalas chat dari wanita kesayangannya yang juga sudah lama tak ia lihat dan bertukar kabar pun kini menoleh kearah adiknya.
"Boleh juga tuh. Dirumah juga mau ngapain kita," tutur Erland.
"Bang Az gimana? setuju gak?" tanya Edrea yang sekarang sudah menongolkan kepalanya di tengah-tengah kursi Azlan dan Erland.
__ADS_1
"Sopir mah ngikut aja. Sekalian malak dia. Udah lama kita gak dapat traktiran dari bang Adam," ucap Azlan yang membuat Edrea tersenyum lebar.
"Yuhuuuuuu let's go!" teriak Edrea excited. Sedangkan Azlan dan Erland hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Edrea yang selalu heboh dimana-mana dan tak tau situasi jika tadi ia teriak tepat di samping telinga kedua Abangnya. Untung saja Azlan dan Erland dalam mode kalem kalau saja keduanya dalam mode singa jantan sudah pasti Edrea kena semprotan tajam dari dua laki-laki itu.