The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 117


__ADS_3

Daddy Aiden pulang dengan menyetir mobil seperti orang kesetanan, tak peduli setiap umpatan yang ia dapatkan dari pengendara lain. Yang terpenting sekarang ia harus sampai rumah dengan secepat kilat. Dan akhirnya setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, Daddy Aiden telah sampai di mansion rumahnya dan tanpa ba-bi-bu lagi, ia langsung berlari masuk kedalam rumah. Bahkan pintu ia buka dengan kasar.


Saat pintu itu terbuka lebar, matanya bisa menangkap beberapa orang yang tengah berkumpul di dalam satu ruangan yaitu di dalam ruang tamu dan satu orang yang membuat hatinya sakit saat melihat orang itu sekarang tengah kacau dan terus menangis di pelukan anaknya. Dan orang itu adalah Istrinya tercinta, istri yang tak pernah ia biarkan meneteskan air mata kesedihan tapi sekarang dia tampak rapuh, tak ada lagi senyum yang selalu menyambutnya ketika dirinya sampai di rumah tersebut.


Daddy Aiden melangkahkan kaki lebar hingga membuat para maid yang ikut khawatir akan keadaan Edrea pun langsung memberikan jalan tuannya agar bisa leluasa berjalan menuju kearah nyonya rumah tersebut.


"Sayang," panggil Daddy Aiden sembari mengelus kepala Mommy Della dengan lembut. Mommy Della yang mendengar suara suaminya pun langsung melepaskan pelukannya dari Azlan dan segera menengadahkan kepalanya, menatap wajah Daddy Aiden.


"Rea Dad hiks dia dimana sekarang hiks," ucap Mommy Della dengan sesegukan.


Daddy Aiden yang tak tega pun langsung duduk di sofa yang tadi di gunakan Azlan setelah itu ia langsung memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat.


"Tenang sayang. Rea gak akan kenapa-napa kok. Aku udah kerahin semua anak buahku buat cari dia," tutur Daddy Aiden mencoba menenangkan Mommy Della. Tapi perlu waktu untuk menenangkan Mommy Della yang terus saja meraung-raung menginginkan anak perempuannya berada di rumah ini sekarang juga.


Dan setelah 1 jam lamanya, Mommy Della tampak lebih tenang dari sebelumnya walaupun masih saja menangis.


"Az, Er, bisa bantu Daddy?" Azlan dan Erland yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya untuk memantau anak buah mereka pun langsung mengalihkan pandangannya kearah sang Daddy.

__ADS_1


"Bantu apa Dad?" tanya Erland.


"Tolong ambilkan laptop yang ada di ruang kerja Daddy." Erland pun mengangguk kemudian mulai beranjak dari duduknya menuju lantai dua mansion tersebut yang di lantai itu terdapat ruang kerja Daddy Aiden.


"Daddy butuh bantuan lagi?" tanya Azlan pasalnya yang dipanggil tadi bukan hanya Erland saja melainkan dirinya juga.


"Tolong cek ponsel Daddy. Apa ada yang kasih kabar tentang pencarian Rea." Daddy Aiden menyerahkan ponselnya kearah Azlan dan langsung di terima oleh sang empu. Kemudian ia mulai mengotak-atik ponsel tersebut yang untungnya tak membutuhkan sandi untuk membukanya.


Hanya butuh beberapa menit saja Azlan memeriksa ponsel tersebut tapi tak ada satu pun pesan dari anak buah Daddy Aiden di ponsel tersebut.


Tak berselang lama, Erland sudah turun kebawah dengan membawa dua laptop di tangannya. Ia tak tau laptop mana yang di maksud oleh Daddy Aiden tadi. Jadi dari pada dirinya nanti bolak-balik lebih baik ia membawa keduanya sekalian.


"Nih Dad," ucap Erland sembari menaruh dua laptop tadi di meja depannya.


"Terimakasih." Erland menganggukkan kepalanya. Setelah itu perlahan Daddy Aiden merebahkan tubuh istrinya diatas sofa yang cukup panjang. Dan setelah tubuh itu berhasil berpindah tempat, Daddy Aiden mencari sofa yang masih kosong untuk ia duduki. Lalu ia segera membuka salah satu laptop yang berwarna hitam dan mulai fokus dengan layar laptop tersebut.


Azlan dan Erland yang mulai kepo dengan apa yang Daddynya kerjakan pun mereka mendekat dan ikut menyimak tampilan di laptop tersebut.

__ADS_1


"Ck, kenapa ponselnya bisa mati," geram Daddy Aiden. Ia tadi membuka sebuah aplikasi pelacak yang selalu terhubung dengan ponsel istri, anak-anaknya bahkan para pekerja rumah tersebut ia bisa mengetahui dimana orang itu pergi. Para pekerja pun juga tau kalau mereka sedang diawasi karena itulah salah satu syarat untuk bisa bekerja di mansion tersebut. Sedangkan anak-anaknya tak ada yang tau jika mereka tengah di awasi. Kalau Mommy Della sudah jelas tau karena setelah kejadian beberapa tahun yang lalu membuat dirinya trauma berat dan saat aplikasi pelacak itu di tempelkan di ponselnya, ia bisa sedikit bernafas lega karena setidaknya kemana dan dimana pun dia pergi ia masih di lindungi oleh suaminya. Tapi selain ponsel dia juga memiliki sebuah benda yang selalu terhubung dengan sang suami.


Azlan dan Erland yang mendengar geraman Daddy Aiden pun langsung saling bertatapan dan seperkian detik kemudian mengalihkan pandangannya kembali kearah Daddynya yang masih saja sibuk dengan laptop di depannya.


"Emang kenapa Dad?" tanya Azlan penasaran.


"Kalau ponsel dia mati otomatis Daddy gak bisa lacak dia dimana sekarang. Dan dia juga gak kasih sinyal bahaya," jawab Daddy Aiden yang membuat dua saudara kembar itu ber-oh ria.


"Terus kita harus gimana Dad?" tanya Erland.


"Kita tunggu info dari anak buah Daddy dan anak buah kalian. Daddy tau kalau kalian punya anak buah dan segala macam lainnya, jadi tak perlu mengelak lagi," tutur Daddy Aiden yang membuat Azlan dan Erland tampak melongo. Padahal sebisa mungkin ia menyembunyikan hal itu dari Daddynya karena ia takut jika ketahuan Daddy Aiden akan murka ke mereka. Walaupun ia tak pernah melihat kemurkaan Daddy Aiden selama mereka hidup di dunia ini. Tapi tak hayal, mereka bisa melihat dan membayangkan jika Daddynya itu murka yang pastinya tak akan pernah melepaskan siapa orang yang membuat dirinya naik pitam. Dan hanya membayangkannya saja mereka akan takut apalagi sampai melihatnya secara langsung, bisa mati berdiri mungkin.


...****************...


Saat di mansion keluarga Abhivandya tengah dilanda kekhawatiran dengan kondisi nona muda dirumah tersebut, sedangkan orang yang tengah mereka khawatir kini tengah leha-leha menikmati udara malam di sebuah balkon kamar entah milik siapa dia tak tau.


"Enak sih di sini. Udaranya segar banget. Tapi gue juga gak bisa lama-lama dirumah orang yang gue aja gak tau dia siapa," ucap Edrea dengan diakhiri helaan nafas. Ia sedari tadi memikirkan berbagai cara agar bisa keluar dari kamar tersebut. Bahkan ia tadi mencoba membuka pintu kamar itu dengan menggunakan jepit rambutnya dan berhasil tapi sayang baru saja ia membuka pintu, dirinya sudah ditangkap lagi walaupun ia memberontak tapi tenaganya kalah kuat dengan dua bodyguard yang menyeret tubuhnya untuk kembali masuk kedalam kamar tersebut. Dan alhasil dirinya hanya bisa pasrah dan memikirkan cara lain untuk bisa keluar dari kamar terkutuk ini. Bahkan dirinya sedari tadi tak di kasih makan. Ck, benar-benar orang yang menculiknya itu sepertinya ingin membunuhnya secara perlahan.

__ADS_1


__ADS_2