
Zico yang sedari tadi berada di tengah-tengah sepasang kekasih yang lagi bertengkar itu pun ia kini menghela nafas. Ia tau dan sadar jika sumber dari pertengkaran keduanya adalah dirinya sendiri. Dan dengan mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya, Zico kini mendekati keduanya.
"Sudah-sudah jangan bertengkar. Disini Rea tidak salah apapun. Tapi akulah yang salah. Jadi jangan salahkan Edrea dalam permasalahan ini. Dan kamu, Rea. Aku gak papa, pukulan yang dia berikan kepadaku tidak sebanding dengan usaha dia untuk melindungi kamu selama ini. Aku tau kenapa dia seperti itu tadi, dia hanya tidak mau kejadian di masa lalu terulang kembali dimana aku pernah menyakitimu. Jadi untuk itu aku bisa memaklumi dirinya walaupun aku sekarang tidak akan pernah menyakitimu lagi karena aku yang sekarang bukanlah aku 1 tahun yang lalu. Tapi walaupun begitu, kewaspadaan harus tetap diutamakan," ujar Zico dengan mengembangkan senyumnya sembari menatap kearah Edrea dan Leon secara bergantian walaupun tatapan Leon masih saja tajam seperti sebelumnya. Namun hal itu tak membuat Zico takut sedikitpun, bahkan dirinya kini mengulurkan tangannya di hadapan Leon.
"Oh ya, kita belum saling kenal kan.. Hmmm lebih tepatnya mungkin kamu yang belum kenal aku karena aku sudah kenal kamu sebelumnya," sambung Zico.
Leon yang mendapat sodoran tangan dari Zico pun ia hanya menatap nanar tangan tersebut tanpa berniat untuk membalasnya. Hingga Edrea yang jengkel kepada calon suaminya itu, ia segara mencubit lengan Leon yang membuat sang empu menolehkan kepalanya kearah Edrea dengan rintihan kesakitan.
"Apaan sih sakit tau," geram Leon.
"Balas uluran tangannya. Jangan marah-marah mulu. Cepat tua baru tau rasa kamu," balas Edrea yang sudah kembali mengganti panggilan yang semulanya lo-gue menjadi aku-kamu kembali setelah emosinya sudah kembali stabil.
"Gak. Aku gak mau." Edrea yang mendengar penolakan dari Leon pun ia mendelik tak suka.
"Oh jadi kamu gak mau balas jabatan tangan dia. Oke gak papa, tapi jangan salahkan aku kalau kamu nanti setelah nikah sama aku, malam pertamanya tidur di luar," ancam Edrea yang langsung membuat Leon melebarkan matanya.
"Ihhh kok gitu. Mana ada, gak bisa gak bisa. Enak aja. Ya kali malam pertama tidur di luar. Gak, gak. Aku gak mau," ujar Leon.
"Kalau gak mau. Makanya balas jabatan tangan dia. Jangan bikin aku tambah emosi ya sama kamu," tutur Edrea masih dalam mode garang. Leon yang mendengar penuturan dari Edrea itu pun ia berdecak sebal bahkan bibirnya kini maju beberapa senti kedepan.
Sedangkan Zico yang sedari tadi memperhatikan keduanya dan tak tau apa yang tengah mereka berdua bicarakan pun, perlahan ia menurunkan tangannya yang sudah pegal karena tak kunjung mendapat balasan dari seseorang yang ingin ia ajak berkenalan.
Dan dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal, Zico kembali angkat suara.
"Sudah tidak apa-apa, Re. Kalau dia gak mau kenalan sama aku jangan di paksa." Sepasang kekasih itu kini mengalihkan pandangannya kearah Zico.
"Eh gak bisa gitu dong. Lo tadi udah punya niat baik buat ajak dia kenalan. Gue sebagai calon bini dia harus mengajarkan dia cara menghargai orang lain. Bukan malah membiarkan dia bertingkat seperti anak kecil begini," ujar Edrea.
"Siapa yang kayak anak kecil?" tanya Leon tak terima.
"Kamu lah, siapa lagi coba," jawab Edrea dengan nada suara yang tak santai.
"Aku bukan anak kecil ya. Aku udah dewasa."
"Dewasa kok gampang marah, gampang ngambek, gak bisa nahan emosi kayak tadi. Kalau kayak gitu dewasanya dari mana coba," ucap Edrea.
"Ya siapa gak emosi coba kalau lihat calon bini malah pelukan sama laki-laki lain yang notabenenya mantan gebetannya dulu. Ya siapapun orangnya walaupun bukan cuma aku, tetap saja panas lah," ujar Leon membela dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kan cuma mantan gebetan. Toh sekarang aku juga udah jadi milik kamu. Lagian aku juga udah gak punya rasa sama Jio lagi. Dan aku yakin Jio gak punya rasa sama aku entah itu dulu ataupun sekarang. Iyakan?" Zico yang mendapat pertanyaan secara mendadak yang sayangnya perkataan dari Edrea tadi benar semua, ia kini tampak nyengir hingga deretan giginya terlihat sembari menganggukkan kepalanya. Ya, dia dulu ataupun sekarang tidak memiliki rasa yang lebih kepada Edrea. Dan apa yang dulu pernah ia lakukan kepada Edrea melalui perhatian ataupun yang lainnya, itu semua bukan atas rasa cinta melainkan ia peduli dengan Edrea dan berusaha untuk melindungi Edrea dadi karakter Zico yang lainnya.
"Apa yang dikatakan oleh Rea tadi benar. Aku tidak memiliki rasa sedikitpun kepada dia. Mungkin rasa sayang ada, tapi hanya sebatas rasa sayang dari seorang Kakak dengan Adiknya. Aku sudah menganggap Edrea sebagai Adikku sendiri. Jadi kamu jangan khawatir kalau aku akan merebut Edrea dari kamu. Kamu sudah jadi milik dia, dan dia sudah menjadi milik kamu. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kalian karena aku tau kisah cinta kalian berdua yang begitu dramatis tapi romantis itu. Ya walaupun kematian yang bisa memisahkan kalian tapi setidaknya bukan orang lain yang menghancurkan kisah kalian berdua. Jadi kamu, tidak perlu khawatir lagi," ucap Zico dengan menepuk-nepuk bahu Leon.
"Oh ya, aku juga mau berterimakasih ke kamu karena kamu dulu yang memberitahu keluarga ini posisiku saat itu dimana dan aku juga berterimakasih karena kamu sudah menangkapku waktu itu. Jika waktu itu kamu tidak melumpuhkanku, aku yakin sampai sekarang mungkin aku masih menjadi seorang Zico dengan karakter buatanku yang sangat kejam itu. Dan mungkin aku akan lebih brutal dari apa yang aku lakukan dulu. Jadi terimakasih karena kamu, aku bisa menjadi diriku sendiri sekarang. Terimakasih karena dirimu, aku keluar dari siksaan yang aku buat sendiri. Thanks tuan Elsworth Leonardo Grissham," sambung Zico diakhiri dengan ia membungkukkan badannya 90° tepat dihadapan Leon.
Leon yang mendengar perkataan Zico tadi ia sempat tertegun apalagi saat mendengar nama panjangnya keluar dari bibir laki-laki yang dulu ia anggap lelaki mematikan itu.
Bahkan ia sekarang berpikir, apa penyamaran dia dulu benar-benar sangat mudah di kenali dan di bongkar oleh seseorang. Hingga musuhnya saja bisa mengenali dia tanpa ragu sedikitpun.
Sedangkan Edrea yang turut mendengar penuturan dari Zico tadi pun ia kini menoleh kearah Leon begitupun dengan ke-lima orang yang sedari tadi mengamati setiap adegan di depannya.
"Jadi waktu itu yang ngasih tau alamat persembunyian Jio itu kamu?" tanya Edrea.
"Orang itu bukan Jio tapi Zico," ralat Zico.
"Hah?" bengong Edrea yang tak mengerti arah dan tujuan dari ucapan Zico tadi.
"Ck, panggil orang nakal itu Zico. Karena kalau Jio itu karakter aku yang sebenarnya. Dan aku tidak terima kalau nama Jio harus di sandingkan dengan nama Zico," ucap Zico tak terima.
"Waktu itu yang ngasih tau alamat persembunyian Zico kamu, El?" ulang Edrea yang membuat Leon kini menghela nafas.
"Sepertinya tanpa aku jawab kamu juga udah tau, sayang. Orang nomor yang aku pakai waktu itu sama dengan nomor yang sering aku gunakan untuk menghubungi kamu," ujar Leon.
Edrea yang baru sadar jika waktu itu dirinya pernah mencocokkan nomor Mr. Misterius dengan nomor yang memberitahu alamat persembunyian Zico di dalam ponsel Daddy Aiden pun ia kini menepuk keningnya sendiri.
"Eh iya aku lupa. Kamu sama Mr. Misterius kan orang yang sama," ujar Edrea yang diangguki oleh Leon.
Tapi sesaat setelahnya, Edrea dan Leon yang menyadari sesuatu pun ia kini menatap kembali kearah Zico yang kini tengah menatap bingung kepada kedua orang tersebut.
"Kenapa kalian natap aku seperti itu?" tanya Zico heran.
"Sebentar-sebentar." Edrea kini melangkahkan kakinya mendekati Zico dan saat dirinya berhadapan langsung dengan laki-laki itu, ia menatap wajah Zico dengan lekat.
Sedangkan Leon yang berada di belakang Edrea, ia mulai pasang badan dan was-was, takut jika Zico akan melukai Edrea maupun dirinya. Sebenarnya bukan hanya mereka saja yang was-was mendengar nama Zico kembali terucap lantang di depan orangnya langsung, melainkan keempat kecuali Zea yang tak tau apa-apa pun juga turut siap siaga. Takut-takuf ada penyerangan mendadak dari karakter buatan Zico.
"Lo gak berubah?" tanya Edrea tanpa mengalihkan pandangannya kearah Zico.
__ADS_1
"Hah? berubah? maksudnya gimana? Aku bukan Ultraman ataupun power rangers yang bisa berubah," ujar Zico tak paham.
"Ck, maksud gue tuh lo udah gak bisa berubah jadi karakter buatan Lo saat kita panggil Lo dengan nama Zico? Kan dulu lo langsung berubah 180° saat kita panggil Lo dengan nama itu," ucap Edrea yang justru membuat Zico terkekeh. Tapi respon dari Zico itu justru membuat semua orang kini semakin waspada.
"Udah jangan takut. Aku udah sembuh kok. Ya walaupun belum sembuh total tapi setidaknya aku sudah bisa menghilangkan karakter buatanku itu. Jadi jika kalian sekarang panggil aku dengan sebutan Zico, Jio atau apapun, sudah tidak akan mempengaruhiku lagi. Karena karakter buatanku sudah mati sekarang," ujar Zico dengan senyum tulusnya.
"Lo yakin sudah sembuh? Dan Lo yakin karateker itu hilang sepenuhnya?" tanya Leon untuk memastikan. Bahkan ia sudah melupakan alasan kenapa dirinya tadi mengamuk hingga sempat melayangkan sebuah bogeman di pipi Zico.
"Iya, aku yakin dia gak akan bisa hidup lagi. Dia sudah hilang dari diriku dan dari hidupku," ujar Zico yang membuat semua orang disana kini menghela nafas lega.
"Dan itu semua berkat kalian semua. Terimakasih karena berkat bantuan kalian aku bisa bebas dari penyakit itu," sambung Zico dengan menatap satu-persatu orang-orang di sekitarnya.
Dan hal tersebut membuat Mommy Della yang sedari tadi merekam adegan di depannya pun ia kini menghentikan aktivitasnya tadi. Dan ia langsung berlari kearah Zico lalu memeluk tubuh laki-laki tersebut.
"Mommy juga berterimakasih sama kamu, Jio. Karena kamu sudah berusaha untuk melepaskan karakter buatanmu itu. Mommy yakin itu tidak mudah untuk kamu, tapi Mommy bangga karena kamu bisa melewati itu semua dan berhasil keluar dari rasa sakitmu itu. Terimakasih nak, kamu kembali dengan dirimu yang asli dan terimakasih sudah bertahan untuk bisa kembali sembuh seperti semula," ujar Mommy Della dengan memberikan satu kecupan di puncak kepala Zico.
Zico yang merasakan pelukan hangat dan kecupan singkat dari seorang ibu yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan pun, hatinya terasa menghangat bahkan setitik air mata keluar begitu saja tanpa permisi.
"Terimakasih Tante karena bantuan Tante, Jio sekarang sembuh. Terimakasih banyak tan," ucap Zico. Mommy Della menggelengkan kepalanya tak setuju dengan ucapan dari Zico tadi. Bahkan ia kini melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah laki-laki di depannya itu.
"Mommy hanya memberikan kamu sedikit bantuan saja. Dan kesembuhan kamu itu berkat dirimu sendiri. Jadi berterimakasihlah ke dirimu dan juga ke sang maha pencipta. Karena jika bukan kehendak yang diatas, kita semua termasuk kamu tidak akan bisa melewati jalan hidup kita yang penuh terjangan ini. Dan satu hal yang perlu kamu garis bawahi, jangan lupa untuk selalu bersyukur dimanapun kamu berada. Jangan melupakan tuhanmu dan jangan kembali kepada kesalahanmu yang dulu. Cukup jadikan pelajaran untukmu dan jika kamu memiliki masalah, sekarang ceritakan ke Mommy apapun masalahnya akan Mommy dengar dan akan Mommy bantu pecahkan masalah yang sedang kamu hadapi. Jangan ragu untuk melakukan hal itu karena kamu sekarang sudah Mommy anggap sebagai anak Mommy sendiri. Jadi Mommy berpesan kepadamu jangan panggil Mommy dengan sebutan Tante lagi, tapi panggil saja dengan sebutan Mommy seperti Kakak kamu, Leon dan juga anak Mommy yang lainnya. Kamu mengerti nak?" Zico yang sedari tadi sudah menahan air matanya yang terasa mengumpul di kantung matanya karena mendengar kata-kata Mommy Della tadi pun kini air matanya berhasil tumpah ruah membasahi kedua pipinya.
Mommy Della yang melihat air mata Zico pun ia kembali mendekap tubuh Zico dengan sangat erat untuk menyalurkan ketenangan kepada laki-laki yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri.
Pelukan itu masih saja Mommy Della berikan kepada Zico, hingga suara deheman dari seseorang terdengar memenuhi ruangan tersebut.
"Ehemmm." Delapan orang yang berada di ruang tamu pun dengan seketika mengalihkan pandangannya kearah sumber suara dimana disana sudah berdiri seorang laki-laki paruh baya yang masih saja terlihat gagah dengan balutan pakaian formalnya.
Zico yang tadi menatap orang itu kini ia menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajah apalagi mata dari laki-laki itu yang merupakan kepala keluarga sekaligus pemilik rumah yang tengah ia kunjungi, siapa lagi kalau bukan Daddy Aiden.
Bahkan ia sekarang menahan nafasnya saat mendengar langkah kaki Daddy Aiden yang semakin mendekati dirinya.
Mommy Della yang mengerti akan situasi saat ini pun ia segera menarik tubuh Zico agar berada di belakang tubuhnya. Ia takut jika Zico akan mendapat amukan dari Daddy Aiden karena laki-laki itu tadi melihat istrinya di pelukan oleh laki-laki lain. Tau sendiri kan jika seorang Daddy Aiden merupakan suami posesif yang tak ada duanya. Anak kandungnya saja di cemburui apalagi orang lain. Tau sendirilah akibatnya akan jadi apa orang yang telah berani menyentuh miliknya itu. Dan hal itu lah yang sekarang di takuti oleh Mommy Della. Ia takut suaminya itu akan khilaf dan berakhir menghilangkan nyawa Zico nantinya.
...****************...
Kok author belum ikhlas ya kalau cerita ini harus tamat😣 Jadi berhubung author masih belum ikhlas ninggalin ini cerita, author akan tamatin cerita ini di akhir bulan. Kalian setuju kan? Apa kalian justru udah bosen? Coba komen dong kalian tim mana, udah bosen atau masih mau lanjut? author tunggu. Jangan lupa Like, vote dan hadiahnya juga ya. Love you... gak bales dosa!!!
__ADS_1