
Setelah pihak kepolisian tersebut pergi dari area sekolah tersebut, Edrea dan Zea mendekati kekasih mereka masing-masing. Sedangkan Mommy Della, ia kini langsung berlari kearah Daddy Aiden dan berujung dirinya kini memeluk tubuh suaminya itu.
"Kamu gak papa kan? ada yang luka?" tanya Edrea sembari melihat keadaan Leon dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Leon yang mendapat perhatian dari Edrea pun ia kini tersenyum sembari tangannya bergerak untuk mengacak rambut Edrea.
"Aku baik-baik saja. Tidak ada luka sedikitpun di tubuhku," jawab Leon.
Sedangkan di sisi lain, Zea yang memberikan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Edrea tadi, tapi yang ia dapatkan berbeda dari Edrea karena ia justru langsung mendapat pelukan dari kekasihnya tersebut.
"Aku tidak kenapa-napa sayang. Malahan aku tadi tidak berbuat apapun karena sebelum aku sampai di rooftop, orang-orang pembuat onar itu sudah pergi," tutur Azlan sembari melepas pelukannya.
"Syukurlah kalau kamu tidak kenapa-napa. Aku dari tadi khawatir sama kamu tau. Takut kalau kamu terkena tembakan, bahkan pikiran negatif di otakku sedari tadi menghantuiku," ucap Zea dengan bibir yang mengerucut ditambah pipi yang ia kembungkan. Dan hal tersebut membuat Azlan yang sudah tak bisa menahan kegemasannya pun kini tangannya bergerak untuk mencubit kedua pipi Zea.
Saat beberapa pasangan tersebut tengah menebar keromantisan mereka dengan tawa yang tercipta ditengah interaksi para pasangan itu, mampu membuat Erland yang melihat hal itu cemburu setengah mati dengan tiga pasang tersebut.
"Nasib jomblo gini amat. Gak ada yang tanya keadaan gue setelah menghadapai situasi berbahaya tadi. Gak ada juga yang memperhatikan dan mengkhawatirkan gue. Hiks dada gue jadi sesak gini rasanya," tutur Erland sembari memukul-mukul dadanya.
Dan karena ucapannya tadi yang mampu didengar oleh semua orang di sekelilingnya pun, membuat perhatian orang-orang tersebut beralih ke arahnya.
"Sabar Er. Bukan lo aja yang ngerasain hal itu tapi gue juga sama kok. Nyesek emang tapi mau gimana lagi. Jodohnya aja belum datang. Nanti kalau dia udah datang, kita balas perbuatan tiga pasang itu," ucap Odi dengan menepuk-nepuk bahu Erland, berniat memberikan ketenangan pada sahabat itu.
"Dan buat lo, Re. Daripada lo mengumbar kemesraan didepan kita-kita yang jomblo ini lebih baik lo kasih makan kita. Katanya Daddy tadi, lo beli makanan buat kita. Tapi dari tadi tuh makanan gak datang-datang juga. Keburu pingsan kelaparan nih gue," sambung Odi sembari mengelus perutnya yang sedari tadi terus berbunyi.
"Eh iya lupa. Kalian ambil aja sendiri di mobil Leon. Gue malas kalau harus bawa makanan itu kesini," tutur Edrea.
"Kuncinya?" Edrea melemparkan kunci mobil tersebut kearah Odi yang dengan sigap di tangkap oleh laki-laki tersebut.
"Yang lapar ikut gue," tutur Odi. Lalu setelahnya ia berjalan lebih dulu mendekati mobil Leon berada, di ikuti oleh teman-temannya. Dan hanya Azlan, Erland dan Leon lah yang tak ikut mengambil makanan bersama mereka.
Sedangkan para emak-emak yang sedari tadi masih berkumpul di tempat tersebut, kini mereka berbondong-bondong mendekati Mommy Della yang kini bergelayut manja di lengan Daddy Aiden.
"Del," panggil salah satu emak-emak tersebut yang membuat Mommy Della dengan reflek melepaskan tangannya dari lengan Daddy Aiden.
"Astaga gue lupa kalau masih ada kalian," ujar Mommy Della.
"Sudah tak apa. Kita semua mengerti kok keadaan lo sekarang. Lagian kita kalau ketemu sama suami kita masing-masing bawaannya juga mau manja-manjaan terus sama seperti lo saat ini. Kita bisa memakluminya, Del. Jadi tenang saja," tutur salah satu emak-emak itu yang membuat Mommy Della kini menampilkan senyumannya.
"Oh ya kita mau pamit buat pulang lebih dulu, boleh kan?" sambungnya.
"Ah tentu saja boleh. Dan sekali lagi gue ucapin terimakasih karena sudah mau gue repotkan tadi," ujar Mommy Della.
"Kita tidak merasa di repotkan sama sekali. Justru kita senang karena dengan kejadian tadi kita bisa sedikit mengurangi oknum-oknum jahat seperti mereka tadi," ujar emak-emak tersebut.
"Ya sudah kalau gitu, kita pulang dulu. Bye, Del," sambungnya dengan melambaikan tangannya kearah Mommy Della diikuti dengan emak-emak yang lainnya. Sedangkan Mommy Della, ia menganggukkan kepalanya sembari membalas lambaian tangan dari para gengnya tersebut.
Dan saat semua the girls tadi pergi, Daddy Aiden yang curiga dengan istrinya tersebut kini mulai angkat suara.
__ADS_1
"Apa yang sedang kamu lakukan tadi tanpa sepengetahuanku? Dan kenapa kamu sampai panggil geng kamu itu hingga mereka dengan senang hati mengikutimu sampai disini?" tanya Daddy Aiden.
Mommy Della yang mendapat pertanyaan beruntun itu pun ia kini menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan dari suaminya tersebut.
"Jadi gini, saat aku tadi di salon untuk mempercantik diri, Edrea tiba-tiba telepon. Aku kira dia hanya telepon biasa, tapi ternyata dia butuh bantuan ku. Karena dia tadi sempat diikuti oleh seseorang dan diperjalanan tadi kita juga dihadang oleh gerombolan orang-orang kurang kerjaan yang mungkin masih satu komplotan dengan seseorang yang mengawasi pergerakan Edrea dan Zea tadi," jawab Mommy Della dengan jujur.
"Hah? Terus gimana? Kamu menyerang mereka?" tanya Daddy Aiden yang diangguki oleh Mommy Della.
"Astaga. Apa kamu tau siapa nama penjahat itu? Apa kamu terluka atas kejadian tadi? Dan bagaimana dengan Edrea juga Zea? Apa mereka berdua tadi sempat disekap atau di apa-apain sama mereka?" tanya Daddy Aiden beruntun.
"Tenang sayang. Dan kalau tanya tuh satu-satu biar aku jawabnya enak gitu lho," protes Mommy Della.
"Maaf-maaf sayang, aku tadi kelepasan," ujar Daddy Aiden.
"Haish kebiasaan kamu mah. Tapi kamu tidak perlu khawatir karena kita semua tidak kenapa-napa. Dan untuk nama para penjahat tadi, aku gak tau, kan aku belum kenalan sama mereka," tutur Mommy Della yang membuat Daddy Aiden kini menghela nafas lega.
"Syukurlah kalau begitu. Tapi apa kalian tadi menang melawan mereka?" tanya Daddy Aiden.
"Ck, kalau kita baik-baik saja berarti kita menang lah sayang, gimana sih kamu ini," ujar Mommy Della.
"Lagian ya walaupun kita berjiwa emak-emak dan sering pakai daster kemana-mana, kekuatan kita jangan diremehkan. Belum juga mereka melawan, mereka sudah kami taklukan terlebih dahulu," sambung Mommy Della penuh dengan semangat.
Dan hal tersebut membuat Daddy Aiden kini tersenyum dan berakhir ia memberikan kecupan manis di kening istrinya.
"Aku bangga sama kamu. Aku juga tidak pernah melarang kamu untuk memberantas kejahatan seperti tadi. Tapi ingat, walaupun begitu, sebisa mungkin kamu harus kasih tau aku terlebih dahulu, jadinya saat kamu dan teman-temanmu itu kalah dalam pertandingan, aku bisa langsung mengerahkan bodyguard bayangan untuk menggantikan kalian melawan mereka. Dan satu hal lagi yang lebih penting adalah tetap jaga diri kamu. Jangan sampai kamu terluka. Paham kan sayang?" ucap Daddy Aiden yang diangguki oleh Mommy Della.
Dan beberapa saat setelah mereka bercengkrama juga beristirahat masih di tempat yang sama, kini mereka memutuskan untuk pulang kerumah mereka masing-masing.
Tapi berbeda dengan Edrea yang sekarang tengah bersama dengan Leon menuju ke rumah laki-laki tersebut.
Dan disetiap perjalan mereka menuju ke kediaman pribadi Leon, mata Edrea tak lepas dari wajah kekasihnya itu yang tampak tengah tertekuk. Bahkan sesekali mata kekasihnya tersebut tampak kosong. Dan hal tersebut membuat Edrea curiga ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh kekasihnya tersebut.
"El," panggil Edrea sembari mengelus lengan Leon dengan lembut.
Leon yang tadi sempat melamun pun ia kini mengerjabkan matanya sebelum dia mengalihkan pandangannya kearah Edrea.
"Ya ada apa sayang?" tanya Leon.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu ke kamu. Sebenarnya kamu lagi mikirin apa sih? Ada hal apa yang menggangu kamu? sampai kamu kelihatannya tidak fokus sedari tadi. Bahkan aku lihat, kamu ngalamun terus. Sebenarnya ada apa sih? ngomong aja sama aku, sebisa mungkin aku akan bantu kamu memecahkan masalah yang tengah kamu hadapi saat ini," ucap Edrea.
"Aku tidak lagi memikirkan apapun sayang. Jadi kamu tidak perlu khawatir," tutur Leon diakhiri dengan ia memberikan senyuman kepada Edrea.
"Jangan mencoba membohongiku, El," ujar Edrea yang tak percaya dengan ucapan dari Leon tadi.
"Aku tidak berbohong sayang. Aku baik-baik saja. Tidak ada sesuatu yang mengganggu pikiranku," tutur Leon.
"El, kamu tau kan kalau aku tipe orang yang benar-benar benci dengan kebohongan," ucap Edrea dengan ekspresi wajah seriusnya.
__ADS_1
Dan hal tersebut kini membuat Leon tampak menghela nafas berat.
"Baiklah. Kamu menang sekarang. Dan sepertinya sampai kapanpun aku tidak bisa berbohong ke kamu," tutur Leon sembari menghentikan laju mobilnya tadi karena mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka.
"Jadi begini sayang," sambungnya dengan merubah posisi duduknya menghadap kearah Edrea.
"Aku tuh dari tadi sebenarnya lagi memikirkan siapa pelaku dari penyerangan di sekolah maupun orang-orang yang mengawasi kamu tadi. Apa dalang dari dua kejadian itu sama atau justru berbeda? Dan aku penasaran siapa dalang dari setiap kejadian hari ini," ujar Leon sedikit berbohong karena sebenarnya ia sudah tau siapa dalang dalam penyerangan di sekolah tersebut. Tapi ia juga penasaran dengan dalang tentang kejadian yang menimpa Edrea dan Zea tadi.
"Oh jadi itu yang buat kamu bengong selama perjalanan tadi," ucap Edrea yang diangguki oleh Leon.
"Aku juga tidak tau dalangnya siapa. Aku pun sama penasarannya sama seperti kamu. Dan kemungkinan dua kejadian ini memiliki dalang yang sama. Coba saja kamu pikir, kenapa bisa kejadian tadi terjadi di hari yang sama dan hanya berselisih beberapa jam saja. Tidak mungkin hanya kebetulan saja kan kalau misalnya dalang dari dua kejadian tadi dua orang yang berbeda. Tapi jika memang berbeda, bisa jadi mereka bersekongkol satu sama lain. Jadi saat satu komplotan menyerang sekolah tadi, yang otomatis membuat kamu ataupun bang Az dan bang Er fokus ke kejadian itu dan mengesampingkan tugas kalian untuk menjagaku dan Zea, barulah satu komplotan lagi memanfaatkan peluang itu untuk mengincar nyawa kita. Jadinya saat kalian bisa mereka taklukkan, begitupun dengan kita berdua. Jadi jatuhnya double kill gitu lho," ujar Edrea.
Dan ucapannya tadi berhasil membuat Leon kembali terdiam.
"Tapi sudahlah. Jangan mikirin itu lagi, bikin pusing aja tau gak," tutur Edrea yang berhasil memecahkan keterbengongan dari Leon tadi.
"Lagian aku jamin mereka tidak akan berani melakukan hal yang sama dengan yang mereka lakukan tadi ke kita. Karena mereka sudah tau kekuatan kita yang sebenarnya tuh seperti apa. Bahkan sepertinya jika mereka diperintahkan bos mereka untuk melakukan hal yang sama, aku yakin mental mereka akan melempem sebelum beraksi," sambung Edrea dengan nada suara yang penuh semangat.
Dan baru saja Edrea mengatupkan bibirnya, terdengar suara anak kecil yang tengah menggedor-gedor pintu mobil disebelah Edrea ditambah dengan suara yang terus memanggil nama Edrea.
"Mommy! cepat keluar!" teriak Callie dengan gedoran yang semakin membabi buta.
"Iya sayang sebenar," ucap Edrea.
"Aku keluar dulu. Anak kamu udah rewel soalnya. Dan ingat jangan terlalu memikirkan kejadian tadi. Takutnya kamu nanti jatuh sakit karena memikirkan hal yang tidak terlalu penting itu. Toh pihak kepolisian juga sudah bergerak untuk mencari dalang dalam kejadian itu. Jadi tunggu saja berita baik dari pihak kepolisian," sambung Edrea lalu setelahnya ia segera keluar dari dalam mobil tersebut meninggalkan Leon yang kini tengah menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi.
"Permasalah yang terjadi tadi tidak semudah itu untuk bisa diselesaikan sayang. Bahkan anggapanmu jika mereka akan kapok dengan aksi kita tadi, justru mereka akan semakin intens untuk menyerang kita lagi. Dan perlu kamu tau sayang, bukan nyawaku, nyawa Zea ataupun nyawa kedua Abangmu yang mereka incar melainkan nyawa kamu sendiri. Ini tidak mudah sayang, ini benar-benar sulit untukku ataupun untukmu," gumam Leon diakhiri dengan ia mengusap wajahnya dengan kasar karena otaknya sedari tadi sudah dipenuhi dengan hal-hal yang dulu pernah ia alami. Ia benar-benar belum siap bahkan tidak siap sama sekali jika harus melihat kekasihnya itu kembali terluka parah dan berakhir mereka akan terpisah lagi entah berpisah karena keadaan atau berpisah karena takdir.
"Tidak. Semua kejadian itu tidak akan pernah terjadi lagi. Aku tidak akan pernah membiarkan orang-orang itu sampai menyentuh Edne seujung rambut pun," ucap Leon sembari menegakkan kembali tubuhnya.
"Dan mulai sekarang aku harus memperketat pengawasan ke Edne. Mengerahkan semua anak buahku untuk menjaga dan mengawasi dia dimanapun dia berada," sambungnya.
Dan setelah mengucapkan hal tersebut tangan Leon bergerak untuk menghubungi bodyguard profesional yang ia miliki.
"Ke ruang kerja saya sekarang juga. Ada sesuatu hal yang perlu saya sampaikan ke kamu," ucap Leon saat sambungan telepon tersebut terhubung.
📞 : "Baik tuan. Saya segera kesana sekarang juga," tutur bodyguard tersebut tanpa bantahan sedikitpun.
Sedangkan Leon yang sudah mendengar persetujuan dari bodyguardnya pun ia kemudian menutup sambungan telepon tersebut. Lalu setelahnya ia bergegas untuk keluar dari dalam mobilnya dan dengan langkah lebar, ia memasuki rumah pribadinya tersebut.
Tapi sebelum dirinya menuju ke ruang kerjanya, langkahnya terhenti saat ia melihat keakraban yang terjalin diantara Edrea dan Callie.
"Sayang, kalau mau menemani Callie bermain, ganti baju dulu. Aku sudah menyiapkan keperluan kamu di kamar yang dulu kamu tempati," ucap Leon yang membuat Edrea menganggukkan kepalanya.
"Dan Callie jangan nakal sama Mommy. Kalau Callie sampai nakal sama Mommy, Daddy tidak mau membelikan Callie mainan lagi. Callie mengerti?" tutur Leon.
"Iya Daddy. Callie mengerti," jawab Callie dengan ekspresi wajah yang sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu Daddy ke ruang kerja Daddy dulu," pamit Leon. Lalu setelahnya ia melanjutkan perjalanannya tadi menuju ke ruang kerjanya meninggalkan dua orang kesayangannya itu yang tengah bercanda gurau bersama.