
Mobil Daddy Aiden kini sudah terparkir di sebrang pantai yang di beritahu oleh Edrea. Dan tanpa babibu lagi, kedua orangtua itu keluar dari mobil tersebut dan segera berjalan mendekati pantai.
"Dimana dia?" tanya Mommy Della yang sudah khawatir akan keselamatan anak perempuannya itu.
"Aku juga gak tau. Coba aku telepon dulu anaknya," tutur Daddy Aiden sembari merogoh saku celananya dan setelah menemukan ponselnya, Daddy Aiden langsung menghubungi nomor Edrea.
Sekali, dua kali panggilan darinya tak di angkat oleh si bontot.
"Gimana?" tanya Mommy Della.
"Belum juga diangkat," jawab Daddy Aiden.
"Coba lagi sampai bisa." Daddy Aiden pun mengangguk dan ia kembali menghubungi Edrea tapi hasilnya masih saja nihil.
"Haish, gak diangkat lagi," tutur Daddy Aiden.
"Ck, ini semua gara-gara kamu. Pokoknya hari ini, jam ini juga kamu harus nemuin Edrea," ucap Mommy Della tak terbantahkan.
Daddy Aiden tampak menghela nafas.
"Ya udah aku cari di sekitar sini. Kamu mau ikut apa nungguin disini?"
"Kamu aja yang cari, aku capek mau istirahat. Berani berbuat berani bertanggungjawab."
Daddy Aiden hanya bisa pasrah saja ketika ratu di hidupnya itu sudah memutuskan sesuatu.
Dan kini tubuhnya ia balikan untuk segera mencari keberadaan Edrea sesuai perintah Mommy Della tadi. Tapi belum sempat ia beranjak dari tempat itu, matanya ia tajamkan saat melihat perempuan dari kejauhan yang terlihat sangat familiar.
"Sayang," panggil Daddy Aiden.
"Jangan panggil sayang sebelum kamu nemuin keberadaan Edrea dimana."
Daddy Aiden memutar bola matanya.
"Ck, ribet amat sih. Sini dulu lah bentar," ucap Daddy Aiden sembari melambaikan tangannya kearah Mommy Della.
Mommy Della memincingkan matanya kala pandangan sang suami masih saja menatap lurus kedepan walaupun tengah memanggil dirinya. Mommy Della yang kepo pun akhirnya mendekat kesamping Daddy Aiden.
"Kenapa sih?" tanyanya dengan sewot.
"Lihat deh, di depan itu ada cewek yang lagi makan eskrim. Perawakannya sama kayak Edrea, atau jangan-jangan memang Edrea. Mataku udah gak normal soalnya," tutur Daddy Aiden.
Mommy Della mengikuti arah pandang Daddy Aiden. Matanya ia tajamkan namun sayang, penglihatannya sama saja seperti Daddy Aiden.
"Burem, gak jelas. Samperin aja lah," ide Mommy Della dan langsung disetujui oleh Daddy Aiden.
__ADS_1
Mereka berdua pun berjalan mendekati wanita yang di lihat Daddy Aiden dan Mommy Della tadi.
Saat mereka telah sampai di sempaing wanita itu, Daddy Aiden maupun Mommy Della menggelengkan kepalanya.
"Ehem," dehem Mommy Della sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ehemmm ehem," deheman itu kembali Mommy Della lakukan saat tak ada tanggapan dari sang empu.
Wanita tadi yang seperti terganggu oleh deheman Mommy Della pun berdecak sebal.
"Ck, siapa sih? ganggu aja," tuturnya sembari menoleh kesamping. Ia begitu kaget saat mengetahui Mommy Della dan juga Daddy Aiden berada disampingnya dengan senyum menyeramkan.
"Eh Mom, Dad," ucap wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Edrea.
"Enak ya kamu. Mommy sama Daddy cariin dari tadi malah nongkrong disini," geram Mommy Della.
Saat Edrea ingin menimpali ucapan Mommynya, terdengar suara dari belakang Mommy Della dan Daddy Aiden.
"Lho Mom, Dad. Kalian ngapain kesini?" tanya Azlan yang baru kembali dari toilet.
Mommy Della dan Daddy Aiden pun menoleh kesumber suara.
"Lho kamu juga disini?" tanya Daddy Aiden.
Baru saja mulut Azlan terkatup, Erland sudah berjalan mendekati mereka semua.
"Eh Mom sama Dad ternyata juga disini. Kalau tau gitu, Erland tadi pesan kelapa mudanya 5," tutur Erland sembari menaruh 2 kelapa muda yang tadi ia bawa ditangani dan yang satunya di bawakan oleh penjual.
"Terimakasih," ucap Erland dengan sopan kepada penjual yang turut mengantarkan kelapa muda tadi.
Penjual tersebut mengangguk sembari tersenyum, setelah itu ia pergi dari hadapan mereka.
"Kalian berdua disini dari tadi?" tanya Daddy Aiden memastikan dan dijawab anggukan kepala kompak dari Azlan dan Erland.
Kini mata Daddy Aiden dan juga Mommy Della berubah menjadi tajam saat mengalihkan pandangannya ke arah Edrea yang tengah menundukkan kepalanya takut.
"Edrea!" panggil Daddy Aiden dengan geram.
Edrea tampak kaget dengan panggilan dari Daddy Aiden dan dengan memberanikan diri, ia menatap wajah kedua orangtuanya yang sudah tak bersahabat lagi dengannya itu.
Dan kini tangan Mommy Della sudah mengarah ke telinga anak bontotnya itu untuk menjewer telinga tersebut.
"Aw, sakit Mom," ringis Edrea sembari memegangi tangan Mommy Della agar terlepas dari telinganya.
"Rasain. Siapa suruh ngibulin orangtuanya sendiri. Berani-beraninya ya kamu," kesal Mommy Della.
__ADS_1
"Ampun Mom. Tadi tuh---" belum sempat Edrea menyelesaikan ucapannya, Mommy Della sudah memutus ucapan tersebut.
"Tadi apa hah? mau alasan apa lagi kamu hah."
"Aw, Mom lepasin sakit," keluh Edrea saat jeweran Mommy Della semakin terasa.
Mommy Della yang merasa tak tega pun akhirnya melepaskan jewerannya yang sudah membuat telinga Edrea memerah.
Edrea mengelus-elus telinganya yang terasa panas dengan mengerucutkan bibirnya.
Azlan dan juga Erland yang tak tahu menahu masalah dari kedua orangtuanya dan adik perempuan satu-satunya itu hanya terdiam, tak ingin ikut campur apa lagi membela Edrea. Mereka malah menikmati tontonan gratis didepannya sembari meminum kelapa muda mereka masing-masing.
"Kamu mau kasih alasan apa sama kita hm?" tanya Daddy Aiden yang masih menatap Edrea dengan tajam.
"Maaf Dad, Mom. Tapi ini bukan salah Rea tau. Tapi salah dua cecunguk itu," tutur Edrea dengan menunjuk Azlan dan juga Erland.
"Bukan cecunguk Rea!" peringatan dari Mommy Della.
"Ck, iya-iya, maksud aku tadi, salah bang Azlan sama bang Erland," ucap Edrea.
Dua orang yang tadinya diam kini mereka berdua mengerutkan keningnya tak paham.
"Apaan? kenapa jadi bawa-bawa nama gue?" protes Erland.
"Iya. Itu masalah lo sama Mom dan Dad. Urus aja sendiri jangan melibatkan orang lain yang gak tau apa-apa," timpal Azlan.
"Heh, masalah ini juga berawal dari kalian," ucap Edrea tak terima.
"Sudah! kenapa malah ribut," sentak Mommy Della yang merasa pusing kala mendengar keributan dari ketiga anaknya itu.
"Rea, kamu jangan coba-coba lempar batu sembunyi tangan ya," ancam Mommy Della.
"Ck, siapa juga yang lempar batu sembunyi tangan Mom. Orang Rea akan berkata sejujurnya, kalau tadi tuh memang Rea di tinggal sama bang Azlan dan bang Erland disini sendirian. Walaupun cuma ke kamar mandi sama pesan kelapa muda aja. Jadi Edrea gak salah dong," ucap Edrea tanpa rasa bersalah.
Mommy Della memijit pangkal hidungnya. Rasanya ia ingin menangis kala mendengar penuturan dari Edrea. Sia-sia sudah kekhawatiran tadi.
Sedangkan Daddy Aiden, ia menggelengkan kepalanya. Tak tau lagi apa yang harus ia lakukan kepada anak perempuannya itu. Sepertinya idenya tadi untuk membuang anaknya harus segera ia lakukan, biarkan saja ia tak punya anak perempuan untuk saat ini sebelum akhirnya Mommy Della nanti hamil dan menggantikan posisi Edrea di silsilah keluarga.
...****************...
Happy reading semuanya 🤗 jangan lupa tetap dukung author ya dengan cara Like, komen, vote dan juga kasih hadiah, biar author semakin semangat nulisnya 😚 Kalau bisa 300 Like ya ðŸ¤
Jangan lupa juga untuk kasih tau author jika ada kesalahan dalam penulisan 🤗
Stay safe and stay healthy 🤗 SEE YOU NEXT EPS BYE 👋
__ADS_1