
Erland kini terlihat masuk kedalam kamar Edrea dengan ponsel yang masih terhubung ke nomor Edrea. Dan saat dirinya sudah masuk, ia melangkahkan kakinya menuju nakas di samping ranjang Edrea.
Erland kini mematikan sambungan telepon tadi kemudian ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas tersebut, lalu setelahnya ia menunjukkan kearah Edrea yang sedari tadi berjalan di belakangnya.
"Ini apa? Masak hp segede gaban gini lo gak lihat," gerutu Erland sembari menaruh ponsel tadi ke tempat semula.
"Lain kali kalau nyari barang tuh yang bener. Pakai mata bukan pakai mulut," sambung Erland kemudian setelahnya ia bergegas keluar dari kamar Edrea.
Sedangkan Edrea, ia kini berdecak sebal. Sia-sia sudah usahanya tadi yang sama sekali tidak mendapatkan bukti apapun dan sialnya lagi ia malah kena omelan dari Erland.
"Tunggu aja tanggal mainnya. Gue pastiin cepat atau lambat gue bakal tau gebetan lo, bang," ucap Edrea. Lalu ia berjalan kearah ranjangnya kemudian ia merebahkan tubuhnya disana. Dan perlahan matanya yang sudah mulai lelah itu kini tertutup dan tak berselang lama ia terlelap dalam tidurnya.
...****************...
Paginya Edrea sudah harus bersiap ke sekolah karena hari ini merupakan hari terakhirnya menjadi siswa di sekolahnya yang lama sebelum akhirnya nanti ia pindah di sekolahan yang sama dengan Azlan dan Erland. Dan hari ini juga ia sudah menyiapkan dirinya untuk berpamitan kepada seluruh warga sekolah disana tak terkecuali dengan tukang kebun yang selalu membantunya saat dirinya di hukum untuk membersihkan lingkungan sekolah tersebut.
Dan dengan helaan nafas ia menatap dirinya dalam pantulan cermin didepannya itu. Ia sekarang sudah rapi menggunakan seragam sekolah yang 2 tahun belakangan ini selalu ia bangga-banggakan.
"Huft semoga gak mewek aja deh nanti," gumam Edrea dan setelahnya ia beranjak dari kamarnya dan menuju ke lantai bawah.
Dan saat dirinya sudah sampai di ruang makan, seperti biasa Edrea akan heboh menyapa anggota keluarganya tersebut.
"Yuhuuuuuu selamat pagi semuanya!" teriak Edrea dengan senyum lebarnya. Tapi beberapa detik setelahnya senyumannya itu hilang saat ia melihat ada orang lain yang ikut gabung di meja makan itu.
"Lho kok ada Leon disini," kaget Edrea sembari melangkahkan kakinya menuju kursi makannya. Jika ditanya malu? tentu saja. Siapa juga yang tidak malu jika tingkah bobroknya itu di lihat orang lain selain keluarganya sendiri dan orang-orang yang telah mengenalnya.
"Dia kesini karena ada perlu sama gue. Mau apa lo?" ketus Erland yang membuat Edrea mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Gue cuma tanya dong. Gitu aja masak gak boleh," tutur Edrea.
"Eh bentar, Daddy sama Mommy kok gak ikut sarapan?" tanya Edrea sembari menatap kearah dua kursi yang selalu di tempati oleh kedua orangtuanya itu masih dalam keadaan kosong tak ada penghuninya.
"Mereka udah sarapan tadi," jawab Azlan.
"Kok gitu? kenapa gak nungguin Rea dulu," protes Edrea.
"Kalau mereka nungguin lo yang ada urusan mereka terbengkalai." Kini giliran Erland yang menjawab ucapan dari Edrea tadi.
"Urusan apaan? Perasaan Dad kalau ada urusan mendadak pasti sarapan juga nungguin kita kumpul dulu. Dan Mom, sejak kapan jadi emak-emak super sibuk? Biasanya pagi-pagi kerjaannya ngomel mulu atau kalau gak ya ngedrakor," tutur Edrea.
"Mereka ada urusan sama pihak kepolisian. Ada sesuatu yang genting tentang Puri," ujar Azlan yang membuat Edrea berdecak.
"Kayaknya yang di ucapkan bang Er tadi malam ada benarnya juga. Harusnya tuh orang mati aja sekalian, biar gak nyusahin orang mulu," ucap Edrea.
"Dia berusaha kabur dari penjara," jawab Azlan yang membuat Edrea membelalakkan matanya.
"Hah? serius? gila tuh orang, berani banget mau kebur dari penjara. Apa dia gak tau gitu konsekuensinya kalau sampai benar-benar kabur dan ujungnya ketangkap lagi? Hukuman dia pasti akan di tambah, jadi lebih berat lagi. Tuh orang emang kalau mau berbuat sesuatu gak di pikir dulu. Gue akuin dia cantik tapi otaknya bodoh," ucap Edrea dengan gelengan kepala.
"Dan satu lagi. Dia tuh---" belum sempat dirinya meneruskan perkataannya tadi, Erland yang berada disebelahnya langsung memasukkan satu sendok makanan ke mulut Edrea.
"Jangan cerewet. Makan dulu kalau lo gak mau telat masuk nanti," ujar Erland dengan tatapan tajamnya. Dan hal itu membuat Edrea yang awalnya ingin protes terhenti, lalu dengan cepat ia menuruti apa yang dikatakan Erland tadi.
Ruang makan itu tampak sepi hanya ada suara dentingan alat makan saja. Hingga akhirnya mereka berempat telah menyelesaikan sarapan mereka.
"Lo berangkat sama Leon," ujar Azlan.
__ADS_1
"Lho kok?"
"Dad belum bolehin lo bawa mobil sendiri. Di luar masih bahaya. Dan lo jangan keras kepala karena ini semua buat keselamatan lo," tutur Azlan.
Edrea kini menghela nafas berat. Susah memang kalau mempunyai keluarga yang super duper protektif seperti ini. Tapi disisi lain, Edrea juga sangat berterimakasih karena dengan perlakuan keluarganya itu ia merasa aman dan terlindungi walaupun kebebasannya sedikit terkekang. Tapi tak masalah selagi dirinya masih bisa bahagia.
Edrea kini mengalihkan pandangan kearah Leon yang tampak sedari tadi memandang dirinya.
Edrea berdehem sesaat untuk menghilangkan kegugupannya yang tiba-tiba menyerang dirinya itu.
"Ehemmm, Lo udah selesai makannya kan?" tanya Edrea yang dijawab anggukan kepala oleh Leon.
Edrea kini mengalihkan pandangan kearah kedua Abangnya itu, lalu setelahnya ia beranjak untuk berpamitan kepada Azlan dan Erland dengan memberikan kecupan singkat di pipi kedua laki-laki itu.
"Rea berangkat dulu," ucapnya kemudian ia melangkahkan kakinya menghampiri Leon yang masih duduk di tempatnya tadi.
"Let's go El. Kita berangkat," tutur Edrea yang membuat Azlan dan Erland kini mengerutkan keningnya dan dengan reflek mereka menoleh kearah Leon.
Sedangkan Leon, ia tersenyum kearah Edrea dan setelahnya ia berdiri dari duduknya. Dan saat dirinya sudah mulai melangkahkan kakinya disamping Edrea, ia menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang tepat dimana Azlan dan Erland yang masih terus menatapnya. Lalu setelahnya ia menggedikkan bahunya sembari tersenyum untuk merespon tatapan kedua laki-laki tersebut.
Dan setelah dua orang tadi sudah tak terlihat lagi, Azlan dan Erland kini saling pandang seperti seolah-olah mereka berdua tengah berkomunikasi lewat tatapan mata mereka.
"Gue tau apa yang ada di pikiran lo saat ini. Dan sepertinya apa yang kita pikirkan sama," ujar Azlan yang membuat Erland menghela nafas.
"Kita doakan saja yang terbaik buat Rea," sambung Azlan sembari menepuk pundak saudara kembarnya itu. Lalu setelahnya ia beranjak dari kursinya tadi kemudian mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Erland disana yang masih bergulat dengan pikirannya yang penuh tanda tanya itu.
Dan setelah beberapa detik, Erland kembali tersadar kemudian ia bergegas meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1