The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 268


__ADS_3

Tenang bukan Erland yang terkena tembakan itu melainkan Eko lah yang harus merasakan panasnya peluru yang menghantam alat kelaminnya.


Dan karena tembakan itu membuat Eko kini terkapar di jalanan, sedangkan Edrea yang merupakan pelaku dari penembakkan itu pun dengan cepat ia mengambil pistol yang masih berada di tangan Eko.


"Bang tangkap!" teriak Edrea sembari melempar pistol tadi ke arah Erland berada yang untungnya dengan sigap Erland tangkap. Lalu kemudian, ia mengarahkan pistol tadi ke arah Virgon.


Sedangkan Edrea, ia masih mengarahkan pistol yang ia pegang kearah Eko. Takut-takut jika orang di hadapannya itu akan bertindak lagi seperti tadi. Ya walaupun itu semua tak akan mungkin terjadi karena kondisi Eko sekarang benar-benar sangat mengkhawatirkan atau lebih parahnya laki-laki itu tengah sekarat.


Sedangkan untuk Leon dan Azlan yang tadi sempat di kunci pergerakannya oleh anak buah Virgon, kedua orang itu sekarang tampak saling pandang satu sama lain sebelum akhirnya mereka berdua secara bersamaan melawan orang yang berada di belakang badan mereka saat kedua anak buah Virgon itu tengah lengah. Dan aksi mereka berdua tadi langsung di ikuti oleh yang lainnya. Hingga akhirnya komplotan anak buah Virgon mampu mereka lumpuhkan.


Dan kini giliran Erland yang harus melumpuhkan Virgon yang nyawanya sudah berada di tangannya.


"Dulu gue maafin lo atas semua pengkhianatan yang lo lakuin ke gue atas permintaan adik lo. Bahkan gue selama ini selalu diam saat lo dan anak buah lo ganggu gue dan anak-anak Ragaza, karena apa? Karena kita benar-benar menghormati permintaan terakhir mendiang adik lo untuk tidak melukai lo. Tapi semakin lama gue diemin lo, Lo semakin ngelunjak dan untuk kesalahan lo yang sekarang, gue benar-benar gak bisa mentolerir lagi. Jadi hari ini jangan harap lo bisa menghindari hukuman yang pantas lo terima dari dulu," ujar Erland sembari melangkahkan kakinya mendekati Virgon.


"Katakan selamat tinggal kepada dunia. Dan katakan selamat datang neraka," tutur Erland dengan pistol yang menempel di kepala Virgon.


Tapi sayangnya belum sempat Erland menarik pelatuk pistol di tangannya, tubuh Virgon sudah lebih dulu ambruk ke jalanan setelah beberapa detik terdengar tembakan yang berhasil menembus dadanya. Dan hal tersebut membuat semua orang disana termasuk Erland melongo tak percaya. Apalagi setelah melihat pelaku penembakan tersebut yang sekarang tengah berdiri tak jauh dari tempat mereka sekarang. Dan orang tersebut sekarang tengah melangkah mendekati mereka semua.


"Oh astaga, Kak Brin!" teriak Odi sembari berlari kearah Kakak sepupunya itu. Tapi sayangnya saat ia ingin memeluk tubuh perempuan tersebut, dengan cepat tangan Zabrina menghadang tubuhnya. Dan hal tersebut membuat Odi mengerem laju larinya tadi hingga hampir saja ia jatuh tertelungkup jika dia tadi tidak menyeimbangkan tubuhnya.


"Stop, jangan peluk-peluk gue. Lo bau keringat soalnya," ujar Zabrina yang berhasil membuat Odi kini mengerucutkan bibirnya.


"Kak Brin ngapain kesini?" tanya Odi kepo.


"Mau bunuh lo," ujar Zabrina sembari mengerakkan pistolnya kearah Odi dan hal tersebut membuat Odi reflek mengangkat kedua tangannya.


"Ampun. Jangan bunuh gue, Kak. Gue masih mau menikmati hidup gue," tutur Odi yang sudah ketakutan.

__ADS_1


"Ya elah gitu aja takut lo," ucap Zabrina yang sudah menjauhkan pistol dari hadapan Odi.


Odi yang melihat pistol itu telah menghilang dari hadapannya pun ia kini bisa menghela nafas lega. Sebelum akhirnya ia angkat suara kembali.


"Oh ya Kak, Kakak tadi yang nembak Virgon kan?" tanya Odi yang hanya dijawab dengan deheman oleh Zabrina.


"Kenapa Kakak nembak dia? Padahal yang akan melakukannya tadi tuh si Erland," ujar Odi.


"Jika lo tanya gue kenapa nembak dia, gue akan jawab karena tangan gue gatel aja pengen bunuh orang. Lagian teman lo itu mau nembak pakai acara say goodbye segala. Kalau ditugasin nembak ya nembak aja, gak usah kelamaan. Kalau kelamaan yang ada lawan yang akan bunuh kalian. Karena saat kalian bicara panjang lebar, dia diam-diam menyiapkan strategi untuk menyerang balik kalian. Be smart sayang, jangan terlalu bodoh dan mudah di kelabui," tutur Zabrina lalu setelahnya ia melempar pistolnya tadi kearah tubuh Virgon yang sudah tak bernyawa itu. Kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, ia melangkahkan kakinya menuju ke mobilnya. Setelahnya dengan cepat ia menjalankan mobilnya tersebut, meninggalkan area pertempuran tadi.


Sedangkan orang-orang di sana tadi yang menatap kepergian Zabrina, mereka kini bertepuk tangan, entah karena bangga dengan aksi mereka masing-masing yang sudah berhasil melumpuhkan musuh atau justru bertepuk tangan atas kehebatan dan juga sedikit tips dari Zabrina tadi.


"Sudah-sudah hentikan tepuk tangan kalian. Karena kita masih ada tugas penting dari apa yang kalian tadi lakukan," ujar Azlan yang berhasil membuat semua orang disana kini menghentikan aksi mereka.


"Sekarang kalian periksa mereka. Jika mereka masih bernyawa kita akan segera bawa mereka ke rumah sakit. Tapi jika tidak mungkin kita bisa membawanya langsung ke rumah duka," sambung Azlan yang diangguki oleh orang-orang disana.


"Az, anak buah Virgon aman semua," ujar Hito.


"Ada yang luka parah?" tanya Azlan.


"Gak ada cuma babak belur seperti biasa," jawab Odi.


"Syukurlah kalau begitu. Jadi yang meninggal cuma Virgon dan Eko kan?" tanya Azlan memastikan.


"Eko masih sekarat!' teriak Edrea yang sedari tadi mengawasi Eko.


"Astaga, kalau masih sekarat telefon ambulance sekarang lah Maimunah, bukan malah di lihatin begitu," ucap Azlan yang gemas dengan tingkah Edrea saat ini.

__ADS_1


"Rea udah panggil ambulance lho bang. Tapi ambulancenya belum datang juga dari tadi," ujar Edrea sembari mulai melangkahkan kakinya mendekati Azlan.


"Lagian kamu kenapa nembak dia di bagian itunya sih sayang. Kenapa gak di dadanya atau kepalanya gitu," ucap Leon saat Edrea sudah bergabung dengan mereka.


"Ck, dalam keadaanku seperti tadi memangnya bisa ngarahin pistol ke dada atau kepala dia. Tentu gak bisa lah, tapi untungnya otak cerdasku ini bisa diajak kerja sama, hingga aku bisa menemukan kelemahan dari seorang laki-laki. Ya walaupun kemungkinan orang itu masih di kasih kesempatan buat hidup tapi sama saja hidupnya gak akan bisa bahagia karena burung perkututnya udah mati," tutur Edrea yang membuat Leon menggelengkan kepalanya.


Sedangkan Azlan dan Erland yang sedari tadi mendengar setiap percakapan dari Edrea dan Leon, mereka kini menatap tajam kearah Leon.


"Sepertinya kita ketinggalan berita yang sangat penting," ujar Azlan.


"Sepertinya begitu. Kata sayang saja sudah tersematkan untuk Edrea," timpal Erland.


"Benar sekali dan kemungkinan kita sekarang sudah ada partner untuk sparing diatas ring," ucap Azlan yang diangguki oleh Erland.


"Kuy lah kita langsung otw ke basecamp, udah gak sabar nih gue mau tanding sama dia," ujar Erland penuh dengan keantusiasanya.


Sedangkan Azlan kini ia semakin menatap tajam kearah Leon, sebelum dia mulai angkat suara kembali.


"Ikut ke basecamp sekarang," ujar Azlan yang ia tujukan kepada Leon lalu setelahnya ia bergerak menuju mobilnya dikuti oleh Erland.


Sedangkan Edrea yang paham atas ajakan dari Azlan tadi pun ia kini menatap Leon dengan tatapan kekhawatiran.


"Tenang saja sayang, aku gak akan kenapa-napa," ujar Leon sembari mengacak rambut Edrea.


"Dan kamu sekarang mau lanjut sekolah atau ikut ke basecamp hmm? kalau mau lanjut sekolah, aku antar kamu," ucap Leon.


"Ikut ke basecamp aja. Kesekolah juga percuma karena ini udah telat," jawab Edrea.

__ADS_1


"Ya sudah kalau gitu kita ikuti kembaran kamu itu. Dan biarkan urusan disini di urus Jojo dan yang lainnya," ujar Leon yang diangguki oleh Edrea. Lalu setelah itu mereka berdua segera masuk kedalam mobil dan bergegas menyusul Azlan dan Erland yang lebih dulu pergi dari tempat tersebut.


__ADS_2