The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 137


__ADS_3

Mereka masih mematung di tempat masing-masing hingga Edrea yang lebih dulu tersadar pun langsung memeluk tubuh Azlan dengan sangat erat bahkan tubuhnya terasa dingin dan bergetar. Azlan yang tau ketakutan Edrea pun langsung membalas pelukan dari Edrea.


Sedangkan Vivian kini perlahan mendekat kesalah satu lemari kaca yang berada di ruangan tersebut bersama dengan Daddy Aiden sedangkan Mommy Della memilih untuk memeluk lengan Erland.


"Mom takut?" tanya Erland saat melihat mata Mommy Della terpejam.


"Siapa yang gak takut coba Er? kalau tempat ini di penuhi dengan lemari kaca yang isinya tubuh manusia yang bagian perutnya sudah sobek begitu, ditambah organ-organnya juga terpampang nyata gitu. Itu manusia yang nyulik Rea psycho kayaknya deh. Untung Rea gak jadi pacaran sama dia kalau sampai pacaran mungkin dia yang menjadi salah satu dari deretan mayat yang di bekukan itu," ucap Mommy Della tanpa membuka matanya.


Erland mengangguk-anggukkan kepalanya, ia sangat setuju dengan perkataan Mommy Della yang terakhir. Dan untungnya Edrea sering ia dan Azlan ajarkan adik perempuan satu-satunya itu untuk berlatih bela diri sehingga saat Edrea kemarin di culik oleh Zico, dengan cukup mudah Edrea bisa meloloskan dirinya.


Saat empat orang itu masih berdiri di tempat tadi, lain dengan dua orang lainnya yang kini sudah berdiri di lemari kaca yang mereka tuju.


"Pa---papa," lirih Vivian dengan mata yang mulai memanas.


Daddy Aiden yang mendengar ucapan dari Vivian tadi pun langsung menoleh kearah sang empu yang sudah meneteskan air matanya.


"Kamu kenal orang ini?" tanya Daddy Aiden.


Dengan kasar Vivian menghapus air matanya dan menoleh kearah Daddy Aiden.


"Dia Papaku, Dad," jawab Vivian dengan mata yang kini sudah beralih menatap kearah lemari kaca tersebut yang menampilkan mayat seorang laki-laki dan merupakan satu-satunya mayat yang masih utuh tak tergores sedikitpun.


Daddy Aiden mengerutkan keningnya saat ia menatap intens kearah wajah mayat tersebut. Ia sepertinya pernah bertemu dengan wajah yang sama persis dengan mayat didepannya itu. Tapi dimana? ia lupa atau hanya kebetulan ia pernah bertemu dengan orang lain yang hampir mirip dengan mayat itu. Entahlah otak Daddy Aiden tiba-tiba saja berhenti untuk mengingat kembali.


"Kamu yakin ini Papa kamu?" tanya Daddy Aiden untuk memastikan. Vivian dengan sendu ia menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kalau memang benar ini Papa kamu. Kenapa mayatnya bisa disini?" tanya Daddy Aiden lagi.


"Vivi juga tidak tau Dad. Terakhir Vivi ketemu Papa saat Papa terbaring di rumah sakit dan saat Vivian kembali setelah keluar sebentar untuk cari makan tiba-tiba saja pihak rumah sakit kasih tau Vivi kalau Papa sudah meninggal tapi anehnya saat Vivi tanya dimana jenazah Papa, pihak rumah sakit ngomong kalau jenazah Papa sudah dibawa oleh seseorang yang katanya salah satu pihak keluarga Papa. Tapi saat Vivi tanya keseluruhan keluarga Papa, mereka seakan-akan tak peduli dengan kejadian itu dan Vivi yakin bukan pihak keluarga Papa yang bawa jenazahnya karena Papa semenjak nikah dengan Mama, Papa sudah tak dianggap didalam keluarganya. Jadi tak mungkin jika mereka melakukan hal itu. Dan semenjak 2 tahun Vivi cari jenazah Papa, baru hari ini Vivi berhasil nemuin Papa. Hiks." Tangis Vivian kembali pecah saat menatap wajah Papanya yang sudah pucat tapi masih dalam keadaan sama seperti terakhir ia bertemu dan kebetulan jenazah Papanya itu tampak sengaja diawetkan didalam lemari tersebut begitu juga dengan mayat-mayat yang lainnya.


Daddy Aiden yang tak tega melihat kesedihan dari Vivian pun langsung memeluk tubuh Vivian untuk memberikan ketenangan pada perempuan itu.


"Kalau boleh tau Mama kamu dimana?" tanya Daddy Aiden penuh ke hati-hatian.


"Mama sudah meninggal saat Vivi umur 3 tahun dan jenazah Mama sampai sekarang juga tak ditemukan oleh siapapun karena Vivian yakin jenazah Mama sudah disembunyikan atau bahkan sudah dimakamkan oleh orang yang membunuhnya," jawab Vivian yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Jadi kamu sekarang hanya sendiri?" entah mengapa Daddy Aiden ingin sekali mengetahui lebih jauh kehidupan dan identitas dari Vivian.


Pertanyaan Daddy Aiden tadi diangguki oleh Vivian.


"Tapi sebenarnya Vivi punya adik laki-laki."


"Umur dia 3 tahun lebih muda dari Vivian. Sebelum Mama menghilang 2 minggu sebelumnya Mama melahirkan adik aku." Tangan Daddy Aiden kini bergerak untuk mengelus kepala Vivian dengan sayang.


"Lalu dimana adik kamu itu sekarang?"


"Vivi gak tau Dad. Dia sudah menghilang 1 tahun sebelum Papa meninggal." Daddy Aiden menghela nafas. Sungguh sangat menyedihkan perjalanan hidup dari Vivian ini.


Daddy Aiden tak lagi bertanya hingga beberapa saat kemudian Vivian kembali tenang dan melepaskan pelukannya.


"Maaf baju Daddy jadi kotor," ucap Vivian sembari menghapus air matanya.

__ADS_1


Daddy Aiden menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


"Tak apa. Kalau kotor bisa dicuci nanti," tuturnya. Vivian pun menganggukkan kepalanya dan ia segera mengontak-atik ponselnya untuk mengirimkan sebuah pesan kepada anak buahnya untuk mengurus pemakan sang ayah. Sedangkan untuk mayat yang lainnya, ia akan mencari tahu identitasnya terlebih dahulu baru ia akan memberitahu pihak keluarga dari korban tentunya dengan menjelaskan semuanya karena ia tak ingin dicap sebagai seorang psycho yang sudah tobat nantinya jika ia langsung menyerahkan mayat-mayat itu tanpa penjelasan kepada pihak keluarga korban.


"Dad, kita kembali ke atas saja buat ngelanjutin pencarian identitas dari pelaku penculikan Edrea," ucap Vivian yang sebenarnya tak tega melihat mayat Papanya itu.


Daddy Aiden tanpa berpikir lama pun akhirnya mensetujuinya karena di ruangan itu hanya dipenuhi dengan tubuh dan organ manusia saja tak ada yang lebih dari itu.


Mereka berdua kini berjalan menuju kearah empat orang tadi yang saling berpelukkan satu sama lain dengan mata yang tertutup tentunya.


"Ehemmm," dehem Daddy Aiden.


Keempat orang tersebut kini membuka matanya sedikit.


"Udah apa belum sih Dad. Erland udah mual banget ini," tutur Erland dengan jujur.


"Azlan juga udah gak kuat Dad. Pusing kepala Azlan kalau harus lama-lama disini. Pikiran Azlan juga negatif thinking mulu dari tadi," timpal Azlan.


"Cih laki kok takut sama beginian," jelas Vivian.


"Kita bukan takut ya, tapi jijik aja," ucap Erland yang tak ingin di pandang remeh oleh Vivian.


"Iyain aja lah biar cepat," tutur Vivian.


Daddy Aiden terkekeh melihat interaksi anak-anaknya itu dengan Vivian.

__ADS_1


"Mending sekarang buka deh mata kalian. Kita kembali ke ruang atas," ucap Daddy Aiden. Keempat orang tadi kini membuka matanya dan langsung berbalik kemudian berlari menaiki anak tangga menuju ruang atas, meninggalkan Vivian dan Daddy Aiden yang menatap mereka berempat dengan mulut yang menganga tapi beberapa saat kemudian keduanya tertawa melihat kelucuan dari empat orang tadi.


__ADS_2