
Wajah Erland semakin mendekat hingga gedubrak, mereka berdua jatuh dilantai ruangan Erland karena Kayla tadi refleks memutar kenop pintu dibelakangnya yang kini membuat tubuhnya tertindih tubuh tegap milik Erland dan makanan yang ia bawa tadi berhamburan jatuh kelantai.
"Aws," ringis Kayla.
"Lo sengaja ya," geram Erland dan bergegas membenarkan posisinya sebelum orang lain nanti lihat posisi yang cukup ambigu itu dan berpikiran yang tidak-tidak dengan mereka berdua.
"Ma---maaf tuan. Saya beneran gak sengaja," tutur Kayla yang merasa tak enak hati.
"Ah dan untuk steak yang jatuh ini biar saya yang ganti rugi dan akan saya antarkan yang baru. Sekali lagi maaf atas kelalaian saya tuan," sambungnya sembari berdiri dan memberi bow ke arah Erland.
"Tak perlu ganti rugi. Bereskan kekacauan ini dan keluar dari ruangan saya," perintah Erland.
"Baik tuan."
Kayla dengan cepat membersihkan lantai ruangan Erland dan selama ia membersihkan kekacauan tadi, tanpa ia sadari Erland terus menatap kearahnya.
"Huh beres," ucap Kayla lirih namun bisa di dengar oleh Erland. Saat kepala Kayla menoleh kehadapan Erland, saat itu pula Erland mengalihkan pandangannya secepat kilat.
"Saya sudah selesai membersihkan lantai ruangan ini, tuan. Apa ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Kayla dengan sopan padahal di dalam hatinya saat ini masih bergemuruh hebat.
"Berikan ponsel kamu!" pinta Erland.
"Hah gimana tuan?"
"Ponsel kamu kasih ke saya!" ulang Erland.
"Hmmm buat apa ya tuan?"
"Jangan banyak tanya. Berikan sekarang!" Kayla mencebikkan bibirnya namun tangannya segera mengambil ponsel miliknya di dalam saku celana jeans dan memberikan ke Erland yang langsung di sambar oleh sang empu.
Dengan cekatan jari Erland mengetik sesuatu yang hanya ia saja yang mengetahuinya bahkan Kayla yang tengah curi-curi pandang untuk melihat pun masih saja tak dapat melihat apa sedang Erland ketik.
"Gak usah ngintip!" tutur Erland.
Kayla membenarkan posisi berdirinya dan dengan patuh ia tak lagi mengintip apa yang sedang Erland lakukan dengan ponselnya itu.
__ADS_1
Beberapa saat, Erland telah selesai dan mengembalikan ponsel milik Kayla tadi.
"Aman," ucap Erland ambigu.
"Aman?" tanya Kayla tak paham.
"Hmmm. Terbebas dari video dan foto 18+," jawab Erland. Kayla membelalakkan matanya. Apa-apaan ini? Erland mencurigainya menyimpan foto dan video yang tak senonoh seperti itu. Apa manfaat untuk dirinya coba? Lihat saja, ia tak pernah, apalagi untuk menyimpan hal seperti itu. Huh menuh-menuhin memori ponselnya saja.
"Kamu boleh pergi," usir Erland saat Kayla ingin menimpali ucapannya tadi.
Kayla berdecak sebal dan menghentakkan kakinya sebelum keluar dari ruangan Erland.
"Enak aja gue di curigai punya begituan. Emang muka gue kelihatan muka-muka orang mesum gitu. Huh dasar menyebalkan," umpat Kayla di sela-sela berjalannya.
Sedangkan di dalam ruangan tadi, Erland tampak tersenyum. Kemudian ia membuka ponselnya dan melihat satu persatu foto Kayla yang ia curi dari ponsel tadi bahkan ia juga sudah memasukkan nomor ponselnya kedalam ponsel Kayla dan juga menambahkan nomor Kayla ke ponselnya. Dan setelah ia mendapatkan itu semua, ia mengembalikan ponsel tersebut dan agar tak di curigai oleh Kayla, ia memberikan alasan yang cukup menantang.
"Cantik," gumam Erland saat dirinya menatap salah satu foto Kayla dengan riasan wajah yang natural.
"Arkh, gila benar-benar gila," gerutu Erland saat detak jantungnya memacu hebat. Mungkin ia saat ini sudah jatuh cinta dengan wanita sederhana dan penuh dengan pesona itu. Tapi dengan segera ia menampik pikiran yang menurut dia tak masuk akal itu. Kemudian ia beranjak dari ruangannya menuju lantai satu, mengawasi para pegawainya atau lebih tepatnya memandangi wajah Kayla secara nyata bukan lewat layar ponselnya.
Jarum jam kini menunjukkan pukul 22:00 WIB. Dimana di jam itu pula restauran tempat dimana Kayla kerja sudah harus tutup.
Kayla seperti biasa ia akan pulang dengan menggunakan gojek atau taksi dan jika kedua transportasi itu tak ia temukan maka ia akan berjalan kaki menuju rumah sederhana yang memang tak jauh dari restauran itu berada.
Kini Kayla telah selesai mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian biasa.
"Pak bos, duluan," ucap Kayla berpamitan kepada Wisnu.
"Hati-hati," tutur Wisnu yang melirik sekilas kearah Kayla karena ia masih sibuk dengan urusannya di restauran tersebut.
Baru saja Kayla keluar dari pintu restauran tersebut dan kakinya ingin ia langkahkan, pergelangan tangannya tiba-tiba di cekal oleh seseorang dari samping. Kayla terdiam sesaat dan menoleh kearah orang yang menyekalnya.
"Lho Erland eh maksudku tuan Erland. Kok masih disini?" tanya Kayla.
__ADS_1
"Ikut gue," ucap Erland yang sudah menggunakan bahasa santainya, ia lalu menarik tubuh Kayla menuju parkiran restauran tersebut.
"Eh eh eh mau kemana?"
Erland tak menjawab pertanyaan dari Kayla tadi hingga akhirnya mereka sampai di motor sport kesayangan Erland.
"Pakai!" perintah Erland sembari memberikan satu buah helm yang baru saja ia beli khusus untuk Kayla. Namun Kayla malah terbengong bingung di tempat tanpa menerima helm yang Erland tadi berikan ke dia.
"Ck, Lo denger gak sih gue tadi ngomong apa?" geram Erland.
"Eh ah denger kok," tutur Kayla lalu tangannya meraih helm yang masih saja di tangan Erland.
Setelah itu ia segera memakai helm tersebut sesuai dengan perintah Erland tadi.
"Naik!" tutur Erland saat dirinya sudah duduk di jok motornya dan juga sudah menggunakan helm full facenya itu.
Kayla menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung harus naik dengan cara seperti apa?
"Hmmm Er, eh tuan Erland. Ini cara naiknya gimana?" tanya Kayla seperti orang bodoh.
Erland berdecak dan kembali turun dari motornya. Dan tanpa permisi ia mengangkat tubuh Kayla dan mendudukkan tubuh itu di jok bagian belakang.
"Jangan panggil gue dengan sebutan tuan lagi. Mengerti," ucap Erland dengan tangan yang masih melingkar indah di pinggang Kayla.
Kayla meneguk salivanya dengan susah payah dan hanya bisa menganggukkan kepalanya untuk menimpali ucapan Erland tadi.
"Bagus," tutur Erland setelah itu ia melepaskan tangannya dari pinggang Kayla dan segera naik ke atas motornya. Kemudian ia menyalakan mesin motor itu dan saat dirinya mulai menjalankan motor tersebut, tubuh Kayla tampak terhuyung ke depan dan dengan reflek ia memeluk tubuh Erland.
"Eh ah maaf gak sengaja," ujar Kayla dan melepas pelukannya tadi. Namun entah disengaja atau tidak, tiba-tiba motor Erland mengerem mendadak yang membuat tubuh Kayla lagi-lagi terhuyung kedepan bahkan helm keduanya pun sempat bertabrakan.
"Ada kucing lewat," ucap Erland.
"Ah oh oke baiklah," tutur Kayla sembari membenarkan posisi duduknya.
"Emmmm Er, boleh gak gue pegangan di jaket lo. Biar kalau ada kucing lewat atau apalah guenya gak nyungsep lagi," izin Kayla dengan takut.
__ADS_1
"Hmmm," jawab Erland hanya dengan deheman saja. Dengan ragu-ragu tangan Kayla kini memegang erat Jaket Erland yang berada di pinggang sang empu.
Dan tanpa diketahui oleh Kayla, Erland tersenyum dari balik helm full facenya saat ia melihat raut wajah Kayla dari balik kaca spion motornya. Dan Setelah dipastikan Kayla sudah memegang erat jaketnya, perlahan Erland menjalankan motor tersebut menuju rumah Kayla.