
Tumpukan surat hasil dari tes DNA yang keluarga Abhivandya lakukan untuk mengetahui siapa ayah kandung dari Alana kini memenuhi meja ruang keluarga. Ya, tepat hari ini hasil semua hasil tes DNA telah keluar dan hampir 1 setengah jam Daddy Aiden di bantu, anak, istri dan menantunya juga calon menantunya tengah membuka dan membaca satu-persatu surat itu, tapi sejauh ini mereka belum menemukan surat tersebut menunjukkan jika nama seorang laki-laki memiliki DNA yang sama dengan Alana. Bahkan saat proses pengambilan tadi biasanya pihak dokter yang bertugas pada umumnya akan langsung mengatakan hasil tes tersebut. Tapi kali ini dokter saja sampai kewalahan hingga mereka hanya bisa angkat tangan dan langsung menyerahkan surat tes DNA itu untuk keluarga Abhivandya cek sendiri.
Dan karena hal tersebut membuat beberapa orang yang tengah sibuk dengan kertas-kertas itu pun menghela nafas lelah terutama dengan triplets yang kini dengan serempak mengepal-ngepalkan kertas tadi hingga menjadi bola sebelum mereka membuangnya ke sembarang arah.
"Mau sampai kapan selesainya sih. Banyak banget," gerutu Erland yang matanya sudah tampak lelah itu. Ya siap tidak lelah jika sehabis pulang sekolah, ia langsung di suruh untuk membantu kedua orangtuanya memeriksa surat-surat itu bahkan dirinya sampai di larang makan dan berganti pakaian oleh orangtuanya.
"Iya ih, mata Rea rasanya mau copot saking banyaknya lihat tulisan," ujar Edrea yang kini menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dengan tangan yang memijit pelan pelipisnya.
"Gak cuma kalian aja yang capek. Gue juga. Harusnya kan gue sekarang udah tidur sambil peluk Zea lah ini malah di suruh ngecek kayak ginian mana gak habis-habis pula. Ck, menyebalkan." Kini giliran Azlan yang menggerutu dengan kepala yang ia sandarkan di bahu istrinya dan disambut usapan lembut dari Zea.
Mommy Della dan Daddy Aiden yang mendengar keluhan dari ketiga anaknya pun mereka menghela nafas panjang.
"Kalian ini jangan ngeluh mulu dong. Cepat selesaikan tugas kalian. Bantu Daddy sama Mommy menemukan ayah biologis dari Alana," ujar Mommy Della dengan galaknya.
"Tapi kita capek Mom, perut juga udah keroncongan dari tadi. Kasih waktu istirahat bentar lah. Kalau gak ya biarin kita makan dikit aja yang penting kita ngisi perut kita. Emangnya Mommy mau kita nanti pingsan gara-gara kelaparan?" tutur Erland yang justru membuat Mommy Della memutar bola matanya malas.
"Jangan banyak alasan kamu. Kamu juga bukan orang lemah kan? Buktinya waktu patah hati, kamu seharian gak makan juga baik-baik aja. Ini cuma beberapa jam aja ngeluh. Lagian kalian tadi di sekolah juga udah makan. Jadi jangan ada alasan lagi, jika kalian masih beralasan dan bermalas-malasan Mommy gak akan kasih makan ke kalian selama 7 hari 7 malam," ancam Mommy Della. Walaupun anak-anaknya itu sudah memiliki penghasilan sendiri tapi tetap saja mereka masih memilih untuk makan di rumah daripada di luar jika situasinya memang tidak kepepet. Karena makan masakan dari Mommy Della merupakan anugerah yang sangat nikmat yang tidak bisa mereka lewatkan begitu saja.
Dan ancaman dari Mommy Della tadi membuat ketiga anaknya mencebikkan bibir mereka sebelum akhirnya ketiganya kembali menegakkan tubuhnya, dan tangannya segera meraih amplop yang masih tertutup rapat itu. Melanjutkan tugas yang telah diberikan oleh kedua orangtua mereka.
Tapi karena Mommy Della tak tega melihat raut wajah ketiga anaknya itu yang terlihat benar-benar lelah apalagi dengan menantu dan calon menantunya itu yang sedari tadi diam membisu membuat Mommy Della akhirnya luluh juga.
"Leon, Zea." Kedua orang yang merasa dirinya dipanggil pun mereka dengan serempak menolehkan kepalanya kearah Mommy Della.
"Ikut Mommy sekarang," ujar Mommy Della yang diangguki keduanya.
Tapi saat dua orang itu ingin bangkit dari tempat duduk mereka, lengan keduanya sama-sama dicekal oleh pasangan mereka masing-masing.
"Mommy udah nuntut kita buat ada disini tanpa diperbolehkan untuk makan dan bersih-bersih diri dulu. Dan Mommy sekarang dengan seenaknya nyuruh Zea menjauh dari Azlan. Gak bisa ya, Azlan gak akan pernah biarin Mommy misahin Azlan dari istri Azlan sendiri," ucap Azlan dramatis yang diangguki oleh Edrea.
"Siapa yang mau misahin kalian dengan pasangan kalian. Mommy cuma mau minta tolong sebentar sama mereka. Jadi stop drama! Ini bukan waktu yang tepat untuk memerankan drama kalian yang gak penting sama sekali itu. Dan lepasin tangan kalian berdua dari lengan Zea dan Leon. Jika tidak Mommy tidak akan segan-segan lagi menjalankan ucapan yang Mommy tadi katakan," ucap Mommy Della yang dengan seketika membuat kedua anaknya itu melepaskan pegangan tangan mereka.
"Zea, Leon, ayo," ajak Mommy Della lalu ia melangkahkan kakinya lebih dulu dari dua orang yang ia ajak tadi.
Leon yang melihat kerucutan di bibir Edrea pun ia mengelus rambut kekasihnya itu.
"Aku tinggal sebentar. Gak akan lama kok jadi kamu tenang saja," ucap Leon yang hanya dijawab dengan deheman oleh Edrea. Dan setelah mendengar deheman dari Edrea tadi, Leon segara melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki dari dua perempuan di depannya.
15 menit telah berlalu dan ketiga orang tadi kini telah kembali dengan membawa makanan di piring mereka masing-masing sedangkan beberapa gelas minuman di bawakan oleh art di rumah tersebut.
Edrea yang melihat makanan pun matanya langsung berbinar.
"Yessss makanan," teriak Edrea membuat ketiga laki-laki yang berada di ruangan yang sama dengannya kini mengalihkan pandangannya kearah Edrea sebelum beralih kearah empat orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Letakkan di meja kecil itu saja," perintah Mommy Della kepada art yang membawa minuman tadi dengan menunjuk meja kecil yang berada di pojok ruangan tersebut. Art tadi menganggukkan kepalanya dan segera meletakkan barang bawaannya tadi ke tempat yang telah di perintahkan oleh nyonya di rumah tersebut.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Mommy Della dengan senyumannya dan dibalas anggukan juga senyuman dari art tadi sebelum ia beranjak keluar dari ruangan tersebut.
sedangkan ke-tiga orang yang membawa piring itu kini mendudukkan tubuhnya disamping pasangan mereka masing-masing membuat Erland mendengus kasar. Nasib jadi jomblo, batinnya menggebu-gebu.
"Er, pindah sini," ucap Mommy Della dengan menepuk-nepuk sofa di sampingnya yang masih kosong itu.
Erland yang lagi tak selera berdebat pun ia segara berpindah tempat disamping sang Mommy.
"Buka mulutnya," perintah Mommy Della yang membuat Erland mengerutkan keningnya.
"Buat apa Mom?" Mommy Della tampak berdecak.
"Makan lah. Mommy mau nyuapin kamu," ujar Mommy Della.
"Mommy mau nyuapin Erland?" tanya Erland tak percaya sekaligus takut jika bapak negara nanti akan marah-marah karena melihat hal yang akan di lakukan mereka berdua.
Mommy Della yang melihat pandangan Erland mengarah ke Daddy Aiden pun kini ia angkat suara.
"Daddy udah makan tadi sama Mommy. Lagian Daddy gak akan marah kok. Iya kan, sayang?" tanya Mommy Della yang ditujukan untuk Daddy Aiden yang masih saja fokus ke surat-surat didepannya itu.
"Hmmm, makan saja kalau mau makan. Daddy gak akan marah untuk kali ini," ucap Daddy Aiden dengan menatap sekilas kearah dua orang yang duduk disampingnya itu.
Erland yang mendengar ucapan langkah dari bapak negara yang super duper posesif itu pun ia mengerjabkan matanya berkali-kali, bahkan ia hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar tadi. Seorang Daddy Aiden yang tak mau siapapun termasuk anaknya sendiri untuk menyentuh istrinya kecuali dirinya sendiri sekarang justru membiarkan istrinya itu menyuapi Erland. Sungguh ini adalah keajaiban dunia yang perlu di rayakan kalau perlu tanggal saat ini di dedikasikan sebagai hari langka nasional saking memang langkanya Daddy Aiden melakukan hal tersebut.
Dan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Mommy Della tadi, Erland kini kembali membuka satu-persatu amplop tadi dengan di suapi oleh Mommy Della begitu juga dengan Azlan dan Edrea yang juga mendapat suapan dari pujaan hati mereka masing-masing. Bahkan dua pasangan itu kini makan sepiring berdua. Dan adegan saat ini membuat leleh mereka tadi tergantikan dengan semangat kembali.
Hingga beberapa menit telah berlalu suara teriakan dari Edrea membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut terperanjat kaget.
"Yessss akhirnya! uhuk uhuk uhuk," teriak Edrea diakhir dengan ia tersedak karena didalam mulutnya masih ada makanan.
Leon yang tadinya terkejut pun kini semakin dibuat panik dengan Edrea yang tersedak makanan, hingga kini ia berlari kearah meja kecil yang di atasnya sudah terletak minuman untuk mereka. Lalu setelahnya Leon bergerak cepat kembali ke samping Edrea.
"Minum," ucap Leon dengan menyodorkan satu gelas air putih ke hadapan Edrea yang langsung disambar oleh gadis itu. Lalu menengguknya dengan cepat.
"Huhhhh lega!" Beberapa orang di sana yang melihat tingkah Edrea, mereka hanya menggelengkan kepalanya.
"Ish tapi sakit juga nih tenggorokan," keluh Edrea dengan mengelus lehernya.
"Lagian kamu juga kenapa pakai teriak-teriak juga sih kalau tau masih ada makanan di dalam mulut. Ada-ada saja," timpal Mommy Della yang membuat Edrea mencebikkan bibirnya.
"Ck, Rea tadi refleks tau Mom karena Rea udah nemuin surat yang kita cari dari tadi," ucap Edrea.
Semua orang yang tadinya sudah kembali ke aktivitas mereka masing-masing kini mereka menghentikan aktivitas itu dan kini beralih menatap Edrea.
"Masak?" tanya Mommy Della tak percaya.
__ADS_1
"Ck, kalau Mommy tidak percaya lihat aja sendiri nih." Edrea menyerahkan selembar kertas tadi ke arah Mommy Della yang langsung di terima oleh perempuan paruh baya tersebut. Dan hal tersebut membuat semua orang yang kepo pun merapatkan tubuhnya kearah Mommy Della dengan bersama-sama melihat siapa nama laki-laki tersebut.
"Orang ini? Hmmm baiklah," ucap Daddy Aiden sembari berdiri dari duduknya dan bergegas keluar dari ruangan tersebut. Bukan untuk menghampiri laki-laki yang merupakan ayah biologis dari Alana, tapi ia menghampiri anak buahnya untuk memerintahkan kepada mereka agar membawa laki-laki yang namanya tertera dalam surat tadi ke hadapannya. Dan perintahnya tadi langsung diangguki oleh para anak buahnya tadi, lalu tanpa menunggu waktu lama lagi, mereka bergerak untuk mencari keberadaan laki-laki tersebut.
...****************...
Satu jam lebih para anak buah Daddy Aiden menyelesaikan tugas mereka dan kini mereka telah membawa laki-laki tadi ke hadapan Daddy Aiden yang tengah duduk di ruang keluarga bersama keluarganya tak lupa dengan Alana yang berada di gendongan Mommy Della.
"Lepasin sialan," berontak laki-laki tadi. Tapi sayangnya tenaganya itu jauh lebih kecil dari tenaga kedua anak buah Daddy Aiden yang memeganginya. Hingga Daddy Aiden mengisyaratkan untuk mereka melepaskan cekalan mereka tadi dari laki-laki di hadapannya tersebut.
Dan hal tersebut membuat laki-laki itu menghela nafas lega tapi setelahnya ia dibuat tegang kembali saat Daddy Aiden telah berdiri didepannya dengan menatap dirinya dari atas sampai bawah.
"Nama anda Teddy Rusmawan bukan?" tanya Daddy Aiden yang membuat laki-laki dihadapannya kini menganggukkan kepalanya takut-takut.
"Silahkan baca ini." Daddy Aiden menyodorkan surat hasil tes DNA tadi kearah laki-laki tersebut yang langsung diterima oleh dia.
Dan tak berselang lama, laki-laki itu melebarkan matanya.
"Ini?" tanya laki-laki tersebut dengan menatap Daddy Aiden dan surat di dalam genggamannya itu secara bergantian.
"Ya, didalam surat itu anda merupakan ayah biologis dari bayi yang dulu di kandung oleh perempuan yang bernama Puri. Anda masih ingat Puri kan? Saya rasa masih. Dan bayi yang dulunya di kandungan oleh perempuan itu, tiga hari yang lalu telah lahir dengan selamat tanpa kekurangan sedikitpun," jelas Daddy Aiden. Mommy Della yang sedari tadi menimang-nimang bayi itu pun ia kini berdiri dari duduknya dan segera bergabung dengan kedua laki-laki tadi.
Dan kehadiran Mommy Della itu membuat pandangan laki-laki bernama Teddy itu mengarah ke Alana.
"Bayi ini merupakan anak anda. Jangan pernah menyangkal akan fakta ini. Jenis kelamin bayi itu perempuan dan dia memiliki nama Alana Gantari. Anda sebagai ayah biologisnya harus menerima kehadiran dia di hidup anda," ucap Daddy Aiden yang terlihat begitu tenang.
"Tidak. Tidak mungkin dia anak saya. Muka dia saja tidak mirip dengan saya," tolak laki-laki itu.
"Heh tuan Teddy yang terhormat, dia masih bayi, wajahnya masih bisa berubah-ubah. Jadi wajar saja wajahnya tidak mirip dengan anda. Lagian anda mau menolak pun percuma karena tes DNA sudah berbicara," timpal Erland yang masih terduduk di sofa di ruangan tersebut.
"Hasil tes DNA ini juga pasti salah. Atau kalau tidak kalian telah mensabotase hasil tes ini."
"Buat apa kita mensabotase hasil tes DNA ini. Kurang kerjaan sekali kita," ucap Edrea.
"Sudahlah tuan Teddy yang terhormat mending anda mengakui saja tentang anak itu biar masalah ini segera selesai." Kini giliran Azlan yang bersuara.
"Mengakui? Tidak akan, karena saya rasa tes DNA ini salah," kekeuh Teddy yang membuat ke-lima pemuda itu memutar bola matanya malas sedangkan Daddy Aiden menghela nafas panjang.
"Baiklah begini saja. Untuk memastikan dan membuat anda percaya, kita tes DNA ulang. Jika waktu itu hanya dengan rambut saja. Sekarang tes DNA dengan darah kalian. Bagaimana anda setuju?" tawar Daddy Aiden.
"Baiklah saya setuju dengan ide anda itu. Tapi jika tes kedua ini menunjukkan bahwa dia bukan anak saya. Kalian akan saya tuntut," ucap Teddy dengan angkuhnya dan ucapannya tadi hanya diangguki oleh Daddy Aiden tanpa takut sama sekali.
"Kalau begitu tunggu apa lagi. Buruan kita kerumah sakit dan tes DNA sekarang juga kalau bisa hasilnya keluar sekarang juga. Dan satu lagi, biaya tes DNA ini anda yang membayarnya, tuan Aiden." Daddy Aiden yang memang tak pernah mempermasalahkan tentang uang pun ia menganggukkan kepalanya setuju. Dan setelah mendapat persetujuan dari Daddy Aiden tadi, laki-laki itu tanpa berpamitan dengan orang-orang disekitarnya ia langsung nyelonong begitu saja keluar dari ruangan tersebut lebih tepatnya dari rumah mewah itu. Diikuti oleh Daddy Aiden dan Mommy Della juga beberapa bodyguard yang siap sedia mengintai laki-laki tadi agar tak kabur nantinya.
Sedangkan Triplets dan kedua orang lainnya hanya bisa menghela nafas panjang. Mereka pikir setelah mereka menemukan ayah biologis dari Alana semua permasalahan tentang Puri juga anaknya selesai tapi ternyata tidak semudah itu. Orangtua mereka harus berusaha untuk meyakinkan laki-laki yang tidak tau diri itu dan lagi-lagi Daddy Aiden yang harus menanggung semua biayanya. Kalau begini ceritanya, lama-lama harta Daddy Aiden habis gara-gara permasalahan yang tak ada habisnya ini, batin triplets yang merasa kasihan sekaligus bangga dengan kedua orangtuanya yang selalu membela kebenaran dan selalu melindungi orang-orang lemah tanpa meminta imbalan sepeserpun dari orang yang mereka tolong. Dan kebijakan dari kedua orangtua itu tak hayal membuat Triplets menjadikan keduanya sebagai role model mereka yang akan mereka ikuti kebaikan dari orangtuanya itu entah di masa dulu ataupun di masa depan nantinya.
__ADS_1