
Kini mobil yang dikendarai oleh Azlan sudah sampai di lokasi tujuan mereka bertiga yaitu sebuah rumah sakit milik keluarga besar Abhivandya yang disana merupakan tempat berkerja Adam.
Dan setelah keluar dari mobil, triplets bergegas menuju ruangan kerja Adam. Dalam perjalanan mereka tak sedikit dokter, suster dan staf rumah sakit tersebut menyapa mereka dan dengan ramahnya mereka tak segan-segan membalas sapaan mereka.
Saat triplets sudah berada di depan ruangan tersebut, tanpa permisi mereka langsung masuk begitu saja.
"Yuhuuuuuu Rea cantik datang," teriak Edrea saat kakinya mulai memasuki ruangan yang tampak sepi itu.
"Lho kok sepi?" tutur Edrea saat dirinya baru sadar suasana di ruangan tersebut.
"Mungkin bang Adam lagi meriksa pasien," ujar Erland sembari mendudukkan tubuhnya di kursi kerja Adam. Edrea tampak mengangguk kemudian ia ikut duduk di depan Erland sedangkan Azlan yang sudah tak kuasa menahan hajatnya pun ia segera beranjak menuju kamar mandi di ruangan tersebut.
Tapi saat dirinya membuka pintu tersebut, pintu itu tak kunjung terbuka hingga berkali-kali ia mencobanya tapi hasilnya nihil.
"Kamar mandi disini rusak apa gimana sih?" geram Azlan yang membuat kedua kembarnya langsung menoleh kearahnya.
"Gak tau. Tanya aja sama OB disini," ujar Erland kemudian ia kembali melanjutkan aktivitasnya.
Sedangkan Edrea, ia melangkahkan kakinya mendekati Azlan.
"Abang kebelet?" tanyanya.
"Kalau gak kebelet ngapain gue dari tadi disini," tutur Azlan yang hanya dibalas cengiran oleh Edrea.
"Ya kan siapa tau Abang cuma gabut aja dan meriksa ruangan ini. Abang sekarang minggir dulu, biar Rea coba buka pintunya." Tanpa berucap lagi, Azlan menuruti perintah dari Edrea tadi kemudian setelah tubuh Azlan menyingkir di depan pintu kamar mandi tersebut, Edrea langsung mencoba untuk membukanya.
"Ini mah kayaknya bukan rusak tapi kekunci dari dalam bang. Tapi kalau pintunya terkunci dari dalam, berati dikamar mandi ini ada orangnya dong," ujar Edrea yang hanya dijawab gidikan bahu oleh Azlan.
"Tapi kok gak kedengaran suara air atau apapun. Kalaupun ada orangnya juga dia pasti akan protes saat kita ganggu dari tadi. Dan ruangan ini tuh khusus cuma buat bang Adam doang. Jangan-jangan yang didalam bang Adam dan dia lagi pingsan. Wahhh gak beres ini. Bang Er kesini buruan!" teriak Edrea membuat Erland yang tadi sempat senyum-senyum sendiri pun kini senyuman itu berubah menjadi cemberut.
"Apaan sih ganggu aja," geram Erland.
"Ck, jangan banyak tanya. Kesini buruan, bantu bang Az buat dobrak pintu ini." Azlan yang sedari tadi terdiam dan tak berniat untuk melakukan hal yang di ucapkan oleh Edrea pun kini mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Siapa juga yang mau dobrak pintu itu? Kurang kerjaan aja," protes Azlan.
"Ck, jangan banyak protes ih. Apa Abang gak takut kalau ternyata tebakan Rea benar?" Azlan menghela nafas kemudian ia berjalan menuju posisi untuk mendobrak pintu tersebut bersama Erland yang juga sudah bergabung dengannya. Dan dengan sekali dobrakan pintu kamar mandi tersebut terbuka, yang langsung membuat ketiga orang tadi seketika panik.
"Nah kan bener didalam ada bang Adam," ucap Edrea sembari melihat Adam yang sudah terkapar di lantai kamar mandi tersebut.
"Er, bawa bang Adam keluar dari sini. Dan Edrea panggil salah satu dokter disini buat periksa bang Adam," perintah Azlan.
"Terus lo mau ngapain?" tanya Edrea.
"Gue mau pipis dulu. Udah gak tahan ini. Dari pada gue nanti ngompol kan gak banget. Buruan kalian berdua bergerak sekarang!" Erland juga Edrea yang memang sudah teramat panik pun bergegas melakukan apa yang diperintahkan oleh Azlan tadi.
"Astaga. Sepertinya bang Adam kebanyakan dosanya nih. Berat banget sumpah. Bang, bantuin sampai brankar dong. Gak kuat gue kalau bawa tubuh nih orang sendiri," keluh Erland.
Azlan berdecak tapi mau tak mau ia harus membantu Erland membawa tubuh Adam hingga tubuh itu terbaring di bankar. Dan barulah dirinya berlari kembali menuju kamar mandi yang untungnya pintu tadi masih bisa ditutup walaupun tak bisa di kunci, tapi setidaknya masih bisa melindungi aset berharganya.
Dan setelah beberapa saat kemudian ia keluar dari kamar mandi tersebut dengan perasaan leganya dan bertepatan dengan itu, salah satu dokter dirumah sakit itu datang dengan pergelangan tangan yang digenggam oleh Edrea.
"Pinter juga tuh anak. Cari dokter yang tampan dan pakai digandeng segala tangannya. Hmmmm kesempatan dalam kesempitan," batin Azlan.
"Eh ah maaf," ujar Edrea sembari melepaskan genggaman tangannya tadi yang hanya di balas dengan senyuman oleh dokter itu. Lalu setelahnya dokter itu segera memeriksa kondisi Adam yang masih tak sadarkan diri.
Beberapa menit telah berlalu dan akhirnya dokter tersebut telah selesai memeriksa Adam dan kini ia menghadap triplets.
"Bagaimana keadaan bang Adam, dok?" tanya Edrea.
"Beliau hanya kecapekan saja Nona dan asam lambungnya lagi naik. Saya mohon selalu perhatikan pola makan tuan Adam agar sakit lambungnya tak lagi kambuh," ujar dokter tersebut yang diangguki ke-tiga.
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan dan nona. Untuk obat tuan Adam nanti saya suruh suster untuk membawakannya kesini," sambungnya.
"Baik. Terimakasih Dok," ucap ketiganya.
"Mau saya antar Dok?" tanya Edrea tiba-tiba yang langsung mendapat tatapan tajam dari kedua Abangnya.
__ADS_1
"Tidak perlu repot-repot nona. Saya permisi dulu, selamat pagi," tuturnya kemudian ia bergegas keluar dari ruangan tersebut.
Dan barulah Erland langsung mencubit pipi Edrea dengan gemas.
"Jangan cari kesempatan dalam kesempitan," ujar Erland yang membuat Edrea mencebikkan bibirnya.
Dan saat Edrea ingin menimpali ucapan dari Erland, Abang keduanya itu justru malah menjauh darinya dan mendekati Adam yang perlahan membuka matanya.
Saat mata Adam terbuka sempurna, ia mengerutkan keningnya menatap kedua laki-laki yang tengah menatapnya dengan tangan yang terlipat didepan dada.
"Lah kok kalian disini?" tanyanya yang membuat keduanya memutar bola matanya malas.
"Ya kalau kita gak kesini mungkin Abang tadi udah end didalam kamar mandi," balas Azlan.
"Abang!" teriak Edrea menggelegar sembari berhambur kepelukan Adam.
"Astaga, dek. Suara kamu tuh bisa dikecilin gak. Ini masih kawasan rumah sakit lho. Gak baik teriak-terika begitu," tutur Adam memperingati.
"Ck, maaf kelepasan. Oh ya Abang kenapa bisa pingsan di dalam kamar mandi? dan kenapa Abang makannya gak teratur? kerja sih boleh-boleh aja bang tapi abang juga perlu merhatiin kesehatan Abang sendiri," omel Edrea sembari melepas pelukannya.
"Iya-iya gak lagi-lagi," ujar Adam singkat agar adiknya itu tak lagi ngoceh didepannya.
"Aku kira kalau dokter itu gak bisa sakit," cibir Erland.
"Dokter juga manusia kali Er. Ya kali sehat terus, kalau begitu konsepnya pasti banyak orang yang mau jadi dokter," ujar Adam.
"Ya kan cuma tebakanku aja," tutur Erland yang dibalas dengan senyum juga gelengan kepala oleh Adam.
"Oh ya bang, Mom sama Dad udah ngabarin kamu kan kalau mereka ke Rusia sekarang?" Adam menganggukkan kepalanya.
"Iya. Dan selama Mom sama Dad disana Abang bakal nemenin kalian dirumah," ujar Adam yang langsung mendapat pelukan dari Edrea.
"Nah gitu dong mau pulang kerumah. Sering-sering lah bang tidur di rumah gak cuma kalau Mom sama Dad keluar negeri aja Abang baru mau pulang," tutur Edrea.
__ADS_1
"Bukannya Abang gak mau pulang hanya aja, jarak dari rumah dan rumah sakit tuh jauh. Takut-takut pasien Abang yang rawat inap disini membutuhkan Abang saat malam hari dan disaat yang sangat-sangat genting. Mereka gak akan kelamaan nunggu jika Abang tidur di apartemen beda lagi kalau dirumah, bisa-bisa belum sampai sini nyawa pasien Abang udah melayang. Toh Abang juga pulang kalau lagi libur kerja," ujar Adam sembari mengelus kepala Edrea yang bersandar di dada bidangnya. Sedangkan Azlan dan Erland, dua laki-laki itu sudah menjauh dari mereka berdua dan memilih sibuk dengan urusan masing-masing lebih tepatnya sibuk bucin dengan pasangan masing-masing.