
Leon yang mendengar suara kunci terbuka pun ia segera mendudukkan tubuhnya dari posisi rebahannya tadi. Dan dengan senyum lebar ia menyambut seseorang yang kini tengah membuka pintu kamarnya.
Sedangkan Azzo yang sudah membuka lebar pintu kamar sang adik pun ia memutar bola matanya malas saat melihat senyum kemenangan yang tergambar jelas di wajah menyebalkan adiknya itu.
"Eh Kakak, kenapa kesini? Aku pikir yang membuka pintu tadi adalah Callie, eh ternyata malah kamu," ucap Leon sembari berjalan mendekati Azzo.
"Oh ya dimana anak cantikku itu. Apakah dia sekarang lagi merajuk dan mengurung dirinya dikamar?" tanya Leon, sok-sokan tidak tau. Padahal ia tadi sempat menguping pembicaraan mereka tentang Callie tadi.
"Berisik. Banyak tanya kamu. Buruan keluar, sebelum aku berubah pikiran nanti," ujar Azzo yang justru membuat Leon kini bersedekap dada tanpa berniat segera keluar dari kamarnya dan membantu membujuk Callie agar anak itu berhenti merajuk.
"Ck, buat apa aku keluar kalau aku tidak di perbolehkan untuk ketemu sama Edne," ujar Leon ngelunjak.
"Jaga batasan kamu, El. Kamu ini lagi di pingit, dua hari lagi kamu juga akan ketemu sama Edrea dan setelahnya kamu juga akan satu rumah dengan dia yang otomatis akan selalu bertemu. Jadi jangan seperti anak kecil kayak gini. Tahan sebentar rasa rindu kamu itu. Dan perlu kamu tau, Callie sekarang lagi butuh kamu," ujar Azzo.
"Kamu kan ayah kandung Callie, kenapa itu anak malah membutuhkan aku bukan kamu saja." Ucapan Leon itu membuat Azzo kini mengepalkan tangannya. Berhadapan dengan adiknya itu benar-benar menguras tenaga dan kesabarannya.
"Keluar sekarang dan bujuk Callie agar keluar dari kamarnya sebelum wajah kamu, Kakak hancurkan dan sebelum Callie nekat untuk melompat dari balkon kamarnya ke balkon kamar kamu karena Mommy tadi bilang kalau pintu balkon Callie terbuka," ujar Azzo yang membuat wajah Leon yang tadinya tampak songong kini berubah menjadi khawatir. Dan tanpa mengucapakan sepatah kata pun Leon langsung menuju kearah kamar Callie yang kebetulan berada di samping kamarnya, meninggalkan sang Kakak yang kini tengah melontarkan sumpah serapan kepadanya. Tapi Leon mana peduli dengan sumpah serapah itu karena yang terpenting sekarang adalah Callie. Kalau sampai Callie nekat melakukan hal seperti yang dikatakan oleh Azzo tadi, bisa beda urusannya lagi nanti.
Dan sesampainya dirinya di depan kamar Callie, ia melihat Mommy Elia dan Alice langsung memberikan jalan untuknya agar memudahkan ia untuk membujuk Callie di kamarnya.
Dan dengan deheman, tangan Leon bergerak untuk mengetuk pintu yang di depannya tertulis princess Cellie tersebut.
Tok tok tok!!!
"Anak cantik, princess Callie. Ini Daddy, buka pintunya ya sayang." ucap Leon.
Hening, tak ada sautan bahkan tak terdengar langkah kaki mendekati pintu tersebut.
"Callie, Callie ada di dalam kan?"
Satu detik, dua detik hingga beberapa saat masih tak terdengar suara Callie yang menimpali ucapan dari Leon tadi. Dan hal tersebut membuat semua orang disana tak terkecuali dengan Leon mengkhawatirkan kondisi Callie didalam sana.
"Sayang. Balas ucapan Daddy." Mereka masih saja tak mendengar jawaban dari Callie sedikitpun. Dan hal tersebut benar-benar membuat Leon kelimpungan sendiri.
"Arkhhhh, bawa kunci cadangan kamar Callie kesini sekarang juga. Cepat!" perintah Leon kepada dua art yang masih berdiri di depan kamarnya itu. Kedua art tadi yang mendapat perintah dari sang majikan pun dengan cepat ia menuju ke lantai bawah, mengambilkan apa yang di butuhkan oleh Leon tadi.
Dan selama menunggu kunci cadangan itu, Leon masih terus mengetuk pintu kamar tersebut dengan segala bujuk rayunya. Namun semua usahanya itu nihil tak ada yang membuahkan hasil. Hingga kedua art tadi kembali dengan membawa kunci kamar Callie di tangan.
"Ini tuan kuncinya." Art tadi menyerahkan kunci kamar tersebut yang langsung di terima oleh Leon.
"Terimakasih," ucap Leon. Dan setelah mendapatkan kunci tersebut, Leon mulai mencoba membuka pintu kamar itu yang sayangnya kunci itu tak bisa ia gunakan.
__ADS_1
"Kamu yakin ini kunci cadangan kamar Callie?" tanya Leon kepada kedua art tadi.
"Iya tuan karena di bagian atas kunci itu terukir nama nona Callie." Leon yang mendengar ucapan dari art tadi, ia langsung memeriksa bagian atas di kunci tersebut. Dan benar saja nama Callie terukir rapi disana.
"Kalau ini beneran kunci kamar Callie, kenapa tidak bisa masuk kedalam lubang kunci itu sepenuhnya?" geram Leon.
"Ada satu kemungkinan kenapa kunci itu tidak masuk tuan." Keempat orang itu kini mengalihkan pandangannya kearah salah satu art yang berucap tadi.
Dan dengan alis yang terangkat satu, Leon bertanya, "Kemungkinan apa yang kamu maksud? katakan!"
"Mungkin kunci utama kamar nona kebetulan tidak di cabut dari lubang kunci itu. Sehingga jika salah satu dari tuan dan nyonya mencoba membuka pintu ini dengan kunci yang lain, tidak akan pernah bisa. Dan salah satu caranya agar pintu itu bisa terbuka, ya cuma di dobrak saja. Karena tidak mungkin kita menunggu nona Callie membukanya sendiri, sedangkan dari tadi saja nona tidak bersuara saat tuan bertanya. Takutnya di dalam juga sudah terjadi hal yang tak diinginkan," ucap art tersebut yang membuat keempat majikannya itu terdiam sesaat sebelum Leon yang lebih dulu tersadar pun ia langsung mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar Callie, diikuti oleh Azzo yang juga akan mendobrak pintu tersebut. Jika situasinya sudah seperti ini, mereka harus akur terlebih dahulu. Jika nanti situasinya sudah kembali tenang, mereka akan melanjutkan pertengkarannya.
Dan dengan anggukan kepala dari keduanya sebagai kode kesiapan mereka, Leon dan Azzo dengan kompak mulai mendobrak pintu kamar tersebut.
Satu kali dobrakan, tak mempengaruhi pintu itu sama sekali. Dan pintu itu sekarang juga masih tertutup rapat.
Tapi hal tersebut tak membuat kedua laki-laki itu menyerah begitu saja. Mereka kembali mengambil ancang-ancang sebelum mendobrak pintu kamar Callie sekali lagi.
Namun sayang, dobrakan yang kedua juga belum mendapat hasil sama sekali. Pintu itu masih saja kokoh tak bergeming sedikitpun. Dan hal tersebut membuat Leon berdecak sebal.
"Siapa sih yang buat pintu ini dulu? Masak dengan dua kali dobrakan tidak berefek apapun. Ck, menyebalkan," geram Leon yang langsung mendapat tepukan di pundaknya dari Azzo.
"Dalam hitungan ketiga. Kita kerahkan semua kekuatan kita buat dobrak pintu itu," ucap Azzo yang diangguki oleh Leon.
"Satu." Azzo mulai menghitung.
"Dua," lanjutnya.
"Mulai!" teriaknya menggebu-gebu. Saat kata mulai keluar dari bibir Azzo, kedua orang tersebut dengan kekuatan penuh berlari menuju pintu kamar Callie bersiap untuk mendobraknya kembali.
Tapi saat tubuh mereka mulai condong ke pintu tersebut, bertepatan dengan itu pula pintu kamar tersebut terbuka lebar. Hingga...
Gedubrak!!!
Dua laki-laki itu berhasil. Iya berhasil jatuh mencium lantai kamar Callie, bukan berhasil mendobrak pintu tersebut.
Callie yang tadi membuka pintu kamarnya setelah ia mendengar suara gemuruh di depan kamarnya pun ia dibuat melongo saat menyaksikan kedua ayahnya itu tengah jatuh dengan posisi tak etis dihadapannya. Untung saja dirinya tadi bisa menghindar, jika tidak sudah dipastikan ia akan ikut jatuh bersama mereka berdua.
"Daddy sama Papa ngapain?" tanya Callie dengan tampang polosnya itu.
Leon dan Azzo yang sedari tadi mengaduh kesakitan pun ia kini menengadahkan kepalanya, menatap anak perempuan yang sedari tadi mereka khawatir tengah berdiri tegak di sampingnya.
__ADS_1
Alice yang tadi sempat terkejut atas kejadian yang menimpa suami dan adik iparnya itu, kini ia segara berlari menuju kearah Callie saat suara anaknya itu menyadarkan keterkejutan dirinya.
"Callie, ya ampun nak kamu tadi dimana? Kanapa saat Mama, Oma, Papa sama Daddy manggil kamu, kamu hanya diam saja? Apa yang sedang Callie tadi lakukan hmm? Dan apa tubuh Callie ada yang terluka?" tanya Alice beruntun dengan memeriksa tubuh Callie dari pangkal kepala hingga pangkal kaki. Takut ada luka di tubuh anaknya itu.
"Mama, Callie tidak kenapa-napa. Callie baik-baik saja. Callie tadi tidak menjawab perkataan Mama, Papa, Oma sama Daddy karena Callie tadi sedang di kamar mandi," jawab Callie dengan jujur.
"Di kamar mandi?" beo Mommy Elia.
"Hehehe iya. Perut Callie tadi tiba-tiba mules jadinya Callie pup dulu deh. Dan berakhir saat kalian berkata tadi Callie tidak dengar karena di dalam kamar mandi tadi Callie juga menghidupkan kran air untuk memenuhi bathub disana," ujar Callie.
"Ngapain Callie hidupin kran air segala. Callie kan hanya pup saja bukan mau mandi," ucap Alice tak habis pikir dengan kelakuan anaknya itu.
"Callie menghidupkan kran buat menemani Callie selama pup Mama. Biar didalam kamar mandi Callie tidak merasa sendirian. Callie kan juga bisa bermain bersama bebek yellow milik Callie saat Callie menunggu pup belum keluar," tutur Callie yang benar-benar polos sekali. Dan hal tersebut membuat Alice dan Mommy Elia menepuk keningnya. Sedangkan Azzo, ia menatap tajam kearah adiknya itu. Ia yakin apa yang dilakukan oleh Callie itu merupakan didikan dari Leon. Dan ia sekarang juga mulai paham kenapa desain kamar mandi di dalam kamar Callie dekat sekali bahkan berhadapan langsung dengan bathub ternyata gunanya agar Callie tidak jenuh menunggu pupnya keluar. Benar-benar di luar nalar, ide Leon benar-benar sangat menakjubkan hingga otak orang normal saja tak menyangka dengan ide itu.
Sedangkan Leon yang mendapat tatapan tajam itu pun ia hanya meringis menunjukkan deretan gigi rapinya itu.
"Biar dia gak gabut didalam. Karena terus terang saja, aku gak akan betah jika harus menunggu dia di dalam kamar mandi saat dia dulu tengah buang air. Kalau buang air kecil mah gak papa, tapi kalau sudah urusan dengan buang air besar, aku gak akan pernah biasa. Ya kamu tau sendirilah alasan aku gak mau menemani Callie saat dia pup, pasti karena baunya yang sangat menggangu indra penciumanku," ujar Leon dengan memberikan alasannya yang logis. Dan hal tersebut membuat ketiga orang tadi menggelengkan kepalanya.
Sedangkan Callie, ia sekarang justru menatap penuh binar kearah Leon.
"Daddy," teriaknya dan tanpa aba-aba ia melompat kedalam pelukan Leon yang masih berada di posisi duduk di lantai kamar tersebut.
Leon yang belum siap menerima serangan mendadak dari Callie pun alhasil tubuhnya terjungkal ke belakang dan membuat kepalanya terbentur lantai.
"Stttt," desis Leon kesakitan. Belum juga rasa sakit di lengan dan bokongnya menghilang, ini sudah di tambah lagi di bagian kepalanya yang sekaligus terasa nyut-nyutan. Benar-benar definisi double penderita yang sesungguhnya.
"Daddy, Callie kangen," ucap Callie yang tak mempedulikan kesakitan yang tengah melanda Leon. Dan anak itu sekarang justru tengah berbaring dengan kepala yang ia senderkan di dada bidang Leon.
Leon yang mendengar hal tersebut ia kini menghela nafas. Lalu tangannya kini bergerak untuk membalas pelukan dari Callie tadi dengan posisi yang tak berubah sama sekali.
"Daddy juga kangen sama Callie," ucap Leon dengan memberikan usapan lembut di kepala Callie hingga membuat anak perempuan itu kini menengadahkan kepalanya agar bisa menatap wajah Leon yang berada di atasnya.
"Daddy, kenapa Daddy malah tiduran di sini lagi? Ayo bangun Daddy," ucap Callie yang sudah bangkit dari atas tubuh Leon lalu ia mengulurkan tangannya kearah sang Daddy.
Leon yang mendapat pertanyaan seperti itu dari Callie, ingin sekali ia menjawab, ini semua gara-gara kamu yang melompat kedalam pelukan Daddy tanpa memberikan aba-aba terlebih dahulu. Ia ingin sekali berucap seperti itu, tapi tak mungkin karena jika ia mengatakan kekesalannya di depan Callie, ia yakin anak perempuannya itu langsung akan mengerucutkan bibirnya kedepan dan berakhir akan menangis. Terlebih ia juga sayang kepada Callie, jadi ia tak ingin melihat air mata Callie keluar gara-gara dirinya. Ya walaupun tadi sempat membuat anak itu menangis, tapi kan Leon justru membutuhkan air mata Callie tadi agar dramanya berjalan dengan lancar. Dan lihatlah sekarang, ia berhasil keluar berkat drama dan air mata Callie. Jika bukan karena itu, ia yakin sekali mereka tak akan membebaskan dirinya dan terus mengurungnya sampai hari pernikahannya tiba.
Ngomong-ngomong tentang drama dan air mata, apa Leon juga harus melakukan hal yang sama agar ia bisa bertemu dengan pujaan hatinya. Jika tidak bisa, ya setidaknya ia bisa memanfaatkan Callie agar ia bisa mendengar suara Edrea lewat sambungan telepon. Hmmmm sepertinya ia bisa melakukan dramanya lagi setelah ini.
Leon yang diam-diam tersenyum kala ide liciknya kembali muncul di kepalanya itu pun, ia tersadar saat tangannya mendapat tarikan dari Callie yang tengah membawanya ke arah tempat tidur.
Dan setelah tubuhnya di dudukkan secara paksa oleh Callie, anak perempuan itu kembali memeluknya dengan sangat erat. Sepertinya Callie memang tengah rindu berat kepadanya. Dan hal tersebut membuat Leon tidak bisa menolak, karena sejujurnya di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Ia juga tengah memendam rindu dengan keponakan sekaligus anak angkatnya itu. Hingga ia kini membalas pelukan dari Callie tak kalah erat dari yang Callie berikan kepadanya.
__ADS_1