
Dan sumber suara dari tembakan tadi tak lain berasal dari belakang mereka yang merupakan tempat berdirinya Leon sekarang.
"Bawa dia ikut pulang. Dan salah satu dari kalian wakilkan saya untuk memberitahu ke bos besar kalian. Jika dia terus mengusik hidup saya yang sekarang, perlahan dan satu persatu anak buah kesayangannya akan lenyap di tangan saya. Saya tidak peduli jika akhirnya saya akan melawan mantan keluarga saya sendiri. Bahkan kalau bisa saya akan melenyapkan bos besar kalian jika dia sudah melewati batasannya," ujar Leon sembari menurunkan senapan yang ia gunakan untuk menebak pemimpin pasukan tadi.
Dan ucapan dari Leon tadi diangguki oleh para anak buah tersebut. Lalu setelahnya dengan susah payah mereka berbondong-bondong menaikkan tubuh pimpinan mereka yang sudah tak bernyawa itu ke atas helikopter.
Dan beberapa saat setelahnya dua helikopter tersebut mulai meninggalkan area sekolah tersebut saat dipastikan jika semua pengacau tadi sudah masuk kedalam.
Sedangkan Leon yang sedari tadi menunggu di tempat yang sama, tangannya ia lambaian untuk salam perpisahan kepada orang-orang tadi.
Dan setelah dipastikan jika helikopter tersebut menjauh dan tak menyebabkan kegaduhan lagi, Leon kini bisa menghela nafas lega. Kemudian ia menatap kearah senapan yang masih berada di tangannya tersebut, lebih tepatnya ia tengah melihat simbol yang terukir di senjata tersebut.
"Jangan salahkan aku jika sekarang aku melawanmu," gumam Leon dengan mengelus simbol tersebut menggunakan jempol tangannya.
Dan tatapannya kini beralih saat ia mendengar derap langkah kaki seseorang yang mendekatinya.
"Dimana orang-orang itu berada?" ucap Erland yang sudah berdiri di samping Leon.
"Telat, mereka sudah pergi tadi," ujar Leon sembari membalikan badannya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat deretan orang-orang yang Erland bawa tadi.
"Percuma banget sih lo bawa pasukan sebanyak ini sedangkan lawan saja sudah bisa gue taklukan sendiri," tutur Leon yang membuat Erland berdecak sebal.
"Ck, ya kan gue gak tau kalau lo bisa naklukin mereka sendiri tanpa bantuan orang lain. Tapi btw lo pakai jurus apa sampai mereka aja kalah sama lo? Dan yang anehnya lo gak kena tembak mereka bahkan tubuh lo gak ada luka sedikitpun," ucap Erland kepo. Dan ucapannya tadi hanya dijawab gedikkan bahu oleh Leon lalu setelahnya ia melangkahkan kakinya meninggalkan rooftop tersebut dengan tangan yang terus membawa senapan yang ia dapatkan tadi.
"Woy jawab dulu. Main pergi aja lo," teriak Erland sembari berlari pelan untuk menyesuaikan langkah Leon diikuti oleh anak buahnya. Sedangkan Azlan yang tadi turut ikut pasukan Erland, ia terdiam dengan tatapan mata yang lurus ke salah satu benda yang tergeletak di atas rooftop tersebut. Dan karena rasa penasarannya yang tinggi, Azlan kini bergerak mendekati benda tersebut, lalu mengambilnya.
"Sepertinya gue pernah lihat lambang di sapu tangan ini," ujar Azlan dengan menatap lekat lambang tersebut yang sangat familiar dengannya.
Dan setelah beberapa saat ia mengingat-ingat dan membuka setiap memori di otaknya, matanya kini terbuka lebar saat ia menemukan satu memori yang menunjukan ia melihat lambang yang sama dengan lambang yang berada di sapu tangan tersebut.
"Gue harus memastikan lebih detail lagi tentang simbol ini," tutur Azlan yang sudah bangkit kembali dari posisi jongkoknya. Dan dengan menoleh ke kanan dan kirinya, ia langsung menyimpan sapu tangan tersebut kedalam saku celananya.
Kemudian setelahnya ia bergegas menyusul orang-orang tadi yang sudah lebih dulu turun dari rooftop tersebut.
Disisi lain, saat Leon, Erland dan beberapa anak buah mereka berdua telah keluar dari area sekolah, bertepatan dengan itu pula para pihak kepolisian baru sampai di sekolahan tersebut dan langsung menodongkan pistol kearah mereka semua.
"Angkat tangan kalian dan jangan bergerak!" perintah salah satu polisi tersebut yang membuat Leon ataupun Erland menghela nafas panjang.
"Pasti mereka mengira kita adalah biang kerok dari kejadian ini. Jika sampai hal itu terjadi, sepertinya gue mau mengajukan gugatan keatasan mereka, biar para atasan itu mengganti para pihak kepolisian di sini dengan orang lain yang lebih pintar untuk mengetahui pelaku," bisik Erland.
"Turunkan senjata kalian!" perintah polisi tersebut yang lagi-lagi langsung di turuti oleh mereka tanpa melawan sedikitpun.
"Kalian bergerak dan borgol mereka. Kawal mereka sampai masuk kedalam mobil," ucap polisi tersebut.
"Nah kan apa gue bilang. Mereka salah mengira," bisik Erland kembali.
Dan saat para pihak kepolisian mulai bergerak untuk meringkus Leon, Erland dan beberapa orang lainnya, suara seseorang membuat mereka semua menghentikan aktivitasnya.
"Tunggu Pak!" teriak orang tersebut sembari berlari kearah pihak kepolisian.
"Maaf sudah lancang untuk menghentikan tugas bapak kepolisian. Tapi orang-orang yang ingin bapak tangkap ini bukan lah dalang dari kekacauan yang terjadi saat ini. Justru mereka lah yang melindungi kita, mereka yang melawan semua orang-orang pengacau tadi. Dan maaf, apa bapak tidak melihat simbol di baju seragam mereka?" ucap orang tersebut yang merupakan salah satu guru di SMA Balerix.
Dan ucapannya tadi berhasil membuat semua pihak kepolisian menatap kearah baju seragam orang-orang disana.
__ADS_1
"Mereka salah satu dari murid disekolah ini dan tidak mungkin murid asli sekolah ini membuat kekacauan disekolah mereka sendiri," sambungnya.
"Sebagian dari mereka memang menggunakan seragam sekolah. Tapi bagiamana dengan yang lainnya? Apa mereka juga murid dari sekolah ini?" tanya polisi tersebut yang masih mencurigai bahwa orang-orang dihadapannya lah penyebab kekacauan yang terjadi.
"Me---mereka bukan murid dari sekolah ini," ucap guru tersebut dengan menundukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, tangkap orang yang tidak memakai seragam sekolah," perintahnya yang langsung di angguki oleh polisi lainnya.
"Tunggu!" teriak seseorang yang lagi-lagi menghentikan aktivitas pihak kepolisian.
"Mereka semua keluarga saya yang memang saya kerahkan untuk melindungi orang-orang disini sebelum pihak kepolisian datang," sambung orang tersebut dengan melangkahkan kakinya mendekati salah satu pihak kepolisian yang sedari tadi mengintruksi teman seprofesinya.
"Perkenalkan saya Aiden William Abhivandya. Seseorang yang bisa menjamin jika orang-orang yang sekarang bergabung dengan kedua anak saya bukanlah orang jahat dan juga bukan dalang dari kejadian ini. Dan untuk memastikannya, lebih baik kita lihat rekamam CCTV disekolah ini," ucap Daddy Aiden yang baru saja sampai di lokasi kejadian setelah dirinya tadi dijemput langsung oleh Edrea dan Zea dari kantornya.
"Maaf tuan, tapi semua CCTV diarea sekolah sejak pagi sudah di rusak dan di sabotase oleh seseorang," timpal guru tersebut.
"Jika begitu kita lihat CCTV yang berada di luar area sekolah yang sekiranya memperlihatkan bahwa keluarga saya tidak bersalah. Contohnya dengan melihat CCTV di cafe depan itu," ujar Daddy Aiden sembari menunjuk kearah cafe di sebrang sekolah yang sekarang tampak sepi karena mendapat imbas dari kejadian tadi.
"Baiklah kita akan melihat situasi dalam CCTV di cafe itu. Tapi tetap awasi mereka, jangan biarkan salah satu dari mereka pergi dari sini. Mengerti!" ucap komandan kepolisi tersebut dengan suara tegasnya.
"Siap, mengerti!" jawab semua pihak kepolisian disana.
Dan setelah mengucapkan hal tadi, komandan kepolisi tersebut mengalihkan pandangan kembali kearah Daddy Aiden yang sekarang tengah tersenyum kepadanya.
"Silahkan," ucap Daddy Aiden untuk mempersilahkan komandan kepolisi tersebut berjalan terlebih dahulu darinya. Dan hal tersebut diangguki oleh komandan tersebut sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya menuju kearah cafe yang ditunjuk Daddy Aiden sebelumnya.
"Tetap disini. Jangan ada yang kemana-mana. Jika kalian lapar, minta ke Edrea dan Zea. Mereka tadi Daddy tugaskan membeli makanan untuk kalian," tutur Daddy Aiden yang mendapat anggukan dari semua orang di sana.
Saat Daddy Aiden dan komandan kepolisi juga beberapa guru di SMA Balerix tadi telah pergi, terlihat Azlan mendekati kerumunan orang-orang tersebut dengan kerutan di dahinya.
"Jangan bergerak dan letakan senjata anda!" ucapnya.
"Lho lah kok---" ucap Azlan yang belum paham situasi yang tengah ia hadapi saat ini.
"Ck, turuti saja bang daripada lo mati sia-sia karena kesalahpahaman saja," tutur Erland yang semakin membuat Azlan bingung tapi setelahnya ia meletakkan senjata yang ia bawa tadi dan dengan mengangkat tangannya, ia bergerak merapatkan tubuhnya kearah Erland dan Leon berada.
Dan setelah ia sampai, ia mendudukkan tubuhnya disamping kedua orang tadi.
"Ini sebenarnya ada apa? Kenapa kita yang malah di todong pistol sama mereka?" tanya Azlan.
"Biasalah, mereka salah mengira, salah paham dan salah tuduh ke kita," ucap Erland.
"Hah kok bisa?" tanya Azlan penasaran.
"Ya mana gue tau. Tapi kalau gue lihat-lihat sih mereka salah paham ke kita tuh karena kita keluar dari area sekolah saat situasi sudah mereda ditambah kitanya bawa senjata. Jadinya ya seperti sekarang ini. Kita yang berniat untuk membantu pihak kepolisian eh kitanya yang sekarang jadi tersangka sementara," tutur Erland.
"Astaga, ada-ada saja," ucap Azlan dengan gelengan di kepalanya.
Saat di tempat kejadian tengah disibukkan untuk pemecahan masalah tersebut, disisi lain, Edrea dan Zea yang baru selesai melaksanakan tugas yang diberikan Daddy Aiden kepada mereka, kedua perempuan tersebut berniat untuk segera pergi dari restoran tersebut. Tapi saat Edrea ingin masuk kedalam mobil, dirinya tak sengaja menatap seseorang yang sangat mencurigakan.
Hingga Zea yang tadi sudah masuk kedalam mobil, kini ia keluar kembali. Kemudian ia mendekati Edrea yang masih termenung di tempat.
"Re, ada apa?" tanya Zea sembari menepuk bahu Edrea.
__ADS_1
"Gak, gak ada apa-apa kok. Gue cuma ngerasa kalau ada seseorang yang lagi memperhatikan kita berdua," ucap Edrea.
"Hah, serius lo?" tutur Zea dengan mata yang mengikuti arah pandang Edrea.
"Coba katakan dimana orang itu sekarang berada?" ucap Zea yang sedari tadi tak melihat keberadaan orang yang dicurigai oleh Edrea.
"Hufttt sudahlah. Orangnya juga sudah tidak ada sekarang. Dan bisa jadi apa yang gue lihat tadi hanya ilusi gue aja yang sekarang selalu parno dengan orang-orang disekitar gue," tutur Edrea dengan menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menstabilkan penglihatannya.
"Udahlah gak usah di pikirin lagi. Mending kita langsung pergi aja dari sini," ujar Edrea sembari bergegas menuju ke pintu mobil sebelah kemudi.
Sedangkan Zea, ia mengedarkan pandangannya sekali lagi untuk memastikan jika situasi disekitarnya aman.
"Mungkin benar apa yang dikatakan Rea tadi kalau dia cuma halusinasi saja. Karena di pandangan gue, gak ada satupun orang yang tampak mencurigakan. Haishhh sudahlah," gumam Zea lalu setelahnya ia melangkahkan kakinya masuk kedalam mobil yang sama dengan Edrea.
Dan saat mobil itu mulai melaju meninggalkan area restoran yang mereka kunjungi tadi, seseorang yang Edrea curigai muncul dengan ponsel yang sudah menempel di telinganya.
"Lapor, mobil yang dikendarai target sudah pergi dari keramaian," ucap orang tersebut.
📞 : "Baik, sekarang lakukan sesuai dengan rencana kita kemarin," balas seseorang dari sebrang.
"Siap! akan saya laksanakan," tuturnya. Lalu setelah sambungan telepon keduanya terputus orang tersebut tampak berlari menuju ke salah satu mobil yang didalamnya sudah ada kawan satu komplotannya.
"Ikuti mobil target," perintah orang tersebut yang dijawab anggukan kepala oleh kawannya tersebut. Dan saat mobil itu mulai bergerak, orang yang sedari tadi mengawasi pergerakan Edrea dan Zea, kembali disibukkan dengan ponselnya.
"Lakukan blok jalan menuju SMA Balerix. Dan sebagian lagi blok jalan yang menuju ke arah keramaian!" perintah orang tersebut. Dan tanpa menunggu persetujuan dari lawan bicaranya, ia langsung saja menutup telepon tersebut. Kemudian ia kembali fokus dengan objek yang ia lihat didepan.
Sedangkan disisi lain, Zea yang baru merasakan hal yang sama seperti yang Edrea rasakan sebelumnya pun sesekali ia menatap kebelakang.
"Re, lo ngerasa gak kalau kita sekarang lagi diikuti sama mobil di belakang?" tanya Zea yang mulai waspada.
Dan pertanyaan dari Zea tadi membuat Edrea melirik kearah spion disampingnya.
"Sepertinya begitu. Tapi untuk meyakinkan jika tebakan kita benar, gue akan menghentikan mobil ini di salah satu toko yang sekiranya ramai pengunjung," ucap Edrea yang diangguki setuju oleh Zea.
Setelah beberapa lama Edrea mencari tempat yang sekiranya aman untuk dirinya dan Zea, akhirnya pilihan jatuh ke sebuah cafe. Dan setelah mobil itu terparkir, Edrea maupun Zea bergegas keluar dari mobil tersebut. Tapi sebisa mungkin mereka tetap tenang agar orang yang mengikuti mereka tak curiga kepada dua perempuan tersebut.
"Gimana? Mobil itu ikut berhenti?" tanya Zea saat keduanya sudah masuk dan duduk di salah satu kursi di cafe tersebut.
Edrea yang berlagak tengah memilih pesanan pun ia sesekali melirik kearah luar cafe tersebut.
Ia terus mengedarkan pandangannya hingga matanya kini melihat mobil yang mereka curigai tadi tengah berhenti di sebrang cafe tersebut.
"Huh, sepertinya memang mereka punya niatan tidak baik ke kita. Pasalnya mobil mereka berhenti di sebarang cafe ini. Jadi sudah bisa dipastikan jika tuduhan kita berdua tadi memang benar adanya," ucap Edrea yang membuat Zea ikut melihat kearah mobil tersebut.
"Gila. Hari ini kenapa banyak sekali hal berbahaya yang mengintai kita sih. Astaga. Terus kalau kayak gini kita mau gimana? Apa kita minta bantuan sama Azlan, Erland juga Leon? atau kita minta pertolongan Daddy sekalian?" tanya Zea.
"Lebih baik jangan. Karena kita tidak tau situasi di sekolah sekarang gimana. Dan kita juga tidak tau apakah permasalahan disana sudah selesai atau justru semakin mencekam," tutur Edrea.
"Kalau begitu, kita harus bagaimana? Tidak mungkin juga kita tetap disini dan nungguin mobil itu pergi dengan sendirinya. Karena gue yakin, mobil itu tidak akan pergi jika kita juga tidak bergerak dari sini," ucap Zea diakhiri dengan ia memijit pangkal hidungnya. Ia benar-benar dibuat pusing dengan semua kejadian mengerikan yang akhir-akhir ini sering ia alami.
...****************...
2000 lebih kata tersemat dalam eps ini. Kalau sampai likenya gak tembus 500 nangis juga nih author. Hiks ðŸ˜
__ADS_1
Ayolah kita semangat bareng-bareng kalian semangat kasih LIKE, VOTE, HADIAH, KOMEN. Author pasti juga akan semangat nulisnya... Go go go kita pasti bisa... semangat 💪