
Saat kedua orangtua Zea ingin menyeret anaknya itu untuk keluar dari kamar inap tersebut, seseorang yang sedari tadi mendengar pertengkaran dari Azlan dan kedua orangtua Zea pun kini orang itu sudah berdiri di ambang pintu ruangan tersebut dengan tangan yang menyilang di depan dadanya.
"Katakan berapa banyak biaya yang anda keluarkan untuk membiayai dia selama ini?" tanya orang tersebut yang berhasil menyita perhatian semua orang di sana tak terkecuali dengan Zea yang tadi terus memberontak saat kedua orangtuanya ingin menyentuh dirinya.
Kedua orangtua Zea yang melihat orang itu pun mereka kini saling tatap satu sama lain sebelum akhirnya mereka tersenyum kearah orang tersebut yang kini telah melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan tersebut.
"Eh tuan Aiden. Tuan kenapa disini? Apa salah satu keluarga tuan tengah dirawat disini? Kalau benar, bolehkan kita tau ruangannya dimana? Atau jangan-jangan ruangannya ada disamping ruangan ini ya. Kalau begitu kita minta maaf karena telah membuat tuan dan keluarga mendengar pertengkaran tadi yang menyebabkan tuan tidak merasa tenang disini," ujar Mama Zea yang justru diabaikan oleh Daddy Aiden. Dan dengan cepat Daddy Aiden kini mendekati Zea lalu membantu kekasih anaknya itu untuk berdiri dari posisinya saat ini.
"Butuh Daddy gendong?" tanya Daddy Aiden yang membuat kedua orangtua Zea melebarkan matanya saat mendengar ucapan dari Daddy Aiden tersebut. Apa mungkin Zea adalah simpanan dari laki-laki yang sangat terkenal itu? Jika memang benar, mereka akan sangat bahagia. Walaupun hanya menjadi simpanan setidaknya mereka akan kecipratan kekayaan dari laki-laki tersebut. Bahkan senyum lebar kini terpancar di bibir kedua orang tua Zea.
Sedangkan Azlan yang juga turut mendengar ucapan dari Daddy Aiden tadi pun ia kini mendekati keempat orang tersebut lalu dengan cepat ia merebut Zea dari Daddy Aiden. Dan hal tersebut membuat kedua orang tua Zea langsung melunturkan senyumannya tadi dan kini mereka menatap tajam kearah Azlan. Bahkan Mama Zea kini melepas kasar tangan Azlan yang berada di lengan Zea dan setelah terlepas, tanpa memperlihatkan kondisi dari Zea, ia menyeret tubuh anaknya itu hingga berdiri di sampingnya.
"Mau apa kamu? Berani-beraninya pegang-pegang anak saya," galak Mama Zea yang membuat Azlan berdecak sebal. Sedangkan Daddy Aiden menahan tawanya karena melihat wajah putranya yang begitu masam itu. Tapi setelahnya ia berdehem saat tatapan Azlan tertuju kearahnya.
Lalu beberapa saat setelahnya Daddy Aiden kembali angkat suara.
"Ehemmm, sepertinya saya akan menjawab pertanyaan dari anda tadi," ujar Daddy Aiden dengan helaan nafasnya.
"Pertama, kenapa saya bisa ada di sini? Karena dua keluarga saya tengah di rawat di rumah sakit ini. Mereka tidak di rawat diruangan sebelah ruangan ini tapi satu keluarga saya tengah dirawat di ruang ICU, dan satunya lagi kebetulan dia tengah di rawat diruangan ini," ujar Daddy Aiden yang membuat kedua orang tadi mengerutkan keningnya, tak paham dengan apa yang di ucapkan dari Daddy Aiden itu.
"Maaf tuan, sepertinya anda salah informasi. Diruangan ini hanya ada satu pasien dan itu adalah anak saya. Tidak ada yang lain selain dia," tutur Papa Zea.
"Anak anda? kalian yakin?" kedua orangtua Zea tadi tampak menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Daddy Aiden tersebut.
"Tapi sepertinya dia bukan anak anda karena sikap dan perlakuan anda ke dia terlihat bukan seperti perlakuan orangtua kepada anaknya," ujar Daddy Aiden. Lalu setelahnya ia menatap kearah Zea yang tengah menundukkan kepalanya. Ia malu karena penderitaannya selama ini harus di lihat oleh orangtua Azlan.
Dan saat Papa Zea ingin menimpali ucapan dari Daddy Aiden tadi, Daddy Aiden lebih dulu berucap.
"Zea, kesini nak," ucap Daddy Aiden dengan tangan yang terulur untuk menyambut uluran tangan Zea.
Dan hal tersebut membuat Zea kini menegakkan kembali kepalanya.
"Tidak usah takut. Ada Daddy dan Azlan disini. Jika mereka mau melukai kamu lagi, Daddy yang akan maju buat melindungi kamu," sambung Daddy Aiden saat dirinya melihat raut wajah Zea yang ketakutan. Zea kini melirik kearah kedua orangtuanya yang tengah menatap kearahnya sebelum tatapan mata itu beralih kearah Daddy Aiden yang tengah tersenyum kearahnya dengan menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Zea agar perempuan tersebut segera menerima uluran tangannya.
Zea tampak terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia memutuskan pilihan. Dan dengan takut-takut Zea mengulurkan tangannya untuk membalas uluran tangan dari Daddy Aiden tadi. Lalu saat tangan itu berhasil Daddy Aiden genggam, laki-laki itu perlahan menarik tubuh Zea hingga akhirnya Zea berhasil berada disampingnya kembali. Dan kini tubuh Zea berada ditengah-tengah tubuh Daddy Aiden dan Azlan yang siap melindungi dirinya.
"Saya tidak mempunyai banyak waktu untuk sekedar bercakap-cakap dengan kalian berdua. Jadi katakan dengan cepat berapa banyak biaya yang kalian berdua keluarkan untuk menghidupi hidup Zea selama ini. Biar saya yang menggantikan putra saya untuk mengganti semua biaya Zea selama ini," ujar Daddy Aiden yang tak mau basa-basi lagi.
Dan penutur dari Daddy Aiden tadi membuat kedua orangtua Zea membelalakkan matanya.
"Jadi orang ini adalah---"
"Benar, dia putra kedua saya. Sudah cukup basa-basinya, sekarang cepat katakan berapa nominal yang harus saya ganti," ucap Daddy Aiden yang sudah mulai muak dengan kedua orang didepannya itu.
__ADS_1
Kedua orangtua dari Zea itu tampak saling berbisik satu sama lain.
"Gimana ini? Kita lepasin Zea atau tidak?" tanya Mama Zea.
"Entahlah. Kalau kita lepasin anak itu sekarang, kita tidak bisa memanfaatkan dia nantinya," balas Papa Zea.
"Jangan pernah punya niatan untuk memanfaatkan keadaan ini dan memanfaatkan Zea untuk keegoisan kalian sendiri," timpal Daddy Aiden yang sepertinya bisa membaca gerak-gerik dari dua orang didepannya itu.
"Cepat katakan sekarang!" gertak Daddy Aiden yang berhasil membuat kedua orang tersebut terperanjat kaget. Dan dengan menatap wajah garang dari Daddy Aiden, Mama Zea menyenggol lengan suaminya agar segera memutuskan apakah mereka benar-benar harus melepaskan Zea begitu saja atau tidak?
"Kita tidak akan pernah melepaskan Zea begitu saja. Karena Zea bukan lah barang yang bisa di tukar dengan uang," ucap Papa Zea yang benar-benar terbalik dari ucapannya sebelumnya.
Daddy Aiden yang mendengar itu pun ia mengeluarkan smriknya.
"Benarkah?" Kedua orangtua Zea menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu. Bawa anak anda ini menjauh dari keluarga saya. Karena saya tidak ingin melihat dia berdekatan lagi dengan putra saya." Azlan dan Zea yang mendengar hal tersebut mereka menatap kearah Daddy Aiden seolah-olah mereka ingin protes dengan ucapan dari Daddy Aiden tersebut. Tapi Daddy Aiden tak menghiraukan tatapan mata dari kedua orang disampingnya itu.
"Ambil anak anda. Dan kita permisi dulu," sambung Daddy Aiden. Lalu dengan cepat ia menarik tangan Azlan untuk membawanya menjauh dari ketiga orang tersebut.
"Dad, apa-apaan sih?" geram Azlan saat mereka berdua telah keluar dari kamar inap Zea.
"Stttt diam aja bisa gak sih. Ini tuh namanya tak-tik, kalau kita gak melakukan ini semua yang ada mereka akan memanfaatkan hubungan kalian berdua dan Zea akan tetap di tekan oleh orangtuanya itu. Dan apa yang Dad saat ini lakukan itu untuk membantu Zea agar dia keluar dari keluarga toxic seperti mereka. Daddy juga masih punya perasaan kali Az buat melepas Zea gitu aja. Daddy juga memikirkan apa yang sedang Daddy lakukan ini seribu kali bukan langsung memutuskan begitu saja," ucap Daddy Aiden dengan lirih.
"Daddy jamin gak akan gagal. Dan kamu tenang aja Zea tidak akan disiksa sama mereka kalaupun iya, mungkin Zea sekarang lagi di tampar sama mereka. Tapi tenang aja siksaan itu tidak akan bertahan lama, jadi kita hitung saja sampai tiga, pasti salah satu dari mereka bergerak untuk mencegah langkah kita," ujar Daddy Aiden penuh dengan percaya diri.
"Kita mulai berhitung sekarang," sambung Daddy Aiden yang membuat Azlan menghela nafas kasar.
"Satu," mulai Daddy Aiden yang sama sekali tak diikuti oleh Azlan. Anak laki-laki itu hanya memutar bola matanya malas.
"Dua," sambungnya.
"Ti---"
"Tuan Aiden tunggu!" Daddy Aiden kini tersenyum ketika tembakkan tadi benar. Sedangkan Azlan, ia melongo dibuatnya.
Lalu setelahnya kedua orang tadi memutar tubuhnya dengan wajah yang mereka buat segarang mungkin.
Sedangkan seseorang yang berlari tadi kini tengah mengatur nafasnya yang tengah ngos-ngosan.
"Katakan cepat, ada hal apa anda memanggil saya," ucap Daddy Aiden dengan garangnya.
"Saya mensetujui apa yang kita bicarakan tadi. Ambil Zea setelah tuan mengganti biaya yang telah kita keluarkan untuk dia. Tapi dengan satu syarat," ujar Papa Zea.
__ADS_1
"Katakan!" perintah Daddy Aiden.
"Jangan pernah mencari kita jika Zea melakukan sesuatu yang merugikan kalian karena perlu anda tau anak itu jauh lebih nakal dari yang kalian tau. Dan jika dia terluka parah hingga membuat dia kehabisan darah, jangan panggil kita untuk mendonorkan darah kita untuk dia," ucap Papa Zea yang sepertinya terdapat ancaman didalam ucapannya tadi.
Tapi bukannya takut, Daddy Aiden justru tersenyum kearah laki-laki tersebut.
"Baiklah, saya pastikan tidak akan merepotkan anda setelah saya mengganti biaya Zea selama ini. Tapi saya juga memiliki syarat untuk anda," ucap Daddy Aiden.
"Syarat?"
"Ya, dan syaratnya jangan pernah ganggu Zea lagi setelah semua urusan kita selesai dan satu lagi, besok anda silahkan datang kesini sebagai wali atas pernikahan putri anda sendiri dengan putra saya," ujar Daddy Aiden yang membuat Azlan maupun Papa Zea tercengang mendengarnya.
"Dad---"
"Diam Az, Daddy tidak mengizinkan kamu buat bicara dulu," ujar Daddy Aiden yang membuat bibir Azlan langsung mengatup kembali.
"Dan sekarang saya mohon anda kembali kerumah anda untuk menyiapkan berkas-berkas untuk pernikahan Zea dan Azlan. Saya tunggu hingga pukul 1 siang, jika anda telat satu detik pun persetujuan ini akan saya batalkan dan anda tidak akan menerima uang sepeserpun dari saya maupun dari putra saya. Tapi jika kedua anak ini telah menikah, anda jangan harap bisa mengusik ketenangan mereka terutama dengan Zea. Untuk uang yang kalian mau akan saya kirim setelah proses pernikahan besok selesai," sambung Daddy Aiden.
"Tapi apakah pernikahan kedua anak ini akan di anggap sah oleh kantor urusan agama? mengingat kedua anak ini masih sekolah," ujar Papa Zea.
"Punya hak apa anda sehingga menimpali ucapan saya tadi. Jika anda tidak setuju ya pergi sana saja. Toh Azlan dan Zea umur mereka sudah diatas 17 tahun. Jadi tidak akan ada yang melarang pernikahan mereka," tutur Daddy Aiden.
Papa Zea tampak terdiam sesaat sebelum suara Daddy Aiden kembali terdengar di telinganya.
"Bagaimana? Setuju atau tidak?" Papa Zea tampak menghela nafas, bukan karena dirinya tidak rela melepaskan Zea untuk menikah melainkan ia tak rela jika pelampiasan emosinya akan berpindah tangan ke orang lain dan yang paling utama ia tak bisa menguras kekayaan dari keluarga Abhivandya karena setelah ia melakukan perjanjian itu maka dia sudah tidak berhak untuk campuran tangan lagi dengan urusan Zea kedepannya.
"Setuju atau tidak!" sentak Daddy Aiden saat pertanyaan sebelumnya tak kunjung dijawab oleh laki-laki didepannya itu.
"Baiklah saya setuju dengan permintaan anda. Tapi ingat anda harus memenuhi syarat yang saya ajukan tadi dan masalah nominal tentang semua biaya hidup Zea selama ini, saya akan menjumlahkannya dengan istri saya. Dan untuk dokumen akan saya berikan ke anda sebelum pukul satu siang sekaligus kita juga akan membicarakan masalah biaya itu," ucap Papa Zea yang benar-benar sudah gelap mata.
"Baiklah. Akan saya tunggu disini," ujar Daddy Aiden.
"Dan apakah ada yang ingin anda bicara lagi?" tanya Daddy Aiden yang mendapat gelengan kepala oleh Papa Zea.
"Kalau tidak ada, silahkan pergi dari hadapan. saya bawa sekalian istri anda," usir Daddy Aiden yang langsung membuat laki-laki tadi berlari menuju ke kamar Zea untuk menjemput sang istri hingga tak berselang lama kedua orang tadi telah keluar dari ruangan tersebut dengan langkah angkuhnya.
Dan setelah mereka sudah menjauh Daddy Aiden kini menghela nafas lega.
"Huh akhirnya pergi juga tuh curut dua. Bikin emosi aja kalau lihat wajah mereka. Iya kan Az?" ucap Daddy Aiden dengan mengalihkan pandangan kearah samping tepat dimana Azlan tadi berdiri.
"Lho kok orangnya gak ada?" gumam Daddy Aiden yang baru mengetahui jika Azlan sudah tak berada disampingnya. Hingga ia kini berdecak saat melihat punggung Azlan kini menghilang saat anak laki-lakinya itu memasuki kamar Zea.
"Ck, anak kurang ajar, main ninggalin Daddynya sendiri disini begitu saja. Mana dia perginya gak pakai salam atau setidaknya izin dulu lah, gak asal nyelonong gitu aja. Emang dia pikir aku ini patung apa? Yang keberadaannya sering tak dianggap. Huh, untung anak sendiri kalau gak udah aku buang kelautan tuh manusia kutub," gumam Daddy Aiden. Dan dengan gerutuan di bibirnya, ia kini beranjak dari tempatnya tersebut untuk menyusul Azlan yang lebih dulu masuk ke kamar Zea.
__ADS_1