The Triplets STORY

The Triplets STORY
Eps 256


__ADS_3

Beberapa saat setelah bel masuk sekolah berbunyi dan kegiatan belajar mengajar di laksanakan, tiba-tiba saja terdengar sebuah informasi yang membuat semua orang yang tadi tengah khusyuk belajar, kini berganti menyimak informasi tersebut dengan seksama.


"Panggilan, panggilan saya tujukan kepada siswi bernama Edrea Dwyne Abhivandya, dimohon untuk segera menuju ke ruang kepala sekolah sekarang juga. Terimakasih."


Informasi tersebut kini mampu membuat seluruh murid langsung ribut seketika, terutama dengan kelas Edrea yang dimana para siswa-siswi disana kini tengah menatap kearah Edrea.


Sedangkan Edrea yang mendapat tatapan mata dari teman-temannya itu pun, ia tampak menghela nafas. Ia sepertinya tau penyebab dirinya di panggil untuk segera keruang kepala sekolah. Pasti karena Kayla yang sudah mengadu tentang apa yang sudah ia lakukan kepadanya.


Dan tanpa pikir panjang ataupun merasa takut sedikitpun, Edrea kini berdiri dari duduknya. Tapi saat dirinya ingin beranjak dari tempatnya saat ini, tangannya di cekal oleh Leon.


"Gue ikut," ucap Leon. Edrea menggelengkan kepalanya untuk menimpali ucapan dari Leon tadi.


"Tidak usah. Lo tetap disini, belajar yang benar. Gue bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Jadi lo tenang aja. Kalaupun gue kenapa-napa diruangan itu, gue kan masih punya ponsel yang kapanpun bisa gue gunakan buat hubungin lo saat situasi disana sudah genting. Dan disitulah lo baru boleh ikut," ucap Edrea diakhir dengan ia memperlihatkan senyum manisnya.


"Tapi---"


"El!" peringat Edrea yang membuat Leon tampak menghela nafas berat. Dan perlahan genggaman tangannya di lengan Edrea itu terlepas.


"Yakinlah gue bakal baik-baik saja," ujar Edrea sebelum dirinya melangkahkan kakinya menuju ke arah guru yang tengah menatapnya untuk meminta izin. Dan setelah ia mendapatkan izin dari guru yang berada di kelas tersebut, ia bergegas menuju ke ruang kepala sekolah.


Tapi tak berselang lama setelah dirinya keluar, Leon yang tak mau jika Edrea kenapa-napa dan terlalu khawatir dengan keadaan Edrea nantinya, ia juga segera meminta izin ke guru disana. Entah diizinkan atau tidak ia tetap akan keluar dari kelas tersebut. Masalah jika nanti ia di beri hukuman, pikir saja nanti yang terpenting di otaknya adalah mengawal Edrea jangan sampai ada orang yang menyakiti Edrea dari luar ataupun dalam.


Sedangkan Edrea yang kini sudah sampai di depan ruang kepala sekolah, ia dibuat menghela nafas lagi, lagi dan lagi karena didepan ruangan itu ternyata sudah ada dua saudara kembarnya yang sudah standby di sana.


"Abang ngapain disini?" tanya Edrea.


"Kita disini lagi mulung, siapa tau tuh si kakek tua bangka yang ada didalam mau ngasih uang 5.000 buat kita berdua," jawab Erland sekenanya saja.

__ADS_1


"Ck, Rea tuh tanya beneran tau bang, ish," geram Edrea.


"Ya, kita berdua disini nungguin lo lah. Kita gak tenang setelah mendengar informasi tadi yang menyeret nama lo," tutur Erland yang membuat Edrea mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Tapi bang, sepertinya apa yang Abang lakukan saat ini tidak perlu deh. Karena Rea rasa, Edrea bisa kok menyelesaikan masalah ini sendiri," ujar Edrea.


"Bodoamat, mau lo bisa menyelesaikan masalah ini sendiri atau tidak. Kita tetap akan ada disini buat jaga-jaga kalau orang-orang didalam mau menyakiti lo nanti," timpal Azlan.


"Haish ya sudah lah. Terserah abang aja. Rea mau masuk sekarang," tutur Edrea. Lalu setelahnya ia kini membuka pintu ruangan tersebut. Dan saat dirinya mau melangkahkan kakinya masuk kedalam, kedua saudara kembarnya tersebut mau mengikuti dirinya dari belakang.


"Eitssss, mau kemana kalian berdua. Tetap disini dan jangan ikuti Rea kedalam," ujar Edrea sembari mendorong tubuh kedua abangnya tersebut agar menjauh dari pintu ruangan itu. Lalu setelah ia berhasil, tanpa menunggu lama ia langsung menutup pintu tersebut.


Dan setelahnya ia memutar tubuhnya yang langsung bisa menatap kedua orang yang tengah duduk bersebrangan.


Dengan langkah santai Edrea menghampiri kedua orang tadi. Dan tanpa basa-basi sedikitpun atau memperlihatkan sopan santunnya, Edrea kali ini langsung mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi yang berada tepat disamping Kayla berada.


"Apakah kamu tidak memiliki sopan santun sedikitpun kepada orang lain?" ucap kepala sekolah tersebut yang tampak geram karena baru kali ini ia menemui murid modelan seperti Edrea ini.


"Jika bapak hanya mau membahas ke sopan dan santun-an ke saya, maaf pak, saya tidak punya banyak waktu untuk itu. Karena di rumah, saya sudah mendapatkan pelajaran tersebut dari kedua orangtua saya. Dan jika bapak memanggil saya hanya ingin membahas hal tersebut, lebih baik saya kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran," ujar Edrea.


"Kamu---"


"Baik, jika tidak ada hal penting lainnya. Saya permisi dulu," ucap Edrea dengan sengaja memotong perkataan dari kepala sekolah tersebut. Bahkan kini ia sudah mulai melangkahkan kakinya, tapi di tengah perjalanan, suara kepala sekolah kembali terdengar.


"Stop! Jangan teruskan langkahmu lagi. Balik kesini sekarang juga!" perintah kepala sekolah tersebut dengan tegas. Dan hal itu membuat Edrea langsung membalikkan tubuhnya kembali.


"Untuk apa saya kembali kesitu, jika tidak ada hal penting yang akan kita bahas?" tutur Edrea tanpa mau menuruti ucapan dari kepala sekolah tersebut untuk menuju ke tempatnya sebelumnya.

__ADS_1


Dan ucapan dari Edrea tadi, membuat Kayla kini bergerak menuju kearah Edrea. Kemudian tanpa sepatah katapun ia menyeret lengan Edrea sampai di depan kepala sekolah.


"Diam disini! jangan melawan lagi!" geram Kayla yang hanya di balas senyuman miring oleh Edrea.


"Baiklah, saya akan tetap disini. Tapi saya mohon untuk langsung ke intinya saja jika kalian ingin berbicara dengan saya," ujar Edrea yang kembali duduk di kursi tadi. Bahkan dengan santainya kini ia menyandarkan tubuhnya di kepala kursi dengan menyilangkan kakinya sembari matanya tengah menatap kearah kuku-kuku cantiknya itu.


Dan hal tersebut benar-benar memancing emosi kepala sekolah tersebut dan juga Kayla. Tapi untuk saat ini mereka tidak akan memberikan pelajaran kepada Edrea akan sikapnya tersebut. Melainkan mereka akan segera membahas langsung ke intinya saja. Karena mereka sudah benar-benar muak melihat wajah Edrea di ruangan tersebut.


"Baiklah, sesuai dengan ucapan kamu tadi, saya akan berbicara to the point." Ucapan dari kepala sekolah tadi hanya di lirik sekilas oleh Edrea.


"Tapi sebelumnya saya akan bertanya. Apa benar kamu yang menyebabkan lebam di pipi Kayla?" tanya kepala sekolah tersebut.


"Ya," jawab Edrea dengan singkat tapi jujur.


"Apa kamu juga yang membuat jari telunjuk Kayla patah?" tanya kepala sekolah lagi.


"Ya."


"Apa kamu tadi juga sempat mendorong dia sampai dia terjatuh berkali-kali dihadapan semua orang tadi?"


"Hmmm mungkin," ujar Edrea.


"Dan penyebab lebam di kedua pipi Kayla karena 4 kali di tampar oleh kamu dan juga mendapat satu kali tinjuan dari kamu?"


"Yes, that's right," jawab Edrea dengan enteng.


"Baik karena semuanya sudah terbukti, maka mulai sekarang kamu, Edrea Dwyne Abhivandya saya keluarkan dari sekolah ini karena sudah melukai teman sekolahnya sendiri," ujar kepala sekolah tersebut yang justru membuat Edrea tersenyum apalagi setelah ia melirik kearah Kayla yang tampak senang atas keputusan dari kepala sekolah tersebut.

__ADS_1


__ADS_2